Memustuskan Matarantai Pendidikan Sistim Uang dalam Membina Anak Bangsa di Pegunungan Bintang

0
IMG20200116105706

Oleh Yeri Delka)*

 

Era globalisasi dalam dunia pendidikan terus berubah dengan mengikuti perekembang zaman. Kini kita sudah tidak terasa lagi berada pada era-milenial yang sangat kompetitif. Perkembangan era-milenial sekarang membutuhkan pengetahuan dan modal pendidikan yang baik untuk mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang semakin canggih. Pendidikan adalah sebuah wadah yang sangat vital guna membantu dan mendobrak situasi zaman ini. Pada masa ini kita dihadapkan pada suatu perubahan yang sangat signifikan sebagai tantangan baru bagi kita untuk maju atau tidak. Untuk itu perlu adanya rasa memiliki dan tanggungjawab dari tenaga pendidik untuk membina, mengarahkan dan menuntut anak bangsa menuju masa depan yang lebih cerah. Sebab hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak untuk semua anak merupakan suatu hal yang wajib hukumnya. Pada satu sisi di era sekarang ini uang menjadi segalanya untuk melakukan tugas tertentu tanpa memikirkan suatu pandangan masa depan yang lebih baik.

Praktik pendidikan yang sedang menjadi tren di kalangan pengajar (guru-guru) di Papua pada umumnya dan di Pegunugan Bintang pada khususnya adalah ketergantungan pada gaji dengan mengorbankan masa depan anak didiknya. Banyak tenaga pengajar tidak mengabdikan diri sebagai pendidikan di sekolah-sekolah tetapi menjadi penungu setia di ibu kota Kabupaten atau seringkali keluar ke kota dengan berbagai alasan. Proses pendidikan yang pemikiran utamanya adalah uang merupakan suatu kegagalan besar. Padahal dalam memenuhi hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak didik lain di luar Pegunugan Bintang adalah tanggungjwab besar dari seorang guru. Pengabdian guru seharusnya tidak setengah hati dalam membimbing, mendidik anak didiknya secara lebih baik.

Harapan untuk mendidik dan mengarahkan anak bangsa di Pegunungan Bintang melalui pola pendidikan yang baik itu ada di tangan para pendidik, guru. Harapan ini berbanding terbalik dengan fenomena  yang sedang terjadi  dalam pelaksanaan pendidikan di Pegunugan Bintang yang motivasinya adalah gaji. Dalam konteks ini sikap para pengajar jika tidak ada gaji maka semua akan meninggalkan tugas utama sebagai pendidik. Seharunya menjadi pendidik berarti membimbing, mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevalusi peserta didik. Dan bukan sebaliknya tiba di tempat tugas dekat ujian atau semester setelah itu meninggalkan tempat tugasnya. Praktik penyelenggaraan pendidikan ini harus diperbaharui demi masa depan anak. Sebab sumpah sebagai guru adalah “Saya akan membaktikan diri untuk tugas membimbing, mendidik, melatih, menilai, mengevaluasi proses dan hasil pemebelajaran peserta guna kepentingan kemanusiaan dan masa depannya”.

Maju dan tidaknya suatu daerah tergantung pada pendidikan karena pendidikan adalah sebagai modal pembangunan kemanusiaan. Sementara ketergantungan guru pada uang menjadi problem utama macetnya pendidikan di Pegunugan Bintang yang harus diatasi oleh pemerintah daerah. Pada situasi seperti ini pendidik atau guru-guru mesti didukung agar memiliki sikap tanggung jawab dalam dirinya.  Sebagai seorang guru berarti rendah hati untuk mengabdikan diri untuk suatu tujuan yang paling luhur yaitu menyelamatkan anak didik. Rela berkoban demi tugas luhur dalam pengabdian sebagai pahlawan. Penyelenggaraan pendidikan di Pegunugan Bintang sekarang berubah sangat signifikan dari yang dulu, yang diutamakan adalah pengabdian tetapi sekarang menjadi ketergantungan pada uang.

Dalam hal ini masalah gaji menjadi problem utama bagi para pendidik sehingga selalu meningalkan tempat tugas dan menunggu pembayaran di kota. Lalu tugas siapa untuk membimbing anak didik yang ditinggakan karena uang? Demi perubahan penyelenggaraan pendidikan di Pegunugan Bintang yang maju dan mandiri maka harus berani keluar dari zona nyaman, keluar dari zona ketergantungan pada uang. Matarantai sistim uang harus dimusnahkan karena tidak akan menghasilkan anak didik yang kompeten dan pintar. Penyelenggaraan pendidikan di Pegunungan Bintang tidak berjalan baik dan mengalami kemunduran yang sangat besar karena guru tidak mengabdikan dirinya sesuai tugas dan fungsi pokonya di dalam membina anak didiknya. Fenomna ini perlu dilihat dan diputusankan, kembalikan pola pendidikan yang sebenarnya. Untuk menangani fenomena ini adalah tugas semua stakeholder, terutama Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan di Kabupaten Pegunugan Bintang. Dinas pendidikan Kabupaten Pegunungan Bintang perlu lakukan analisa setiap komponen yang mengendalikan pendidikan di daerah. Dengan tujuan stakeholder yang dianggap penting dilibatkan agar mulai menata pendidikan dasar ini dengan benar. Kalau tidak demikian maka kedepan kita sudah kalah bersaing dengan darah lain di Papua. Semoga bermanfaat!!.

 

*Penulis adalah mahasiswa STFT “Fajar Timur” dan anggota Apli Apom Reseach Group (AARG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *