Diskriminasi Menghambat Hak Berekspresi
OLEH KAMELIA DERBI BENGKE
TRIBUNPAPUA.ID—Diskriminasi adalah satu tindakan yang secara tidak sadar sering kita lakukan, bahkan dari hal-hal kecil disekitar kita dapat memicu rasa diskriminatif dalam diri. Perbedaan suku, ras, agama menjadi pemicu utama adanya tindakan ini. Sebagai masyarakat yang hidup dengan beragam perbedaan, tentu saja kita harus menerima segala perbedaan tersebut.
Namun perlu diketahui bahwa perlakuan diskriminasi terjadi tidak hanya secara langsung tetapi juga dapat terjadi secara verbal dan virtual, dengan berbagai kemajuan yang ada sekarang, apalagi dengan sosial media yang berkembang dengan pesat dan memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk berekspresi.Berdasarkan hasil riset yang dikelurkan pada januari 2019 bahwa pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai 150 juta atau sebesar 56%. Dari data tersebut membuktikan bagaimana sosial media sangat erat dengan kita.
Hal ini memberikan ruang untuk para pengguna sosial media seperti instagram, twiter, dan facebook bebas mengupdate hal-hal yang mereka sukai. Tetapi sangat disayangkan adanya kebebasan berekspresi ini malah menjadi boomerang bagi si peng-upload. Seperti influencer dan pengguna instagram lainnya terutama wanita yang hampir setiap hari mengupload konten instagram berisi kegiatan mereka sehar-hari atau konten makeup, bernyanyi dan lain lainnya. Secara tidak sadar kegiatan yang harusnya menyenangkan dan memberikan motivasi untuk membuat karya selanjutnya malah menjadi hal yang menakutkan bagi mereka.
Hal ini di sebabkan karena adanya bullying yang dilakukan oleh pengguna media sosial lain. Terutama masalah fisik, yang menjadi standarisasi kecantikan yang di patok pada wajah dan warna kulit seseorang, hal ini mungkin terdengar biasa saja bagi orang-orang yang tidak peduli akan rasa empati, tapi adanya standarisasi kecantikan ini malah membuat sebagian orang takut untuk berekspresi. Karena tidak jarang penetapan standarisasi dibarengi dengan adanya diskriminasi, ketika seseorang tidak mencapai standar tertentu.
Contohnya saja wanita-wanita yang memiliki kulit sedikit gelap dan wajah yang tidak mulus, ketika mereka meng-upload foto mereka di instagram, mereka sering kali di jadikan sasaran bully yang berujung pada rasisme. seperti hujatan atau komen yang tidak pantas “eh kamu jelek, gak cocok pake baju itu, soalnya kamu hitam” atau “ngapain si upload story terus, hilangin dulu tuh jerawat” komen-komen yang dianggap sepele dan bercanda ini akan berdampak besar bagi mereka yang berkarya tadi, karena tidak di apresiasi tapi malah dijadikan bahan bully.
Akibatnya ialah, mereka yang kerap kali mendapat perlakuan ini akan menjadi insecure atau tidak percaya diri, bahkan lebih parahnya lagi akan berdampak pada kesehatan mental, sehingga mereka takut untuk mengekspresikan karya mereka. Yang menjadikan hal ini lucu ialah, terkadang mereka yang memberikan kritik pedas ini malah kadang mengaku sebagai orang yang peduli akan sesama, bahkan mereka juga share story instagram tentang kepedulian terhadap rasisme, apalagi yang sempat ramai baru-baru ini yaitu hastag Blacklivesmatter di instagram, seolah-olah semuanya peduli akan rasisme yang terjadi di Amerika tersebut.
Padahal masalah rasisme ini sebenarnya sangat dekat di negara kita, masih banyak mereka yang rasis kepada saudara-saudara kita di papua, hanya karena mereka memiliki kulit gelap dan agak berbeda dengan kita. Hal ini disayangkan , bahwa mereka lupa akan hal-hal kecil disekitar mereka, tentang bagaimana menghargai karya orang lain, mengenai menerima perbedan, tidak rasis, dan tidak mendiskrimansi orang lain, hanya karena mereka berbeda.
Kaitan dengan Hak Berekspresi
Hak asasi manusia menurut perspektif orang banyak dianggap hal yang berat, atau hanya bersinggungan dengan kekerasan, yang mana jika terjadi kekerasan berarti ada pelanggaran HAM disana, padahal hal kecil disekitaran kita sepenuhnya memiliki HAM. Begitu juga dengan hak bereskpresi, dengan maraknya diskriminasi yang terjadi sekarang malah menghambat orang untuk berekspresi. Adanya rasa tidak percaya diri yang timbul, kemudian menyalahkan diri sendiri karena tidak sesuai dengan ekspektasi orang-orang yang berujung pada terhentinya kreatifitas orang tersebut.
Saling Menghargai
Hendaknya kita sebagai manusia yang sama-sama memliki rasa empati meningkatkan kepedulian terhadap sesama tanpa melihat suku, ras dan agama, kalaupun hal yang ada disekitar kita tidak sesuai dengan apa yang kita sukai, setidaknya jangan sampai menyakiti orang lain apalagi sampai mendiskriminasi. Kita juga harus mengapresiasi karya dan usaha orang lain, dengan cara memberikan dukungan manakala orang tersebut gagal. Memuji jika orang tersebut berhasil dan biasakan bersikap diam saja jika tidak suka dengan karya seseorang. Ini menjadi pengingat dan intropeksi bagi saya dan kita semua bahwa harusnya kita lebih berhati-hati terhadap sikap kita kepada orang lain.
Mari jaga omongan, jaga sikap, dan berusaha untuk tidak menjelek-jelekkan. Karena percayalah hal sekecil apapun bisa berdampak besar bagi orang tersebut dan tidak jarang juga akan berbalik kepada kita.
Penulis: Kamelia Derbi Bengke, Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Isalm Indonesia Jogjakarta
