SELAMATKAN IBU BUMI DAN ANAK CUCU KITA DI TENGAH PANDEMIK COVID-19

0
3

Yorim Sasaka)*

             Dalam kehidupan di bumi ini setiap manusia membutuhkan kebutuhan primer maupun sekunder demi melangsungkannya. Kebutuhan primer seperti: kebutuhan makan, minum, pakaian dan kebutuhan lainnya. Kebutuhan primer sangat penting bagi setiap mahkluk hidup yang hidup di dunia ini termasuk manusia. Sebab makanan dan minuman adalah sumber kekuatan dan energi  yang diperuntukkan bagi manusia dalam menikmati dan menjalani kehidupan ini. Makanan dan minuman adalah sumber kehidupan itu sendiri dan merupakan suatu kebutuhan mendasar yang mesti terpenuhi bagi mahkluk hidup. Dalam hidup seorang manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia adalah mahkluk  individu sekaligus sebagai mahkluk sosial dan sebagai mahkluk ekologis. Sebagai mahkluk sosial ia membutuhkan sesama, sebagai mahkluk ekologis ia membutuhkan alam ciptaan yang ada.

Di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dan di Papua pada khusunya, semua orang sedang dalam kondisi sulit  menghadapi penyebaran virus corona atau disebut dengan covid–19 yang semakin merajalela. Untuk mengantisipasi situasi yang semakin parah ini, maka di Papua Pemerintah Provinsi dan juga Pemerintah Daerah di setiap kabupaten, juga lembaga gereja dan semua tokoh-tokoh masyarakat yang ada di kedua Provinsi telah mengambil kebijakan dalam penanganan Virus Covid-19, dengan mengajak seluruh masyarakat yang ada di tanah Papua untuk lebih tertib mengikuti setiap himbauan dari pemerintah. Begitu pula dari lembaga gereja, tokoh adat, dan semua orang yang prihatin dengan  keselamatan hidup manusia. Mereka melarang dan menghimbau agar masyarakat tetap di rumah. Mereka juga melarang masyarakat melakukan kegiatan yang bersifat mengumpulkan banyak orang karena demi keselamatan diri dan semasa. Virus ini mudah sekali untuk menular dari satu tubuh ke tubuh yang lain. Himbauan ini hendaknya ditaati karena alat bantu untuk mengobati dan mengatasi covid-19 sangat minim bahkan belum ada obat yang ditemukan untuk menyembuhkan penyakit ini.

Dua Provinsi di Papua ini sedang dalam ancaman bahaya virus corona, karena penyakit ini tidak hanya terdapat di ibu kota provinsi-provinsi tetapi sudah menjurus ke kabupaten-kabupaten yang ada di kedua Provinsi ini. Semakin hari semakin meningkat jumlahnya bagi mereka yang terpapar virus ini. Dalam keadaan seperti ini, tentu diprediksi bahwa dunia akan mengalami krisis ekonomi khusunya masyarakat yang hidup di kota akan mengalaminya secara langsung. Karena semua masyarakat kota tergantung dengan persediaan makanan yang ada di tokoh-tokoh atau kios dan apapun jenisnya. Hal ini memang menjadi sebuah tantangan sekaligus peluang untuk para pemimpin maupun masyarakat untuk bersikap kritis dalam menghadapi situasi ini. Menjadi tantangan karena mungkin kalau lockdown terlalu lama pasti akan menjadi krisis ekonomi,  krisis keuangan dan apapun jenisnya. Sedangkan yang menjadi peluang ialah pemilik-pemilik modal usaha seperti supermarket, toko-toko, kios-kios dan apapun namanya,  merekalah yang akan mendapatkan keuntungan banyak.  Karena mereka  yang menyediakan kebutuhan primer maupun sekunder bagi semua masyarakat yang hidup di kota-kota. Di saat demikian orang asli Papua “OAP” diharapkan untuk lebih mencintai ibu bumi. Karena ibu bumi memiliki segala kebutuhan bagi manusia, tinggal bagaimana  ia mau mencintai dan mengolahnya atau tidak.

Keprihatinan pemerintah terhadap masyarakat dalam menangani wabah virus corona ini sudah diberikan dengan berbagai alternatif yang dilakukan. Salah satunya ialah memberikan bantuan sosial bagi masyarakat yang tidak mampu. Di provinsi Papua pembagian makanan dan sembako sudah dilakukan di beberapa Kabupaten guna mengurangi beban sesama di tengah pandemik covid-19 yang berdampak pada perekonomian. Misalnya Polres Tolikara menyerahkan bantuan berupa beras kepada Gereja “Ebenheizer” untuk diberikan kepada umat atau masyarakat. Kegiatan tersebut dipimpin langsung kabag Ops AKP Klemens Titirolobi. Ia mengatakan, selain menyerahkan bantuan mengajak masyarakat untuk menaati ajuran Pemerintah dalam penanganan vcovid 19 dan terapkan pola hidup sehat, (Cepos/28/3/20). Kemudiaan hal serupa  juga dilakukan dari Tim gabungan TNI-Polri  Asmat. Mereka memasak makanan di dapur umum polres Asmat dan bagikan makanan ke warga yang terdampak covid-19 di distrik Asmat, kabupaten Asmat. Kasat sabhara polres Asmat mengatakan, Polri dan TNI datang untuk memberikan informasi tentang pencegahan penyebaran virus Covid -19 dan juga membagikan nasi bungkus serta air mineral kepada warga, (Cepos/28/3/20).

Keprihatinan pemerintah dengan memberikan bantuan kepada masyarakat, hemat saya sebagai pemerintah harus demikian, apalagi saat-saat seperti begini. Namun dari sisi lain keprihatinan pemerintah menurut hemat saya tidak benar, karena mematikan semangat juang mereka untuk bisa mengola alam yang ada. Mereka tidak lagi mencintai alam dan tidak lagi melindungi serta mengelola dengan baik dan akhirnya mereka jadikan alam sebagai alat jual beli tanpa memikirkan masa depan anak cucu mereka. Sehingga hemat saya pemerintah seharusnya mengajak masyarakat untuk kembali mencintai dan mengola alam yang ada. Pemerintah sambil memberikan bantuan berupa makanan, seharusnya mereka juga bisa memberikan bibit-bibitan baik jangka pendek, menengah, maupun jangkah panjang yang bisa menghasilkan  makanan pokok. Dan tidak hanya bibit tanaman tetapi memberikan mereka alat kerja seperti sekop, linggis, parang, kampak,  dan berbagai alat perkebunan lainnya untuk bisa mengola alam ini dan menghasilkan sesuatu yang bisa mereka makan. Karena jika kita memberikan makanan yang instan akan habis dalam waktu yang tidak lama dibanding jika kita menanam di kebun ia akan habis dalam waktu yang cukup lama dan kita bisa mengola kembali untuk bisa menghasilkan sesuatu yang bisa kita makan pula.

Kehidupan kebanyakan masyarakat OAP bukan dari hasil kerja sebagai pegawai atau usahawan tetapi dari hasil olah alam di dusunnya. Mereka bisa mendapatkan makanan, menghidupi keluarganya, sejauh dusun, ibu bumi dijaga dan digunakan sebagai sumber kesejahteraan hidup masyarakat OAP sebagai pemilik ibu bumi. Sebaliknya jika tidak menjaga dusun, ibu bumi dan tidak diolah dengan baik maka ibu bumi tidak menjamin kesejahteraan hidup. Kekayaan alam di ibu bumi ini bukan hanya menjamin kehidupan manusia melainkan juga memberi kehidupan bagi segala jenis makluk hidup di darat, laut dan udara. Segala jenis tumbuhan dan makluk hidup di darat, dan air saling menghidupkan dan menjamin kelestarian alamiah. Maka ibu bumi memiliki fungsi bagi keberlangsungan hidup setiap makluk hidup, termasuk manusia OAP.

Dalam menghadapi situasi demikian saya teringat akan sebuah ungkapan cinta seorang Gembal Umat kepada umat dan masyarakat yang dilayaninya. Ia mengatakan “lebih baik tidak punya uang dari pada tidak punya dusun”. Demikian ungkapan keprihatinan Gereja yang mendorong kita semua untuk melibatkan diri dalam gerakan melindungi dan mengelola sumber hak hidup ekonomi masyarakat lokal. Dusun yang dilindungi dan dikelolah dapat menghasilkan uang bukan dengan cara menjual dusun, atau membiarkan tanpa memanfaatkannya untuk kehidupan. Bagi OAP ‘Tungku api’ harus tetap menyala sejauh  ada sesuatu yang dimasak dan disajikan untuk makan setiap hari dari kekayaan alam di dusun masyarakat adat pemilik hak ulayat. (Pendidikan dan realitas sosial di Papua;2017:179-180). Dalam hal ini, mau mengingatkan kita semua untuk lebih mencintai dan mengolah ibu bumi kita, karena ibu bumi memiliki seluruh kebutuhan hidup kita. Ungkapan keprihatinan gereja yang disampaikan oleh Almahrum Bapa Uskup Timika Mgr. Yohanes Philipus Saklil, Pr.  Di atas memang sangat benar dan mengajak semua orang dan lebih khusus OAP untuk memanfaatkan alam yang ada dengan baik, tidak dijadikan sebagai alat untuk dijual belikan. Gerakan ‘tungku api’ yang di buat oleh Bapa uskup Timika mesti dihidupkan kembali. Dalam hal ini pemerintah, gereja dan tokoh-tokoh yang berperan penting mesti bekerja sama untuk menyelamatkan ibu bumi ini dan mengajak masayarakat untuk tetap melindungi, memanfaatkan dan mengola alam dengan baik pula.

Lalu pertanyaannya mengapa kita mesti selamatkan tanah ibu bumi kita? Jawabannya adalah karena tanah dipercaya oleh manusia Papua yang hidup di bumi ini, sebagai ibu yang memberikan sumber segala kehidupan. Maka ketika tanah itu diobralkan maka putuslah hidup manusia orang asli Papua. Sumber susu dan madu akan menjadi racun mematikan bagi manusia Papua. Orang asli Papua akan mengalami kelaparan, sakit, dan mati karena ‘air susu’ sudah tiada. Ketiadaan air susu disebabkan karena orang asli Papua  menjual tanah, tidak mengadakan ritual-ritual adat yang mendatangkan kesuburan, hidup tidak bermoral, meninggalkan rumah-rumah adat seperti Bokam (rumah adat suku Ngalum), Pilamo (rumah adat suku dani) yang adalah sebagai pusat kehidupan.

Untuk menyelamatkan anak cucu kita, pertama-tama kita mesti selamatkan tanah ibu bumi kita. Untuk menyelamatkan manusia OAP dan ibu bumi mesti harus ada kerja sama antara pemerintah, gereja dan tokoh-tokoh adat. Mereka harus  memberikan pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya pemeliharaan dan pengelolahan ibu bumi ini, sehingga masyarakat bisa mengelola alam sesuai dengan hak ulayat mereka. Untuk menyelamatkan ibu bumi ini maka yang bisa dilakukan adalah melindungi dan mengola serta menanam tanaman jangka pendek, menengah dan panjang serta melindungi tanah-tanah adat, membuat pemetaan tanah-tanah adat, mengkampanyekan seruan“stop jual tanah”, seperti yang dibuat oleh Bapa Uskup Timika dengan gerakan melindungi dan mengelola Hak Hidup Ekonomi Masyarakat Adat. Selain itu juga semua elemen masyarakat harus mendorong membuat perda hak ulayat tanah adat, dan mendorong agar membuat konsep pembangunan berbasis kebudayaan, juga menghidupkan kembali ritual-ritual adat, dan menolak serta mengurangi segala macam hal yang masuk merusak alam ibu bumi ini. Hemat saya dengan kerjasama semua pihak demi perlindungan dan keselamatan tanah ibu bumi ini dapat menjamin hidup OAP serta menyelamatkan anak cucu dari segala macam bencana kehidupan. Bentuk kongkrit ini merupakan perwujudan dari tindakan misi untuk keselamatan dunia dan manusia. Kita perlu sadar bahwa ketika kita menjadikan tanah sebagai alat jual beli, maka saat itu pula kita sedang menjual diri kita serta anak cucu kita. Mari berpikir tuk ibu bumi kita!!

 

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur dan Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *