Ini Karya Puisi-Puisi Yon Boni
SURAT RINDU KEPADA IBU
Salam sehimpun rindu buat Ibu.
Bu, sudah selesai tahun ajaran ini, aku tidak bisa pulang
Sebab banyak ajaran tahun ini menghalangi jalan untuk kembali
Makanya, aku sedang sibuk menulis ajak-sajak
Gugatan atas ketidakadilan yang berantakan di sekitar
Dan kisah Ibu Pertiwi menangis di telapak tangan para serakah
Setelah menggoreskan sajak duka dari tinta air mata
Ibu mesti membacanya berulang kali
Seperti ratapan Ayub di ufuk mentari
Hingga malam pojok tempat tidurmu gelap
Terhalang oleh penggelapan uang dan urusan politik bertele-tele
Sampai kawan jadi musuh dalam selimut, musuh jadi sahabat atas nama
Semoga Ibu senantiasa sehat, bahagia dengan penyakit yang diciptakan
Jangan mencemaskan kondisi saya, saya selalu menjalani hidup baik
Di masa normal menurut mereka
Saya selalu mengarungi momok nasib anak kuliah
Syukurlah isi doa cintamu mu selalu menaungi isi kepala tetap waras
Sehingga bisa terhindar dari kehampaan janji-janji manis
Selamat merindu Ibu
Agar kita diberkati hujan kebahagian
GAGAL MERAWAT RINDU
Pada ceruk matamu yang usang
Angin malam menyapu sukma kian kemari
Pucuk cemara itu pun gelisah pada gerimis yang menghujam
Dingin juga basah di bibir yang resah
Kebisuan meliputi ruang cakrawala
Prahara rindu legam terbenam bersama malam tersayang
Debur sunyi menerjang dermaga rindu
Tempat kusandarkan segala kenang
Mengingatmu adalah jalan kembali ke masa silam
Mengenang penggal-penggal kisah yang pernah jatuh di sela-sela
Jarum jam berdenting
Tentang bagaiaman cara menghamili kata-kata
Merias aksara di setiap perjumpaan sampai larut malam
Mengendus hasrat yang menghardik asmara
Laskap ceria tenggelam dalam ocehan waktu sudah pergi
Di pinggir kota lampu taman samar-samar
Bayangan hitam lalu lalang ke sana, ke mari
Suara anjing melolong riang di persimpangan jalan
“Kupu-kupu malam berkeliaran ramai-ramai mencari madu”
Daun-daun celana berguguran di sebuah hotel
Di sebuah hotel daun-daun celana berguguran
Tinggalah ratapan air mata yang menetes pelan
Ke dalam segelas anggur merah di bibir, di dada
Yang setengah terbuka, setengah rindu terbayar
