Perkembangan Peran Perempuan Papua dalam Perspektif Ajaran Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC)
Oktovianus Apintamon)*
Prolog
Tujuan dari tulisan ini adalah hendak memberikan sebuah pemahaman mengenai peran serta tanggung jawab perempuan dengan cinta yang andil dalam mengahapi perkembangan zaman ini. Juga mau menegaskan mengenai peran perempuan dalam perspektif ajaran keadilan, kedamaian, dan keutuhan ciptaan. Alasanya karena dalam budaya maupun kedudukan sosial zaman ini masih saja dibangun perspektif terhadap perempuan sebagai kaum yang sering dinomorduakan. Hal ini bertujuan juga agar kaum pria memahami atau tahu kedudukan, identitas serta peran perempuan yang lebih tinggi nilainya daripada apa yang kita anggap selama ini bahwa perempuan itu “tidak bisa”. Jangan hanya karena mereka terlahir sebagai perempuan, lalu mereka dikategorikan dalam kaum lemah. Hal ini memang sering terjadi bahwa peran perempuan tertindas oleh ideologi agama, adat, budaya, suku dan struktur patriarkhat masyarakat. Dengan demikian, keterbelakangan kaum perempuan tidak hanya menghambat perkembangan mereka secara mental, psikologis dan sosial, tetapi juga mengancam kesejahteraan hidup mereka dalam keluarga. Sebagai batu penjuru perempuan adalah pemelihara keluarganya, selain itu mereka memiliki peran sebagai manusia yang membesarkan generasi yang baru. Lalu Apakah sebenarnya kehendak Allah terhadap kaum perempuan? ketika Allah menciptakan alam dan manusia, dimanakah letak peran perempuan sebenarnya? Peran perempuan harus dilihat dan dipahami dalam perspektif ketutuhan ciptaan sehingga kaum perempuan mendapatkan rasa adil, damai dalam keutuhan ciptaannya dengan cinta antara laki-laki dan perempuan. Perubahan zaman sekarang ini menuntut agar kita tetap memiliki pola hidup yang baik dan benar dalam mengangkat dan menghargai peran kaum perempuan.
Sebab itu makhluk ciptaan Tuhan semuanya berhak untuk hidup dan berkembang sejalan dengan adanya perubahan zaman. Sebagaimana ciptaan Tuhan yang istimewa adalah manusia baik laki-laki maupun perempuan yang semuanya baik adanya. Dimana dalam proses penciptaan, perempuan mendapatkan tempat istimewa karena perempuan menjadi manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan. Perempuan memilki indentitas, kedudukan, serta perannya sebagai manusia yang sempurna ketika Tuhan menciptakannya. Atas dasar inilah peran perempuan haruslah memiliki dan mendapatkan nilai “keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan” (KPKC). Keutuhan ciptaan menjadi aspek penting dalam proses penciptaan. Karena Cinta maka seorang perempuan hadir dan memiliki peran yang sangat penting. Khususnya aspek “keutuhan ciptaan dengan CINTA adalah suatu konsep yang penting dalam rangka memahami peranan seorang perempuan. Oleh karena itu, keutuhan ciptaan berarti, segala sesuatu yang diciptakan Allah bersifat baik, dalam hal rohani maupun duniawi, alam maupun manusia.
Dalam melihat peran perempuan di sisi lain, Plato mengatakan bahwa perempuan ditinjau dari segi kekuatan fisik maupun spiritual mental perempuan lebih lemah dari laki-laki. Tetapi perbedaan tersebut tidak menyebabkan adanya perbedaan dalam bakatnya. Sementara, Kartini Kartono mengatakan bahwa perbedaan fisikologis yang dialami oleh perempuan sejak lahir pada umumnya kemudian akan diperkuat oleh struktur kebudayaan yang ada, khususnya oleh adat-istiadat, sistem sosial-ekonomi dan pengaruh-pengaruh pendidikan. Pengaruh kultural dan pedagogis tersebut diarahkan pada perkembangan pribadi perempuan menurut satu pola hidup dan satu pola tertentu.
Perempuan Papua Berteologi dalam menghadapi perubahan zaman secara baik
Peran perempuan dalam berteologi adalah membaca kembali ajaran suci dalam agama seperti Alkitab yang merupakan sumber harapan dan pembaharuan. Kaum perempuan diharapkan untuk mencari inspirasi dari permenungannya terhadap peran Allah dalam hidupnya demi mempertahankan kehidupan dalam kompleksitas masalah yang ada. Perlu dipahami bahwa dalam Kitab Suci yang ditulis secara budaya patriarkhi sebenarnya peran perempuan juga ditonjolkan di sana. Oleh sebab itu kaum perempuan dapat membandingkan pengalaman “wanita Alkitabiah” dengan pengalaman masa kini yang dihadapinya. Sumber kebenaran Allah ada dalam ajaran Alkitab dan tradisi Gereja, juga kisah orang-orang yang percaya kepada Tuhan, baik pria maupun wanita. Dasar-dasar sosial agama menekankan ketaatan pada ajaran dan hukum agama, lebih-lebih menempatkan harkat dan martabat perempuan sebagai norma yang wajib ditaati. Spiritualitas Yesus tidak pernah dilepaskan dari perhatian atau kepedulian sosial, perhatian kemanusiaan baik terhadap individu maupun kelompok. Yesus memberi perhatian khusus juga bagi perempuan dalam kisah Marta dan Maria dalam Alkitab. Oleh sebab itu, perempuan Papua harus memiliki prinsip hidup yang kuat berdasarkan ajaran agama dan peduli dengan situasi yang berkembang dengan adanya perubahan zaman ini.
Paham tentang kehidupan juga terlihat dalam agama suku atau agama asli, seperti agama Melanesia yang mengutamakan prinsip kehidupan yaitu harus terus berlangsung, kehidupan harus dilindungi, kehidupan harus dipelihara dan kehidupan harus dirayakan. Dalam situasi kehidupan ini bagi orang Melanesia, kehidupan yang demikian ada dalam kehidupan bersama, kehidupan suatu komunitas di mana suami istri dan semua yang di tanah Papua ini menjadi bagian di dalamnya.
Penulis melihat dari kehidupan sosial masyarakat di tanah Papua lebih khusus kehidupan perempuan Papua semakin hari semakin merosot. Peran perempuan dalam menghidupi nilai-nilai adat-istiadat dan budaya juga semakin merosot karena adanya perubahan sosial. Perubahan sosial yang terjadi kemudian menggeser pola hidup kaum perempuan sehingga hal ini menjadi penyebab banyak kaum perempuan terutama mereka yang muda seringkali lupa terhadap budayanya. Namun kita perlu sadar juga bahwa semua perubahan itu tidak harus diartikan sebagai suatu kemerosotan.
Penulis melihat salah satu gejala potitif misalnya adalah kesadaran yang semakin umum tentang martabat manusia dan hak-hak asasinya. Peran perempuan dalam mengangkat dan menjunjung tinggi harkat dan martabatnya semakin berkembang. Kaum perempuan sudah menjadi tuan bahkan jika ada kemerosotan moral, maka kemerosotan moral ini akan diperangi bersama-sama. Memang pada dasarnya bahwa bisa jadi kemerosotan moral ini akibat dan bukan sebab dari perubahan-perubahan sosial itu. Tetapi tentunya bahwa perubahan-perubahan ini dan kemerosotan moral zaman ini satu sama lain saling berkaitan erat.
Faktor-faktor perubahan sosial dan kemerosotan moral memang pada dasarnya dipengaruhi oleh teknologi modern, pengaruh kekuatan-kekuatan ekonomi lokal, nasional-internasional, lalu lintas komunikasi melalui media masa dan elektronik yang menghubungkan kita dalam waktu sekejap dengan semua daerah di tanah Papua tercinta ini. Hal ini tentunya sangat mempengaruhi nilai budaya dan adat isitiadat yang asli. Juga hal ini berdampak pada seluruh sistem pendidikan dan perubahan cara pandang dunia dan manusia serta sistem nilai lain dan kepentingan-kepentingan dalam masyarakat antar generasi dan sebagainya.
Perubahan- perubahan sosial di atas tidak dapat kita tiadakan. Oleh karena itu, harapan untuk perempuan Papua adalah kembali ke dalam budaya dan adat istiadat. Dalam hal ini peran perempuan di sana diangkat kembali ke keadaan semula. Peran ini bukan untuk menjadi yang nomor dua melainkan untuk melestarikan budaya dan semakin mempertegas peran perempuan dalam budaya. Dengan mendasarkan diri pada ajaran Agama, perempuan diharapkan untuk kembali kepada budaya. Menegaskan perannya dalam dunia saat ini dan terus berjuang demi mengangkat harkat dan martabatnya. Identitas kaum perempuan dalam adat dan budaya harus dipertegas demi memantapkan peran mereka dalam budaya modern. Perempuan papua harus maju menjadi garda terdepan dalam memelihara kehidupan. Terutama menjadi garda terdepan dalam keutuhan ciptaan. Memelihara kehidupan menjadi tugas dan peran semua orang, namun tanpa peran kaum perempuan maka hal itu mustahil terjadi.
Jika hal di atas terjadi maka akan terlihat dengan jelas peran perempuan dalam budaya modern. Perempuan akan semakin berpegang teguh pada prinsip ajaran keadilan, kedamaian, dan keutuhan ciptaan. Kaum perempuan akan dapat mempertahankan dan bertanggung jawab dalam kehidupan yang akan datang. Untuk mempertegas peran kaum perempuan, maka salah satu jalan keluar yang penulis pikirkan adalah perempuan papua tetap mengambil sikap terhadap situasi perubahan-perubahan sosial yang terjadi sekarang ini dengan kembali mengambil peran dalam budaya tradisional. Dalam arti ini diharapkan bahwa perempuan tidak tenggelam dalam budaya tradisional melainkan dengan mengambil peran dalam budaya tradisional, perempuan kembali menegaskan perannya dalam dunia modern.
Epilog
Berikut harapannya untuk perempuan Papua harus lebih memiliki sikap cinta akan budaya dan adat-istiadat setempat demi mempertahankan harkat dan martabat sebagai perempuan papua yang asli. Mesti belajar untuk tahu diri, tahu tempat dan tahu waktu. Perempuan Papua harus bisa dalam menghadapi perubahan-perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat yang pluralis ini. Peran perempuan selalu dinamis dan bukan statis, maka harus tetap bersikap positif dalam menanggapi perubahan sosial yang berlangsung. Agar supaya bisa merasakan apa yang diharapkan oleh perempuan Papua, mesti terbuka dan siap menerima konsekuensi-konsekuensi dalam perubahan-perubahan sosial serta nilai-nilai budaya sesuai dengan perkembangan perubahan zaman. Perempuan adalah makhluk sosial, maka tidak bisa berjalan sendiri. Untuk itu laki-laki siap membuka peran yang sebesar-besarnya untuk perempuan agar dia juga bisa bertanggung dalam kedudukan, status, bukan hanya di “dapur” tetapi bisa berperan dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Penulis berpikir bahwa sebagai laki-laki kita juga sadar bahwa dalam perkembangan zaman kini, status perempuan juga harus diangkat, dihargai dengan penuh kasih dan sayang. Secara total perempuan harus diberi peran dalam budaya modern bukan hanya kita laki-laki saja yang “di atas” terus. Hal ini dilakukan demi peran perempuan dalam mendapatkan keadilan dan perdamaian serta memberikan peran kepada perempuan dalam memelihara keutuhan ciptaan. Perempuan Papua harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang berlangsung sekarang ini. Perubahan perkembangan zaman masih berjalan dan dengan demikian perubahan zaman ini memberikan kesempatan kepada kita untuk berpartisipasi. Keterlibatan laki-laki dan perempuan dalam proses kemitraan tentu saja terwujud dalam konteks masing-masing.
Dengan demikian pendasaran perkembangan peran perempuan Papua dalam perspektif ajaran keadilan dan perdamaian serta keutuhan ciptaan adalah memberikan peran lebih kepada perempuan sebagai pemelihara hidup. Menghargai martabat dan hak perempuan dalam kehidupan modern. Membagi peran yang setara antara perempuan dan laki-laki sehingga keadilan tercipta. Perspektif ajaran keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan mempertegas peran perempuan dalam budaya modern. Peran kaum perempuan sudah bukan zamannya lagi dilihat ‘sebelah mata’. Perempuan adalah mitra laki-laki dalam menghidupi keadilan, perdamaian dan memelihara hidup demi keutuhan ciptaan manusia Papua. Semoga bermanfaat!!.
Penulis adalah mahasiswa STFT ‘Fajar Timur dan anggota Aplim Apom Research Group (AARG)
