Wajah Pendidikan Tarup, Praktek Penindasan Anak Anak di Bumi Cenderawasih
OLEH FRANSISKUS KASIPMABIN
TRIBUNPAPUA.ID—Pendidikan bukanlah wujud dari penindasan. Pendidikan selalu bertujuan membina manusia, diperlukan suatu lingkungan yang kondusif untuk mendukungnya. Dimana pendidik dan anak didik secara bersama sama mendunia, (Siti Murtiningsih 2004 :7)
Untaian kata kata Siti Murtiningsih, Penulis Buku Pendidikan Alat Perlawanan Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire itu mengingkatkan kepada penggerak pendidikan, terutama para pendidik untuk mendidik anak didiknya dengan melibatkan anak didik didalam segala Objek untuk menyelesaikan persoalan. Anak didik dan pendidik bersama sama sebagai subjek dalam dunia, bukan supjek dan Objek dalam dunia.
Menurut pandangan Paulo Freire kodrat manusia tidak saja berada dalam dunia, tetapi berada bersama sama dengan dunia (Siti, 2006 Hal: 6). Manusia tidak hanya hidup di dunia tetapi hidup dan berinteraksi dengan dunia (Freire, 1972:71-72).
Pendidikan bukanlah wujud dari penindasan. Pendidikan selalu bertujuan membina manusia, diperlukan suatu lingkungan yang kondusif untuk mendukungnya. Dimana pendidik dan anak didik secara bersama sama mendunia. Sama sama menghadapi realitas sebagai sebuah persoalan yang harus dihadapi secara bersama dan tidak bisa dilakukan secara terpisah (Siti, 2004; 7)
Peserta didik dipahami sebagai Subjek bukan sebagai Objek, kemudian mentransfer ilmu pengetahuan kepada Anak didik. Tetapi bagaimana menggunakan metode pendidikan dialog. Membangun dialog dalam segala aktifitas belajar mengajar di sekolah. Guru dan murid bersama sama menentukan tema sesuai standar kurikulum nasional atau kalender pendidikan.
Misalnya, suatu hari belajar tentang Matematika. Temanya adalah Bilangan. Soal bilangan, Guru dan anak didik menyepakati belajar bersama tentang materi Bilangan tradisional Suku Ngalum Ok/Mek di Pegunungan Bintang Papua.
Disini membutuhkan dialog bersama dalam menyepakati materi bilangan Tradisional karena dalam kelompok study tersebut berbagai macam latar belakang budaya, dan atau bahasa daerah yang berbeda. Kemudian menyepakati pula belajar Bilangan Tradisional dari bahasa daerah suku mana dan lainnya. Dialog dibutuhkan didalam kelompok Study tersebut guna melibatkan semua latar bahasa daerah yang berbeda.
Wajah Pendidikan Tarup, Pegunungan Bintang
Secara umum perkembangan pendidikan di wilayah distrik Tarup sangat rendah atau belum bisa berkembang, bisa diukur dari pengamatan seorang guru yang baru direkrut dan ditempatkan di Tarup mendidik anak anak Tarup. Namnya Kristian Talmomkesan, S.Pd. Guru kontrak yang direkrut Dinas Pendidikan Pegunungan Bintang. Ia mengajar di SD Inpres Tarup selama 6 bulan lebih.
Menurutnya rata penduduk dari 7 Kampung tidak berpendidikan atau belum pernah mengakses pendidikan dasar. Kesehatan masyarakat tidak mendukung, ekonomi keluarga yang berkecukupan dan infrastruktur penunjang pendidikan, kesehatan, ekonomi produktif belum lengkap.
Pada kesempatan ini Penulis menyajikan informasi seputar perkembangan Pendidikan dasar, terutama Sekolah Dasar (SD) di Distrik Tarup Pegunungan Bintang.
Semenjak distrik itu dimekarkan menjadi sebuah pemerintahan baru tahun 2008 dengan sebutan distrik Tarup, dan mempunyai 7 kampung, hanya ada satu SD berkelas 6 di wilayah itu. Anak anak dari 7 kampung di wilayah distrik Tarup sekolah di SD Inpres Tarup Pegunungan Bintang. Walau SD berkelas III sedang bangun di kampung Imsin, tapi sampai dengan saat ini belum bisa berporeasi.
Menurut Kristian Talmomkesan, selama mendidik di SD Inpres Tarup, secara umum Sarana dan prasarana pendidikan di SD Inpres Tarup sudah cukup baik. Namun, kualitas pendidikan masih rendah. Karena, masih kekurangan tenaga guru yang selalu mendidik anak anak tarup hingga mengenjam pendidikan lanjut, kurangnya buku-buku paket, dan para peserta didik masih banyak yang belum mengetahui membaca, menulis, dan menghitung, bebernya.
Sejauh ini, proses pembelajaran di Sekolah Dasar berjalan baik, walau disana sini masih harus dilengkapi dan mengejar ketertinggalan kualitas pendidikannya. Kualitas anak anak sangat rendah, anak anak yang seharusnya sudah di bangku SMP, SMA tetapi masi sekolah di SD. Umur tidak mendukung dalam proses belajar mengajar di SD Inpres Tarup. Anak anak kelas 1 sampai kelas IV belum mengenal membaca, menulis dan berhitung (CALISTUNG).
Namun satu hal yang mendorong anak anak giat belajar walau berumur SMP atau SMA yaitu Belajar tidak ada batasnya. Belajar sepanjang Hidup.
Menurut Talmomkesan, Pengalaman lain yang dikisahkan oleh Anak anak Tarup, Pegunungan Bintang ketika belajar bersama adalah perbedaan guru sebelumnya dengan saat ini bersama Kristian Talmomkesan. Sebelumnya para guru menguasai kelas dan materi ajar, atau para guru menyuruh anak murid menyumbangkan sayur atau hasil bumi lain kepada guru bersangkutan. Atau menyumbangkan kayu bakar buat guru.
Anak murid harus patuh kepada guru yang memerintahkan sesuatu, jika tidak ikuti keinginan guru, tidak dapat nilai, atau tidak naik kelas bahkan mengancam tidak terima raport atau nilai akhir semester.
Praktek praktek guru menyuruh anak murid menyumbangkan sesuatu menjadi kebiasaan anak anak di daerah Pedalaman Pegunungan Papua, termasuk Pegunungan Bintang. Guru seperti raja, memerintahkan warga kerajaan untuk menyumbangkan harta benda kepadanya.
Model Pendidikan Tradisional atau kuno yang ditradisikan oleh Guru Guru berwatak Penjajah ini adalah hasil dari produk sistem pendidikan Indonesia. Sistem Pendidikan Liberalisme yang diterapkan di Indonesia menciptakan manusia berwatak kapitalis dan penindas. Akibatnya proses belajar mengajar berlangsung selalu ada kata rasis, melakukan tindakan kekerasan terhadap anak didik dan memperoleh keuntungan sebanyak banyaknya dari anak murid maupun warga setempat.
Guru Berkata Rasis Terhadap Anak Murid di Papua
Jaques Barzun berkata Pendidikan berhasil kalau orang menjadi senang mempergunakan otaknya. Kemudian dilanjutkan oleh Malcolm Forbes bahwa tugas pendidikan adalah menggantikan pikiran yang kosong dengan pikiran yang terbuka.
Kasus kasus berkata rasis yang selalu dihadapi oleh Orang Papua semenjak Orang Papua dipaksakan menjadi bagian dari Indonesia. Sampai tahun 2019 ini kasus kasus rasisme menguap ke publik. Seperti kasus rasisme yang dihadapi oleh Mahasiswa Papua di Surabaya, Pelajar di Wamena, Pelajar di Sentani Kabupaten Jayapura.
Rentetan kasus rasime yang dihadapi oleh anak anak Orang asli Papua di Jawa Bali, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan dan pulau pulau lainnya di Indonesia. Guru berkata rasis dan tindakan penindasan terhadap anak didik itu sering dilakukan di sekolah sekolah yang ada di Papua.
Soal Rasisme di Sekolah, perilaku kekerasan guru terhadap anak didik sangat banyak dan berbeda. Kadang Guru melakukan kekerasan terhadap anak didik karena soal Matematika tidak Jawab atau guru memerintahkan anak murid lain untuk mengejek murid yang tidak mampu menjawab.
Peraktek rasisme dan bentuk bentuk penindasan guru terhadap anak didik di sekolah kerap kali terjadi Pegunungan Papua, termasuk wilayah Pegunungan Bintang. Ada sebuah kisah di salah satu Sekolah Dasar Inpres tahun 1970-an seorang guru memukul anak hingga tewas di rumah. Anak itu dipukul lantaran terlambat masuk sekolah.
Selain itu, kasus lain, pada tahun 2020 seorang kepala sekolah di salah satu SD tidak mau memberikan surat kelulusan dari sekolah tersebut. Pada hal siswa bersangkutan mau mendaftarkan diri di salah satu SMP di Oksibil. Menurut kepala sekolah tersebut tidak mau berikan surat keterangan kelulusan, karena siswa bersangkutan tidak menyumbangkan ayam kampung.
Ironis memang, hanya karena tidak memberikan Ayam kampung kepada kepala sekolah, anak ini terlambat masuk sekolah dan tunda sekolah hingga tahun depan 2021. Satu tahun menganggur di kampung halamannya gara gara tidak sumbang Ayam kampung.
Eko Prasetnya mengatakan praktek semacam ini sekolah mendukung untuk melakuan tindakan penindasan dan memproduksi ratusan Korban kekerasan. Sekolah menjadi sumber utama kekerasan.
Tidak hanya itu, Everest Reimer mengatakan dalam bukunya Orang miskin dilarang sekolah yang ditulis Eko Prasetyo, Sekolah seperti perlombaan lari di mana yang lebih lambat harus menempuh jarak lebih besar yaitu beban kegagalan yang berulang ulang. Sedangkan yang cepat selalu didukung oleh sukses. Tetapi bagaimanapun garis finisnya sama bagi semua peserta lomba. Kemasan aturan yang dipaket melalui kurikulum inilah yang menjadi biang keladi semua kegiatan kekerasan yang berlangsung di Sekolah.
Menjadi Guru Yang Membebaskan
Saat Orang Papua merasakan atau mengalamai penindasan baik melalui kurikulum Pendidikan Nasional maupun mendapat tindakan kekerasan oleh TNI/POLRI di Tanah Papua, guru jadi penentu dalam mendidik atas realitas untuk membebaskan dari penjajahan.
Untuk itu, Guru guru di Papua mengajar dan mendidik anak anak Papua tentang tema tema realitas penindasan. Seperti mendidik tema Militerime di west Papua, kolonialisme, Imperalisme, tema sejarah perjuangan Papua merdeka. Mengajari mereka atas realitas hidup orang Asli Papua.
Mendidik anak anak Papua, Pendidik Orang Asli Papua yang paham tentang realitas penindasan di west Papua. Orang Asli Papua harus mengambil Jurusan Pendidikan, untuk mendidik anak anak west Papua. Para guru yang bisa berdialog dengan anak anak, bikin kelompok diskusi Perjuangan Papua Merdeka.
Membangun Nasionalisme Papua melalui Pendidikan Dasar, anak anak diajari tentang Nasionalisme West Papua. Guru yang mengerti tentang pentingnya dialog dalam menyelesaikan masalah west Papua. Mendidik anak anak, membawa mereka ke dalam realitas hidup orang west Papua. Pada akhirnya mereka mengerti tentang penderitaan atas hidup, realita sosial dan mampu bangkit melawan penindasan demi pembebasan diri, dan Bangsa Papua.
Daftar Rujukkan:
—–Kristian Talmomkesan (2020), Artikel Refleksi; Pendidikan Jalan Memanusiakan Manusia, Terbit di www.Tribunpapua.id
—–Fransiskus Kasipmabin (2020), Artikel SD Inpres Tarup: Anak Anak Kelas IV Tidak Tahu Membaca Menulis dan Berhitung, Salah Siapa? Yang terbit di www.Tribunpapua.id
Siti Murtiningsih, (2004) Pendidikan Alat Perlawanan Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire, Yogyakarta: Resist Book
Frof.DR.Paulo Freire, (1969), Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan, Edisi Indonesia diterjemahkan oleh Alois A. Nugroho (1948), Jakarta: PT. Gramedia
Darmaningtyas, Edi Subkhan, Fahmi Panimbang (2014), Melawan Liberalisme Pendidikan, Malang: Madani
Eko Prasetyo, (2004) Orang Miskin Dilarang Sekolah, Jogjakarta: Resist Book
Penulis: Fransiskus Kasipmabin
