Walaupun Bantuan Kecil, Sangat Berarti Bagi Yang Membutuhkannya

0
IMG-20200508-WA0002

Anggota MRP, Engelbertus Kasipmabin membagikan Sembako kepada Masyarakat Pegunungan Bintang dan Yahukimo di Sentani Jayapura (Dok. Sabinus Ningdana Untuk Tribunpapua.id)

Oleh Oktovianus Apintamon)*

Sebagai makhluk sosial, kita manusia tidak bisa hidup seorang diri. Manusia sebagai makhluk sosial berarti  sangat membutuhkan kehadiran orang lain untuk saling bekerja sama, saling melengkapi, dan membantu dari kekurangan dan juga kelebihan masing-masing. Situasi Papua saat ini, dengan adanya wabah virus corona (covid19)  membuat keadaan masyarakat tanah Papua sangat memprihatinkan. Mereka membutuhkan kebutuhan pokok  hidup sehari-hari untuk tetap bertahan hidup. Banyak Masyarakat Papua yang masuk dalam kategori miskin dalam hal ini ekonomi tidak terjamin. Oleh Sebab itu, diharapkan  pemerintah lebih bijak dalam melihat situasi yang sedang berlangsung ini. Kita tahu bahwa tanah Papua ini, kaya dengan alam dan sebagainya. Tetapi, kenyataannya masyarakat masih mengeluh lapar, menderita, dan lain-lain.

Dalam hal ini, kata st. Paulus. “Saling membantu dan menolong adalah kata-kata yang mudah diucapkan namun tidak mudah dilaksanakan”. Ya tentu, kita menyadari hal ini, bahwa pemimpin tidak hanya jadi pemimpin diri sendiri. Tetapi, karena ada masyarakat, ada orang lain, maka kita dipilih menjadi pemimpin. Kita dipilih jadi pemimpin untuk hidup bersama masyarakat, merasakan suka-duka bersama masyarakat. Bukan kita ada saat kepentingan politik. Hal itu memperlihatkan jati diri yang bukan pemimpin yang baik untuk membangun masyarakatnya. Oleh karena itu, pemerintah  lebih  terbuka untuk membantu masyarakat yang mana mengalami wabah corona virus yang telah berlangsung dari bulan Maret hingga bulan Mei ini.

Di sini saya sebagai mahasiswa Pegunungan Bintang, masih merasa prihatin dengan kondisi masyarakat di Kabupaten Pegunungan Bintang. Sejauh pengamatan saya, masih terlihat bahwa  pemimpin pemerintah daerah kurang memperlakukan, memperhatikan, masyarakat dalam situasi wabah virus corona.  Pemerintah daerah mengklaim bahwa situasi daerah sudah aman, tetapi bagaimana dengan kebutuhan hidup harian masyarakat di 34 distrik di Kab.Pegunungan Bintang. Sangat disayangkan kalau pemimpin “masih tertutup” untuk membantu masyarakat karena ada kepentingan lain dibalik itu. Masyarakat, mereka tidak meminta banyak cukup  membantu mereka sembako atau cairkan dana kampung (ADD/ APBD), biar mereka sendiri yang mengaturnya, untuk melengkapi kebutuhan makan-minum selama virus corona berlangsung.  Dan jika benar ada bantuan dari pemerintah  pusat atau provinsi 21 miliar,  untuk penanganan covid–19  mengapa harus disembunyikan? Uang sebesar apapun, ada karena masyarakat itu ada. Tanpa mereka (masyarakat), uang sebesar itu tidak akan bisa ada. Maka itu, sebaiknya pemerintah daerah optimis, dan lebih terbuka untuk membantu masyarakat yang terancam karena virus corona.

Tujuanya  adalah saya mau mengkritisi sejauh mana pimpinan dareah mengambil kebijakan untuk membantu masyarakat, supaya mereka bisa dapat hidup sesuai dengan keputusan-keputusan yang diambil oleh pemerintah pusat- pemerintah provinsi, bahkan daerah mengenai virus corona. Jika belum ada kebijakan untuk membantu masyarakat, maka mereka akan tetap bersuara atau mengeluh lapar dan sebagainya. Saya berpikir juga pemimpin pemerintah Kab. Pegunungan Bintang, mesti kerja sama dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat agar dapat menjaga pencegahan covid19 ini dengan baik. Supaya masyarakat tetap aman dan tetap tinggal di rumah, pemerintah harus menyiapkan kebutuhan makan-minum bahkan bila perlu siapkan alat-alat kesehatan maupun alat-alat kerja kebun supaya mereka bisa merasa sehat dan tetap menjadi pelaku produksi  dengan situasi wabah virus corona ini. Saya merasa, bahwa tujuan kita menjadi pemimpin adalah untuk melayani orang lain. Bukan jadi pemimpin untuk diri sendiri. Oleh sebab itu, pemimpin kab. Pegunungan Bintang harus membuka mata melihat situasi dan kondisi masyarakat sekarang ini.

Masyarakat Kabupaten Pegunungan Bintang hidup ibarat “Domba tanpa Gembala”

Dalam situasi wabah virus corona ini, sebenarnya  masyarakat sangat membutuhkan kehadiran sosok seorang pemimpin yang melayani bagi mereka. Namun, di lapangan tidak seperti apa yang mereka (masyarakat) harapkan. Ini artinya bahwa masyarakat merasa hidup tanpa pemimpin walaupun ada. Sebab, dalam situasi seperti ini mereka membutuhkan, mencari gembala untuk dapat berlindung dari segala macam tantangan hidup, seperti wabah virus corona yang mengancam di seluruh dunia ini.

Setidaknya seorang pemimpin merasa memiliki hati untuk masyarakat, bahwa karena mereka saya menjadi pemimpin. Saling membantu dalam situasi seperti wabah covid19 ini, akan memberi dampak pada yakin nilai kemanusiaan yang sangat luar biasa. Tetapi, kita melihat situasi di lapangan ternyata masyarakat berajalan sendiri dan pemimpin berjalan sendiri. Sehingga, masyarakat merasa hidup tanpa seorang gembala yang baik. Untuk itu, saya pikir sebaiknya seorang pemimpin mesti tinggal tetap di tempat dalam situasi seperti ini, dan jelas keberadaannya, supaya dalam penanganan covid19 ini bersama-sama dapat menjaga dari penyebaran virus corona. Supaya dalam situasi penanganan covid19 tidak merasa ada yang kurang dalam pelayanan bagi masyarakat yang masih tinggal di rumah. Tetap bersama untuk menjaga kesehatan, menjaga jarak demi keselamatan  manusia Aplim Apom tercinta.

Saya sangat tertarik dengan moto Kab. Pegunungan Bintang, yaitu “Terip Tibo Semo Nirya” (mari bangkit membangun bersama). Moto ini jika dihayati oleh para pemimpin dengan sungguh-sungguh dan memaknainya dengan baik, pasti  pembangunan masyarakat Pegunungan Bintang yang diharapan oleh semua orang akan berjalan dengan baik. Pembangunan yang tentu diharapkan salah satunya adalah membangun sumber daya manusia.  Saya berpikir untuk membangun manusia Aplim Apom dengan benar maka pemimpin yang harus membangun dengan tahu dan mau, bukan asal ‘tahu-tahu’ lalu menjadi pemimpin yang tinggal nama dan hilang orangnya. Sehingga keberadaannya dan keberpihakkannya pun tidak jelas terlihat. Situasi dan keadaan pemerintahan pemimpin sekarang kelihatan seperti itu, sehingga kita tidak bisa meragukan untuk melihat kepemimpinan seorang pemimpin saat ini.

Setidaknya dalam situasi  seperti ini seorang pemimpin bijaksana untuk membantu masyarakat berupa sembako seperti beberapa kabupaten yang dilakukan; seperti pemkab mambramo raya yang datangkan 11.000 sak beras dan Alkes (alat kesehatan), serta mie instan dan lain-lain pada 7 Mei. Juga di kabupaten intan jaya dengan uang per kk 4.000, (empat juta)serta sembako seperti beras dan lain-lain. Dalam hal ini mereka adalah pemimpin yang hebat untuk manbantu masyarakatnya. Soal dana, semua dana APBD dijadikan barang, tetapi juga ada di kasih uang untuk mengelolah sendiri pada masa covid19 ini.

Dengan demikian, solusi yang saya pikirkan adalah masyarakat tetap kembali bertani untuk menghidupi beberlangsungan hidup di dalam kehidupan berumah tangga. Uang bukan segalanya, tetapi kita membutuhkan uang untuk memiliki segalanya. Maka, pastilah kita mendapatkan uang dengan hasil kerja kita sendiri, bukan karena dikasih gratis demi kepentingan pribadi tertentu. Sebaiknya, lagi masyarakat kembali bangkitkan budaya bertani. Bangkit membangun bersama, hanya kita sendiri yang mampu ciptakan kehidupan ekonomi yang baik bukan orang lain. Oleh karena itu, masyarakat juga lebih kreatif dalam menanggapi wabah virus corona yang sedang berlangsung ini.

Lalu, salah satu kelemahan masyarakat yang saya pikir adalah sudah dari awal kita dimanjakan dengan bantuan dana OTSUS sehingga masyarakat Papua pada umumnya yang memiliki mental bertani sudah terlihat mati. Hal ini menyebabkan masyarkat selalu menjadi ‘pengemis’. Oleh sebab itu  Kita juga harus sadar tentang persoalan mental ini. Sambil berharap pemerintah daerah memperhatikan kita masyarakat, maka kita masyarakat sendiri juga harus bekerja keras membangkitkan semangat bertani kita. Kita kembali kepada budaya leluhur yang mengajarkan kita sebagai orang-orang pekerja keras. Saya percaya bahwa masyarakat Aplim Apom bisa bangkit membangun negerinya sendiri kalau kita memang siap dan mau bertani. Semoga situasi sulit saat ini bisa teratasi dan kita kembali bekerja dengan normal sambil membantu sesama kita yang memprihatinkan. Ingat bantuan mesti kecil sangat berarti bagi mereka yang membutuhkannya.

 

Penulis adalah Mahasiswa STFT ‘fajar timur’ dan  Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *