Pembangunan Papua Berbasis Budaya dan Wisata
OLEH PETRUS ODIHAYIPAI BOGA
TRIBUNPAPUA.ID—Semua sektor Pembangunan di Papua berkembang secara bertahap, yaitu pembangunan zaman Belanda (1875-1944); zaman perebutan kekuasaan antara belanda dan Indonesia (1945-1960); zaman usaha-usaha Kemerdekan Papua Barat (1961); zaman aneksasi kemerdekaan Papua Bara (1962-1963); pembanguan zaman kekuasaan Indonesia dan rekayasa PEPERA (1963-1969); zaman pembahasan hasil PEPERA (1969-1963); dan zaman Indonesia ada dua jilid yaitu pembangunan pra Otonomi Khusus (Otsus) (1945-2001) dan zaman otsus (2001-2020, yang akan berakhir 2021).
Penulis mengalisa sistuasi pembangunan ini melalui sebuah kajian ilmiah oleh Alm. Agus Alua dalam buku seri pendidikan politik Papua no.1. dengan julul bukunya “Papua Bara dari Pangkuan Ke Pangkuan”).
Secara garis besar menurut penulis ada tiga zaman pembangunan di Papua yakni zaman Belanda (1875-1969), zaman pra-otsus (1969-2001) dan zaman otsus 2001-’20 dan yang akan berakhir 2021). Sejak 2021 Papua akan menuju zaman pembanguan baru. Tugas bersama, bahwa bagaimana kita membangun Papua dan selamatkan penghuninya?
Dalam tiga masa pembangunan ini, pembangunan di Papua diberbagai sector pembangunan (SDM, SDE). Pemerintah telah membangun dengan berbagai cara, model, konsep, prinsip dan diataur dalam hukum Negara. Namun di Papua sampai sekarang kata pembangunan menjadi ‘jembatan merusak’ alam dan pernderitaan manusia.
Misalnya, pembangunan inprastruktur jalan trans di Nduga telah korban banyak jiwa pada 1desember 2018. (ttps://m.detik.com. 2/8/2019). Membuka jalan tanpa rute yang tepat dan tanpa seijin pemilik ulayat adalah merusak alam dan korban jiwa dan kehilangan tempat berkebun adalah menyimpam duka dan awal kematian manusia, di dalam hati rakyat bersaran kesedihan dan kekecewaan serta perasaan marah yang berpotensi tidak damai.
Mengapa masyarakat Marah? Karena merusak kebun dan tempat keramat (tempat hidup roh pemeliarah suku setempat) dibongkar dan rusak luluh lantak tampa seijin warga setempat.
Banyak kasus demikian selalu didiamkan. Peristiwa ini salah satu contoh, bahwa pembangunan di Papua ada ketimpangan metode pembangunan di Papua. Prinsip dan metode atau pendekatan pembanguan infartruktur dan SDM serta SDE selama tiga tahapan pembangunan tersebut, di Papua terkesesan “pembanguan model colony”.
Misalnya, di dalam pembanguan infraktruktur, selalu saja masyarakat mengalami kerugian sebab kehilangan alam, budaya dan sistem religinya dilantarkan. Ada kesan buruk bahwa pembanguan di Papua selama tiga tahap pembanguan itu, eksploitasi dan eksplorasi SDA dan SDM, militerisme di mana-mana, illegal loging dan perusahan illegal di mana-mana, hutan dan sagu ditebang habis dan diganti dengan kelapa sawit, budaya dan bahasa masyrakat lokal Papua mulai punah, sistem pendidikan tidak kontekstual bagi orang Melansia di Papua, kapitelisme dan feodalisme telah menempati semua sector ekonomi masyarakat kecil.
Jadi pembanguan seperti ini mendatangkan malapetaka bagi warga setempat, karena kodrat mereka terhina dan secara mental dan karakter dilemah. Dengan demikian, pembanguan di Papua Mestinya, dibangun dengan pembangunan berbasis budaya. Salah satu model pembanguan yang tepat di Papua dalah pembangunan berbasis budaya model wisata.
Pembangunan di Papua harus kontekstual (berbasis budaya)
Pembangunan di Papua harus membangun secara kontektual. Pembanguan kontekstual di Papua adalah pembanguan berbasis budaya. Membangun berdasarkan keberadaan masayarakat dan kebudayaannya serta sesuai dengan alam yang ada.
Pembangunan itu untuk membangun dan membebaskan masyarakat dari ketertinggalan. Potensi pembebasan bangsa dari segala ‘ketertinggalan’ tersimpan dalam budaya, nilai dan falsafah hidup serta potensi alam yang ada. Orang Papua hidup berkebun itu bukan miskin, tetapi itu cara berada orang Papua yang tidak boleh digantikan.
Berburu dan membuat banyak ritual itu bukan primitive tetapi kekayaan OAP. Cerita dongeng itu bukan tanda hidup kuno, tetapi cara memelihara kebijaksaan hidup. Berjalan kaki itu bukan kutukan bagi orang Papua tetapi identitas bangsa Papua. Rambut gimbal, breok itu bukan supstansi diskriminasi tetapi itu martabat Melanesia. Pembangunan kontekstual di Papua adalah pembanguan berbasis budaya.
Jadi menurut penulis pembangunan di Papua harus didesain model pariwisata. Semua daerah di seluruh wilaya di Pulau Papua adalah berpotensi pembangunan model wisata. Dalam hal ini perlu dimahami bahwa penulis tidak bermaksud semua tempat di Papua itu cocok tempat wisata dan dijadikan semua tempat itu tempat wisata atau kota wisata; melainkan yang dimaksud pembanguan model pariwisata adalah “suatu prinsip pembangunan kontekstual” yang tepat di Papua, bahwa di di Papua di setiap daerah banyak hal yang berpotensi wisata (merawat, ditata baik, dan dikujungi serta dipelajari dunia), maka pembangunan itu harus ada prinsip melindungi dan menyelamatkan alam, manusia dan kebudayaannya.
Pembangunan berbasis budaya itu mejawab cita-cita Negara
Papua adalah pulau terbesar kedua di dunia. Pulau nusa hitam ini, Tuhan menciptkan berjuta kekayaan. Kekayayaan itu ada secara material dan budaya. Kekayaan material atau boleh dikatan kekayaan alam, seperi: hutan, berjuta jenis hewan, dan harta tambang lagkah yaitu emas, perak, batu bara, uranius, minyak tanah, gas, dan banyak kekayaan material lainnya.
Kekayaan kebudayaan adalah seluruh eksistensi dan esensi orang lokal Papua. Esensi orang lokal Papua adalah supstansi yang menyatakan bahwa ‘mereka’ yang mendiami Papua sejak dunia itu ada dan diakui dunia bahwa mereka adalah ‘Orang Asli Papua’. Supstansi itu berkaitan dengan hal-hal yang ‘berdiri sendiri’. Suatu identitas yang ada tanpa unsur dari unsur atau objek yang lain.
Bangsa Papua adalah bangsa yang mempunyai supstansi. Salah satu bukti adalah orang asli Papua mempunyai rumpun bahasanya sendiri. Dalam hal ini menarik suatu esensi bangsa Papua (suatu bangsa) tentu membutuhkan suatu survey atau penelitian yang lama oleh ahli sosiologi, antropologi dan seorang filduf atau ahli filsafat, namun dengan pandangan yang paling umum dan secara esensial (sifat yang mendasar saja) dapat dikatakan bahwa orang Papua adalah manusia yang berjiwa kasih dan cita pada Sang Pencipta, alam, leluhur, dunia roh ‘baik’, sesama dan dengan diri sendiri.
Bagi OAP relasi yang damai, harmonis dan kebersamaan serta kebersatuan bersma Sang Pencipta, alam, leluhur, dunia roh, sesama dan diri sendiri adalah dasar dari damai dan kebahagian kini dan kelak (bersatu dengan Tuhannya).
Sedangkan eksistensi adalah seluruh keberasaan yang lahir dari realits supstansial OAP itu sendiri. Eksistensi orang lokal Papua adalah gaya hidup seperti berkebun, beternak, mencari ikan, menyam noken, merajut berbagaihiasan, mengukir, tarian, bahasa, pakaian adat, rumah tradisional, sistem religi, magis, ritual inisiasi, dan ritual lainnya, pesta perdamaian dan pesta lainnya.
Sitem politik, ekonomi, pendidikan original Papua atau dengan singkatnya eksistensi orang asli Papua berarti seluruh keberadaannya. Orang Papua mempunyai cara sendiri untuk menjaga dan melestarikan esensi dan eksisitensinya sebagai orang Papua.
Mereka mempunyai konsep ‘membangun’ tersendiri secara budaya. Pertanyaannya, Negara Indonesia sebagai Negara demokrasi memberi kebebasan ‘membangaun’ kepada OAP (juga daerah lain di nusantara) untuk membangun dengan cara sendiri? Apakah OTSUS itu tanda kebebasan membangun daerah bagi OAP? Jika demikian bagaimana dengan kebijakan pemerintah pusat dan realisasinya dalam OTUSUS yang akan berakhir 2021 itu?
Menurut penulis, dari tiga tahapan pembanguan (zaman: Belandan pra-otsus dan otsus) atau pendekatan pembanguan dengan pemekaran dan otsus telah gagal. Pembanguan di Papua terlihat nampak tidak menjamin kebebasan OAP membangun daerahnya dengan cara sendiri.
Jadi perlu ada kebebasan metodel pembanguan di Iindonesia. Setiap provinsi membangun dengan caranya sendiri. Namun demikian salah satu cara pembangunan di Papua tanpa menghilangkan kendali Negara adalah pembanguan secara kontekstual berbasis budaya, model pembanguan desain model wisata.
Cara membangun ini tidak merugikan Negara dan hukumnya tetapi membantu menjawab cita-cita Negara yaitu “ kemanusiaan yang adil dan beradap, persatuan indonesia, keadilan sosial dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia dan sekaligus akan terbentuk kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dan semuanya menjadi tindakan negera yang bertuhan (isi pancasila).
Potensi Budaya dan Alam Pariwisata Nuansa Taradisional OAP
Kehadiran globalisasi IPTEK dan pemerintahan bukan untuk memusnahkan atau mengotori identitas bangsa atau suku setempat. Pendidikan adalah sarana tepat menata dan membangun manusia dan alamnya. Membangun daerah yang masih original seperti berbagai tempat di Papua harus melalui proses yang lama. Membangun dengan pemekaran tanpa persiapan adalah kebuntuhkan ide dan mati langkah memulai membangun.
Menurut saya membangun daerah-daerah yang telisolir di Papua yang sering diburu dengan pemekaran DOB itu, tidak layak. Papua mestinya membangun dengan model wisata.
Apa itu wisata
Penegertian sederhana, wisata adalah bepergian secara bersama-sama dengan untuk bersenang-senang, menambah pengetahuan; bertamasya atau peknik. Jadi wisata adalah berbagai tempat hiburan sekaligus wadah belajar. Tempat wisata berupa alam dan bangunan. Tempat wisata alam berupa pantai, danau, sungai, kali, gunung, dll.
Sedangkan tempat wisata bentuk bangunan seperti peninggalan sejarah, museum, rumah tradisional, monument, arca dll. Tempat-tempat wisata adalah mempunyai nilai budaya dan falsafah hidup. Maka tempat wisata adalah suatu tempat yang memiliki daya tarik yang dapat berupa keunikan, keindahan, sejarah dan nilai serta kebijaksanaan hidup, sehingga dikunjungi pengunjung macana Negara dan pengunjung domestik.
Semua potensi wisata itu ada disetiap daerah di Papua. Dengan semikian pembangunan di Papua harus membangun dengan model pariwisata tradisional pembanguan berbasis budaya). Apa potensi pembanguanan model wisata di di Papua?
Potensi pembanguan model wisata di Papua
Potesi wisata nuansa tradisional Papua yang dimaksud penulis untuk membangun daerah dengan pembangunan model wisata adalah alam dan kebudayaan yang ada dan dihidupi oleh OAP. Alam yang berpotensi wisata diantaranya: tempat-tempat keramat yang berupa batu besar, telaga, pohom, kali, pembatas gunung, gua, bukit, semua gunung (tempat jiwa atau roh orang Papua hidup).
Semua tempat keramat ini mempunyai sejarah atau cerita dan kisah yang unik. Tempat roh suku itu hidup, dan tempat pusat hukum-hukum dasar dan kebijaksanaan OAP (misalnya, temapat keramat karena tempat lahir kebijaksanaan warga setempat).
Selain tempat keramat, sugai dan gunung tersipan potensisi wisata; di kali menjadi tempat mandi, tempat cari berudu dan mencari kodok di malam hari, dan gunung-gunung dan tebing di Papua terbentuk ‘membuat menadaki gunung’. Beberapa padang gurung yang ada perpotensi tempat wisata alami.
Kebiasaan orang Papua pada umumnya potensi wisata, yaitu: berkebun (awal pertimbangan lahan sampai memamen) perlu dikunjugi dan dipelajari dunia, berburu dan berjerat (perlu dikaji dan dikenal dunia) maka perlu dijaga kebiasaan itu dan dikhususkan temapt, agar dikunjungi dan dipelajari.
Kemudian, koteka dan Moge, jawat atau pakaiaan tradisional, anggrek, noken harus dilindungi dan boleh membuat museum dan tempat khusus pelatihan merajut; kesenian original masyarakat Papua di semua suku.
Berpotensi wisata taradisional, yaitu seperti di Mepago emaa, ugaa, komauga, gowai, kitouge, kaido, odihaugaa,wainai, gaidai, begaiwa atau giduu, tudee, wohamapega;di pengunungan bintang seperti tarian okson, didaerah pantai seperti yospan, dance, tarian suanggi dan amat banyak seni budaya lainnya, itu bisa disediakan tempat aktraksikan dan dijadikan vestfal bersama besat-pesta adat yang ada, Seperti pesta berdamai, pesta potong babi untuk membangun solidaritas, pesta, acara atau ritual pernikahan, riatual proses pendewasaan laki-laki sejati dan wanita bijak.
Selain itu burung cenderawasih, burung kasuari, mambruk, ayam hutan (burung maleo), tikus, kus-kus seperti gangguru bisa merawat beresama hutan yang mendiaminya, dan menjadi tempat yang dikunjungi berjuta pengujung dari berbagai daerah di dunia. Rumah adat dan proses pembuatan berpotensi wisata.
Menurut Penulis semua kekayaan budaya dan alam yang dihidupi masyarakat loka di Papua adalah kekayaan yang amat mahal di dunia yang perlu di jaga dan diangkat semua nilai yang melalui pembanguan model wisata. Pembangunan model wisata ini berpotensi pembangunan bernuasan budaya dan wisata menjadi suatu pagar untuk melindungi alam, budaya dan manusia.
Kesimpulan
Pembangunan di Papua harus berbasis budaya. Tiga tahapan peoses pembanguan di Papua yaitu pembanguan zaman Belanda, zaman Indonesia dua jilid par-otsus dan masa otsus (yang barakhir 2021), terlihat gagal membangun manusia dan alam di Papua.
Pemekaran DOP dan otsus terkesan buruk, bahwa meluas wilaya operasi militer, lahan bisnis oleh kaum feodal dan kapitalis, dan tempat mengadu jabatan sampai berjuta jiwa korban. Terjadi banyak eksploitasi dan eksplorasi, banyak perusahan illegal. masayarakat dimarjinalisasi.
Pembangunan yang bersistem “wajah operasi hutan dan manusia”, OAP semakin dipingkirkan. Pembangunan model itu telah memusnakan budaya dan berbagai tempat keramat OAP di semua suku yang ada. Pembanguan berciri demikian dapat disebut “pembanguan sistem koloni”. Pembangunan di Papua gagal. Gagal karena sistem pembanguannya. Sebenarnya, pembanguan itu harus berbasis budaya.
Oleh karena itu, pemekaran di Papua perlu dibatasi dan membangun semua daerah berbasis budaya. Salah satu contoh model pembanguan di Papua menurut penulis adalah “pembangunan model pariwisata”.
Karena, model pembanguan wisata pada prinsipnya, mau merawat dan menata alam dan manusia, semua yang OAP miliki orang lain akan kunjungi dan dibayar. Orang Papua menerima banyak dari yang mereka miliki. Eknomi berpotensi maju.
Penulis yakin dengan cara ini, ada kemungkinan untuk maju dan berkembang di semua aspek kehidupan orang Papua. Dalam hal para pemegang kendali dan mempunyai otoritas ambil kebijakan, perlu dipahami baik, bahwa dari situasi pembangauan di Papua dan Indonesia masa lalu, kini dan masa depan Papua , pembanguan model budaya (wisata) adalah cara tepat prinsip utama keselamatan manusia, kebudayaannya dan alam di Papua.
Penulis: Petrus Odihayipai Boga, Mahasiswa STFT Fajar Timur, Abepura dan Anggota Kebadabi Voice.
