Komunitas Pecinta Kopi Ok-Mek Papua Akan Launching di Oksibil

0
KEOOKK

OKSIBIL, TRIBUNPAPUA.ID—Kopi merupakan salah satu jenis meniuman yang sangat popular di Dunia. Seiring perkembangan, kopi menjadi satu satunya minuman yang bisa mempersatukan, menghangatkan, menyegarkan orang orang dalam segala aktifitas baik  pertemuan, diskusi, seminar, di kantor, perusahaan dan lainnya.

Menurut catatan yang dirilis baru baru ini mengatakan, Penikmat kopi setiap tahun semakin meningkat. Negara negara yang mengkonsumsi Kopi seperti Uni-Eropa, Amerika, Jepang, cina, Korea, Indonesia, uni-Afrika dan lainnya.

Kopi juga merupakan komoditas tropis utama yang diperdagangkan di seluruh dunia dengan kontribusi setengah dari total ekspor komoditas tropis. Popularitas dan daya tarik dunia terhadap kopi, utamanya dikarenakan rasanya yang unik serta didukung oleh faktor sejarah, tradisi, sosial dan kepentingan ekonomi (Ayelign et al, 2013).

Selain itu, kopi adalah salah satu sumber alami kafein (Nawrot et al, 2003) zat yang dapat menyebabkan peningkatan kewaspadaan dan mengurangi kelelahan (Smith, 2002). Minuman kopi, minuman dengan bahan dasar ekstrak biji kopi, dikonsumsi sekitar 2,25 milyar gelas setiap hari di seluruh dunia (Ponte, 2002).

Pada tahun 2013, International Coffee Organization (ICO) memperkirakan bahwa kebutuhan bubuk kopi dunia sekitar 8,77 juta ton (ICO, 2015).5 Sebagai negara penghasil kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam, Indonesia mampu memproduksi sedikitnya 748 ribu ton atau 6,6 % dari produksi kopi dunia  pada tahun 2012.

Dari jumlah tersebut, produksi kopi robusta mencapai lebih dari 601 ribu ton (80,4%) dan produksi kopi arabika mencapai lebih dari 147 ribu ton (19,6%).Luas lahan perkebunan kopi di Indonesia mencapai 1,3 juta hektar(ha) dengan luas lahan perkebunan kopi robusta mencapai 1 juta ha dan luas lahan perkebunan kopi arabika mencapai 0,30 ha6 Konsumen kopi terus memaksakan penerapan standar baru dalam perdagangan kopi.

Dalam Artikel yang di tulis oleh Melkior Sitokdana, Dosen UKSW Salatiga, Jawa Tengah dengan judul Sejarah Emas Hitam dari Pegunungan Bintang mengungkapkan  salah satu potensi alam yang kian tersohor di nusantara adalah kopi Typica Arabica atau sering dijuluki “Emas Hitam dari Pegunungan Bintang”. Dalam beberapa ivent festival kopi tingkat Papua dan nasional Kopi ini selalu unggul dalam hal cita rasanya. Penilaian tersebut bukan tanpa alasan karena berdasarkan hasil tes laboratorium Puslit Kopi Indonesia di Jember mendapat kategori “Excellent” dengan point 85. Kopi ini menjadi unik karena hasil persilangan typica, bourbon dan cattura sehingga menjadi “Kopi Langka dan Tua” sekelas kopi Blue Mountain dari Jamaica dan sama dengan Kopi dari Nikaragua. Kopi ini rasanya taste dan flournya masih natural dan seimbang karena diproduksi dari Pegunungan tinggi yang tanahnya subur dan tanpa polusi industri.

Masuknya kopi di Pegunugan Bintang, misalnya di Apmisibil. Sekitar tahun 1960-an oleh pater Hylkema di Apmisibil memperkenlkan berbagai macam sayur.  Setahun kemudian pater Hylkema pindah tugas,  digantikan oleh Pater Suwarces pada tahun 1968. Pada waktu Pater Suwarces bertugas itulah mereka membangun kebun raya di lahan sekitar 5 hektar.

Beberapa tahun kemudian datanglah Pater Piet Vande Stap yang dipindah tugaskan dari Paniai. Pater Piet sekalian bawah bibit Kopi Monemani pada tahun 1972 dan tanam diselah-selah tanaman sayur-mayur. Sebagian yang ditanam tidak tumbuh, hanya 5 pohon yang tumbuh karena di bawah pohon Kuki dan Saprek. Kopi yang ditanam tersebut berbuah setelah 5 tahun. Kemudian Pater Pit Vande Stap dibantu Willem Asiki dan Domika Kasipmabin panen dan mengolah kopi tersebut dengan alat seadanya untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Setelah pohon Kopi yang ditanam Pater Pit Vande Stap menghasilkan bibit-bibit baru, maka masyarakat setempat mulai mengambil sebagian dan tanam di kebun masing-masing. Salah satu tokoh yang mengambil bibit kopi tersebut adalah Andy Urpon. Ia mengambil bibit dan tanam dikawasan kompleks kecamatan Okbibab saat ini, tepatnya dekat kantor Koramil.

Pada waktu itu Andy Urpon rumahnya dibangun di tempat tersebut karena sempat bantu-bantu juga di kantor pemerintahan. Pada waktu itu Ia tanam kopi di selah-selah pohon pisang sehingga cepat tumbuh dan subur. Kemudian Andy Urpon pindah rumah ke dekat pastoran baru sekarang pada bulan januari tahun 1982. Sekalian pindahkan kopi ke dekat pemukiman baru.

Pada saat itu mulai Ia kembangkan kopi dilahan kurang lebih sekitar 1 hektar. Wilayah tersebut tanahnya subur sehingga tumbuh cepat, sebagian yang sudah berbuah menghasilkan bibit sehingga diperbanyak lagi. Pada waktu itu, pohon kopi yang ditanam tersebut panen pada tahun ke 5. Seperti pengalaman Pater Piet Van Der Stap mulai tanam tahun 1972 dan panen tahun 1977 dan Andy Urpon tanam tahun 1982 dan panen mulai tahun 1987.

Setelah Kopi sudah menghasilkan bibit-bibit, masyarakat lainnya mengambil bibit dari Pater Piet Van Der Stap dan sebagian dari Andy Urpon mengembangkan kopi di kebun masing-masing. Mulai tanam di sekitar Abmisibil, Okbifisil dan sebagian bawah ke Okbab, yang sekarang kita kenal dengan Kopi Lopkop.

Selain itu, Bibit Kopi mulai datangkan dari luar setelah melihat perkembangan kopi di Abmisibil yang cukup menjanjikan melalui program Gersatera atau kepanjangannya Gerajakan Desa Sejahtera. Program tersebut diinisiasi Pemerintah Daerah Jayawijaya pada tahun 1988. Dari Wamena mengirim alat pertanian, bibit-bibit tanaman, ternak dan ikan. Termasuk banyak bibit kopi yang dikirim ke seluruh Pegunungan Bintang. Dengan adanya program tersebut masyarakat mengembangkan banyak kebun kopi.

Kemudian pada tahun 2002-2003 ada program DMC, yaitu bantuan sosial dari Bank Asia kepada Papua yang digagas oleh orang Belanda bernama Van De Bergh karena waktu itu terjadi musibah kelaparan. Termasuk Pegunungan Bintang mendapatkan bantuan pengembangan Kopi. Waktu itu masyarakat membangun gudang kopi dan kebun di seluruh kampung. Dengan bantuan bibit Kopi dari program tersebut sehingga rata-rata setiap keluarga memiliki kebun sendiri.

Masuknya Kopi di Oksibil dan wilayah pemekarannya pada tahun 1971. Pertama kali ditanam oleh bapa Hengki Bidana Kepala kampung pertama Kabiding pada tahun 1971. Lokasi pertama yang dibuka adalah di Atemabol, kabiding Oksibil. Kemudian dikembangkan di tempat lain wilayah Oksibil.

Pengembangn dan Penyebaran kopi di wilayah Oksibil meliputi, Yapimakot, Okatem, Dabolding, Kabiding, Aldom, Okpol, Arinkop, Pepera, Ok Aom, Oksop, Sobsebang dan bebera tempat lain. Dari kampung ini memiliki berbagai kelompok yang dibentuk kemudian mulai mengembangkan kopi setiap kelompok.

 

Daerah Pengembangan Kopi

Wilayah Pegunungan Bintang yang berpotensi mengembangkan kopi antara lain Distrik Okbi, distrik Okbab, distrik Kiwirok, distrik Okyop, Distrik Okhika, distrik Borme, Bime, distrik Pepera, Distrik Ok Aom, distrik Serambakon, distrik Kalomdol dan Distrik Oksibil.

Daerah daerah ini menjadi sasaran Pengembangan Kopi di Pegunungan Bintang demi terwujudnya kemandirian ekonomi atau berdikari di bidang ekonomi yang bisa menopang masyarakat Pegunungan Bintang.

Dari daerah pengembangan kopi ini, banyak kelompok Petani kopi yang dibentuk, namun belum sampai pada manajemen produksi, pemasaran kopi dengan jumlah yang banyak. Kerja mandiri tanpa terorganisir. Untuk itu, keluhan soal para petani kopi tidak ditanggapi serius oleh pihak berwajib.

Selain mendampingi kopi, Komunitas ini juga menyediakan buku buku bacaan sebagai panduan bagi para petani Kopi Ok-Mek Papua. Membangun budaya literasi bagi para petani Kopi menata diri dan mengembangkan ilmu pengetahuan tentang kopi.

Komunitas Pecinta Kopi Ok-Mek Papua juga melakukan kerja sama lintas organisasi, kerja sama dengan Pemerintah daerah dan menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengembangan Kopi, penetapan Harga dan Penyaluran Kopi Ok-Mek ke pasar.

Untuk itu, dengan adanya Komunitas Pecinta Kopi Ok-Mek (KP-KOM) Papua ini mampu merangsang para petani untuk terus bekerja, memproduksi, memasarkan ke seluruh masyarakat Pegunungan Bintang, Papua maupun Indonesia. Kita mencintai dengan hasil kita sendiri.

Komunitas Pecinta Kopi Ok-Mek Papua akan launching tahun 2020 ini, untuk itu mohon dukungan dari semua pihak yang berkepentingan langusng maupun tidak langsung demi perkembangan Kopi di wilayah Pegunungan Bintang bisa berparisipasi dalam pembentukan komunitas tersebut.

 

Penulis: Fransiskus Kasipmabin  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *