Masyarakat Dihantui Ancaman Kelaparan, Pangan Lokal Menjadi Pilihan Utama
Mepianus Tapyor, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id
Oleh: Amokdakanki Tapyor*
Suasana kenyamanan semakin tidak terasa, kebutuhan pokok manusia sebagai makhluk sosial, makhluk ekonomi, makhluk berakal budi dan makhluk beriman (homo fides) kian menantang dengan hadirnya berbagai Wabah mematikan yang telah, sedang dan akan terus mengancam eksistensi hidup manusia di dunia ini. Pada bulan Februari lalu, dunia dihebokan dengan munculnya penyakit baru di kota Wuhan, Tiongkok, sebagai sebuah fenomena klasik sepanjang masa yang kini menjadi topik terhangat di seluruh dunia termasuk Tanah Air Indoensia hingga menjangkau di Pulau ufuk Timur Nusantara-Papua. Sebagian dari kita sedang mengarahkan perhatian terhadap seluruh media masa lokal, nasional hingga interasional dalam menyajikan berita-berita dunia yang sedang menjadi update news sajian utama terkait menyebarnya wabah Corona Virus di berbagai daerah hingga mendunia.
Berbagai bentuk hidup kian berubah dengan hadirnya virus baru Wuhan atau Virus Corona Wuhan yang disebut (Covid-19). Perubahan itu terlihat dari terputusnya mata rantai kehidupan manusia sebagai makhluk sosial, agama, ekonomi, politik, pendidikan dan berbagai bidang hidup lainya menjadi terkendala menurun. Dalam hal ini kuasa pemerintah sangat dominan untuk mengambil langkah dengan melihat berbagai negara yang langsung memilih alternative Lock Down sebagai pencegaan dalam membatasi penyebaran Virus Corona, ada yang memilih Social Distance sebagai dan juga memilih home stay dan berbagai bentuk larangan lainya menjadi perhatian bersama (Kompas, 18/03/20).
Di Tanah Air kita Indonesia, Lock down bukanlah alternative pilihan pemerintah melainkan social distance atau tetap menjaga jarak dan tinggal di rumah menjadi pilihanya utamanya. Dengan demikian, 50% masih diberi ruang gerak untuk melakukan aktivitas. Walaupun di berbagai daerah korban nyawa berjatuan karena terinveksi Covid-19. Dengan demikian, berbagai bentuk larangan dan himbuan pun tak terusik walau terdengar dari sejumlah instasi negara disegalah bidang seperti; Bidang pendidikan telah meniadakan Ujian Nasional bagi tingkat pendidikan SD, SMP, SMA dan SMK serta membatasi kuliah tatap muka bagi para Mahasiswa di Perguruan Tinggi, dan berbagai jaminan lainya dari Pemerintah Republik Indonesia. Hal serupa pula datang dari bidang keagamaan dengan semua pemimpinya menghimbau agar ibada dibatasi, bahkan dipending untuk sementara sambil melihat situasi perkembangan wabah Covid-19. Semua ini berdasar pada pengalaman beberapa negara yang sudah mengalami virus epidemic dalam hal menghiraukan himbauan pemerintah setempat. Akibatnya jumlah kematian terjangkitnya wabah Covid-19 menjulang tinggi melewati Wuhan dan berbagai negara lainya (Berita, 19/03/20).
Dengan hadirnya vandemic covid-19 hampir seluruh totalitas manusai sebagai makhluk sosial dilumpuhkan. Kehadiranya membawah malapetaka yang tak terduga mengguncang dunia. Dalam waktu yang singkat mampu menelan ribuan korban jiwa, membatasi pergerakan manusia, membatasi pekerjaan, membatasi peribadatan sebagai makhluk religious, membatasi hubungan sosial sebagai makhluk sosial dan saatnya menghimbau untuk kembali ke alam untuk berkebun mengolah sumber daya alam sebagai makhluk faber (pekerja) atau sebut saja pangan lokal. Diberbagai daerah dan kabupaten di Papua telah mengambil solusi lockdown daerah sebagai solusi untuk menghindari wabah vandemic covid-19 dengan jaminan pemerintah membiayai kebutuhan hidup masyarakat. Namun masih saja bantuan tersebut tidak mampan menafkai kebutuhan pokok manusia sebagai makhluk hidup. terlebih khusus di Kabupaten Pegunungan Bintang menjadi sebuah ancaman virus vandemic covid-19, Militerisme hingga wabah busung lapar semakin mendekat. Dalam situasi demikian, solusi apa yang tepat? Apakah masyarakat mengharapkan bantuan pemerintah dengan dana yang dicairkan untuk menangani covid-19? Apakah bantuan pemerintah menjamin semua hidup masyarakat akar rumput? Jika demikian, bagaimana dengan nasib masyarakat dalam mempertahankan kebutuhan hidup dalam situasi vandemic mematikan ini?
Orang Aplim-Apom dikenal Sebagai Manusia Pekerja Keras (Homo Faber)
Dahulu masyarakat Aplim-Apom pada umumnya dikenal sebagai orang-orang pekerja keras dengan biasa berkebun( omyong bonengyong) untuk kebutuhan hidupnya. Dengan letak geografis yang sangat menantang menjadikan masyarakat mempertanhakan hidup dengan ketergantungan pada alam. Namun saat ini tidak terlebih wilayah ibu kota dan juga kampung- kampung yang lain yang ada lapangan terbang, dilayani pesawat kecil akan muda mendatangkan barang dagang, dengan fasilitas ini kebiasaan hidup manusia berubah secara khusus pola konsumsi. Mansusia Ngalum yang sebelumnya rajin berkebun dan pintar meramu makanan yang di sediakan alam, kini berubah ketika kucuran dana besar-besaran yang berlimpah ruah enta itu bantuan dana desa, proyek pemberdayaan dan dana Otonomi Khusus, mengharapkan dana penanganan Vandemic covid-19 dan lainya menjadi sebuah sikap ketergantungan. Model atau gaya konsumsi masyarakat turut berubah Alam atau hutan yang dahulunya di jadikan minimarket untuk memenuhi kebutuhan mereka kini jarang di kunjungi. Saat ini sebagian masyarakat Pegunungan Bintang lebih senang dan mungkin merasa gampang ke toko dan kios yang sebenarnya yakni alam. Masyarakat bukan mencari makanan di alam atau di hutan tetapi mencarinya di kios yang ada dengan tumpukan hutang yang sangat signifikan meningkat.
Jika dibandingkan dengan kehidupan pada zaman dahulu yang hidupnya bergantung pada alam sebagai sumber dari hidup setiap makluk ciptaan yang ada di atas muka bumi ini terutama di alam Pegunungan Bintang, namun realita saat ini menunjukan tidak menghargai pemberian Allah lewat alam Pegunungan Bintang itu sendiri secara khusus dalam hal harga diri sebagai anak tanah, anak adat, tanah sumber kehidupan sebagai (Mama). Tentuh dari tanah sebagai mama sudah menyediakan berbagai bahan makanan khas Ngalum, tetapi sayang nya manusia Ngalum saat ini tidak mnghargai makanan khas yang ada di tanah Ngalum ini. Realita saat ini manusia dewasa, kecil, sudah terpengaruh dengan pengaruh global ini sehingga makanan khas atau pangan lokal, ( Om dan Boneng) sudah menjadi makanan tambahan di Negeri Apom-Aplim ini. Dengan demikian yang namanya harga diri sebagai manusia yang punyah dusun, tanah, serta segalah isinya sudah menjadi tempat para pendatang. Karena itu jangan kaget ketika para pribumi atau manusia Aplim-Apom Sibilki menjadi manusia ketergantungan kepada pembawah pengaruh luar dan terasing dari alamnya. Artinya sudah punah ketahanan pangan lokal sehingga dalam pemikiran saya mempridiksikan beberapa tahun kedepan makanan khas orang Pegunungan Bintang akan punah digantikan oleh beras.
Saat ini yang terjadi setelah ada beras makanan khas Ngalum boneng dan om itu hanya sebagai makanan binatang pemeliharaan dan juga manusia sampai dengan binatang saat ini sedang mengkonsumai makanan instan, ini menunjukan harga diri kita sebagai orang Aplim-Apom Sibilki akan hilang. Berbicara harga diri bukan hanya nilai- nilai sakral di segi adat dan budaya tetapi bahan makanan ini juga menunjukan harga diri kita sebagai orang Pegunungan Bintang secara khusua dan orang Papua umumnya.
Manusia Sebagai Makhluk Ekonomi (Homo Economicus)
Pada dasarnya manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi selalu menghadapi masalah ekonomi sebagai kebutuhan mutlak. Inti dari masalah ekonomi yang dihadapi manusia adalah kenyataan bahwa kebutuhan manusia jumlahnya tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia jumlahnya terbatas berupa barang dan jasa. Beberapa faktor yang memengaruhi sehingga jumlah kebutuhan seseorang berbeda dengan jumlah kebutuhan orang lain: Faktor ekonomi, lingkungan sosial budaya, Faktor fisik Faktor pendidikan dan Faktor moral yang selalu menjadi kendala di Pegunungan Bintang.
Manusia disebut juga homo economicus atau manusia ekonomi yang memilih dan menilai sesuatu hanya dengan dasar pertimbangan mengenai fungsi kegunaanya (manfaatnya) dari sisi kepentingan ekonomi. Dengan kata lain memilih sesuatu karena membutuhkan. Ada dua kecenderungan mengapa manusia disebut manusia econimicus. Kecenderungan pertama bahwa manusia mestinya mempertahankan hidup dengan cara hidup hemat dengan kerja keras. Artinya bahwa apa yang terdapat di alam, hutan, kebun dan dusun kita atau sebut saja smuber daya alam kita harusnya dipakai secara hemat.
Dengan tidak menebang pohon sembarang, tidak menjual tanah, tidak menambang, atau yang sifatnya merusak alam. Karena alam adalah sumber utama yang menyediahkan segalah macam kebutuhan hidup manusia yang dapat diperbaharuhi dan tidak dapat diperbaharuhi. Inilah kekayaan yang kita miliki berkat nenekmoyang kita atas rahmat Sang Pencipta. Jika sumber kehidupan ini terjual atau dieksploitasi habis maka habislah manusia pemilik tanah. Ia hanya tinggal menunggu bantuan maknan yang siap saji. Dengan demikian, tipe manusia ini tidak layak disebut homo economicus atau homo faber (manusia pekerja). Pada hal dalam kehidupan ini juga saling kait mengakait antara sesama manusia dan alam sekitarnya. Dengan keterkaitan antar sesama manusia dan alam tentuh saling membutuhkan antara kedua pasanagan ini saling melengkapi. Dari alam menjaga manusia dan juga sebaliknya sehingga kerjasama antar sesama itu terus berjalan itulah kehidupan sebenarnya yang bernilai luhur. Dikatakan luhur karena dapat menyimpan, menjaga dan merawat alam untuk anak cucu kita, merawat berkat dari Tuhan melalui leluhur nenekmoyang kita. Pada zaman sekarang terkadang antara kedua pasangan ini tidak berjalan sesuai harapan Allah sang pencipta maupun nenekmoyang.
Dalam kehidupan manusia Ngalum hari ini contonhnya cara hidup sebenarnya sudah Runtuh dengan kencangnya pengaruh globalisasi melalui hadirnya pemerintah, jual tanah sebagai salah satu pengaruh budaya baru yang tumbuh subur. Sebab melihat dinamika saat ini sangat berlawanan dengan carahidup sebenarnya sebagai manusia Ngalum sudah semakin termakan zaman. Saat ini harga diri manusia yang punya tanah sebagai sumber dari pada hidup itu sendiri sudah tidak berlaku dengan hadir nya pengaruh luar atau hegemoni budaya luar itu sendiri.
Tindakan ekonomi adalah sebuah istilah yang mengacu pada setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling baik, dan paling menguntungkan. Tindakan ekonomi terdiri atas dua aspek, yaitu: Tindakan ekonomi Rasional, dimana setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling menguntungkan, dan kenyataannya demikian. Sementara tindakan ekonomi Irrasional, setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling menguntungkan namun kenyataannya tidak demikian. Karena motif ekonominya berbeda secara intrinsik maupun ekstrinsik merubah sikap tindakan manusia dalam mengelolah sumber pendapatan. Motif ekonomi disebut sebagai intrinsik karena suatu keinginan untuk melakukan tindakan ekonomi atas kemauan sendiri demi mempertahkan hidup pribadi maupun keluarga.
Dalam motif ini menunjukan sebuah kesadaran untuk berkebun yang telah lama dipraktekan dan dipertahankan oleh nenekmoyang kita hingga saat ini. Dengan cara dan gaya yang masing-masing sesuai letak geografis suatu wilayah. Pada taraf ini kita berkebun atau mencari makan untuk hidup. Sementara motif berkebun yang saat ini terjadi ialah motif ekstrinsik. Motif ekstrinsik disebut sebagai suatu keinginan untuk melakukan tindakan ekonomi atas dorongan orang lain. Motif ini inilah yang kita alami saat ini, dimana kita bekerja karena diperintahkan oleh pemerintah melalui program-program yang ditawarkan. Motif ini jugalah yang kita alami di situasi vandemic covid-19. Situasi sosial terancam, stok makanan dibatasi dan berbagai kegiatan dihentikan sehingga kebutuhan ekonomi meningkat. Saat inilah kita disuru, diperintah oleh situasi dan kondisi maupun melalu pemerintah untuk berkebun. Pada umumnya prakte dari motif bekerja adalah memenuhi kebutuhan, memperoleh keuntungan, memperoleh penghargaan, memperoleh kekuasaan motif sosial dan menolong sesama.
Prinsip dasarnya bahwa ekonomi merupakan pedoman untuk melakukan tindakan ekonomi yang didalamnya terkandung asas dengan pengorbanan tertentu diperoleh hasil yang maksimal. Prinsip ekonomi adalah dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil tertentu, atau dengan pengorbanan tertentu untuk memperoleh hasil semaksimal mungkin.
Setiap makhluk hidup membutuhkan makanan. Tanpa makanan, makhluk hidup akan sulit dalam mengerjakan aktivitas sehari-harinya. Makanan dapat membantu manusia dalam mendapatkan energi, membantu pertumbuhan badan dan otak. Memakan makanan yang bergizi akan membantu pertumbuhan manusia, baik otak maupun badan. Setiap makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda. Protein, karbohidrat, dan lemak adalah salah satu contoh gizi yang akan didapatkan dari makanan dan itu semua terdapat dalam alam dan secara tidaklangsung dikelolah masyarakat. Setiap jenis gizi mempunyai fungsi yang berbeda. Karbohidrat merupakan sumber tenaga sehari-hari. Salah satu contoh makanan yang mengandung karbohidrat adalah Om dan Boneng. Dan sayur mayur sebagai sumber rotein digunakan untuk membantu pertumbuhan, baik otak maupun tubuh manusia. Lemak dari hewan digunakan oleh tubuh sebagai cadangan makanan dan sebagai cadangan energi.
Segalah jenis hewan yang terdapat di alam Pegunungan Bintang menjamin energy tubuh ini ketika alam dijaga dan dikelolah seusia kebutuhan dihutan luas. Sebab hutan sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa kayu, tetapi masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat melalui budi daya tanaman pertanian pada lahan hutan. Sebagai fungsi ekosistem hutan sangat berperan dalam berbagai hal seperti penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna, dan peran penyeimbang lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global. Sebagai fungsi penyedia air bagi kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat penting, hal ini dikarenakan hutan adalah tempat tumbuhnya berbagai tanaman.
Pentingnya Pangan Lokal Sebagai Sumber Hidup
Ketahanan pangan adalah ketersediaan pangan dan kemampuan seseorang untuk mengaksesnya tanpa berhubungan dengan orang lain. Sebuah rumah tangga atau daeah dikatakan memiliki ketahanan pangan jika penghuninya tidak berada dalam kondisi kelaparan atau dihantui ancaman kelaparan karena tersedia secara alamiah di hutan maupun hasil usaha manusia di kebun. Ketahanan pangan merupakan ukuran kelentingan terhadap gangguan pada masa depan atau ketiadaan suplai pangan penting akibat berbagai faktor seperti ketidak stabilan ekonomi yang dihadapi manusia saat ini dengan hadirnya vandemic covid-19.
Dalam situasi ini secara tidak langsung melumpuhkan roda ekonomi dalam transaksi ekonomi pasar namun tetap saja manusia membutuhkan segalah kebutuhan hidupnya terutama kebutuhan makan dan minum. Jika kehidupan setiap manusia di bumi ini terlepas dari kebutuhan akan makan dan minum maka kematian adalah jawabanya, sebab makan minum ialah sumber dari kehidupan itu sendiri. Sikap ketergantungan dan mental instan adalah jawabanya dengan melihat latarbelakang hidup sosial masyarakat Pegunungan Bintang pada umumnya.
Beras menjadi makanan pokok sementara pangan lokal Om dan Boneng sebagai makanan tambahan. Kedengaaranya sedikit aneh ketika orang tuanya berkata anak kami susah makan Om Boneng bahkan cara bakar, kerja kebun asli juga tidak tahu. Sungguh miris dan inilah kenyataan hidup di ibu kota Kabupaten bahkan hampir beberapa tempat lainya.
Pemerintah daerah Pegunungan Bintang dalam hal ini Dinas Pertanian seharusnya berusaha melakukan langka- langka pencegahan pengaru ini. Dengan mendorong perkebunan lokal melalui bantuan alat kerja dan pembibitan. Pemerintah daerah juga membatasi bantuan sosial yang sangat menggiurkan masyarakat. Karena akan menunggu bantuan beras raskin. Sebab masyarakat umum Pegunungan Bintang bagian Utara dan bagian Timur kebanyakan berkebun ( bertani) namun saat ini masyarakat kebanyakan mulai berubah dengan pengaruh yang ada. Dalam situasi seperti ini siapakah yang dipersalahkan? Apakah keluarga yang tidak bertanggungjawab? Apakah pemerintah daerah? Ataukah masyarakat Aplim Apom sibilki sendiri?
Penulis adalah Mahasiswa dan Pemerhati Pangan Lokal di Pegunungan Bintang
