Mimpi Tak Pernah Padam
OLEH MANAS APINTAMON
TRIBUNPAPUA.ID—Jangan Pernah Menundah Dan Melupakan Tekad Untuk Merai Cita-Cita Anda, Hanya Karena Orang Tua Miskin Ataupun Tidak Mempunyai Biaya Yang Cukup Untuk Bersekolah.
Dalam kehidupan manusia tak pernah lepas dari keinginan bahkan mencita-citakan sesuatu untuk memperolehnya. Lalu apa yang dicita-citakan merupakan bentuk upaya dari usaha mereka dalam dunia kesuksesan. Kemudian, nasib seseorang pada dasarnya bagaimana bersusaha kehidupan yang baru atau sukses baik diri sendiri, keluarga, kampungnya bahkan sampai wilayah yang ditempatinya.
Untuk itu, penulis merasa perlu untuk membagikan pengalaman ini kepada pembaca terutama teman-teman pemuda dan pemudi Papua yang mungkin saat ini mengalami hal serupa dengan penulis.
Kirannya dengan pengalaman ini bisa dapat mencerahkan alam bawah sadar teman-teman semua untuk dapat meneguhkan hati, berubah pola pikir, bertindak terhadap hal yang positif, dan berpikir kritis dalam kehidupan kita. Lagi pula dengan melakukan hal tersebut dapat menjadi berkat bagi orang lain. Masa depan Papua, baju atau tidak ada di tangan kaum Millenial.
Itulah sebabnya saya termasuk kaum milenial membagikan sekilas pengalaman saya sewaktu kecil sampai menempuh pendidikan saat ini.
Pengalaman saya sewaktu kecil ini sangat menyedihkan karena selalu jatuh bangun dengan berbagai tantangan yang dihadapi. Tantang tersebut datang secara internal dan eksternal. Apalagi orang tua yang tani dan tempat kelahiran pun terpencil sehingga tidak ada akses internet yang cukup memadai.
Dengan keterbatasan yang ada, penulis berusaha mengingat pengalaman hidup untuk mengisahkan kedalam tulisan ini.
Bagaimana Pengalaman Selengkapnya ….?
Sebelum memberitahukan pengalaman penulis lebih jauh, penulis merupakan teman yang sama dengan anda. Penulis hanya membagikan inspirasi dari sebuah pengalaman untuk tetap kita sebagai anak-anak Papua yang sangat unik dengan berbagai macam aspek baik itu tanah kita, ras, suku, dan budaya yang penuh dengan kaya ini kita penerus mampu optimis dalam bermimpi besar untuk meraih cita-cita menjadi anak-anak yang cemerlang di masa depan.
Kesadaran dan optimis kita akan bermimpi besar sekarang ini menjadi sebuah pelita dan tali untuk menerangi serta tetap bersatu untuk membangun Papua yang kita cintai ini di kemudian hari. Penulis percaya bahwa jika ada usaha maka pasti ada hasil dibalik itu. Kita jangan pernah berkecil hati dan jangan pernah terpengaruh dan terbawah arus dengan zaman. Apalagi zaman ini merupakan saman dimana manusia mengenal dunia teknologi informasi.
Lestarikan budaya jangan lupakan harkat dan martabat asli orang Papua (Melanesian) dengan gaya budaya luar. Bolehlah kita pergunakan tetapi pergunakan alat tersebut dengan cara memilih dan pergunakannya sesuai fungsinya agar kita tidak mengalami hal negative yang timbul dari alat elektronik tersebut.
Bukan hanya itu, kita pun merupakan ciptaan Tuhan yang Muliah. Itulah sebabnya jangan pernah pantang menyerah dengan sebuah tantangan yang sili berganti di dunia global saat ini.
Pada zaman ini, IPTEK semakin berkembang pesat seiring dengan waktu dan dengan perkembangan negara kita. Indonesia merupakan negara yang disebut negara berkembang karena pada tahun terakhir ini pemerintah berupaya berkerja sama dengan negara luar untuk berhasil membangun perubahan-perubahan yang signifikan di setiap bidang.
Kembali ke Pengalaman Hidup Penulis….
Sewaktu kecil, saya lahir dan dibesarkan dari bapa dan mama yang berprofesi sebagai petani kebun. Seperti biasanya, petani kebun di daerah Pegunungan Bintang yang sering berkebun dan berpindah pindah, atau petani kebun tidak tetap. Dari kondisi keluarga itulah mendidik saya untuk menjadi bagian dari mereka dan terus berjuang menentang kehidupan itu.
Seiring berjalannya waktu saya pun besar dan harus kerja kebun seperti orang tua mengajarkan kepada kita.
Saya mulai sekolah di salah satu sekolah Dasar di kampung halaman saya. Tempat saya tinggal dengan lokasi SD sangat jauh, sekitar 6 KM dari kediaman mungil kami.
SD ini dibangun dengan beratapkan buah Pandan, meskipun kondisi sekolah seperti itu, orang tua tak pernah membujuk saya untuk malas sekolah, malah mendorong dan mendukung saya untuk selalu sekolah dengan menyiapkan bekal makanan yang secukupnya untuk pergi ke sekolah. Saya selalu hadir dikelas.
Walau jarak mematahkan semangat juang untuk meraih masa depan, tetap saja saya lalui dengan penuh semangat. Biasanya saya berangkat ke sekolah pada pukul 5.00 Pagi, hingga tiba di sekolah pada pukul 7.30. Sesampai di sekolah pun kadang Guru guru tidak masuk sekolah.
Guru guru di Sekolah Dasar kami selalu bolos atau tidak hadir, malah kami anak anak yang selalu hadir di sekolah. Tanpa Guru kami bermain di sekolah, menghabiskan waktu belajar begitu saja.
Selama 6 tahun kondisi ini terus berjalan hingga menamatkan pendidikan dasar. Berbekal sedikit ilmu yang dapat selama 6 tahun itu menjadi kekuatan bagi saya untuk menatap masa depan.
Saya berfikir bahwa ada guru atau tidak, tetap ke sekolah. Disiplin diri untuk tetap ke sekolah. Akhirnya, dengan keterbatasan para guru dan penunjang atau sarana pra sarana proses belajar mengajar di sekolah itu, saya dinyatakan lulus SD.
Berbekal sedikit ilmu yang saya dapat (Membaca, Menulis dan Berhitung), bulatkan nekat mendaftarakan salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Oksibil, ibukota kabupaten Pegunungan Bintang.
Setelah mengikuti tahapan yang disyarakatkan oleh otoritas sekolah dan panitia penerimaan siswa baru, akhirnya saya dinyatakan lolos masuk SMP tersebut.
Saya mulai belajar. Setahun saya belajar di SMP itu. Walau keterbatasan pengetahuan dasar yang saya milik, perlahan menyesuaikan dengan metode belajar, kurikulum, materi ajar, hingga perlahan mengadaptasi dengan baik.
Setahun saya belajar di SMP, ujian kenaikan pun mulai diadakan. Sebelum mendengar hasil ujian kelas, saya dituduh mencuri, kemudian melaporkan saya ke Kepala sekolah. Akhirnya saya dikeluarkan dari sekolah tersebut.
Setelah dikeluarkan dari sekolah tersebut, orang tua dan saya berusaha untuk urus pindah sekolah ke distrik yang tidak jauh dari ibu kota kabupaten. Setelah liburan panjang, Saya diterima di sekolah tersebut, dan memulai aktifitas belajar.
SMP ini, walau jalan darat sudah masuk ke Ibu Kota kabupaten, sarana prasarana masi kekuarangan, guru, buku buku bacaan.
Walaupun demikian, saya selalu berdoa pada Tuhan bahwa semua itu indah pada waktunya seperti nats kitab seci (1 Tim 12:1).
Setelah, dua tahun saya sekolah di SMP itu, pada tahun berikutnya saya dinyatakan lulus ujian nasional dan memutuskan tinggal di kampung mencari uang.
Saat saya tinggal di Kampung tidak nyaman dan gelisah untuk melanjutkan pendidikan. Setelah beberapa hari tinggal di kampung, akhirnya saya pergi sekolah untuk mengecek informasi seputar biaya pendidikan bagi siswa yang melanjutkan pendidikan.
Pemerintah mengumumkan bahwa ada beasiswa unggul Papua untuk melanjutkan Pendidikan lanjut. Walau terlambat, saya mengisi Formulir dank rim ke Pusat. Saya melengkapi syarat yang diminta kemudian mengirim berkas ke pusat.
Puji Tuhan mengikuti tahapan yang ada, akhirnya saya diterima untuk melanjutkan pendidikan SMA di tanah Jawa sampai dengan saat ini saya Study di Unika Adma Jaya Jogjakarta.
Pengalaman ini memberi kita pesan moral serta menguatkan kita untuk tetap hidup dalam kebenaran, bekerja keras, berpikir kritis, bermimpi besar, tidak pantang menyerah, bercita-cita setinggi langit.
Seperti kata presiden pertama Ir soekarno “Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”
Dengan demikian sahabat ku kaum milenial Papua majulah terus keindahan akan menyambut dibalik ketinggalan asalkan kita tetap optimis. Saya percaya daerah kita akan lebih baik dari pada itu tiba pada waktunya, itulah sebabnya mari bersatu belajar, setia dalam hal positif, mengandalkan Tuhan dalam perencanaan kita hari lepas hari. Pada akhirnya kaum milenial mampu menjadi penegak keadilan, kesejahtraan dan perubah serta berdaya saing dengan dunia modern.
Penulis: Manas Apintamon, Mahasiswa Asal Pegunungan Bintang, Study di Unika Atma Jaya-Yogyakarta
