Hilangnya Dua Ekor Burung
Pada satu tahun lalu, burung-burung peliharaanku hilang.
Hilang entah dimana…
Aku pun mulai cari.
Namun aku tak menemukan keberadaan burung-burung peliharaanku…
Oh sayang, di gunung-gunung, di lemba-lemba Sugapa, aku mencari burung-burungku.
Ku pelihara burung-burungku di Zanamba, Hitadipa. Zanamba, Hitadipa, itulah rumah mereka.
Sekelompok anjing-anjing berburu corona. Burung-burungku ditangkap dari sarang.
Aku bertanya pada rumput, daun, yang menatap padanya.
Jawabnya, “Iya”.
Dari dan dijerat hilangnya burung-burungku sampai tak jua jejak yang aku lihat.
Pada hari ke dua puluh tiga, burung-burung peliharaanku di karantina.
Tak jua mereka titip sajak untukku di rumah yang sedang ku gelisah.
Ku terus bertanya-tanya pada angin singgah.
Katanya, “burung-burungku sudah hilang satu bulan lamanya”.
Lalu, Zanamba-Zanamba bertaya,
“Apakah burung-burung itu sudah mati tak bernyawa atau masih bernafas”?
Dan dua tiga, dua belas, dua kosong, dua kosong, kehilangan burung-burungku;
Mereka ditangkap, dibunuh dan dibakar burung-burung gagak berbulu hijau, cokelat, hitam.
Burung-burungku yang ku cinta, dibakar.
Abu dibuang ke sungai Jalai.
Mereka hilang, karena dikira burung-burung nakal.
Burung-burungku, mereka punya nama, yaitu:
Apinus Zanambani
Luther Zanambani
Ya Abba, Ya Bapa, angkatlah kami ke dalam rumahmu
Amin…
Oksibil, 27 April 2021
Karya: Opki W. Yuventus
