Covid 19 Mengingatkan Kita Untuk Memilih Pangan Lokal Dan Menjaga Warisan Budaya Papua

0
IMG-20200519-WA0004

Yohanes Bitdana, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id

Oleh Yohanes Bitdana S.Sos)*

Dalam pembahasannya penulis mencoba menggambarkan pemanfaatan kekayaan alam Papua dan dampak buruk bagi kehidupan rakyat Papua dan bagaimana mengajukan solusi terbaik bagi orang asli Papua kedepan. Dengan hadirnya pandemic covid-19 hampir seluruh manusai Papua yang dikenal sebagai manusia pekerja keras semakin terkubur. Keterabatan sosial justru dilumpuhkan dalam situasi pandemik ini. Kondisi ini memperlihatkan perbedaan yang sangat mencolok antara orang Papua dan budaya kerjanya serta orang Papua dan pemerintah pusat dalam hal menciptakan sikap ketergantungan. Kita sudah dan sedang mengalami kehadiranya covid-19 justru membawah malapetaka yang tak terduga mengguncang Papua, Indoensia dan dunia. Dalam waktu yang singkat mampu menelan ribuan korban jiwa, membatasi pergerakan manusia, membatasi pekerjaan, membatasi peribadatan sebagai makhluk religius, membatasi hubungan sosial sebagai makhluk sosial dan makhluk economicus. Sesungguhnya diingatkan bagi orang Papua bahwa saatnya kita kembali ke alam untuk berkebun, mengolah sumber daya alam sebagai makhluk faber (pekerja) atau sebut saja pengendali pangan lokal. Di berbagai daerah dan kabupaten di Papua telah mengambil solusi lockdown daerah sebagai solusi untuk menghindari wabah pandemik covid-19 dengan jaminan pemerintah membiayai kebutuhan hidup masyarakat. Namun ternyata bantuan tersebut tidak mampan menafaki kebutuhan pokok bahkan tidak cukup. Dalam situasi demikian, solusi apa yang tepat untuk dipikirkan kedepan bagi masa depan anak cucu Papua? Apakah masyarakat tetap saja mengharapkan bantuan pemerintah berupa beras raskin dengan dana sebagai jaminan hidup? Dan beragam pertanyaan muncul di benak kita. Padahal Papua merupakan lumbung kekayaan alam terbesar Indoensia dan/atau dunia. Papua sebagai lumbung pangan raksasa dunia yang sangat jarang orang melihatnya.

Kita tahu, bicara tentang Papua tidak jauh dari kekayaan Sumber Daya Alam Papua itu sendiri. Sumber Daya Alam ini mencakup seluruh keberadaan hidup manusia Papua, termasuk keluasan hutan, keragaman flora dan fauna beserta kekayaan budaya dan adat-istiadatnya yang khas dan bernilai tinggi yang tersimpan di dan dari setiap suku dan sub-sub suku Se-Tanah Papua. Hadirnya pandemic covid-19 ini sesungguhnya sedang memberikan sebuah warning terhadap keberadaan orang Papua yang semakin tersingkir dengan hadirnya budaya-budaya luar. Seperti sumber daya alam Papua yang sudah lama dieksploitasi dan sudah menjadi suatu ancaman besar bagi kelangsungan hidup manusia Papua. Contoh dampak negative dari masuknya budaya baru yang sedang dibangun itu sedang dirasakan sekarang yaitu tercipta mental ketergantungan orang asli Papua yang luar biasa. Sebagaimana yang terjadi sekarang masyarakat meminta bantuan Bama dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi para perencana dan pemimpin daerah sejak tahun 1970 sampai dengan sekarang. Pemerintah Daerah tidak pernah merencanakan berdasarkan kekuatan lokal Papua. Pangan lokal tidak pernah dijadikan program unggulan di seluruh Papua. Karena itu para perncana dan pengambil kebijakan perlu evaluasi diri melalui pandemik Covid-19 ini.

Pada satu segi yang tak kalah penting adalah Papua tak hanya kaya dengan keunikan budayanya tapi juga memiliki panorama alam hutan tropis hingga kelokan Sungai Digul, Sungai Sepik, Sungai Oktakin (Fly River) dan terutama Sungai Memberamo yang merupakan sungai terpanjang dan terlebar di Indonesia dan terpanjang di Papua, dengan total sepanjang 670 km. Sepanjang aliran sungai Mambramo menjadi daerah yang memiliki kekayaan flora dan fauna yang sangat beragam dengan nilai keunikannya yang khas. Papua menjadi penyumbang utama keanekaragaman hayati Indonesia, baik dalam tingkat keragamanannya maupun keendemikannya. Diperkirakan 602 jenis burung (52 % jenis endemik), 223 jenis mamalia  (58 % jenis endemik), 223 jenis reptil (35 % jenis endemik) dan 1030 jenis tumbuhan (55 % jenis endemik) hidup di belantara Papua. Ada lebih dari tiga lusin spesies dalam keluarga Paradise atau lebih dikenal dengan bird of paradise. Berbagai satwa endemik juga ditemukan di Papua, seperti burung Cenderawasih, Kanguru, Kuskus bermata biru yang ditemukan pada tahun 2004 di  perbatasan Indonesia  dan Papua Nugini.  Tak heran kalau Green peace mengelari Papua sebagai hutan surgawi. Begitu juga dengan lautnya, terutama di Kabupaten Raja Ampat, yang terdapat 610 pulau  tepat di  jantung segitiga karang dunia.  Di tempat ini di temukan 450 jenis karang yang mencakup 75% jenis terumbu karang. Selain itu ditemukan 700 jenis moluska dan 283 jenis ikan. Bahkan di tahun 2005 di Papua Barat, tepatnya di Bintuni terhampar gugusan ekosistem mangrove seluas 77,1% dari total mangrove  Indonesia. Tidak berlebihan jika Papua merupakan anugerah terindah dari Tuhan bagi masyarakat Papua dan Nusantara ini sedang dalam ancaman.

Hutan Papua yang kini dibanggakan oleh orang Papua dan Indoensia diperhadapkan pada ancaman yang cukup serius. Ekpansi industri yang berbasis lahan seperti penebangan hutan, perkebunan, hutan tanaman dan pertambangan serta pemekaran wilayah administrasi pemerintahan adalah penyebab utama hancurnya hutan Papua. Berdasarkan data dirilis dilaman Green peace pada tahun 2005 – 2009 bahwa luas hutan Papua 42 juta hektar hektar. Berselang tiga tahun kemudian yakni 2011 luas hutan Papua hanya tersisah 30,07 juta hektar. Informasi yang didapat dari pemerintah daerah bahwa setiap tahun rata-rata deforestasi hutan di Papua sebesar  143.680 ha. Sedangkan laju deforestasi untuk Provinsi Papua Barat per tahun rata – rata sebesar  25 persen atau 293 ribu hektar.

Menurut Charles Tawaru, Juru Kampanye Hutan Green peace untuk wilayah Papua melaui blog Green peace menulis, “angka-angka tersebut, memperlihatkan tingkat kehilangan tutupan hutan yang cukup besar”. Ditambah lagi dengan proyek “ambisius” yang mengancam hutan Papua adalah Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di Merauke yang pada tahap pertama hutan yang akan dibuka seluas 228.022 ha yakni perkebunan sawit milik PT MEDCO di Manokwari (Sidey) 45.000 hektar, perkebunan sawit yakni PT Hendrison Iriana di Kabupaten Sorong (Klamono) 21.500 hektar, PT. Raja Wali Group/PT Tandan Sawita Papua di Kabupaten Keroom (Kampung Yetti) seluas 18.337 hektar. Sementara Green peace, organisasi pembela lingkungan terbesar di dunia menaruh perhatian besar terhadap kelestarian hutan Papua. Sejak tahun 2006, Green peace memulai kampanye di Indonesia dengan mendorong secara luas dilakukannya penyelamatan hutan “surga” Papua. Kapal Rainbow Warrior II mengunjungi Jayapura dan Manokwari untuk menyampaikan pesan penyelamatan hutan. Bagi Charles Tawaru sebagai anak adat Papua “Menyelamatkan hutan Papua berarti menyelamatkan kekayaan alam kita yang tidak ternilai dan juga menyelamatkan akar budaya Papua, lebih luas lagi, hutan Papua memiliki peran penting untuk menstabilkan krisis iklim yang terjadi saat ini,” (Green Peace, 2011). Kenyataan ini mengingatkan kita di masa pandemic Covid 19 untuk menjaga alam Papua dengan mengelola tanah sebagai sumber kehidupan keluarga dan komunitas suku bangsa di Papua.

Akibat pembatasan social distancing membuat sebagian kecil masyarakat kembali mengolah tanah untuk memperkuat pangan lokal dalam kehidupan keluarga tetapi sebaliknya sebagian besar masyarakat membutuhkan Bama seperti beras dan lain hasil impor dari Jawa dan sebagainya. Ingat beras bukan makanan pokok orang Papua tetapi karena pengaruh perubahan sosial budaya yang diadopsi dari luar. Dimana dengan hadirnya teknologi dan kebudayaan luar disertai politik ideologi bersama-sama dapat mempengaruhi nilai-nilai dan tata cara kehidupan orang Papua secara radikal. Sudah jelas beras bukan merupakan makanan khas tanah Papua yang diwariskan dari nenek moyang suku bangsa yang kurang lebih 250 suku bangsa. Sementara makanan pokoknya orang Papua adalah ubi jalar, sagu, singkong, pisang, keladi lohor dan berbagai sayur-mayur yang beragam yang melimpah ruah di seluruh Papua. Orang asli Papua mendapatkan makanan dilakukan dengan menggunakan teknologi tradisional yaitu berkebun, beternak, berburu, nelayan, meramu dengan ilmu pengetahuan lokal yang diterimanya dari leluhur secara turun temurun.

Secara umum setiap suku Bangsa di dunia memiliki 7 unsur kebudayaan universal yang harus mewariskan dari generasi ke generasi agar budaya yang dimilikinya tak dapat hilang. Ketujuh unsur budaya itu berupa: (1) sistim Religi; (2) sistim ilmu pengetahuan ; (3) Bahasa (linguistik); (4) sitim Kekerabatan; (5) sistim Ekonomi; (6) sistim Kesenian; (7) sistim teknologi. Dari semua unsur budaya ini yang paling dominan dipengaruhi oleh unsur budaya luar terhadap kebudayaan budaya orang Papua yang mengalami banyak perubahan adalah Sistem Ekonomi. Sistem ekonomi disebut juga sistem mata pencaharian. Dalam sistem ini manusia memenuhi kebutuhan mulai dari produksi, distribusi dan konsumsi. Mata pencaharian adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang atau segolongan besar anggota masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mata pencaharian suatu masyarakat belum tentu sama dengan mata pencaharian masyarakat lainnya. Contoh sistem mata pencaharian saat ini adalah lebih banyak yang bekerja di perkantoran dan mendapatkan jatah beras untuk mengonsumsi setiap hari di banding berburu, meramu dan beternak serta kerja kebun. Dengan demikian, secara perlahan cepat atau lambat hidup ketergantungan menjadi dominan dalam hidup orang Papua.  Heider, seorang Antropolg yang melakukan penelitian di suku Hubula-Dani di Wamena mengatakan bahwa disekitar orang Dani selalu ada babi dan ubi manis. Ungkapan ini mau mengatakan keunggulan dan jenis mata pencarian hidup orang Papua adalah Ubi Jalar selain beternak atau beburu, meramu dan nelayan. Dalam hal ini Ubi menjadi jenis tanaman utama bagi orang Papua, begitu pula dengan system teknologi yang dimiliknya.

Sistem teknologi mencakup peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi berfungsi untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat. Dalam cara-cara manusia mengekspresikan keindahan atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian. Teknologi peralatan dan perlengkapan hidup manusia meliputi alat-alat produksi, senjata, wadah, pakaian dan perhiasan, makanan dan minuman, tempat berlindung dan perumahan dan alat transportasi yang terlalu banyak mengalami perubahan di masyarakat. Teknologi modern berupa sekop, kampak, parang dan lainya sangat mempermudah berkebun. Senapan angin mempermudah berburu, pancing dan jarring untuk menangkap ikan dilaut sangat membantu kehidupan ekonomi rakyat modern sekarang.

Akhir dari tulisan ini penulis tetap menganjurkan pangan lokal sebagai sumber hidup. Dengan budaya lokal tentu bisa mengatasi sikap ketergantungan yang saat ini sedang tumbuh subur di bidang ekonomi sekaligus mempertahankan, menjaga dan melindungi flora dan fauna serta seluruh kekayaan alam Papua. Budaya lokal yang dimaksud budayakan konsumsi makanan pangan lokal berupa ubi, singkong, pisang, keladi, sagu dan sayur-mayur dari tanah Papua. Kita mesti pertahankan budaya Papua karena budaya kita merupakan cara hidup masyarakat secara turun temurun melengkapi orang dengan rasa identitas dan pengertian akan perilaku yang dapat diterima di dalam masyarakat Papua. Terdapat beberapa perilaku yang penting dan dipengaruhi oleh budaya. Salah satunya adalah makanan dan kebiasaan makan yang akan berbeda antara kelompok kultur yang satu dan yang lainnya. Kebiasaan makanan pangan lokal masyarakat tidak terlepas dari adanya simbol dan artifak yang berkaitan dengan pangan lokal yang diciptakan oleh masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi yang lain sebagai faktor penentu dan pengaturnya.  Berdasarkan aspek budaya secara keseluruhan, sesungguhnya masyarakat hidup di tengah budaya yang mendukung kebiasaan makan pangan lokal.

Nilai yang berlaku di masyarakat mendukung kebiasaan makan pangan lokal. Makanan merupakan kebutuhan mendasar dan menjadi hak asasi manusia. Para ahli antropologi dan sejarawan melihat aktivitas mengkonsumsi makanan baik jenis pilihannya, proses pengolahan, dan cara menyantapnya sebagai sebuah makna budaya yang mendalam. Dengan demikian, lewat makanan pokok tersebut, tercermin sejarah, kekayaan tradisi serta identitas etnis orang Papua dapat dipertahankan dan diwariskan kepada anak cucu. Makanan pokok tetap menjadi faktor penting penanda setiap perayaan dalam siklus kehidupan manusia Papua saat ini dan akan datang, walau dipengaruhi oleh status sosial, politik dan ideologi apa pun.

 

Penulis adalah Alumni Antropologi Budaya Universitas Cenderawasih dan Peneliti Budaya dan Pangan Lokal di Pegunungan Bintang

 

Editor : Erick Bitdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *