Kopi Jember : Antara Iklim, Kuantitas dan Kualitas

0
20191125_123337

Kopi Arabica Lopkop (Dok. Fransiskus Kasipmabin)

Pada 12 April 2017 tepat di hari ulang tahun kabupaten Pegunungan Bintang yang ke 14, salah satu mata acara yang diketengahkan adalah Peluncuran Program Koteka. Koteka yang dimaksud di sini bukanlah  koteka yang kita kenal yaitu pakaian tradisional  orang Pegunungan Tengah Papua melainkan kependekan dari (Kopi, Ternak dan Kakao).

Khusus untuk Kopi dengan peluncuran kopi tersebut maka dengan resmi mengumumkan kehadapan publik maksud dari peluncuran itu. Sesuai dengan program  yang diusung dibalik peluncuran tersebut yakni Pengadaan bibit kopi jenis Arabika dari Jember, Jawa Timur. Jember juga merupakan pusat kopi di seluruh Indonesia.

Dalam rencananya pemerintah hendak mendatangkan bibit kopi dari Jember untuk ditanam dan dibudi dayakan di Pegunungan Bintang. Hal itu berarti kopi Jember yang dalam hal aroma dan cita rasa berada di urutan ke tiga di Indonesia menggantikan kopi kelas satu yang dimiliki Pegunungan Bintang.

Suatu keputusan yang kurang pertimbangan tentunya mengingat alasan pemerintah mendatangkan kopi Jember adalah soal jumlah biji yang lebih banyak dari pada kopi lokal  dan dalam 2 tahun bisa berbuah. Mengutamakan kuantitas biji dari pada kualitasnya merupakan keputusan kerdil.

Menurut Nicolaus Bukega, S.Pt seorang pelaku kopi yang juga seorang ASN mengatakan  “pengadaan kopi dari Jember merupakan langkah yang amat salah. Langkah mundur. Ia mempertanyakan “ bagaimana mungkin kopi kelas satu digantikan oleh kopi kelas tiga, apa lagi hanya karena alasan sepele: jumlah bijinya banyak?”

Dimana-mana orang mengutamakan kualitas dari pada kuantitas. Kuantitas dapat meningkat dengan sendirinya jika pembinaan dan pendampingan kepada petani kopi terus digalakkan tertentu imbuhnya menambahkan.

Bukega menyesalkan program pemerintah tersebut. Ia berpendapat mendatangkan kopi Jember ke Pegunungan Bintang bukan akan mendapatkan untung melainkan sebaliknya buntung. Saat OkNews menanyakan apa dasarnya ia berpendapat demikian, Bukega yang pernah ke Jember itu mengatakan sejumlah alasan.

Berikut alasannya : 1. Kopi Jember adalah kopi musiman. Artinya setelah panen selesai, enam (6) bulan berikutnya vakum. 2. Sebagai pusat penelitian dan laboratorium kopi di Indonesia, sudah tentu kopi di Jember merupakan hasil kawin silang serta diperhatikan secara khusus. Itu berarti kopi itu sudah tidak asli lagi sehingga tidak cocok dikembangkan di Pegunungan Bintang yang memiliki  iklim berbeda dengan Jember 3. Kopi khusus yang dikembangkan secara khusus dimana butuh perawatan dan penanganan extra dalam pengembangannya sehingga tidak kuat dengan iklim di dataran tinggi seperti Pegunungan Bintang. 4. Kemungkinan ; suntikan insulin (rekayasa genetika) khusus untuk mempercepat pertumbuhan pohon kopi sehingga berdampak pada kualitas kopi; menghasilkan kopi bermutu rendah.

Kopi Arabika asli Pegunungan Bintang adalah kopi yang murni tanpa embel-embel bahan kimia. Kopi lokal berbuah setiap hari  tidak seperti kopi Jember yang musiman. Sudah terbukti kopi lokal unggul dalam aroma dan cita rasa di beberapa pameran berskala nasional di Indonesia.

Pengakuan orang luar atas kualitas kopi Pegunungan Bintang semestinya  merupakan bukti gamblang yang patut kita apresiasi serta banggakan. Orang luar mengakui kehebatan kopi lokal namun sayangnya orang lokal sendiri (pemerintah daerah-red) tidak mengakuinya. Suatu fakta yang mengherankan sekaligus amat mengecewakan. Miris memang.

Sebagai petani kopi atau pun pedagang kopi lokal, Nicolaus sudah membangun jaringan serta relasi dengan orang dari berbagai daerah bahkan luar negeri. Ungkapan kekecewaan mengalir dari bibir mereka soal rencana Pemda Pegubin mendatangkan kopi Jember. Prof. Made yang terkenal dengan penemuan khasiat buah merah papua bagi kekebalan tubuh menyatakan pendapatnya “Nico, engkau sudah kembali ke masa distrik, membunuh potensi pendapatan dan kesejahteraan masyarakat kalau tetap budi dayakan kopi Jember”.

Seorang Kolega dari Mexico mengatakan” Nico apakah engkau mau membunuh alam dan leluhurmu sendiri dengan datangkan kopi Jember yang tidak diperhitungkan dunia itu?”. Sementara seorang penikmat kopi yang egois karena mengagungkan kopi asli negaranya Kolombia mengatakan” dalam hidup saya dan yang saya tahu kopi paling nikmat di dunia adalah kopi Kolombia. Namun kali ini saya baru merasakan kopi paling nikmat selain dari kopi asal negara saya yaitu kopi Pegunungan Bintang. Oleh karena itu saya sarankan teruslah kembangkan dan pertahankan cita rasa kopi itu”. Seorang kolega lain dari Jepang kagum akan manfaat kopi Pegunungan Bintang karena ia sembuh dari sakit giginya saat konsumsi kopi Pegunungan Bintang.

Begitu banyak pengakuan dari kolega di luar sana akan kualitas kopi Pegunungan Bintang yang mumpuni. Alasan pemerintah terutama dinas tekhnis mendatangkan kopi Jember jelas ingin membunuh kualitas kopi lokal. Bukega mengatakan semestinya program tersebut ditiadakan sebab akan mengalami gagal total. Jika gagal maka masyarakat bukan mendapat untung melainkan buntung.

Ungkapan dan kekuatiran Nico Bukega kini terbukti. Kopi asal Jember yang didatangkan tersebut telah ‘mati’. Terutama di dataran tinggi. Salah satu penyebab kematian kopi itu adalah iklim dan ketinggian. Kopi Jember hanya cocok ditanam dan dibudi dayakan di daerah dengan ketinggian 800-1200 meter diatas permukaan laut. Oksibil berada pada ketinggian 1.800 meter diatas permukaan laut. Sudah jelas bahwa kopi Jember tidak cocok di dataran tinggi Pegunungan Bintang. Tetapi mungkin cocok dengan dataran rendah macam Kawor, Iwur, Tarub, Aboy, Batom, Teiraplu, Batani, Murkim, Mopinop dan lain-lain.

Mari kita simak beberapa kasus tentang kopi. Kopi Mamuju dan Kopi Toraja. Kopi Toraja terkenal karena kualitasnya. Dalam memenuhi permintaan kopi dari konsumen, pengusaha membeli kopi Mamuju untuk melengkapinya karena produksi terbatas. Saat kopi dikirim keluar, kopi mamuju yang telah diambil tak tampak. Brand yang ditampilkan adalah kopi Toraja. Padahal dalam kopi bermerk Toraja itu ada kopi Mamuju yang punya kualitas sepadan.

Kopi Ateng (aceh Tengah)  di Aceh dan Ateng di Jawa Barat. Kopi Ateng di Aceh sana punya kualitas mumpuni. Tetapi tak selalu mampu memenuhi permintaan konsumen oleh karena terbatasnya produksi. Untuk lengkapi kekurangan, maka dibelilah kopi Ateng yang ada di Jawa Barat. Ketika kopi dikirim, brand yang dipakai adalah Atengnya Aceh, bukan Atengnya Jawa Barat.

Kopi Kolombia dan Nikaragua. Kualitas kopi Kolombia tak diragukan lagi kualitasnya. Sama kasus dengan kedua situasi diatas. Untuk memenuhi permintaan, Kolombia membeli kopi Nikaragua di perbatasan. Saat dikirim keluar, brand yang dijual adalah kopi Kolombia bukan Nikaragua. Padahal kopi Nikaragua pun punya kopi kualitas terbaik di kelasnya.

Kasus diatas memberi pelajaran pada kita. Bukan tidak mungkin Kopi Arabika Jember mendompleng kualitas terbaik kopi asli Pegunungan Bintang dengan pemasaran kopi menggunakan merk kopi Jember. Mereka untung, kita dapat buntung.

Anggap saja kopi Jember berhasil dibudi dayakan. Sekarang kita lihat dari sisi nilai ekonomis/nilai jual. Kita perhitungkan mengapa dia bisa merugi. Jika kita kirim kopi Jember yang ada di Pegunungan Bintang keluar. Kopi keluar dari Pegunungan Bintang sudah bayar Rp 15.000 per kilo nya ke Jayapura. Dari Jayapura ke Surabaya Rp 20.000 misalnya. Jadi Rp 35.000 itu baru harga kirimnya. Harga Jual Rp 40.000.

Sementara dari Jember ke Surabaya dikirim lewat kereta barang dengan harga Rp 5000 per kilo. Harga Jual Rp 10.000 misalnya. Kopi Jember dari Pegunungan Bintang dijual dengan harga Rp 40.000 dan kopi Jember dari Jember dijual Rp 10.000. Pada posisi ini, dengan asumsi kualitas kopi arabika asal jember sama, baik yang di Jember maupun Pegunungan Bintang. Pembaca dapat menilainya sendiri, mana kopi yang bakal laku di pasaran dari sisi mahal murahnya harga kopi.

Hal ini tentu berbeda dengan kopi arabika asli Pegunungan Bintang. Karena kopi asli menjual kualitas, semahal apa pun harganya dia memiliki nilai tawar tersendiri. Kopi lokal memiliki kemungkinan besar meraup untung besar. Kini Kopi asli Jember tak terdengar lagi gaungnya. Barangkali masih dalam proses pertumbuhan. Mungkin juga karena kopi Jember mati, tak berdaya menghadapi ganasnya iklim dataran tinggi Pegunungan Bintang? Hanya waktulah yang akan membuktikan dan menjawabnya.

Mari selamatkan kopi lokal: Kopi Arabika Pegunungan Bintang, buang kopi Jember. Mari Kita Peduli produk lokal.

 

 Penulis : Sostenes Uropmabin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *