Covid-19 Dalam Perspektif Hukum Adat Iwol Beta Abib
Masyarakat Ap Iwol Beta Abib Melakukan Ritual Untuk Menangkal Covid-19, Dok. Tribunpapua.id
Oleh Muner E. Uropmabin
Setiap manusia baik secara individu maupun kelompok memiliki sudut pandang tersendiri dalam melihat suatu persoalan. Demikian pula saat ini dimana dunia berkutat dan berperang melawan virus mematikan, Corona Virus Diseases (Covid-19). Disebut Covid-19 sebab virus ini timbul akhir tahun 2019. Virus mematikan tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh dunia.
Corona yang awalnya muncul di kota Wuhan, Negeri Tirai Bambu,China tersebut belum ada vaksinnya. Hingga kini, manusia belum menemukan vaksin untuk mengobati pasien covid19. Dalam perspektif manusia di zaman modern ini, corona merupakan suatu jenis virus yang membahayakan eksistensi manusia zaman ini. Para ahli pun sedang berlomba menemukan vaksin tentunya.
Banyak pihak baik secara individu maupun institusi mereka-reka sebab musabab timbulnya Corona. Ada yang mengatakan virus diciptakan untuk mengurangi jumlah penduduk dunia yang makin membludak. Ada pula yang menduga corona adalah senjata biologis yang bocor akibat keteledoran manusia (ilmuwan), sebagian manusia mengira virus ini murni datang dari hewan bernama kelelawar. Apa pun sebabnya, satu yang pasti adalah virus corona bagaikan makhluk mengerikan yang sedang merenggut nyawa manusia dengan ganas; hingga manusia tak mampu mencegahnya. Jutaan orang telah menjadi santapan empuk Corona. Corona, virus yang menyebar lewat udara, batuk, bersin, kontak badan dan media lain tersebut lebih banyak menyerang kaum manula.
Bahkan Virus corona ini disinyalir telah masuk kabupaten Pegunungan Bintang. Direktur Rumah Sakit Oksibil melaporkan ada 3 tentara Nasional Indonesia(TNI) yang diduga terinveksi virus corona. Sehingga saat itu pula, pasien yang diduga terinveksi virus korona dikirim ke Jayapura untuk penanganan selanjutnya. Virus ini telah menyebar ke beberapa Kabupaten di seluruh Papua. Akibatnya seluruh kota-kota sepi, karena Pemerintah memberlakukan Lock Down dan Social Distancing. Maksudnya adalah karantina wilayah serta pembatasan social dalam skala besar. Kebijakan ini tentu diambil guna menyelamatkan warga dari keganasan corona. Namun dibalik nilai positif dari pembatasan tersebut, kebijakan ini tentu membuat masyarakat semakin jenuh dalam rumah.
Dalam menanggapi fenomena virus corona yang berbeda dengan ilmu pengetahuan; lain pula sudut pandang budaya suatu komunitas. Jika dalam ilmu pengetahuan, Corona adalah virus, maka dalam perspektif kebudayaan suku Ngalum, Corona adalah suatu wabah penyakit akibat kemarahan sang dewa/leluhur. Dua sudut pandang yang bertolak belakang.
Dalam keterkaitan dengan virus corona itu, mari kita simak pandangan orang Iwol Betaabip. Menurut mereka virus sejenis tersebut dahulu pernah ada di Pegunungan Bintang, sekitar akhir tahun 1970an. Masyarakat adat setempat menyebutnya dengan sebutan Kolme. Kolme merupakan sejenis virus korona yang menyebar dengan cepat untuk menemukan dan mematikan inangnya (orang). Virus korona atau kolme pada saat itu memakan korban sekitar puluhan bahkan ratusan orang di wilayah Pegunungan Bintang. Hal tersebut di sebabkan karena belum adanya ketersediaan tenaga medis dan obat-obatan dan alat pembantu lainnya.
Belajar dari cara penyebaran corona saat ini, masyarakat adat setempat menyakini bahwa Corona adalah Kolme dalam bentuk dan nama berbeda. Ibarat sebuah produk yang sama namun beda kemasan. Oleh karenanya virus Corona dianggap orang Ngalum sebagai sebuah makluk pencabut nyawa yang di turunkan oleh atangki (Allah versi suku Ngalum) sebagai salah satu bentuk teguran. Cara pandang ini bertitik tolak dari kepercayaan orang Ngalum secara turun temurun yang meyakini bahwa setiap wabah yang menimpa mereka merupakan hukuman sang Atangki sebagai akibat dari kesalahan komunitas adat.
Menilik jauh ke belakang, saat Kolme menyerang orang Ngalum yang gejalanya mirip Corona Virus ( Covid 19) ini, masyarakat adat berhasil memutuskan rantai penyebaran dengan upacara adat. Sejak dahulu kala upacara adat merupakan satu-satunya solusi alternatif untuk menyelamatkan manusia. Acara adat di lakukan dengan cara bakar batu. Bakar batu merupakan salah satu tradisi masyarakat Ngalum dalam menanggulangi wabah penyakit yang membahayakan manusia dan kesuburan ternak serta tanaman.
Dengan demikian, untuk mencegah penyebaran wabah virus covid 19, masyarakat di beberapa Iwol (rumah adat) telah melakukan upacara adat dalam upaya perlindungan diri dari serangan virus Corona. Masyarakat setempat menyiapkan seekor babi sebagai suatu bentuk persembahan terhadap sang maha pencipta alam semesta atau warga setempat menyebutnya Atangki. Mereka menyakini bahwa dengan cara seperti ini mampu mengusir wabah menular yang membahayakan nyawa manusia. Masyarakat dari setiap iwol melakukan acara adat sebagai tradisi yang di wariskan oleh nenek moyang sesuai dengan kaidah dan norma yang berlaku.
Penulis: Muner E. Uropmabin, Pemuda Iwol Beta Abib, Tinggal di Oksibil
