PANDEMIC COVID-19 ADALAH ALARM KRISIS EKONOMI 70 TAHUN BAGI BANGSA INDOENSIA
Enos B. Alwolmabin, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id
Oleh Enos B. Alwolmabin
Yang tertinggal tetap tertinggal, yang terbelakang tetap terbelakang, Maju atau mundur? Semua Tibah pada waktu yang tidak Menentu.
Pada dasarnya manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi selalu menghadapi masalah ekonomi sebagai kebutuhan mutlak. Inti dari masalah ekonomi yang dihadapi manusia adalah kenyataan manusia pada umumnya kebutuhan selalu ada tanpa terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia berupa primer, secunder hingga tersier jumlahnya terbatas berupa barang dan jasa. Adapun factor-faktor yang mempengaruhi adalah factor produksi. Factor produksi menjadi penentu keberlansungan hidup baik yang produksikan oleh masyarakat berupa pertanian dengan mengandalkan tenaga manusia maupun factor produksi yang berskala besar melalui mesin. Kedua tindakan tersebut menjadi harapan pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Hal ini akan berbeda dengan situasi saat ini, dimana kehadiran vandemic covid-19 merubah sekaligus memutuskan tali perputaran proses produksi dan transaksi berupa sosial distancing. Sosial distancing atau jaga jarak dan tetap dirumah aja menjadi suatu tanda atau sebut saja alarm krisis ekonomi. Alasan mengapa vandemic covid-19 disebut alarm, karena pengalaman sejarah telah meningatkan kita bahwa pernah berkali- kali Bangsa Indoensia mengalami Krisis ekonomi yang sama beberapa tahun silam seperti halnya 1997-1999 atau 20-an tahun yang lalau.
Begitupula dengan Krisis ekonomi 2008, yang masih bisa teredam oleh Pemerintah dengan mendorong konsumsi dalam Negeri, dan mungkin saat itu bersifat Krisis eksternal makanya bisa diatasi oleh pemerintah setempat. Namun saya dan kita semua pasti kuatir tentang Krisis Covid – 19, karena ini ditambah dengan Social Distancing, karena krisis ini dia tidak di pandang. Semua orang bisa menjadi korban krisis entah lokal, nasional hingga international semua kena karena semua aktivitas ekonomi yang tidak berjalan. Semua aktivitas Kantor, Kampus, Sekolah dan semua jenis Aktivitas di lakukan didalam Rumah ( di rumah aja). Aktivitas Ekonomi sudah mulai rendah dan sudah mulai menurun dan itu yang membuat krisis Covid – 19 , ini jau lebih parah di bandingkan Krisis Sebelumnya.
Negara bingung memprediksi entah kapan berakhirnya Covid – 19 ini ?
Vandemic Covid – 19 ini sangat rumit, Sebab merebeknya Virus Corona ini membuat semua aktivitas produksi terpukul rata sehingga menyebabkan Supply Shock dan perputaran uang menjadi kendala dengan sosial distancing alias kantor dan perusahaan ditutup sementara. Pada hal kita tahu bahwa tindakan ekonomi menjadi penentu usaha hidup kita. Tindakan ekonomi adalah sebuah istilah yang mengacu pada setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling baik, dan paling menguntungkan. Tindakan ekonomi terdiri atas dua aspek, yaitu: Tindakan ekonomi Rasional, dimana setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling menguntungkan, dan kenyataannya demikian. Sementara tindakan ekonomi Irrasional, setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling menguntungkan namun kenyataannya tidak demikian. Karena motif ekonominya berbeda secara intrinsik maupun ekstrinsik merubah sikap tindakan manusia dalam mengelolah sumber pendapatan.
Motif ekonomi disebut sebagai intrinsik karena suatu keinginan untuk melakukan tindakan ekonomi atas kemauan sendiri demi mempertahkan hidup pribadi maupun keluarga. Dalam motif ini menunjukan sebuah kesadaran untuk berkebun yang telah lama dipraktekan dan dipertahankan oleh nenekmoyang kita hingga saat ini. Dengan cara dan gaya yang masing-masing sesuai letak geografis suatu wilayah. Pada taraf ini kita berkebun atau mencari makan untuk hidup. Sementara motif berkebun yang saat ini terjadi ialah motif ekstrinsik. Motif ekstrinsik disebut sebagai suatu keinginan untuk melakukan tindakan ekonomi atas dorongan orang lain. Motif ini inilah yang kita alami saat ini, dimana kita bekerja karena diperintahkan oleh pemerintah melalui program-program yang ditawarkan. Motif ini jugalah yang kita alami di situasi vandemic covid-19. Situasi sosial terancam, stok makanan dibatasi dan berbagai kegiatan dihentikan sehingga kebutuhan ekonomi meningkat. Saat inilah kita disuru, diperintah oleh situasi dan kondisi maupun melalu pemerintah untuk berkebun. Pada umumnya praktek dari motif bekerja adalah memenuhi kebutuhan, memperoleh keuntungan, memperoleh penghargaan, memperoleh kekuasaan motif sosial dan menolong sesama.
Prinsip dasarnya bahwa ekonomi merupakan pedoman untuk melakukan tindakan ekonomi yang didalamnya terkandung asas dengan pengorbanan tertentu diperoleh hasil yang maksimal. Prinsip ekonomi adalah dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil tertentu, atau dengan pengorbanan tertentu untuk memperoleh hasil semaksimal mungkin.
Setiap makhluk hidup membutuhkan makanan. Tanpa makanan, makhluk hidup akan sulit dalam mengerjakan aktivitas sehari-harinya. Makanan dapat membantu manusia dalam mendapatkan energi, membantu pertumbuhan badan dan otak. Memakan makanan yang bergizi akan membantu pertumbuhan manusia, baik otak maupun badan. Setiap makanan mempunyai kandungan gizi yang berbeda. Protein, karbohidrat, dan lemak adalah salah satu contoh gizi yang akan didapatkan dari makanan dan itu semua terdapat dalam alam dan secara tidaklangsung dikelolah masyarakat.
Vandemic Covid-19 sebagai alarm Krisis Ekonomi keempat yang sedang dialami bangsa Indoensia saat ini. Para ekonom mengkuatirkan bahwa kalau virus ini tidak teratasi dalam waktu yang ditentukan dan diperkirakan virus ini akan berakhir pada Akhir Tahun 2020-2021, Maka negara ini akan mengalami Krisis Ekonomi. Senior sekaligus mantan Menteri keuangan menilai krisis Ekonomi yang di akibatkan Pandemi Covid -19, lebih parah dibandingan krisis Ekonomi yang terjadi puluan Tahun Silam pada 1997 – 1998 mengalami krisis ekonomi dan waktu terjadi porak –porankan ekonomi Indonesia. Ekonom ini ia menjelaskan bahwa, Pandemi Covid – 19, ini berbeda dengan krisis ekonomi 1997 – 1998 ini, waktu itu semua perusahaan – perusahaan besar pun dibuat babak belur oleh krisis. Tapi Indonesia tertolong oleh Sektor Usaha Mikro kecil dan menengah (UMKM). Menurutnya, Satu hal yang tidak pernah terjadi pada Krisis sebelumnya, dan hal ini terjadi saat Pandemi Covid – 19 adalah Social Distancing , atau pembatasan social berskala besar (PSBB) kunci dari semua aktivitas ekonomi adalah terjadinya transaksi atau adanya pasar. Pasar itu terdefinisi sebagai tempat bertemunya orang untuk mepertukarkan barang dan jasa, namun karena pembatasan orang – orang tidak boleh bertemu. Dan hal ini memang hal yang palling esensial, Pasar ditutup, Tokoh Ditutup semuanya di tutup, bagaimana dengan nasip Orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap ? atau sebut saja masyarakat biasa atau karyawan? Pasar merupakan tempat tukar menukar barang dan jasa untuk mendapatkan dan menghidupkan kehidupan rumah tangga dan kebutuhan lainya seperti membantu membiayai anak – anaknya, dan melengkapi kebuthan lainya. Kekuatiran penulis kalau pandemi Covid – 19 ini, terus berlanjut hingga akhir tahun maka Indonesia pada umumnya akan mengalami kemiskinan.
Apa jenis Krisis ekonomi yang akan di alami Orang Papua di Tanah Papua?
Walaupun dalam Badan pusat statistik (BPS ) Indoensia telah menetapkan ( Papua dan Papua Barat ) sebagai Provinsi termiskin di Indoensia dengan daftar Kemiskinan urutan 1 dan 2. Namun menjadi pertanyaan bagi kita bahwa Apa Kriteria Kemiskinan bagi Tanah Papua? Apakah Sumber Daya Manusia atau Sumber Daya Alam? Kita tidak bisa mencaplok atau memberikan lebel tanpa melihat secar holistic dari berbagai bidang hidup. Jika penilaian tersebut adalah pandangan perkembangan zaman, atau kacamata pribadi maka anda salah. Situasi Vandemic Covid-19 telah memberikan kita jawaban bahwa Sumber Daya manusia tidak menjamin kehidupan ekonomi rakyat melainkan pangan lokal berupa Sumber Daya Alam menjadi jaminan hidup.
Penulis sedikit berbangga terhadap Papua dengan Kekayaan Sumber Daya Alam yang melimpah ruah. Bukan saya mengunggul – unggulkan Pulau Saya, tatapi realitas memperlihatkan demikian. Kita tahu sendiri bahwasanya soal Keunggulan Sumber Daya Alam berasal dari sini PAPUA. Papua adalah Kepingan surga yang jatuh ke bumi. Apa yang kita tidak miliki Tanah Papua ini ? semuanya kita punya kawan! Emas, Uranium, Sampai Hewan Paling langkah juga ada disini. Dunia mana yang tidak tau tentang Kekayaan Sumber Daya Alam Papua ? semuanya tau tentang hal itu!. Namun menjadi Krisis ekonomi kalau Orang Papua terlalu mengharapkan bantuan berupa sembako dari tangan Pemerintah pusat. Dan mnejadi krisis ekonomi juga kalau semua sumber kehidupan ini dikeruk dan diperjualbelikan habis oleh Negara. Dan inilah relaitas tanah Papua saat ini, Orang Papua sebagai Pemilik dipermainkan hingga terlantar “Bagai Semut yang kelaparan di tengah – tengah Gula”. Dominasi perusahaan multi Nasional hingga Internasional sudah, sedang dan akan terus menuju Papua. Jika demikian apa yang terjadih setelah Krisis Ekonomi / krisis Covid – 19 nanti bagi orang Papua?
Orang Papua sedang mengalami Krisis ekonomi karena semua kekayaan dikeruk habis demi membayar utang negara. Apa benar demikian? Jangan salah, Papua menjadi dapurnya Indonesia. Jika dapur telah kehabisan persediahan bahan makanan maka matilah seluruh penghuni rumah itu. Kita tahu bahwa Hutang negara di tahun 2020 menjulang tinggi. Jakarta, CNBC Indonesia Memperlihatkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2020 mencapai US$ 407,5 miliar. Dengan menggunakan kurs US$ 1 = Rp 15.500 maka nilainya mencapai Rp 6.316 triliun (CNBC News, 2020). Keadaan ini diperpara lagi dengan situasi Vandemic Covid-19 menjadi ancaman terberat. Utang negara ini menunjukan durasi waktu yang cukup lama hingga memakan waktu 50 tahun mendatang. Jika demikian, apa yang menjadi harapan Indonesia untuk menjamin penulasan hutang negara?
Papua adalah Paling utama yang bisa menghidupkan rumah tangga bangsa Indoensia melalui perusahaan multi Internasional berupa Emas, Minyak, Kayu, Ikan dan lainya. Jika kebutuhan Sandang, Pangan, Papan adalah Berkebun, Nelayan dan mata Pencarian lainya bisa ditemukan di Indoensia lain. Kembali menghidupkan kebiasaan hidup seutuhnya, yaitu Makanan Kas atau makanan Pokok, mari kembali Pengang kapak, Parang dan cangkul/ sekop untuk mengendalikan lalu mencintai kebiasaan hidup orang papua seutuhnya. Bagi yang di gunung kembali berkebun / bertani, yang di Pantai kembali nelayan/ melaut, yang di lembah dan pesisir juga demikian. Dengan cara demikian, orang Papua bisa mandiri dan menghapuskan lebel kemiskinan.
Oleh karena itu, Orang Papua sadar dan berhentilah menjual tanah sebagai transaksi biasa. Berhentilah mengharapkan Beras Raskin sebagai makanan pokok yang akan menjadi lebel kemiskinan di tanah Papua. Pemerintah mesti bersatu membatasi Investasi Asing yang masuk melalui Indoensia. Tugas Otonomi Khusus bagi Orang Papua adalah mengatur rumah tangganya sendiri. Jangan biarkan Sumber Daya Alam Papua dikeruk Habis, Hutan ditebang, dan Minyak bumi dihisap dan lain sebagainya. Bagaimana cara kita menghidupan kebiasaan atau Budaya kerja menjadi penentu kehidupan ekonomi. Tindakan lokal menentukan hidup. Segerah sebelum krisis Ekonomi Serang, jangan tunggu ini sedang terjadi Krisis. Ingatlah bahwa Sumber Daya Alam Papua menanti Hutang Negara menjadi Jaminan 70 Tahun kedepan. Apa jaminan hidup orang Papua? Seperti apa nasib orang Papua kedepan? Apa yang menjadi harapan bersama demi keselamatan Tanah dan Manusia Papua sebagai sumber ekonomi? Mari mencari solusi bersama “Selamatkan Tanah dan Manusia Papua”.
Penulis : Enos B. Alwolmabin, Mahasiswa Pegunungan Bintang di Bandar Lampung
Editor : Erick Bitdana
