ORANG PAPUA KEMBALI BERKEBUN DALAM MENGANTISIPASI KRISIS EKONOMI DUNIA

0
20200505_094655

Warga Oksibil sedang pembersihan di Kebun (Dok. Tribunpapua.id)

Oleh Uropmabin Vincent

 

Corona virus (covid-19) adalah salah satu wabah penyakit mematikan yang menelan ratusan ribu korban umat manusia di dunia tahun ini. Saat ini dunia bersatu untuk melawan virus tersebut dengan berbagai cara, seperti membatasi aktivitas umum, yakni : aktivitas kantor, kampus, sekolah, tempat ibadah, penerbangan, kapal penumpang dan tempat hiburan misalnya seperti lokalisasi (hiburan malam), bar, tempat karaoke, tempat pijat, konser musik. Seluruh warga masyarakat tidak diperbolehkan untuk beraktivitas di luar rumah dengan slogan bekerja dari rumah saja (work at home home).

Dampak dari Corona tersebut berpengaruh terhadap perekonomian dunia. Berbagai lembaga, bank central dunia, negara-negara mulai memprediksi krisis ekonomi yang akan melanda berbagai Negara untuk beberapa tahun kedepan. Seperti dikatakan oleh Direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva bahwa pandemi Virus Corona (COVID-19) menciptakan krisis ekonomi yang parah. Bahkan lebih buruk daripada krisis keuangan global yang terjadi pada tahun 2008 silam. “Tidak pernah dalam sejarah kita menyaksikan ekonomi dunia terhenti,” kata Georgieva pada konferensi pers di kantor pusat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss, Jumat (3/4/2020). “Ini adalah masa paling gelap yang dihadapi oleh umat manusia, ancaman besar bagi seluruh dunia dan itu mengharuskan kita untuk berdiri tegak, bersatu dan melindungi warga negara kita yang paling rentan.” dilaporkan CNBC International.

The Economist Intelligence Unit (EIU) memprediksi negara-negara maju dan Negara berkembang yang tergabung dalam G20 akan mengalami resesi pada 2020. Negara-negara di Eropa termasuk menjadi wilayah yang paling terdampak Covid-19. Jerman (-5%), Prancis (-5%), dan Italia (-7%) akan mengalami resesi sepanjang tahun ini. Pemulihan parsial diperkirakan baru akan terjadi pada 2021. Pasalnya, keputusan isolasi penuh atau lockdown di sejumlah negara untuk menghentikan penyebaran virus corona telah memaksa banyak perusahaan untuk menutup usaha dan memberhentikan karyawannya. Sebuah studi Organisasi Buruh International atau ILO menuliskan empat dari lima pekerja di dunia terdampak penyebaran virus corona. Sebanyak 81% dari 3,3 miliar orang mengalami penutupan tempat kerja secara penuh atau sebagian.

Akibat dari itu perekonomian Dalam Negri juga kena dampak besar di masa pandemik virus corona ini. Industri-industri Dalam Negri mengalami kerugian besar. Kegiatan ekspor terbesar Indonesia adalah ke negara Cina, sehingga dengan adanya pandemik Virus Corono ini kegiatan ekspor mengalami kerugian luar baisa. Penerimaan negara mengalami defisit, sementara belanja pemerintah semakin meningkat. Ketidakseimbangan keungan negara ini akan berdampak terhadap pelayanan di berbagai aspek, seperti pemotong hak-hak pegawai pemerintah pada golongan dan posisi tertentu, mendorong efisiensi pengelolaan transfer ke daerah dengan mengurangi besaran transfer ke daerah. Dalam sektor swasta banyak terjadi PHK karyawan, tentu ini menjadi beban sosial dan ekonomi yang sangat tinggi.

Dampak penyebaran Covid 19 ikut mengganggu perekonomoan di Papua. Secara umum perkembangan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah provinsi Papua semakin tidak merata. Kesenjangan harga perekonomian antar wilayah masih tinggi. Kondisi perekonomian yang timpang ini merepresentasikan perekonomian ekslusif atau pertumbuhan yang hanya merepresentasikan kebutuhan para investor yang bermodal besar dan mengabaikan kebutuhan masyarakat akar rumput. Oleh karena itu, saat ini dan selanjutnya perlu menciptakan kebijakan-kebijakan baru atau program yang tidak hanya pro terhadap para investor bermodal besar tetapi juga pro terhadap kebutuhan masyarakat akar rumput sehingga tercipta suatu perekonomian yang berkualitas-inklusif dan merata. Kondisi perekonomian yang inklusif ini secara teoritis mampu bertahan jika terjadi krisis keuangan dan atau krisis ekonomi.

Masyarakat Papua secara umum, belum tereprentasi dalam kepemilikan faktor-faktor produksi dan memiliki skala investasi dalam skala besar. Sebagian besar yang telah memperoleh pendidikan yang baik hanya terisi beberapa persen dan itu pun mengabdikan dirinya sebagai Apratur Sipil Negara. Sementara sebagian besar belum memiliki pekerjaan tetap. Apabila dilihat dari struktur perekonomian masyarakat pribumi, kebanyakan bergerak di sub sektor pertanian. Dan itu pun skala kecil dan kebanyakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja. Beberapa produk hanya dipasarkan di wilayah sendiri dan tidak diekspor keluar.

Seiring dengan semakin luas masyarakat, Papua mengakses berbagai fasilitas seperti pelayanan administrasi pemerintahan, pendidikan, kesehatan, keuangan semangat untuk kerja keras sudah mulai berkurang. Yang sebelumnya pekerja ladang atau kebun sudah mulai ditinggalkan dan telah urbanisasi ke kota tanpa bekal yang memadai.  Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun habiskan waktu di kota tanpa melakukan apa-apa. Kondisi ini sangat memprihantinkan. Menurut hemat penulis, Pandemi virus corona ini waktu yang tepat untuk mengajak masyarakat kembali ke kebun  sebagaimana biasanya. Karena kehidupan orang Papua sejatinya ada pada mengolah tanah. Tanah bagaikan ibu yang memberikan kehidupan, sehingga ketika orang Papua lupa mengolah tanah apalagi menjualnya maka sama saja menjual kehidupanya untuk dieksploitasi orang lain.

Orang Papua harus kembali pada pangan lokal (berkebun) untuk menghidupi keluarganya dari kelaparan yang akan dihadapi akibat dari pada pandemic covid-19. Masyarakat Papua harus menjadi masyarakat yang mandiri dengan memanfaatkan kearifan lokal. Satu kebijakan Negara yang membuat orang Papua tinggalkan semua-semua adalah Otonomi Khusus. Padahal orang Papua yang dulunya pekerja keras dan kreatif telah hilang semenjak hadirnya Otonomi Khusus Papua ini.  Orang Papua tinggalkan semua pekerjaan seperti berkebun, melaut, togok sagu, beternak babi, ikan, dan kemudian berdatangan ke kota-kota untuk ingin hidup serba instan dengan triliunan rupiah yang ditawarkan oleh sistem kapitalisme Pemerintah Indonesia. Dengan demikian orang Papua tidak lagi bekerja untuk menghidupkan keluarganya dari hasil kerja sendiri seperti berkebun, melaut, dan togok sagu. Tetapi lebih banyak mengharapkan bantuan pemerintah. Dalam kondisi tertentu  masyarakat tidak dibiasakan untuk hidup produktif, melainkan lebih cenderung mendapatkan sesuatu tanpa melalui kerja keras. Jika fenomena sosial ini dibiarkan terus menerus dalam jangka waktu panjang akan menciptakan ketidakstabilan di dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat lokal hanya sebagai objek para kaum kapitalis saja.

Oleh sebab itu,  penulis mengharapakan dengan situasi dan kondisi seperti sekarang yang kita dihadapi pandemic covid-19, masyarakat Papua tidak selalu mengharapkan Pemerintah Daerah. Penulis melihat dinamika kehidupan di Papua yang begitu jauh beda dengan daerah lain di Indonesia, sehingga boleh kita ikuti himbauan pemerintah seperti di rumah saja (stay at home) belajar, bekerja, dan berdoa di rumah (works from home) guna membantu pemerintah mengatasi penyebaran covid-19. Namun disamping itu, jika di tempat tinggal kita ada lahan kosong boleh kita berkebun. Khususnya masyarakat yang tinggal jauh dari pusat perkotaan yang tidak terkena Covid 19 wajib berkebun dan beternak. Orang Papua harus mengonsumsi makanan lokal yang kaya akan protein, karbohidrat dan vitamin, seperti : ikan, keladi, petatas, singkong, sagu, sayur-sayuran, kentang, buah merah, kacang-kacangan dengan hasil tanaman sendiri. Tentu akan membuat kita akan lebih sehat dan kuat.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Pegunungan Bintang Tinggal di Jayapura

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *