Dorong Masyarakat Gemar Menanam Kopi Arabica di Pegunungan Bintang

0
IMG-20200319-WA0003

OKSIBIL, TRIBUN PAPUA.ID–Kopi Arabica typica asal Pegunungan Bintang kini dikenal banyak penikmat Kopi baik di dalam Papua maupun luar Papua. Akibatnya pemesan kopi semakin meningkat, lantaran guri dan keharumannya mengikat pelahap kopi.

Berwarna hitam pekat, terasa pahit di mulut, tetapi meninggalkan jejak rasa sitrun di lidah. Itulah pengalaman ketika penikmat Kopi mencicipi kopi Arabica Typika asal Oksibil, Kiwirok, Okbibab, Pepera, Serambakon maupun Okbab Pegunungan Bintang, Papua.

Biji kopi jenis arabika typica ini dapat disajikan dengan berbagai metode, di antaranya V60, tubruk, atau dicampur dengan susu dan menjadi latte. Dibandingkan dengan V60 atau dicampur susu, rasa sitrun yang menjadi karakteristik utama kopi ini paling terasa saat disajikan dengan metode tubruk.

“Tipikal rasa yang muncul dari arabika typica adalah rasa sitrun, yang dekat kaitannya dengan rasa berry, jeruk, peach atau apricot. Tidak jauh-jauh dari rasa asam,” kata ahli kopi Hideo Gunawan belum lama ini.

Hideo, yang pada Februari lalu pernah ke Pegunungan Bintang, Papua untuk mengajarkan cara penanaman dan teknik pengolahan kopi kepada warga setempat, menilai biji kopi dari daerah tersebut memiliki keunggulan dari segi rasa, kandungan gizi, maupun kualitas.

Perluh diketahui bahwa Pohon kopi arabika typica umumnya lebih besar dengan buah yang lebih sedikit dibandingkan dengan pohon kopi varietas lain, seperti yang banyak ditanam di Sumatera. Pohon-pohon kopi yang ditanam pada ketinggian sekitar 1.900 mdpl ini juga memiliki usia produktif yang lebih lama yakni mencapai 30 tahun, dibandingkan dengan pohon kopi jenis hibrida yang hanya sampai 10 tahun.

Suhu dingin berkisar 15 derajat Celcius, tanah yang subur, dan buah yang lebih sedikit menjadikan zat gizi yang tersimpan dalam biji kopi Oksibil makin tinggi dan rasanya menjadi lebih enak. “Salah satu varietas pohon kopi terbaik yang pernah saya temui di Indonesia ternyata ada di Oksibil,” tutur Hideo.

Dari 34 distrik di Kabupaten Pegunungan Bintang, baru lima distrik yang sudah ditanami kopi, dua di antaranya telah dikunjungi Hideo, yaitu Distrik Okbi dan Okbab.

Umumnya, petani kopi di kedua distrik tersebut sudah mengerti cara penanaman kopi yang baik, begitu pun proses dari buah yang baru dipetik sampai menjadi biji atau bubuk kopi siap jual.

Petani kopi di Kampung Sabin, Distrik Okbab, bahkan sudah menanami kebunnya dengan pohon penaung dan rumput yang ditujukan melindungi pohon-pohon kopi dari sinar matahari langsung, yang bisa mengurangi kualitas buahnya.

Untuk mendapatkan kualitas biji kopi yang optimal, buah-buah kopi dikupas dengan tangan. Meski prosesnya lebih lambat daripada pengupasan dengan mesin, hasilnya akan lebih baik.

“Kalau dikupas dengan mesin ada paparan panas, padahal panas adalah musuhnya kopi,” ujar Hideo. Meski demikian, kata dia, petani kopi di Oksibil perlu belajar untuk menanam pohon kopi pada saat yang sama sehingga pohon-pohon kopi di suatu perkebunan memiliki usia seragam. Selain itu, petani juga perlu memperhatikan penanggulangan penyakit seperti karat daun yang memusnahkan populasi kopi arabika typica di Sumatera dan Jawa pada 1900-an.

Kembangkan Melihat besarnya potensi kopi arabika typica dari Oksibil, Pemkab Pegunungan Bintang memutuskan untuk mengembangkan komoditas ini. Dari pengamatan Hideo, baru sekitar 20 persen lahan milik petani di dua distrik yang dikunjunginya yang ditanami kopi. Rata-rata setiap kepala keluarga memiliki 1.000 pohon kopi yang bisa menghasilkan 300-600 kilogram biji kopi.

“Ini artinya potensinya masih besar sekali. Sayangnya masyarakat Pegunungan Bintang belum berpikir bahwa dengan menanam kopi mereka bisa mendapat uang dalam jumlah besar, sehingga belum banyak yang mau menanam kopi,” ujar roaster Curious People Coffee, sebuah kafe di Cengkareng, Jakarta Barat itu.

Petani kopi juga menghadapi kendala dalam memasarkan produk mereka, karena tidak banyak orang tahu bahwa ada kopi berkualitas di Oksibil.

Hal itu membuat pemerintah daerah mendorong para petani Kopi untuk giat bekerja produksi kopi setiap bulan dengan jumlah yang cukup untuk memenuhi pemesan Kopi Pegunungan Bintang. Masyarakat petani Kopi harus didorong dengan membantu dana, alat pelengkapan kerja, memotfasi, memasarkan kopi ke luar daerah agar kopi benar benar menjadi pendapatan keluarga di kampung kampung. Hal itu dikatakan Yohanes Sitokdana, ST, anggota DPRD Pegunungan Bintang dari daerah pemilihan dua, distrik Okbi, Okbab dan sejumlah distrik di wilayah II ini.

“Saya mempunyai kebun kopi, membantu masyarakat di Okbi. Selama tiga bulan di sana”ucapnya kepada media ini ketika menemuinya di Kukding Okpol pekan kemarin. Gerakan petani menam kopi harus didorong oleh semua pihak, terlebih pemerintah daerah. Menurutnya, Bapak Bupati Pegunungan Bintang, ketika berkunjung ke Okbibab pekan lalu memesan untuk masyarakat Giat menanam Kopi. Untuk itu, saya berharap masyarakat harus menanam kopi merawat dan produksi sebanyak banyaknya, karena kopi merupakan satu satunya sumber pendapatan masyarakat.

Penulis: Fransiskus Kasipmabin

Sumber: Antaranews

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *