ORANG MUDA PAPUA SEBAGAI HARAPAN MASA DEPAN
(Sebuah refleksi teologis)
“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman Tuhan” (Mazmur 119:9-16)
Oleh: Charles Mimin
Dalam kehidupan kaum beriman pada umumnya dengan megimani dan mengikuti perintah Tuhan, sering identik dengan hidup kudus, suci, murni dan bersih sebagai bagian dari tanggungjawab moralnya sebagai seorang beriman. Semua tanggungjawab ini tercermin dalam satu kata “iman”. Kita mungkin sering mendengar kata-kata ini. Percaya atau tidak, kata-kata tersebut mengandung kebenaran karena berasal dari Allah dan tercermin dalam hidup panggilan kita masing-masing, diajarkan dan dipraktekan berbeda oleh setiap generasi. Pemazmur dalam bagian pembacaan ini dengan tegas menyatakan hal tersebut secara khsusus terhadap kaum muda.
Refleksi ini berangkat dari realita sosial hidup kita di Indoensia dan Papua khususnya terkait realita hidup kaum muda. Penulis tidak bermaksud memberikan fakta-fakta terkait kehidupan kaum muda tetapi lebih pada merefleksikan kehidupan kaum muda dalam teguran Tuhan melalui sabda-Nya (Mazmur 119:9-16). Penulis yakin dan percaya, melalui sabda ini Tuhan hendak menegur sekaligus mengingatkan akan tanggungjawab kita dan masa depan kita kelak. Papua sering identic dengan Miras, Seks bebas, pengedar narkoba dan obat-obatan terlarang lainya. Semua hal yang terlarang ini, identic dengan kehidupan kaum muda saat ini. Dengan melihat, mengalami, mendengar dan merasakan situasi hidup kaum muda di tanah Papua. Hal ini bisa kita temukan kapan dan dimana saja; melalui media sosial, pengalaman orang lain maupun pengalaman pribadi.
Diketahui bahwa generasi muda di Papua dan pada umumnya di indoensia, sering disebut generasi millenial sangat dekat dengan teknologi. Kehidupan generasi ini tidak bisa dilepaskan dari teknologi dan internet, berbeda dengan generasi 90-an di mana pengaruh dari teknologi belum terlalu menonjol seperti saat ini. Generasi millennial lahir ketika handphone dan media sosial mulai muncul di Indonesia hingga di pelosok Papua, sehingga wajar apabila generasi ini lebih melek teknologi dibanding generasi-generasi sebelumnya. Ada pula perbedaan lain yang muncul yaitu terkait dengan masalah budaya/ gaya hidup sehari-hari yang sering terjerumus dalam hal-hal yang sifatnya buruk bagi hidup dan masa depanya. Ada kecenderungan bahwa generasi muda lebih suka terlihat keren.
Hal ini tidak jauh dari kebiasaan minuman keras, praktek seks bebas, narkoba dan sejenis obat terlarang lainya. Maka tak mengherankan bila banyak kafe atau tempat nongkrong lainnya yang ramai dikunjungi anak muda zaman now ketimbang memilih untuk beribada sebagai bagian dari warga gereja. Selain karakteristik yang sudah dijelaskan di atas, generasi millennial juga memiliki sifat yang lebih toleran terhadap sesamanya. Hal ini dipengaruhi oleh arus globalisasi yang semakin cepat, di mana anak muda zaman now dapat berinteraksi dengan manusia dari berbagai belahan dunia. Arus globalisasi berhasil menciptakan interaksi langsung dan tidak langsung yang lebih luas antar umat manusia, yang tidak mengenal batas-batas antara negara satu dengan negara yang lain. Oleh sebab itu, globalisasi membuat generasi millennial menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan, wawasan mereka terhadap keberagaman pun menjadi lebih luas sehingga timbul sifat toleran yang cukup tinggi dari generasi ini (Pustakabergerak. Id. 12/09/2019).
Dengan melihat latarbelakang dengan beragam persoalan dikalangan kaum muda dan memahami maksud pemazmur, tentu kita bertanya: Seperti apakah kaum muda ini nantinya? Apakah yang diharapkan dari keluarga, gereja dan bangsa? “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih di tengah maraknya globalisasi?
Memang diakui kebenaranya, bahwa harapan tidak selalu hadir dalam praksisnya. Salah satu tantangan sendiri bagi kaum muda ialah mempertahankan imanya ditengah globalisasi zaman. Karena itu, mempertahankan kelakuannya bersih dengan menjaga diri dan hidup sesuai firman Tuhan adalah sebuah tantangan. Bersih hanya dapat diperoleh jika seseorang dengan jelas mengetahui firman Tuhan dan kemudian memberlakukan apa yang diketahuinya itu secara nyata. Oleh karena itu, Firman Tuhan dapat menjadi pagar yang melinddungi kita bila kita mengenal dan memahami maksudnya walau tantangan zaman disisi lain. Secara khusus, kata-kata tersebut ditujukan kepada orang muda. Mengapa? Bukan karena orang muda dianggap bodoh sehingga perlu diberitahu demikian. Bukan pula karena pemazmur menganggap orang muda itu lemah sehingga peringatan tersebut disampaikan. Sama sekali bukan. Justru karena pemazmur amat menghargai keberadaan orang muda hingga ia mengeluarkan kata-kata nasihat tersebut sebagai teguran dan pedoman sebagai seorang beriman.
Orang muda, dengan berbagai potensi dan kemungkinan yang terkadang belum tergali dan dikembangkan, memiliki kekuatan yang tak terduga untuk dapat menentukan arah dunia di masa depan. Baik itu untuk membangun dunia yang konstruktif atau destruktif malah menghancurkannya. Potensi dan kemungkinan itu ada pada diri orang muda karena merekalah yang menjadi masa depan di lingkungan keluarga, agama, masyarakat, bangsa dan Negaranya. Menurut pemazmur, bila bangsa Israel ingin kehidupan bangsanya tetap bersih, maka orang mudanya harus dididik untuk hidup berpagarkan firman Tuhan sedini mungkin. Disini tanggungjawab orang tua sebagai pendidik pun berlaku.
Jika hal ini dikontekskan dengan situasi kita di Papua, maka situasi dan pengalaman anak muda tidak jauh berbeda. Apabilah tanah Papua hendak memiliki masa depan yang berpengharapan maka dalam diri generasi mudanya harus telah ditanamkan sedini munggkin polah hidup bersih berlandaskan firman Tuhan. Para orang tua amat berperan penting dalam hal ini bertanggungjawab dengan semkin banyak menghabiskan waktu untuk memperhatikan tumbuh kembang anaknya dan sekaligus memberikan teladan akan pola hidup bersih itu sendiri dalam terang firman Tuhan sebagai “Pagar Hidup”.
Pola hidup berdasar pada firman Tuhan yang dimaksud adalah dengan menjauhi apa yang sekarang ini sering kali dianggap terlihat keren atau gaul di kalangan orang muda, lebih mendengar nasihat Tuhan melalui bacaan rohani dan berusaha mengembangkan talenta yang menjamin masa depan diri. Hal ini tidak dilakukan maka sudah dianggap masa depan dalam samar-samar. Dan akan terjerumus dalam hal terlarang sejenis lainya seperti minuman keras, narkoba, merokok, bahkan melakukan hubungan intim sebelum waktunya.
Hal ini akan membawah dampak amat besar. Bukan saja telah mendukakan hati Tuhan, namun juga berisiko menimbulkan kecanduan, TBC, tertular penyakit kelamin sampai penyakit HIV dan AIDS hingga mati muda. Sehingga tak terpikir panjang, telah merusak diri dan masa depan bahkan cita-cita pun tak tercapai. Padahal masa depan orang muda bukan miliknya pribadi semata, melainkan penentu masa depan masyarakat, keluarga dan harapan daerah dan bangsa. Walaupun dipahami sebagai bagian dari perkembangan remaja dalam mencari dan menemukan jatih dirinya. Oleh karena itu jangan sia-siakan kemudaanmu, hai orang muda. Tunjukkanlah bahwa lewat dirimu nama Tuhan dan dapat mengharumkan bangsamu. Inilah tujuan pemazmur yang hendak menegur kita di tahap generasi emas ini. Oleh karena itu, Kembangkanlah segala potensi yang ada dalam dirimu secara baik dan benar lewat berbagai kegiatan yang bermanfaat. Sudah saatnya Papua memiliki generasi muda yang membawa pengharapan bagi negerinya. Karena orang muda merupakan sumber harapan akan terjadinya perubahan dan perkembangan ke-arah yang lebih baik. Dan percayalah, generasi muda Papua adalah Bintang yang akan menerangi kabut gelap di masa kini dan masa depan.
Penulis Adalah Ketua Pemuda Gidi “Gerar” Klasis Port Numbay Dan Anggota Aplim Apom Research Grup
