JDP: Menjadi Jejak Dr. Pastor Neles Kebadabi Tebay Pr. Di Atas Tanah Papua

0
IMG-20200725-WA0003

Tetodepode Dogomo, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id

OLEH  TETODEPODE DOGOMO

Media Sosial pada saat ini banjir dengan banyak kejutan. Salah satu dari yang banyak itu adalah Masalah Papua. Melihat realitas itu, saya pun mulai mengangkat pena untuk menggambarkan situasi di yang sedang terjadi di Tanah Papua. Namun sebelum dari pada itu, di dalam benakku terbayang sang misiolog dari Tanah Papua, beliau adalah Pastor Neles Kebadabi Tebay Pr. Usai terbayang, mulai mengingat almarhum Pastor Neles dan Karyanya yang bersifat regenerasinya.

Serangkaian kata yang menjadi buah bibir masyarakat dalam situasi kedukaan yakni; Gaja Mati Menggalakan Gading.  Kalimat ini juga menjadi salah satu pepatah Bahasa Indonesia yang mengandung arti bahwa; Ketika seseorang meningal akan dikenang karaya-karyan di dalam kehidupan pribadi maupun kelompok yang masih hidup. Pepatah ini bila diungkapkan  di depan masyarakat Papua akan menimbulkan bunyi bahasa yang fals bagi masyarakat Papua. Nada yang itu akan sesuai bila ditekan tuts sambil mengucapkan kata; Jejak Kaki Pastor Neles Tebay.

Hal ini dapat terjadi karena berbeda Antropologi Masyarakat Jawa berbeda dengan Antropologi Papua. Maka penulis dapat beradaptasi dengan masyarakat yang ada bersama penulis di dalam mengucapkan kalimat di atas ini. Lain cerita lagi bila penulis bereksis di dalam masyarakat Jawa di pulau Jawa.

Jejak-jejak kaki pastor Neles Tebay memiliki suatu misteri yang terkandung di dalam jejak-jejak itu sendiri. Maka penulis mencoba melihat dan memahami makna yang tersirat dengan cara merangkai kata menjadi kumpulan paragraf. Salah satu makna yang penulis pahami adalah Menyelesaikan Masalah dengan rumusan dialog, yang berefek pada Simbiosis mutualisme. Karena dengan cara menyelesaikan Masalah Papua di Tanah Papua dengan rumusan Jaringan Damai Papua (JDP) akan menjadi suatu pernyataan “kedewasaan” seseorang di berbagai aspek kehidupan kita.

Kedewasaan pastor Neles Tebai di dalam aspek, kognitif, moralitas, seksualitas, emosi, budaya, keyakinan, juga  memahami sistem ekonomi, sosial dan politik (EKOSOP), sangat nampak pada jejak jejaknya. Maka kita semua diajak oleh beliau untuk mengguru, dan meneladani, bahkan berjalan mengikuti jejak-jejak kaki Pastor Neles untuk menjadi seorang pribadi yang dewasa.

Semua orang  muda Papua sedang berbondong-bondong datang di mana ada Jejak-jejak Kaki sang guru berada. Atas kedatangan orang muda Papua di depan Jejak-jejak kaki pastor Neles, Orang tua, wali, serta pemimpin-pemimpin yang sedang menduduki jabatan apa pun perlu merestui atas kedatangan anak-anak ini, karena merekalah yang akan menyelesaikan berbagai persoalan termasuk persoalan Papua dengan berkepala dingin.

Hawa di Papua adalah hawa Damai. Semua orang yang menghuni di atas tanah Papua harus menghiruf hawa Damai. Karena Tanah Papua adalah tanah Damai. Kedamaian yang diketahui dan dipahami oleh sang pelopor JDP berbeda dengan kedamaian yang kita ketahui dan yang kita pahami. Jejauh ini tak ada orang yang sepaham dengan beliau untuk memahami arti dan manfaat dari pada Kedamaian serta jaringan yang sudah berdiri tegak setegak Kebadaby. Anda pasti bertanya pada penulis mengapa tidak ada yang sepaham dengan Kebadabi, pada hal sejauh ini saya dengan beliau? Faktanya tidak sedemikian rupa. Karena kita semua tidak merelakan untuk duduk bersama, untuk menyelesaikan Masalah Tanah Papua. Mengapa kita tidak mau duduk bersama untuk membicarakan masalah urgen bagi kita semua?

