Pandangan Orang Indonesia Yang Chauvinistis Terhadap OAP Masih Bersifat Dehumanistik
Ningdana O, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id
Oleh: Ningdana.O)*
Pandangan Orang Indonesia yang chauvinistis terhadap Orang Asli Papua (OAP) selama ini sebagai manusia yang posisi derajat kemanusiaannya berada di posisi paling bawah (degradasi) dari semua ras yang ada di Indonesia. Pandangan seperti ini tidak lain pastinya dari mereka yang telah didoktrin oleh para pemangku kepentingan kapitalis di negara Indonesia guna mengamankan kepentingan perseorangan ataupun kelompok mereka, baik itu yang mempunyai kepentingan politik, ekonomi dan keamanan. Papua bagi para kapitalis hanyalah objek yang perlu di rantai dan dijaga secara ketat menggunakan kekuatan negara. Negara bagi kapitalis nasional merupakan instrumen pendukung yang sangat efektif untuk menindas rakyat atau klas (mayoritas), dalam hal ini OAP yang terlihat lemah dimata para kapitalis bertopeng pejabat negara (minoritas) yang sok superior secara leluasa. Dalam upaya pengamanan kepentingan demi stabilitas proses investasi para kapitalis memanfaatkan negara lewat aksi milisi dan ormas reaksioner untuk mengamankan investasinya sebaik mungkin dengan menjadikan Papua sebagai objek vital yang perlu dirantai atas dasar pandangan dehumanistik. Hal tersebut dilakukan sebagai daya tawar yang cukup kuat kepada para kapitalis global. Dari motif seperti inilah masyarakat didogma serta dibentuk menjadi ormas reaksioner agar bisa mendukung para kapitalis dengan melakukan berbagai macam upaya yang diskriminatif terhadap Orang Asli Papua.
Perlakuan tak terpuji yang kerap dilakukan oleh Orang Indonesia yang chauvinistis di atas, bukanlah fenomena baru yang terjadi di Indonesia, namun sedari zaman penjajahan kolonial Belanda sudah diberlakkukan terhadap Orang Indonesia. Adalah sebuah kepastian bahwa hal ini sebagai bentuk reinkarnasi yang dipraktikan oleh Orang Indonesia yang chauvinstik terhadap Orang Asli Papua, yang mana konon orang Belanda sering menganggap Orang Indonesia sebagi manusia yang posisi derajatnya paling rendah dibanding Orang Belanda sendiri. Contoh khasus yang Orang Belanda sering lakukan Terhadap Orang Indonesia ialah penyebutan Inlander. Sebutan inlander pernah diungkit langsung oleh Prabowo Subianto dalam pidatonya di UBK, bahwa Inlander sebagai sebutan ejekan bagi Penduduk Asli Indonesia oleh Orang Belanda pada masa penjajahan. Inlander juga sering diartikan sebagai Pribumi (CNN Indonesia, Jumat 29/6/18). Ada pula contoh kasus serupa namun tak sama yang sering dilontaran oleh orang Indonesia yang chauvinistik, baik kaum intelek sampah pada masyarakat jelata yang telah terdogmatisasi kepada OAP. Ucapan atau istilah yang sering dilontarkan terhadap Orang Asli Papua juga bernuansa pembunuhan karakter, seperti terbodoh, terbelakang, termiskin, tertinggal, primitif, kanibal, belum bisa belum maju, tukang mabuk (Socratez Sofyan Yoman dalam buku Pemusnahan Etnis Melanesia, Hal 181). Pandangan dan ucapan seperti ini sebuah bentuk reinkarnasi yang sering dipraktikan langsung oleh mereka terhadap OAP. Tidak sampai pada fase itu, ada fase tertinggi dimana pandangan terhadap Orang Asli Papua sering disamakan seperti binatang yang tak pantas berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan pandangan tersebut kerapkali diwujudnyatakan lewat aksi-aksi reaksionernya.
Menyentil pandangan serta perlakuan tentang dehumanisasi lalu melupakan diskriminasi rasial sudah menjadi barang tentu akan terlihat kurang srek dan terasa tak sedap untuk dibahas. Untuk mendukung proses pembahasan tentang rasisme yang sering, sedang, dan akan terus dialamatkan oleh sebagian Orang Indonesia tersebut di atas terhadap Orang Asli Papua, penulis dengan ekstra hati-hati dan sangat konsekuen akan menyentil beberapa kasus yang pernah diberlakukan oleh sebagian Orang Indonesia yang menganut paham chauvinis terhadap OAP. Kita ambil contoh kasus yang pertama dari kasus rasisme yang pernah digaungkan secara vulgar oleh Ormas Reaksioner yang dibackup sama para bala Tentara, Polisi, Intel dan Brimob (Sayap Militer Pemerintahan NKRI) yang dengan paham chauvinistiknya yang sangat tulen dan kental terhadap Mahasiswa Orang Asli Papua di asrama kalasan Surabaya, Jawa Timur. Dolly iyouw, salah satu Mahasiswi Orang Asli Papua yang berada di Asrama Kalasan Papua juga sebagai Pengurus Pusat Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) mengaku mendengar kata-kata makian, cacian, dan kata-kata ancaman yang dikeluarkan untuk dua mahasiswi dan 13 orang mahasiswa yang berada di asrama tersebut. “Dorang bikin yel-yel di depan asrama dengan kata-kata ‘pulang ke Papua ‘, lalu mereka juga bilang kami monyet, bahkan diteriaki kotoran manusia dan masih banyak kata-kata makian, cacian dan rasis yang dilontarkan pada kami (Suara Papua, Jumat, 16/8/2019)”.
Perlakuan seperti kita sudah bisa ambil konklusinya bahwa Orang Asli Papua di mata sebagian Orang Indonesia masih terbilang sangat jauh dari nilai kemanusiaan yang derajatnya sama seperti mereka. Ucapan rasis, intimidasi serta teror yang dilakukan oleh sebagian orang Indonesia kepada Mahasiswa Orang Asli Papua tersebut juga menggambarkan kurangnya wawasan dan pola pikir kurang sehat tentang nilai-nilai kemanusiaan. Sikap suporior yang ada pada diri mereka masih mendominasi common sense ( pikiran sehat), dan kalau dirujuk dari dogmatisme, penulis berpandangan bahwa mereka telah didoktrin habis-habisan oleh para elit yang punya kepentingan ekonomi global di Tanah Papua atau pemilik modal beberapa perusahaan raksasa di Tanah Papua. Praduga ini penulis kutip atas dasar kausalitas terjadinya peristiwa rasisme. Mahasiswa OAP dalam hal ini AMP pada saat itu diperlakukan seperti bak binatang setelah mereka melakukan aksi menolak New Agreement pada tanggal 15-8-2019. Dalam aksi tersebut tampak bahwa para pemilik modal geram melihat aksi-aksi mahasiswa karena sangat mengancam dompet mereka. Selain kasus yang menimpa Mahasiswa Papua tersebut, ada juga kasus yang sering dialamatkan kepada individu OAP seperti ucapan rasis kepada Kaka kita, Bapa kita Natalius Pigay. Sering dimaki Gorila bahkan fotonya diedit dan sejajarkan dengan gambar gorila. Kasus lainnya, sebagian Orang Indonesia akan menutup mulut ketika Orang Asli Papua naik angkot, bahkan di kampus pun seringkali diperlakukan rasis, seperti mengatakan hitam, dengki, hideung (Bahasa Sunda artinya hitam) dan lain-lain. Artinya bahwa rasisme telah menjadi senjata yang sangat ampuh digunakan oleh sebagian Orang Indonesia untuk mendegradasi martabat Orang Asli Papua.
Rasisme adalah musuh besar semua manusia di dunia. Rasisme menurut perspektif teologi sangat bertentangan dengan ajaran agama, rasisme menurut perspektif aksiologi sangat bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan rasisme menurut perspektif sebuah bangsa sangat berpotensi memecah belah suatu bangsa yang satu dengan yang lainnya. Pandangan-pandangan yang merendahkan seseorang sudah menjadi senjata mematikan yang sampai saat tulisan ini dibuat masih dibudayakan oleh sebagian Orang Indonesia untuk membunuh karakter Orang Asli Papua. Orang Asli Papua pun sering diadu domba dengan mengkotak-kotakan Orang Asli Papua di bagian pegunungan dianggap masih tertinggal dibanding Orang Asli Papua di bagian pesisir pantai. Upaya seperti ini termasuk salah satu cara paling halus dan dingin untuk memecah belah persatuan Orang Asli Papua dengan cara pembunuhan karakter. Oleh karena itu, Penulis mau tekankan bahwa Kita Orang Asli Papua di mata sebagian Orang Indonesia jauh dari kata manusia yang mempunyai derajat yang sama dengan mereka dan OAP tidak akan ada masa depan yang baik dalam bingkai NKRI.
Penulis Adalah Aktivis Kemanusiaan dan Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)
