Covid-19 Menghadirkan Habitus Baru
Oleh Inosius Kalakmabin
Yang tertinggal akan semakin tertinggal dan yang maju akan semakin maju. Dalam perkembangan kehidupan manusia perubahan itu selalu dinamis. Perubahan dalam bentuk apa pun sifatnya bisa terjadi kapan saja, dimana saja yang selalu menghantui kehidupan sosial masyarakat sesuai dengan situasi relasi antar manusia itu sendiri. Pada saat ini sedang terjadi suatu perubahan hidup manusia dengan adanya Virus Corona Disease 2019 alias Covid-19 yang bermula di kota Wuhan-China Desember 2019 yang lalu telah menerobos ke seluruh pelosok dunia, tak terkecuali negara kita dan tanah Papua tercinta. Virus ini dikenal sangat mematikan dan memakan ratusan ribuan korban jiwa seperti yang kita ikuti bersama melalui berbagai media yang dilaporkan setiap hari, baik media lokal, nasional hingga international.
Adapun beberapa upaya untuk menghindari dan mempersingkat penyebaran Covid-19 bagi warga masyarakat di seluruh Indonesia, pemerintah minta agar semua berada di rumah. Lebih-lebih kepada pegawai kantor, karyawan, pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pelayan-pelayaan sosial serta beragam isntansi telah dirumahkan sejak beberapa pekan lalu. Maksudnya bagi pegawai atau karyawan yang situasinya mendukung dapat bekerja dari rumah dan yang tidak mendukung situasinya diberikan bantuan kebutuhan hidup sedanya selama di rumah. Seperti warga masyarakat mendapat bantuan dari pemerintah daerah masing-masing. Para pelajar dan mahasiswa belajar online atau pun offline di rumah. Para guru dan dosen serta yang lainnya pun bekerja/beraktivitas di rumah. Para pelayan Tuhan melayani umatnya dari rumah maupun lewat live streaming atau radio bagi umat yang tidak terjangkau dengan jaringan internet.
Dari gambaran sepintas di atas menunjukkan manusia sebagai makhluk sosial, makhluk pekerja, makhluk ekonomi dan makhluk religius sedang menuju habitus baru atau sebut saja tatanan hidup yang baru. Awalnya semua pekerjaan sudah menjadi kebiasaan masyarakat itu berubah total tanpa dibendung oleh kekuatan manapun termasuk kuasa pemerintah dan agama.
Dalam menghadapi situasi hidup demikian apakah kita pernah berpikir dan menyadari bahwa kita sedang menuju suatu hidup baru yang penuh dengan tantangan? Akankah hidup baru ini berakhir dengan cepat kalau vaksin covid-19 berhasil ditemukan? Ataukah dunia sedang mendorong pergerakan manusia masuk dalam zaman perkembangan teknologi? Entahlah apa pandangan masing-masing orang perubahan-perubahan yang ada sekarang. Salah satu contoh nyata adalah mengikuti misa atau ibadah hari Minggu dari rumah lewat live streaming adalah media masa. Sebutlah saya mengikuti misa live streaming dari rumah sampai saat ini. Dari minggu pertama sampai minggu Paskah III, saya telah mengikuti misa dengan suasana yang sangat jauh berbeda, tetapi pada Minggu Paskah IV saya sudah membiasakan diri dengan baik. Mungkin juga sebagian besar orang sedang mengalamai itu.
Pengalaman hidup baru ini juga sedang menuntun siapa saja dan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk bidang pendidikan hal penting bagi generasi milenial. Kita baru saja mendengarkan hasil kelulusan siswa SMA/SMKA pada 4 Mei 2020. Sementara proses belajar mengajar bagi siswa SD sampai Perguruan Tinggi masih berlangsung secara online dan offline di seluruh Indonesia. Ada cerita lain bahwa di pedalaman Papua sekolah-sekolah sudah diliburkan, prihatin bukan? Bayangkan jika situasi ini berlangsung hingga tahun 2021 apa yang akan terjadi. Saya membayangkan bagaimana pemerataan kualitas pendidikan di tanah air kalau situasi ini terus ada. Sebagian daerah yang jaringan internet tersedia sedang belajar online tetapi daerah pinggiran sedang dan akan diliburkan. Artinya yang maju akan semakin maju dan yang tertinggal akan semakin tertinggal sehingga impian pemerataan pendidikan di tanah air pun akan semakin sulit terwujud. Situasi ini dibutuhkan pemikiran baru untuk mengantisipasinya. Apakah pemerintah bisa bergerak cepat tuk mempersiapkan alternatif solusi? Kita akan berada pada perbudakan gaya baru oleh institusi pemerintah maupun perusahaan bonafit yang ada di Indonesia dan Papua. Kita boleh berpikir bahwa tanah, kayu, emas, ikan, sagu, ubi, air sungai, lautan dan alam kekayaan yang ada adalah milik kita tetapi ada yang sedang siap-siap merampok. Salah satu pengendali adalah Bank Dunia dengan volume hutang negara yang terlilit dan tiada putusnya. Akibat dari ini hak asasi manusia pun di langgar atas nama Negara dalam berbagai bentuk tetapi tidak pernah dituntaskan.
Jika kita mengikuti perkembangan dunia Internasional, maka bisa dianalisa kehidupan sedang mempersingkat dan meghantarkan manusia menuju pada Revolusi Industri 4.0 yang tentunya akan memengaruhi pola pikir dan perilaku serta hubungan antar manusia yang berbeda dari latar belakang budaya, bahasa, agama, daerah dan negara-negara. Tidak bisa kita pungkiri bahwa negara ini sedang menuju ke Revolusi Industru 4.0 dalam waktu relative singkat. Oleh karena itu dalam situasi apa pun kita tetap konsisten pada tugas dan kewajiban kita masing-masing sambil mengikuti setiap perkembangan.
Mengenai perkembangan Revolusi Industri 4.0 ini sangat penting disosialisasikan kepada masyarakat agar dapat mengetahui dampak-dampak yang akan dihadapi manusia, entah yang ada di kota maupun di daerah-daerah pelosok seperti di Papua. Karena di daerah-daerah sulit terjangkau akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap perkembangan yang menjanjikan itu. Karena akan menciptakan peluang bagi bangsa lain yang sudah siap untuk masuk menguasai dengan strategi yang tidak kita ketahui sejak dini. Seperti sekarang Covid-19 membuat sebagian besar daerah yang media internet tersedia, para siswa dan mahasiswa belajar online di rumah dan sebaliknya di derah-daerah yang tidak terdapat jaringan internet memikul berbagai masalah yang sulit dipecahkan.
Dengan demikian adanya Covid-19 sedang membawa kita kepada gaya hidup baru yang tak pernah terbayangkan. Perubahan berskala kecil maupun perubahan berskala besar akan terus terjadi kapan saja selagi langit dan bumi masih ada. Yang pasti kita tetap waspada dengan membangun kesadaran dengan serius demi menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi dengan akal budi yang waras. Karena setiap perubahan pasti memiliki dampak positif maupun dampak negatifnya. Apa yang sedang kita alami, baik suka maupun duka kita harus terima kenyataan yang ada dan mencari solusi bersama. Kita semua berharap pandemik ini bisa berakhir secepatnya agar semua aktivitas manusia kembali normal lagi, terutama aktivitas pendidikan dapat dilangsungkan demi mencerdaskan anak-anak bangsa yang ada di seluruh Indonesia dan Papua khususnya.
Dengan demikian, zaman berubah dan kita pun ikut berubah karenanya. Entah siapa pun, dimanapun, kapan pun tuntutan zaman sudah didepan mata. Tiada kata yang benar, tiada perubahan yang benar, tidak ada orang yang merasa diri benar dan mampu membendung perkembangan zaman tersebut. Hanyalah pendidikanlah yang mampu membuka mata, hanya pendidikanlah yang dapat membuka wawasan dan menjadikan setiap individu manusia siap menghadapi perubahan zaman. Tanpa melalui pendidikan kita hanyalah robot yang dipermainkan, kita termakan informasi hoax dan Iman kita akan Tuhan dipertanyakan. Salah satu solusinya semua orang wajib membangun kesadaran diri dan kembali ke alam, mengolahnya dan menerapkan pendidikan adat istiadat dan bahasa sebagai pegangan hidup sambil tetap mengikuti perkembangan zaman adalah tugas kita saat ini. Hindari sikap ketergantungan kepada penguasa karena akan membawah malapetaka pada hidup manusia dan alam semesta. Selamat membaca!!
Penulis adalah Mahasiswa Universitas Atmajaya Yogyakarta