Pertama, karena ketidak dewaasaan kita terhadap berbagai aspek kehidupan kita. Moralitas kita menunjukan syarat lampu merah. Sehingga berdampak di dalam mengambil dan menetapkan berbagai keputusan dan menetapkan berbagai ketetapan yang tidak urgen dengan realitas di tanah Papua. Kita juga belum dewasa di dalam aspek kognitif sehingga berdampak pada cara pandang kita terhadap konteks yang dijeritkan oleh rakyat yang tak bersuara, sampai mengkambing hitamkan penyambung lida dari kaum yang sudah lama menderita (MULTATULI).

Karena kurang memanajemen seksualitas kita, kita juga banyak yang menjadi pelaku dan korban dari seksualitas, yang berdampak pada perceraian, HIV, Kumpul Kebo, dan melanggar nilai-nilai kehidupan.

Ketika kita diliputi dengan suatu emosi, kita juga dapat menangani dengan cara menggantikan emosi yang lain. Kepandaian menggantikan emosi ini, bukan berarti kita bodoh dan mengalah tetapi itu menjadi suatu cermin untuk mengaca diri kita yang sudah dewasa. Ini menjadi Foot Note (catatan kaki) oleh pendiri menara JDP. Suatu masalah dapat diselesaikan secara manusiawi, apabila kita dapat terlebih dahulu memastikan bahwa kepala kita dingin!

Dan  kedua, karena kita menganut budaya lupa. Paham ini perararel dengan Virus Corona yang sedang bereksis di dalam negara Indonesia. Mengapa penulis menyamakan dengan Covid-19 ? Karena sejak kita menganut paham; “Budaya Lupa”, banyak banyak ditelan oleh virus ini. Di sisi lain juga satu masalah terurai menjadi jutaan masalah.

Maka seandanya para turis Italia mengunakan teroponnya melihat bintang-gemintang di ufuk timur pada masa Natal, dengan motif mencari Sang Bintang Kejora, maka yang pertama akan muncul di lesa adalah aikon tumpukan masalah bukan aikon Monas.

Pastor Neles KEbadabi Tebay Pr. Meninggal pada tanggal 14 April 2019, namun Karyanya Jaringan Damai Papua (JDP) masih ditinggalkan sebagai Jejak-Jejak Kaki beliau untuk menjadikan media bagi semua orang yang sedang bereksis tensi di tanah Damai. JDP adalah Media untuk menyelesaikan tumpukan konflik di tanah Papua secara bermartabat.

Jaringan Damai Papua sudah disediakan oleh Dr. Pastor Neles Tebai Pr. Sekarang kita mengunakan media (Media) yang sudah disediakan (JDP), untuk menyelesaikan masalah-masalah di Papua, juga masalah Papua.

Karena masalah itu sudah membusuk mengambil rupa bangkai hewan yang membuat orang Papua mual dengan hawa pekat itu. Tidak ada solusi lain, selain kita menentukan waktu untuk duduk bersama, untuk menyelesaikan tupukan masalah itu dengan Damai. Di mana ada dialog masalah Papua, di sana kita akan menemukan; Jejak Kaki Pastor Neles Pr.

Dengan mengunakan cara dialog yang damai dan bermartabat. Keberhasilan penyalesaian masalah itu, akan menghasilkan suatu “Hawa Damai” bagi semua orang di Papua dan di Juga terhadap pihak Jakarta.

 

Penulis: Tetodepode Dogomo,  Pemerhati Resolusi Konflik di Papua

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *