Ini Karya Puisi-Puisi Yon Boni

0
IMG-20200604-WA0012[1]

SURAT RINDU KEPADA IBU

 

Salam sehimpun rindu buat Ibu.

Bu, sudah selesai tahun ajaran ini, aku tidak bisa pulang

Sebab banyak ajaran tahun ini menghalangi jalan untuk kembali

Makanya, aku sedang sibuk menulis ajak-sajak

Gugatan atas ketidakadilan yang berantakan di sekitar

Dan kisah Ibu Pertiwi menangis di telapak tangan para serakah

 

Setelah menggoreskan sajak duka dari tinta air mata

Ibu mesti membacanya berulang kali

Seperti ratapan Ayub di ufuk mentari

Hingga malam pojok tempat tidurmu gelap

Terhalang oleh penggelapan uang dan urusan politik bertele-tele

Sampai kawan jadi musuh dalam selimut, musuh jadi sahabat atas nama

 

Semoga Ibu senantiasa sehat, bahagia dengan penyakit yang diciptakan

Jangan mencemaskan kondisi saya, saya selalu menjalani hidup baik

Di masa normal menurut mereka

Saya selalu mengarungi momok nasib anak kuliah

Syukurlah isi doa cintamu mu selalu menaungi isi kepala tetap waras

Sehingga bisa terhindar dari kehampaan janji-janji manis

Selamat merindu Ibu

Agar kita diberkati hujan kebahagian

 

GAGAL MERAWAT RINDU

 

Pada ceruk matamu yang usang

Angin malam menyapu sukma kian kemari

Pucuk cemara itu pun gelisah pada gerimis yang menghujam

Dingin juga basah di bibir yang resah

Kebisuan meliputi ruang cakrawala

Prahara rindu legam terbenam bersama malam tersayang

 

Debur sunyi menerjang dermaga rindu

Tempat kusandarkan segala kenang

Mengingatmu adalah jalan kembali ke masa silam

Mengenang penggal-penggal kisah yang pernah jatuh di sela-sela

Jarum jam berdenting

Tentang bagaiaman cara menghamili kata-kata

Merias aksara di setiap perjumpaan sampai larut malam

Mengendus  hasrat yang menghardik asmara

Laskap ceria tenggelam dalam ocehan waktu sudah pergi

 

Di pinggir kota lampu taman samar-samar

Bayangan hitam lalu lalang ke sana, ke mari

Suara anjing melolong riang di persimpangan jalan

“Kupu-kupu malam berkeliaran ramai-ramai mencari madu”

Daun-daun celana berguguran di sebuah hotel

Di sebuah hotel daun-daun celana berguguran

Tinggalah ratapan air mata yang menetes pelan

Ke dalam segelas anggur merah di bibir, di dada

Yang setengah terbuka, setengah rindu terbayar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *