Etnomusikologi Papua Tengah Diburuh dalam Era Globalisasi Moderen

0
8

Foto Ilustrasi Arnold C Ap

OLEH  YELANKASER A. ASEMKI

 

TRIBUNPAPUA.ID—Pada dasarnya seluruh umat manusia di dunia adalah makhluk unik dan berseni. Dalam seni dan keunikannya sangat membutuhkan kegemberiaan, keindaan, kesenangan, kenikmatan, dan keheningan dalam jiwa dan raga. Semuanya didapat dan dirasakan melalui seni musik.Karena musik adalah sebuah nyanyian jiwa yang mampu membangkitkian hasrat dan kenikmatan dalam kehidupan anak manusia.

Seni musik merupakan kebudyaan masyarakat. Metamorfosis dalam kesenian musik selalu mengikuti perkembangan masyarakat. Tentu tiada hari setiap kita selalu dihibur oleh alunan musik kesukaan, kesenangan, kita sendiri. Dilain sisi musik akan menghibur para pendengar dalam beragam situasi. Musik hadir menyesuaikan diri dengan gaya hidup masyarakat, tumbuh dan berkembang bersama masyaraka. Musik yang dikreasikan oleh sang kreator tetap abadi, kekal, dan dikenang sepanjang masa. Walaupun, sang kreator seni musik beralih dari dunia ini. Jenis musik seperti; Juzz, Blus, Gospel, RnB, Rock, Reggae, Pop dan lainnya.Jazz (musik Jazz) pertama kali muncul dari negara Amerika.Jenis musik ini mengandung nilai elegan dan berkelas (penghormatan). Hanya disukai oleh kalangan-kalangan tertentu. Di Indonesia jenis musik ini dikenal sejak tahun 1930-an (zaman Belanda) menduduki Nusanatara ini. Dalam pertunjukan musik jazz, para pemain musik menggunakan alat musik berupa seksofon, trompet, gitar dan piano.Pendiri musik Juzz (Jazz) adalah Louis Amstrong, John Coltrane, Miles Davis, Charlie Parker dkk.

Jenis musik Blus mengandung nilai rasa sedih dan frustrasi ketika mendengarnya.Musik blus pertama kali dikenal di dunia, 1910 untuk mengungkapkan perasaan yang emosional di Amerika dan Afrika melalui musik blus tersebut. Berjalanya waktu jenis musik ini pun dikenal seantero dunia. Pendirinya adalah Jimi Hendrix,  B.B King dkk.

Gospel merupakan jenis lagu yang lebih banyak dimainkan dalam gereja.Tentu pertama kali jenis musik ini pun di ekspresikan dalam gereja – gereja tua di Eropa. Namun, perkembangan musik ini pun dapat kita terima dan rasakan pula saat ini.

RnB (Rhythym and Blues) adalah jenis musik yang dihasilkan, dikolaborasikan, antara musik Juzz, Blues, Gospel, dan Pop.Pertama kali dikenalkan oleh masyarakat Afrika tahun 1940-an. Musik RnB mudah dan menyenangkan untuk mendengar sehingga dapat diterima oleh banyak kalangan.Rock juga merupakan gabungan dari aneka jenis musik dan dikenal oleh dunia tahun 1940-an. Jenis musik lainny adalah Reggae berkembang dilahirkan di Jamaika, 1960-an. perpaduan antara ska dan rocksteady. Tempo dalam musik ini lebih lambat dan terdengar santai, namun tetap memiliki beat yang dapat pendengar bergerak sesuai irama musiknya.

Pop adalah jenis musik yang mencerminkan kemoderenan. Selain moderen jenis musik ini mengangkat nilai – nilai kehidupan masyarakat lokal, perkotaan, dan tentu maslah perasaan dalam dunia romantisme pun diangkat dan diekspresikan melalui jenis musik ini.Indonesia adalah penggemar dan penikmat terbanyak jenis musik ini.

Dilihat dari sejumlah jenis musik yang dikreasikan serta dapat diekspresikan melalui generasi ke generasi berikutnya memiliki tujuan yang sama dan universal. Untuk mempertahankan seni musik itu sendiri.Karena seni musik bagi penulis adalah penyejuk dan penghibur jiwa serta raga. Seni musik yang diciptakan oleh para seniman akan hidup kekal, abadi selamanya. Seni musik mengandung  nilai – nilai sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Mampu memberikan arti yang mendalam dibalik seni musik dan setiap syair yang di ekspresikan.

Etnomusikologi masuk ke dalam bidang ilmu humaniora dan sosial, merupakan kajian musik dalam kebudayaan, dan tujuan akhirnya mengkaji manusia yang melakukan musik sedemikian rupa itu. Walau awalnya mengkaji budaya musik non-Barat, namun sekarang ini semua jenis musik menjadi kajiannya namun jangan lepas dari konteks budaya.Dengan demikian, masalah definisi dan lingkup kajian etnomusikologi sendiri akan terus berkembang dan terus diwacanakan tanpa berhenti.

Schneider mengatakan bahwa “tujuan utama [etnomusikologi adalah] studi komparatif terhadap semua karakteristik, yang biasa atau tidak biasa, dari [musik] non-Eropa dan Nettl mendefinisikan etnomusikologi sebagai “sains terhadap sejumlah besar musik rakyat di luar peradaban Eropa.

Bagimana dengan perkembangan musik di Papua. Seni musik yang akan diutarakan disni adalah etnomusikologi yang ada di Papua. Etnomusikologi cakupanya lusa sehingga penulis mengulas sedikit mengenai keberadaan musik – musik lokal yang ada ditanah Papua.Apakah musik lokal Papua masih tetap eksis dalam situasi zaman global ini? Bagaimana mensiasatinya? Group musik lokal tanah Papua itu seperti yang bagaimana? Tentu setiap jawaban atas pertanyaan – pertanyaan sederhana ini sangat berbeda dalam setiap kita.

Sebelum menguraikan pokok pertanyaan diatas penulis mencoba menggali club musik lokal atau masuk rakyat, yang punya kontribusi besar serta alunan musik – musiknya masih dan terus membekas dalam setipa lubuk hati orang asli Papua dan warga Papua adalah, seperti club Mambesak, dan Black Brothers. Pelopor dalam kedua club musik tersebut adalah tuan Arnold Clemens Ap (pimpinan Mabesak), tuan Andy Amyemiseba (pimpinan Black Brothers).

Sekilas Informasi Tentang Club Mambesak & Black Brothers

Cikal bakal gerakan kebangkitan seni dan budaya Papua Barat dipelopori oleh Arnold C. App dan Sam Kapisa di Lembaga Anthropologi Universitas Cendrawasih. Gerakan mahasiswa yang bergerak di bidang seni dan budaya lahir pada tahun 1972 yang dimulai dari gereja – gereja, panggung hiburan, hingga terakhir di RRI Nusantara lima Jayapura. Gerakan ini tumbuh dan berkembang, kemudian pada tanggal 15 Agustus 1978 menjdi hari lahirnya Mambesak secara resmi.Arnold C. Ap dan Sam Kapisa mempunyai pandangan bahwa musik ini suci, sehingga mereka menamainya “Mambesak” (Nuri/Cendrawasih). Menurut budaya Biak burung Nuri merupakan burung suci (sakral), tujuannya dalah mengangkat nilai – nilai seni budaya dan menghibur hati rakyat Papua.Saat itu sedang di intimidasi, dianiaya, diperkosa, dan dibinasakan. Dilansir dalam suarapapua.com (Agapa Bernard: 2019)

Dipelataran Uncen, duduk dua tokoh kenamaan bangsa Papua, Arnold Clemens Ap dan Andy Ayemiseba. Anrnold dari Antropologi telah mendalami musik akustik Hawaiandan Andy lebih mengumpulkan seniman pop Papu. Keduanya bertujuan sama, mengangkat harkat dan martabat tanah Papua didalam lingkuan kebudayaan negeri ini. Kemudian Arnold C. Ap resmi ditunjuk sebagai pemimpin group, Martina Md. Sawaki ditunjuk menjadi wakil, Joel Kafiar sekretaris, dan Agust Tethol sebagai bendahara. Kemudian ada beberapa diantara mereka adalah Sam Kapisa sebagai koordinator pengembangan musik, lagu daerah, dan mob – mob berciri Papua. Tonny Wolas Krenak, bergerak dibidang pengembangan tarian adat, yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Yospan, Jeruk Nipis dan Wayase. Dibidang teater dan pementasan adalah Demianus Wariab Kurni, dan Berth Tanawani menjabat sebagai koordinator publikasi dan dokumentasi.Sedangkan Constantinopel P. Ruhukail dan Marthen L. Rumbarar, bertugas di dapur rekaman, produksi siaran radio dan produksi kaset.

Setelah team inti dibentuk kemudian Arnold C. Ap menunjuk sejumlah tokoh antropolog dan seniman dari wilayah masing – masing di Papua untuk mengumpulkan lagu – lagu bahasa daerah, tarian, dan pementasan.Diantara mereka sekaligus menjadi pencipta lagu – lagu mambesak.

Penyanyi dan penari diantaranya adalah Uslina Monim, Sance Wanggai, Joke Wanggai, Mary Samaduda, Maryon Krey, Selvi Samber, Jul Maniagasi, Thilda Letsoin, Jan Piet Ap, E. Rumansara, Danny Mandowen, Paul Yaam,Willem Kiryar, Auleman Rumbewas, A. Frits Watofa,  Andy Kawer, Josh Kapisa, Agust Ronsumbre, Moses Mangge, Sony Werimon, Franz Rumbrawer, Jul Jembise, Esther Sawaki, Hiskia Hoor, Eduard M. Mofu, terakhir Ham Wambraw, Job Rumayau (guest singer “Sup Mowiya).

Sungguh setiap musik yang dinyanyikan oleh club Mambesak sangat tidak bosan dan membuat hati selalu nyaman, tentram, dan terhibur. Suara – suara khas Papua yang mampu menembus pelsok tanah Papua dari Sorong – Merauke. Hebatnya club ini adalah mampu mengumpulkan lagu bahasa daerah dari tiap suku di Papua.Seperti musik Mambesak Volume satu mampu merekam 16 lagu pada tahun 1978, dan sebagai simbolis mereka memperkenalkan lagu “Akai bi pamare’ (Mimika) dan “Waniambei” (Jayapura). Volume dua sampai empat berhasil direkam dan rencana untuk merekam volume lima tahun 1983 namun, tidak terlaksana karena pimpinan group dan rekannya Eduard Mofu telah ditangkap oleh keamanan Indonesia. Akhirnya personil group ini pun membubarkan diri karena situasi dan kondisi yang tidak aman.Sehingga sebagian anggota groupnya melarikan diri ke Papua New Guinea seperti Bapak Willem Kriyar dari Keerom – Papua.

Selanjutnya adalah club Black Brothers. Awalan, mereka berkumpul pada tahun 1974. Kala itu, belum ada nama Black Brothers, masih bernama Lost Iriantos. Atas berkat tangan tuan Andy Ayemiseba (menejer group) mengumpulkan empat orang, yaitu Hengy Sumanti Mirtoneng (Hengy MS) sebagai vokalis sekaligus gitaris, Benny Bettay sebagai gitar bass, Stevie Mambor sebagai Drumer, dan Yochy Patypeiluhu piawai pada alat musik keyboard. Saat konser di beberapa tempat di Papua menggunakan nama Lost Iriantos. Ini merupakan awal pembentukan group band legendaris asal Papua.

Cikal bakal perkembangan group band legendaris asal Papua. Pada saat itu, memotivasi club Lost Iriantos untuk ke Jakarta adalah Benny Panbers. Ketika ia mendengar musiknya mereka (Lost Iriantos) dengan judul “hari kiamat” dan tersentuhlah hati beliau. Kemudian ia menawarkan mereka untuk ke Jakarta, merekam lagu – lagunya. Akhirnya mereka merantau ke Jakarta untuk mengejar impian dan cita – cita luhurnya.Namun saat itu karena kekurangan personil untuk peniup terompet dan saksofon lalu menghubungi rekan mereka David Rumangesan (Saksofon), dan Amry M Kahar (terompet). Sehingga total personil Black Brothers secara resmi terkumpul 6 orang. Usia perekaman itu tidak lama hanya dari tahun 1976-1978, namun alunan musik yang begitu inda dan memukau dapat menghibur dan menyembuhkan hati yang pilu. Black Brothers tahun 1979 keatas bukan yang original supaya kita bisa tahu.Hali itu disampaikan oleh alm.David Rumangesan melaui (cendananews.com; Maret 2017).

Black Brothers mewarnai blantika musik Indonesia sejak 1976-1978.Seiring dengan ketenaran Black Brothers di blantika musik Indonesia yang mulai pudar bermunculahh group band asal Papua yang ingin mengulangi kesuksesan Legendaria Black Brothers, seperti Black Sweet, Black Papas, Black Family, dan Black Power.Namun sangat disayangkan group musik terbaik sepanjang masa itu endingnya ditelan angin asing.Akhirnya personil Black Brothers melarikan diri ke Belanda, Australia, dan Forvila Vanuatu.Dipolitisi oleh negara dengan tuduhan menentang negara lalu mencari setiap personil BB sehingga mereka tertekan dan tidak nyaman dalam tanah kelairna sendiri.Oleh karena itu, jalan satu – satunya adalah mengasingkan diri di negeri orang.Sampai saat ini kedua group musik Mambesak dan Black Brothers sebagai ikon seni dan budaya di tanah Papua.

Situasi dan kondisi saat ini sangat amat mempengaruhi keberadaan musik, seni, dan seniman di tanah Papua.Kehadiran musik moderen dengan gayanya mematikan musik rakyat di Papua.Salah satunya yang mematikan kreativitas manusia Papua adalah hadirnya berbagai aplikasi program musik baru melalui Mobile Phone (Android), Computer, dan progam elektronik lainnya. Jenis musik yang diekspresikan masa kini sama sekali tida ada pesan moral yang terkandung dalamnya. Musik – musik luar dari berbagai belahan bumi mempengaruhi eksistensi musik lokal di Papua. Akhirnya kita tidak terproses dengan baik atas budaya kita. Kita sebagai konsumtif ulung atas produk musik luar yang sama sekali tidak memberikan nilai.

Marilah kita belajar dari kedua club musik Papua yang pernah mengharumkan nama baik manusia dan tanah Papua melalui musik lokal kita sendiri. Harus ada penerus dari club Mambesak dan Balck Borther. Musik asli harus dipertahankan dan mewariskan kepada anak para generasi muda Papua, supaya musik lokal tetap hidup.

Kesenian transisi, yaitu bentuk kesenian yang muncul dalam suatu kelompok masyarakat yang merupakan hasil dari kontak budaya antara kebudayaan asli dengan kebudayaan asing (akulturasi).Hal ini sangat fatal sehingga perlu untuk menyadari serta menyikapinya dengan baik.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rangka usaha pelestarian kebudayaan Papua, yaitu perlu didirikan lembaga-lembaga yang mempunyai tanggung jawab dalam hal usaha melestarikan kebudayaan daerah Papua, khususnya yang berhubungan dengan benda-benda budaya yang merupakan identitas suku-suku bangsa yang mendiami Tanah Papua.Untuk itu, diharapkan setiap kabupaten di Propinsi Papua perlu mendirikan Suatu MUSEUM yang bertugas untuk melestarikan kebudayaan suku-suku bangsa di kabupaten tersebut yang merupakan warisan sejarah alam dan budayanya. Dikutip dari jurnal dosen Antropologi Universitas Cendrawasih (Enos H. Rumansara; Agustus 2000).

Pemerintah daerah Kabupatena atau Provinsi membangun sanggar seni dan musik untuk memprotek musik – musik lokal di Papua.Selanjutnya memffasilitasi perlengkapan alat musik modern dan lokal.Untuk memperkuat harapan mulia ini perlu ada regulasi khsusu untuk memproteksikanya.

Kelompok-kelompok seni yang dapat mendukung Museum dalam hal memberikan informasi secara lengkap terhadap suatu benda koleksi (bimbingan edukatif) perlu dibentuk dan dibina oleh pihak yang berkompeten pada setiap kabupaten.Karena melalui kelompok seni pula para seniman dapat menggali, membina dan mengembangkan kesenian daerah sehingga kesenian daerah tetap hidup dan dapat dilestarikan.

Pembentukan kelompok seni dapat juga menciptakan lapangan kerja bagi para seniman. Serta mendukung program Kepariwisataan yang sementara ini di galakkan di tanah Papua. Karena kesenian daerah merupakan suatu aset daerah yang perlu ditumbuh kembangkan untuk masa depan Tanah Papua.Terakhir adalah segera menghidupkan kembali club – club musik lokal dan menghidupkan kembali group Mambesak dan Black Brothers.

 

Referensi:

Tarigan Perikutan dkk. 2009. Etnomusikologi, (Pengetahuan seni). Jurnal Sumatra Utara

Rumansara H. Enos. 2000. Peran Sanggar Seni Dalam Menunjang Kegiatan Bimbingan Edukatif Pada Pameran Benda Budaya Koleksi Museum – Museum Di Papua. Jurnal Antropologi Uncen, Volume, 1

https://cerdika.com/jenis-jenis-musik/ diakses pada, 06/12/2020

https://swarapapua.com/2014/11/17/sejarah-singkat-group-musik-mambesak-papua/ diakses 06/12/2020

https://www.cendananews.com/2017/03  diakses 06/12/2020

 

Penulis:  Yelankaser A. Asemki, Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *