Revitalisasi Pendidikan di Papua dalam Masa Covid-19
OLEH KANISIUS BAUK
Urgensi pembicaraan mengenai pendidikan di Indonesia pada umumnya, dan di Papua pada khusunya, semakin hangat dan semakin meningkat dengan mewabahnya covid-19. Hal ini semakin jelas menunjukkan bahwa pendidikan adalah suatu tempat atau lembaga formasi yang sangat penting bagi setiap individu terlebih khusus generasi muda Papua sekarang ini dan generasi selanjutnya. Sebab itu, perlu diketahui bahwa pendidikan sejatinya adalah suatu proses yang berkaitan dengan pembentukan manusia yang otentik. Atau meminjam bahasa Lonergan, pendidikan adalah pemanusian manusiawi demi hal yang bernilai, baik, bijaksana, kreatif dan mandiri. Yang baik dan bernilai pada umumnya merupakan suatu esensi hidup yang merupakan sesuatu yang baik sebagai objek sekaligus baik sebagai subjek yang berkembang dan bertumbuh menjadi pribadi yang matang.
Pendidikan yang baik atau proses pemanusian manusia pada prinsipnya bukan sekedar memberi bahan pembelajaran lalu selesai, atau mengejar kredit tertentu, melainkan membentuk intensi manusia itu sendiri. Untuk sungguh-sungguh peka dalam pengelaman, cerdas dalam pemahaman akan pengelaman, arif dalam pertimbangan dan bertanggung jawab dalam keputusan- keputusan hidupnya. Membentuk sejatinya adalah proses mengarahkan serta mendorong peserta didik untuk terus berjuang hingga menemukan kematangan dalam berpikir, kreatif dalam bertindak serta inovatif dalam membangun Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam. Intensi ini akan tercapai manakala para pengajar (guru) dengan sadar mengakui intensi dari pendidikan itu sendiri. Dan karyawan yang bekerja mengolah sumber daya alam seefektif mungkin. Hal ini tentu saja belum cukup. Sebab itu, sarana prasarana seperti buku-buku bacaan, serta perlengkapan belajar lainnya menjadi rekan sejati dalam proses pembelajaran tersebut. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting untuk pendidikan atau proses pembentukan para peserta didik.
Pendidikan adalah proses formasi yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan pesesrta didik. Sebab itu, pendidikan harus diprioritaskan. Namun, kondisi pendidikan saat ini cukup miris dan cukup memprihatinkan. Tercatat bahwa dewasa ini, tidak sedikit masyarakat yang cukup gelisah dengan situasi dan kondisi pendidikan hingga saat ini. Ketidakstabilan pembelajaran serta kurangnya sarana prasarana dan juga minimnya tim pengajar, menandaskan bahwa proses pembentukan manusia cukup berjalan kurang efektif dan kurang merata yang bisa kita temukan proses pendidikan di Papua maupun Indoensia pada umumnya. Seperti yang dilansir dalam media Kompas.com Rabu, 29 Januari 2020, memuat berita terbaru bahwa tantangan yang dihadapi oleh peserta didik Papua saat ini adalah minimnya buku bacaan di perpustakaan serta kurangnya para pengajar atau guru. Dengan minimnya buku-buku serta ditambah lagi dengan tenaga kerja atau guru pengajar yang sedikit, sekiranya mendakan bahwa proses formasi pendidikan di Papua cukup belum efektif dan belum merata.
Selain itu, akhir-akhir ini dengan mewabahnya covid-19 di Indonesia pada umumnya, dan Papua pada khusunya membawa suatu fenomena yang cukup signifikan terhadap dunia pendidikan itu sendiri. Dengan melajunya covid-19, tercatat bahwa formasi pendidikan di seluruh daerah khususnya Indonesia mulai mengikuti instruksi dari pemerintah yakni, belajar dari rumah (home learning).
Namun, proses home learning pun tidak cukup menjamin keefektifan dan kelancaran proses pembelajaran peserta didik di Papua. BBC News.com 02 Juni 2020 menyuguhkan berita terbaru kepada semua masyarakat bahwa, di tengah pandemi covid-19 ini tercatat bahwa proses pembelajaran dan juga aktivitas akademik peserta didik tertinggal cukup signifikan. Fenomena ini sekaligus menandaskan bahwa proses pembelajaran home learning yang diterapkan oleh pihak pemerintah kurang efektif. Sebab itu, proses formasi pendidikan pada tempat ini perlu direnovasi dan direvitalasi dengan cara yang wajar.
Selain itu, problema lain seputar formasi pendidikan pun tampak semakin jelas. Hal ini seperti yang dilansir oleh kompas.com 04 Juni 2020 bahwa akses belajar mengajar para siswa di Papua semakin terbatas di tengah pandemi covid-19 ini. Hal ini disebabkan karena minimnya layanan telekomunikasi hingga keterbatasa buku pelajaran, alat komunikasi yang terus mendera hati kaum terdidik. Fakta ini menandaskan bahwa proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 ini cukup memprihatinkan. Karena itu kondisi ini cukup mencemaskan perkembangan Sumber Daya Manusia di Papua.
George Count, seorang pendidik progresif mengatakan bahwa proses pendidikan atau sekolah akan betul-betul berperan sebagai agen perkembangan dan perubahan masyarakat, apabila pendidikan atau sekolah menjadi pusat bangunan masyarakat baru secara keseluruhan. Hal ini sesungguhnya hendak menandaskan kembali akan mekanisme dan esensi yang sesungguhnya dari proses formasi pendidikan itu sendiri.
Esensi dari pendidikan adalah proses memanusiakan manusia untuk menjadi pribadi yang bertumbuh dan berkembang menuju pribadi yang benar-benar matang dalam berpikir. Sebab itu, pendidikan sesungguhnya bukan soal berbicara lalu selesai, melainkan bagaimana cara membentuk pribadi manusia untuk sungguh-sungguh bertumbuh menuju kematangan pribadi dalam aspek personal, sosial, iman dan kognitif dan kearifan dalam berpikir. Dalam proses ini, tentu saja perlengkapan belajar seperti buku-buku dan juga tenaga kependidikan sangat dibutuhkan dalam proses pemanusiaan.
Pendidikan adalah suatu proses yang sangat penting bagi manusia. Hal ini merupakan suatu proses yang tidak akan berkesudahan. Karena, melalui pendidikan setiap pribadi dibantu untuk hidup sesuai dengan norma dan aturan yang benilai. Atau mengutip bahasa Freeman Butt, pendidikan adalah suatu proses. Melalui proses ini, individu diajarkan kesetiaan dan kesediaan mengikuti aturan, mengembangkan bakat secara mandiri serta suatu proses yang membantu setiap individu untuk hidup baik dan berlaku bijak di tengah masyarakat. Untuk itu, pada titik ini perlu diketahui bahwa pendidikan bukanlah sebuah keterberian, yang datang secara alamiah, natural dan tanpa perjuangan, melainkan suatu formasi yang terus berjuang. Sebab pendidikan adalah proses yang tidak berkesudahan dan tidak akan berakhir.
Pendidikan adalah suatu proses pemanusian manusia yang takan berkesudahan. Afirmasi ini merupakan suatu kebenaran yang tak terbantahkan. Sebab itu, pendidikan harus diprioritaskan dan harus dinomor satukan. Namun, dewasa ini problema seputar pendidikan terus meningkat. Hal ini, nampak jelas dengan mewabahnya covid-19 yang terjadi di Indonesia, terkhusus di Papua. Sebab itu, berhadapan dengan berbagai problema dan kegelisahan ini, maka pada titik ini penulis berpikir bahwa ada beberapa point penting yang harus diperhatikan dan direnovasikan kembali oleh pihak pemerintah.
Pertama. Sarana prasarana dalam suatu formasi pendidikan adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik. Hal ini sangat penting demi memperlancar, sekaligus membantu peserta didik untuk berjuang dan berusaha sampai menemukan kebenaran itu sendiri. Mengingat bahwa tidak semua peserta didik yang mampu membeli buku-buku pelajaran seperti yang dialami oleh peserta didik di Papua, maka pada titik ini, sangat diharapkan agar pihak pemerintah dengan bijak menjamin ketersediaan buku-buku serta perlengkapan pembelajaran lainnya yang sungguh membantu peserta didik untuk tetap semangat dalam belajar dalam situasi covid-19 maupun perkembangan kedepan.
Kedua. Tercatat bahwa kurangnya tenaga pengajar, lalu ditambah lagi dengan covid-19 yang cukup cepat menyebar di Indonesia, terkhusus di Papua, menandakan bahwa proses pembelajaran di Papua cukup tertinggal. Sebab itu, pada titik ini sangat diharapkan agar pihak pemerintah dengan tekun memperhatikan serta menyiapkan tenaga kerja yang secukupnya, sehingga walau dengan pandemi covid-19 pun, proses pelayanan dan pembelajaran tetap berjalan lancar dan tetap efektif. Dengan memperhatikan beberapa hal ini sekiranya dapat membantu dan memperlancarprosesbelajarmengajarpesertadidikdiPapua.
Dengan demikian, terciptalah tujuan pendidikan bagi orang Papua yakni melahirkan manusia yang terpelajar dan terdidik dalam segalah aspek: Agama, sosial, budaya dan pendidikan itu sendiri. Hal ini menjadi perhatian bersama karena sering dan selalu menerimah stigma negative terhadap orang Papua tanpa mencari solusi yang efektif.
Penulis: Kanisius Bauk, Mahasiswa STFK Ledalero, Flores Nusa Tenggara Timur
Editor: Erick Bitdana
