Panggilan Allah Itu “Seni Hidup” Untuk Kepentingan Minggu Panggilan Se-Dunia Minggu 03 Mei 2020

0
IMG-20200504-WA0001

Fr. Charles Singpanki (Dok. Pribadi)

Oleh : Charles Singpanki)*

Dalam kamus besar bahasa indonesia, kata panggil berarti imbauan, ajakkan, atau undangan untuk melakukan suatu pekerjaan atau sebuah hal, cara orang untuk bekerja dan sebagainya. Terlebih panggilan untuk hidup berarti kecenderungan hati untuk melakukan suatu pekerjaan. Maka disini panggilan Allah terhadap umat Kristiani dengan tujuan untuk turut berpartisipasi dalam menata dan membangun kehidupan yang baik dan sejahtera. Panggilan merupakan hak asasi yang dimiliki setiap orang tanpa membedahkan golongan, ras, suku atau status sosialnya. setiap cara diskriminasi dalam hak asasi pribadi entah yang bersifat sosial, budaya, atau diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, suku, warna kulit, kondisi sosial, bahasa atau agama harus diatasi atau disingkirkan karena bertentangan dengan maksud Allah (Cahyadi, 2006: 55).

Panggilan Allah memiliki tiga bentuk dalam ajaran Kristen demi mencapai kesucian dalam hidup. Pertama panggilan (person) perorangan, kedua panggilan universal (umum) ketiga panggilan khusus. Panggilan pertama, panggilan secara person telah dipilih dan disukai Allah lebih daripada orang lain. Sama seperti Daud dipilih Allah dari antara tujuh saudara yang kuat gagah, berbakat dan lebih dewasa daripadanya. Allah tidak menilai, memilih atau melihat setiap orang dari kemampuan, ukuran besar-kecilnya fisik atau hal-hal lain yang menjadi tolok ukur namun, pada awalnya kehendak Tuhan sendiri memilih untuk memanggil. Allah telah merancangnya sebelum segala sesutu dijadikan. Ia memanggil setiap orang dengan apa adanya, membentuk dan menentukan jalan panggilan hidupnya. Lalu Allah memberkati setiap orang dengan Roh Kudus-Nya dan memanggil nama-nama pribadi untuk menjadi milik-Nya (Brena, 1983: 18-20).

Panggilan kedua, panggilan Allah secara umum (Universal )kepada semua orang Kristen untuk mencapai kepenuhan hidupnya (Brena, 1983: 41). Dalam LG.40. “semua jelaslah bahwa semua orang Kristian, bagaimana pun status dan corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Dengan kesucian itu juga dalam masyarakat di dunia ini cara hidup menjadi lebih manusiawi” ( Bdk. LG.40, 2). Panggilan umum yang diterima melalui pembaptisan telah menerima Rahmat Roh Kudus, menggabungkannya dalam persekutuhan bersama Allah untuk mengambil tiga tugas Kristus yakni menjadi Nabi, Guru dan Raja demi melaksanakan tanggungjawab kesuciannya.

Panggilan Allh yang ketiga, panggilan khusus lebih kepada mereka yang telah berjanji untuk hidup dalam satu ikatan perjanjian, mengambil sumpah untuk mengabdi dan menjalankan tuags dan tanggungjawab sebagai imam, nabi dan raja di tengah dunia. Panggilan khusus lebih kepada kaum berjubah, paus, uskup, imam, dan biarawan dan biarawati. Menafsirkan nasihat-nasihat Injil Tuhan dalam hidup dan karya mereka. (LG. 43).

Bentuk-bentuk panggilan demikian menjadi peluang bagi setiap orang untuk melibatkan diri dalam mengurus dan mengembangkan pekerjaan dalam hidup person maupun bersama. Menjadi fokus perhatian pada panggilan kedua kepada semua orang. Kepada semua orang Kristiani, namun lebih pada kaum awam. Kaum awam dipanggil untuk menjadi Kudus dan menyucikan dengan sikap dan tindakan yang ditampilkan dalam hidup harian mereka.

Mengenai hal ini di rumuskan dalam Dokumen KV II. LG. 31. Kaum awam ialah semua orang beriman Kristiani, kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam Gereja. Jadi, kaum beriman Kristiani, yang berkat Baptis telah menjadi anggota Tubuh Kristus, terhimpun menjadi umat Allah, dengan cara mereka sendiri ikut mengemban tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus, dan dengan demikian sesuai dengan kemampuan mereka melaksanakan perutusan segenap Umat Kristiani dalam Gereja dan di dunia.

Ciri khas dan keistimewaaan kaum awam yakni sifat keduniaanya. Sebab mereka yang termasuk golongan imam, meskipun kadang-kadang memang dapat berurusan dalam urusan-urusan keduniaan, juga dengan mengamalkan profesi keduniaan, berdasarkan panggilan khusus dan tugas mereka terutama diperutukan bagi pelayan suci (LG. 1). Sifat keduniaan yang khas menjadi dasar bagi kaum awam untuk melibatkan diri di berbagai segi kehidupan di dunia yakni dalam semua dan setiap jabatan serta kegiatan dunia, dan dalam situasi hidup berkeluarga, hidup ekonomi, kebudayaan, kesenian, profesi-profesi lembaga hubungan-hubungan internasional dan sosial kemasyarakatan yang biasa, yang merajut seluruh keberadaan mereka.

Mereka dipanggil Allah agar menjalankan tugas khasnya dibimbing oleh semangat Injil mampu menyumbangkan dan menghadirkan wajah Allah dan menjadi garam dan terang bagi dunia (GS. 43). Terutama dengan kesaksian hidupnya membawa terang cahaya iman, harapan dan cinta kasih. Mereka memperlihatkan Kristus kepada orang lain. Jadi tugas mereka secara khusus ialah menerangi dan menata semua kehidupan duniawi yang panah menjadi kudus. Dengan sifat kekudusan yang dimiliki yakni Kristus yang hadir dalam diri mereka melalui pembaptisan menunjukan satu-satunya cara di mana awam dapat mewujudkan Injil sepenuhnya dan membangun Gereja dengan hidup di dunia.

Mengaktualkan tugas dan tanggungjawab yang diterima melalui pembaptisan perluh menghidupakan dan menghayatinya demi menata dan memperbaharui diri dan dunia. Panggilan kaum Kristen dalam menata dan memperbaharui diri dan dunia hendaklah memiliki tiga bentuk panggilan pertama, koinonia (persekutuan), martiria (bersaksi), dan diakonia ( memberi, pelayanan).

Koinonia adalah salah satu ciri ciri jemaat perdana dalam Kisah Rasul mencatat bahwa tiap-tiap hari jemaat berkumpul  di Bait Allh, mereka selalu berkumpul untuk memcahkan roti dan berdoa di rumah-rumah. Hal ini merupakan kehendak Allah sendiri bahwa bersekutu bukan hanya dengan Allah saja tetapi dengan sesama manusia. Inilah panggilan orang Kristen yang mana ditegaskan dalam Ibrani 1:22-25. Persekutuan itu bisa dilakukan dalam ibadah raya minggu atau kegiatan-kegiatan lainnya. Yang kedua ialah, panggilan martiria (bersaksi) bahwa orang kristen dipanggil untuk pergi bersaksi. Tuhan Yesus sebelum terangkat ke surga Ia memberi perintah untuk pergi memberitahkan Injil ke seluruh dunia (Mat 28:19). Memberitakan Injil berarti bersaksi tentang Kristus. Pesan Agung demikian menjadi sumber inspirasi untuk kaum awam keluar bersaksi akan iman yang dimiliki dalam setiap kegiatan serta kehidupannya terlebih pada keterlibatannya dalam dunia berpolitikan. Dengan menjadi bagian dari kader dan anggota berpolitikan mampu menampilkan wajah Yesus, diri Yesus yang penuh dengan kedamaian, kebaikan, sebab pada dasarnya semua orang dipanggil untuk menjadi baik.

Panggilan ketiga, diakonia atau hidup yang memberi dalam atri memberi pelayanan dengan kemampuan dan sikap serta niat baik. Diakui bahwa secara manusiawi memberi itu merupakan pekerjaan yang berat karena menuntut pengorbanan dan tidak ada keuntungan. Artinya bahwa politisi katolik yang terlibat dalam politik dituntun untuk memberi diri seutuhnya demi kebaikan banyak orang. Kahadirannya menjadi berkat serta mampu menjawab harapan dan cita-cita semua orang memperoleh kehidupan yang sejahtera. Sebab pada mulanya Allah telah mengaruniakan Roh Kudus dan mencintainya sehingga para kaum beriman Katolik yang terjun dalam berbagai bidang kehidupan seperti politik, sosial, ekonomi, ddan lain-lain benar-benar mencintai pekerjaannya dan masyarakat.

 

DAFTAR PUSTAKAH

Brena. S Jess, Gembira Karena Dipanggil Teologi Panggilan Awam. Komisi Kerasulan Awam. Jakarta, Penerbit: Obor, 1983.

Cahyadi Krispurwana. T. Katolik Dan Politik. Jakarta: Penerbit, Obor, 2006.

Dua Mikhael, Kainama Fabiana R. Sihotang Kasdin. Politik Katolik,Politik Kebaikan Bersama. Jakarta Penerbit: Obor, 2008.

Hardawiryana. R. Konsili Vatikan II. Jakarta, Penerbit: Obor. 2013.

Frans, Magnis Suseno. Panggilan Dan Tanggung Jawab Politikus Kristiani. Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Agung Jakarta. 1990.

 

Penulis adalah Mahasiswa STFT Fajar Timur sementara menjalani masa TOP di Paroki Sang Penabur Skanto-Arso III, dan anggota Aplim Apom Research Group ( AARG).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *