Mencari Kebenaran Dibalik Rasisme Dunia
Oleh Erik Bitdana)*
Rasisme, Sebuah kata yang mengandung makna sekaligus mengundang masalah karena termuat paham yang luas dan mendalam. Tidak hanya itu rasisme juga mengundang perhatian besar untuk dipertanyakan dan dicari jawabannya. Jika kita hendak mencari jawaban terkait ras atau rasisme, pasti kita menuju dua sumber sebagai rujukan tertua yakni dari bidang agama maupun bidang ilmu pengetahuan. Kedua bidang hidup ini dirasa cukup memenuhi syarat dan sangat mempengaruhi kehidupan manusia dalam segala bidang hidup. Sehingga tidak heran jika tindakan manusia selalu didasarkan pada prinsip pengetahuan dan agama. Baru-baru ini, Bangsa Indonesia telah melewati satu peristiwa bersejarah terkait Rasisme yang dialami Orang Papua yang dilakukan oleh orang Indonesia di Surabaya, Malang dan sekitarnya. Akibatnya berbagai daerah di Papua melakukan aksi demonstransi sebagai bentuk protes atas ketidakadilan. Akibat ini masih dan terus menghantui masyarakat karena mendatangkan kerugian berupa nyawa manusia, barang dan kekayaan lainnya yang masihberlangsung hingga kini. Bahkan mereka yang membela harkat dan martabat manusia Papuanya ditangkap, dipenjarakan dan bahkan dibunuh. Korban dijadikan sebagai pelaku. Sekali lagi rasisme menjadi sebabnya. Pelaku tak mungkin memenjarakan pelaku bukan?
Beberapa hari terakhir ini sedang berlangsung peristiwa yang sama sedang menghantui negara adikuasa dunia (Amerika Serikat). Unjuk rasa atas kematian George Floyd dan Sejarah Rasisme Amerika menandakan kekerasan rasial sudah lama terjadi di negara adikuasa dunia ini. Kasus ini tak sesederhana kasus pembunuhan lainnya. Karena itu nafas Floyd yang tersekat adalah potret nyata bagaimana ras kulit hitam menjadi potret realita rasisme dunia. Sehingga ras atau rasisme dianggap sebagai isu dunia dan isu aktual pada zaman sekarang ini (Suara.com, 2020).
Bentuk dan paham dari ras atau rasisme ini sudah, sedang dan akan terus dipelajari dan dipraktekan oleh kaum milenial dengan mengikuti perkembangan zaman. Karena itulah rasisme menjadi isu dunia. Dengan pehamahaman bahwa Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya. Dalam hal ini rasisme lebih identik dengan orang kulit hitam dan putih yang mencakup seluruh wilayah dunia.
Kita ambil contoh misalnya. Ras Kaukasoid menganggap dirinya ras paling unggul di dunia sebab menjadi pelopor peradaban dunia. Ras yang menguasai ekonomi dunia. Pencetus kemajuan ilmu pengetahuan. Tak ada lagi yang dapat menyamai kekuatan mereka dalam bidang militer. Pokoknya mereka menjadi ukuran atau standar segala kemajuan dan peradaban. Tapi kini fakta dan situasinya berbeda. Ada Iran di Timur Tengah, India, Korea Utara yang mampu bangkit dari ketertinggalan. Ras Mongoloid seperti China misalnya telah muncul bak naga yang siap menerkam mangsanya. China telah menunjukkan eksistensinya dengan menguasai ekonomi dunia. Membentuk kekuatan militer yang disegani oleh Amerika Serikat sang adikuasa itu, menguasai teknologi informasi dengan baik dan mumpuni dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dimana posisi Amerika Serikat, wakil ras Kaukasoid yang katanya lebih unggul dari ras lainnya? Amerika Serikat dan sekutunya jelas sudah terancam. Bahkan dalam perebutan hegemoni dunia dalam bidang ekonomi Amerika Serikat kelabakan menghadapi trik jitu negeri Tirai Bambu, China. Dalam persaingan internet berkecepatan tinggi (5G) Amerika Serikat kalah telak. China menang. Bukan tidak mungkin suatu saat negara dari ras kulit hitam akan mencapai kesuksesan serupa. Contoh ini menunjukkan bahwa ras tidak menjadi jaminan ketertinggalan, kuno, bodoh dan ungkapan-ungkapan inferior lainnya disematkan terhadap orang berdasarkan warna kulit atau rasa apa lagi sampai bertindak rasis. Pada suatu waktu rasialisme tak kan mendapat tempat dalam kehidupan manusia.
Jika kita mencari kebenaran tentang ras, mungkin kita menemukan ada beragam data yang mampu memberikan jawaban. Untuk memuaskan kebutuhan hasrat ingin tahu, tentunya diantara seluruh penduduk dunia sebagian besar adalah orang beragama. Dan pastinya kita tidak menemukan jawaban dari agama. Dengan alasan bahwa ajaran-ajaran agama menolak adanya perbedaan warna kulit dan lainnya. Karena menyangkut ini tidak diajarkan dalam ajaran dan norma hidup umat beragama baik Islam, Yahudi dan Kristen bahkan agama-agama lokal lainnya.
Apabila tentang ras ditemukan dalam buku suci Alkitab maupun Al-Qur’an maka saya bisa mengatakan Allah ” tidak adil”. Tetapi pada dasarnya belum ada nas yang menguraikan hal ini. Terbukti dalam Kej 1:26-28 kita membaca tentang penciptaan manusia; Kej 2:4-25 memberikan rincian yang lebih lengkap mengenai penciptaan dan lingkungan mereka. Kedua kisah ini saling melengkapi dan mengajarkan beberapa hal: Pertama, Baik laki-laki maupun wanita diciptakan secara khusus oleh Allah, mereka bukan hasil proses evolusi (ayat Kej 1:27; Mat 19:4; Mr 10:6). Kedua, laki-laki dan wanita keduanya diciptakan menurut “gambar” dan “rupa” Allah. Berdasarkan gambar ini, mereka dapat menanggapi dan bersekutu dengan Allah dan secara unik mencerminkan kasih, kemuliaan dan kekudusan-Nya. Mereka harus melakukannya dengan mengenal dan menaati-Nya (Kej 2:15-17).
Dengan nukilan kitab suci ini kita tahu bahwa menelusuri sejarah Alkitab, tak pernah menemukan jawaban tentang perbedaan manusia yang diciptakan Allah maka Allah adil. Disana hanya terdapat satu manusia (Laki laki dan perempuan) yang berawal dari satu tubuh (Daging). Tidak diceritakan juga bahwa mereka berbeda kulit, rambut, postur tubuh dan lainnya. Seperti yang dikatakan nas kitab tersebut. Mungkin juga terdapat jawaban yang sama dalam ajaran Islam. Seperti yang dikatakan oleh dr. Raehanul Barahen dalam artikelnya yang berjudul Tidak ada rasisme dalam islam, menyatakan bahwa : Perbuatan rasisme tentu tidak sesuai dengan fitrah manusia manapun. Meremehkan, merendahkan dan menghina orang lain hanya karena berbeda suku, berbeda warna kulit, berbeda bangsa atau negara. Kita dapati rasisme ini masih ada di beberapa tempat di dunia ini dan ini memang yang sangat tidak kita harapkan. Ketahuilah, Islam agama yang mulia telah menghapus dan mengharamkan rasisme tersebut di muka bumi ini. Semua orang pada asalnya sama kedudukannya dan memiliki hak-hak dasar kemanusiaan yang sama serta tidak boleh dibedakan, satu di istimewakan dan satu lagi dihinakan hanya karena alasan perbedaan suku, ras, bangsa semata (Media Islam. com. 2017).
Dengan demikian, Jawaban Alkitab maupun Al-Qu’ran tersebut tidak memberikan jawaban yang positif terkait hasrat keingintauhan kita tentang ras. Hal ini akan berbeda jika kita mencari jawaban dalam rana ilmu pengetahuan terutama (Teori evaluasi Darwin). Sebelum teori evolusi Darwin, sudah pernah dilakukan penelitian tentang asal usul manusia oleh Carolus Linnaeus seorangYunani-Romawi. Carolus Linnaeus dalam klasifikasi yang dibuatnya. Kata homo “human” dalam bahasa latin berasal dari kata “humanus” kata sifat dari “homo”. Kata latin “homo” berasal dari bahasa Indo-Eropa kuno dhghem atau bumi. Carolus Linnaeus dan ilmuwan lainnya pada masanya menganggap bahwa kera besar menjadi kerabat terdekat manusia didasarkan kesamaan morfologi dan anatomi. Evolusi manusia, Anthropogenesis, atau hominisasi merupakan bagian dari evolusi biologi yang mengenai munculnya homo sapiens. Teori ini merupakan subyek yang luas diselidiki secara ilmiah yang berusaha untuk memahami dan menjelaskan bagaimana perubahan ini terjadi. Studi dari evolusi manusia meliputi berbagai ilmu pengetahuan, terutama fisik antropologi, linguistik dan genetika. Beberapa tipologi spesies Homo telah berkembang, termasuk Homo erectus yang menghuni Asia dan Homo neanderthalensis yang menghuni Eropa. Archaic Homo sapiens berevolusi antara 400.000 dan 250.000 tahun yang lalu.
Berdasarkan teori asal usul manusia modern dari Afrika terbaru, manusia modern mungkin berevolusi di Afrika dari Homo heidelbergensis, Homo rhodesiensis, atau Homo antecessor dan bermigrasi keluar benua Afrika sekitar 50.000 sampai 100.000 tahun yang lalu, menggantikan populasi lokal Homo erectus, Homo Denisova, Homo floresiensis, dan Homo neanderthalensis. Dengan demikian, Manusia beranatomi modern berevolusi dari Homo sapiens kuno di era pertengahan Paleolitikum sekitar 200.000 tahun yang lalu. Transisi ke perilaku modern dengan perkembangan budaya simbolik, bahasa, dan teknologi batu terjadi sekitar 50.000 tahun yang lalu menurut banyak antropolog meskipun ada beberapa antropolog meyakini perubahan kebiasaan tersebut terjadi bertahap dalam jangka waktu yang lebih lama (McHenry, H.M. Evolution, 2009).
Dari kedua jawaban ini memperlihatkan bahwa, agama tidak ditemukan jawaban terkait ras atau rasisme sejak Allah menciptakan manusia pertama. Hal ini akan berbeda jika kita menelusuri jawaban dalam rana ilmu pengetahuan. Di sana ditemukan asal usul manusia dari bentuk binatang dalam tahap evolusi. Jika benar bahwa manusia berasal dari bentuk sederhana dari binatang maka tepatlah dengan sifat-sifat manusia dewasa ini. Dimana antar sesama manusia tidak dipandang sebagai teman hidup (socius) malahan sebagai lawan bahkan musuh berat yang harus dihilangkan, dibunuh, ditindas, dianiaya, diabaikan begitu saja tanpa peduli dari perhatian hukum, Pemerintah, Pendidikan, agama dan politik sebagai mahkluk binatang (homo Animale).
Disini saya mau katakan bahwa dominasi menjadi kekuatan besar menyingkirkan sesama, penguasa menjadi tembok pemisah dan ilmu pengetahuan menjadi alat pengukuran evolusi manusia saat ini. Karena engkau akan ditindas karena bodoh, tidak mampu, terbelakang, termiskin dan terabaikan. Karena memang pada dasarnya manusia adalah Binatang (homo animale). Binatang yang bermain dalam rana politiknya (homo ludens), binatang yang berpikir (homo Sapiens) mempertahankan hidup ditengah situasi kebutuhan ekonomi (homo ekonomicus) dan homo faber sebagai makhluk bekerja. Dengan demikian penentuan akhir adalah siapa yang berkuasa dia yang menang, dia yang benar, yang baik dan ia menjadi panutan bahkan contoh yang harus ditiru kalau tidak dikatakan ketinggalan, terbelakang, termiskin dan lain- lain. Disini manusia super (super man) adalah penguasa. Selain dari kriteria yang ditentukan akan dirasa sebagai penganggu, pemberontak, pengemis atas kenyamanan hidup. Manusia model ini tidak layak disebut bahkan diberikan kekuasaan dalam tempat yang layak.
Jika sifat binatang yang terus dipraktekan oleh setiap generasi penerus, maka bisa muncul beberapa pertanyaan: Akan kah ada harapan hidup bagi yang tidak mampu, miskin, bodoh dan tertinggal?Apakah rasisme menjadi senjata nuklir yang menghabiskan sifat hidup manusia hingga tempat dan alam kekayaan orang bodoh menjadi dapur hidup penguasa? Bukankah Allah keliru menciptakan manusia di dunia ini? Ataukah para Agamawan keliru menafsirkan kehendak Allah? Akankah ada harapan hidup untuk mereka yang selalu dikorbankan karena rasis? Mari kita merefleksikan realita hidup kita dengan kesadaran. Hanya orang sadarlah yang bisa menentukan dan memilih baik dari lebih baik atas dasar norma dan nilai kehidupan. Baik diri sendiri maupun demi kebaikan dan keselamatan semua orang atas dasar kesadaran adalah kunci kehidupan. Semoga anda dan saya bukan orang yang selalu digerogoti sifat binatang dalam hidup ini yang berdasar pada agama sebagai norma hidup dan ilmu pengetahuan sarana membentuk manusia yang semakin sadar akan realita hidup.*
Referensi:
Bisa dibaca juga dalam bukunya McHenry, H.M (2009). “Human Evolution”. Dan juga Michael Ruse & Joseph Travis. Dalam bukunya Evolution: the first four billion years. Cambridge, Massachusetts: The Belknap Press of Harvard University Press. hlm. 265. Baca juga, https://muslim.or.id/author/raehan, 2017 dan Artikel terkait Dany Garjito. https www. Suara.com, 2020
Penulis adalah Mahasiswa di STFT Fajar Timur, Anggota Kebadabi Voice Group dan Anggota Aplim Apom Research Group serta pemerhati humanis di Papua.
Editor : Sostenes Uropmabin
