COVID- 19 MENJADI ALARM PERINGATAN SANG KHALIK BAGI MANUSIA PAPUA KEMBALI KE AKAR BUDAYANYA

0
IMG-20200512-WA0005

Apkol Uropmabin Ap, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id

Oleh Apkol Uropmabin Ap

 Pengantar

Gereja ditutup, cuci tangan secara rutin, kembali ke pangan lokal, dilarang bersalaman, menghindar dari kerumunan orang banyak, belajar di rumah dengan menggunakan media, karantina wilayah atau lockdown adalah cara respon Pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi dan melindungi diri dari penyebaran Covid-19. Namun langkah yang diambil ini belum tepat sasaran untuk memberikan jaminan keselamatan bagi warga Negara Indonesia, khususnya di Papua. Sebab dilihat dari hasil update perkembangan Covid-19 di Indonesia melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terkonfirmasi sebanyak 14.032 kasus dengan 2.698 sembuh dan 973 meninggal dunia.

Dengan melihat kasus sebanyak 973 yang meninggal membuat sebagian warga meragukan serta mempertanyakan keseriusan Negara dalam menangani virus yang berkembang pesat ini. Meningkatnya angka orang meninggal pertanda bahwa pemerintah belum serius menangani covid-19 secara tepat bahkan terkesan multitafsir pada satuan tugas yang dibentuk dari tingkat lokal, regional maupun nasional. Bahkan ada masyarakat yang mempertanyakan langkah penanganan covid-19 dalam bentuk aksi, salah satunya dari mahasiswa kabupaten Tolikara Papua baru-baru ini meminta pemerintah daerah memberikan bantuan beras dan bahan makanan lainya karena melanda kelaparan akibat penerapan social distancing.

Orang Papua Harus Kembali Ke Akar Budaya

 Penulis ingin menegaskan dan mengingatkan kembali bagi orang asli Papua bahwa kita  mempunyai keaslian dan kemurnian hidup sebagai manusia yang berbudaya dan punya kekayaan alam pemberian Tuhan yang sangat melimpah. Dimana di atas tanah ini terdapat sagu, ikan, ubi, keladi dan sayur-sayuran maka kita harus kembali alam. Kita harus berkebun, beternak, melaut, meramu sagu dan memproduksi ekonomi lokal sesuai tradisi yang sudah diwariskan oleh orangtua kita sebagai kail kehidupan. Bagi kita orang asli dan seluruh manusia yang hidup di atas Tanah Papua harus sadar bahwa Papua adalah  gudang ekonomi bagi dunia, maka stop pura-pura menjadi orang yang tidak punya tanah, laut, gunung, lembah, sungai, hewan dan tumbuh-tumbuhan yang Tuhan sudah sediakan di alam kita. Oleh karena itu, sebaiknya kita perlu menggantungkan diri kepada pemerintah atau pihak lainnya.

Mengapa gereja ditutup dan kembali ke budaya? Adalah sebuah pertanyaan reflektif secara antropologis untuk mengingatkan kepada kita bahwa dulu sebelum kita menerima peradaban modern, leluhur telah mewariskan adat istiadat dan budaya yang baik kepada orang tua kita sebagai landasan hidup yang mereka turuti dengan penuh kesadaran dan keyakinan yang tinggi serta mendasar. Adat istiadat dan budaya suku-suku di Papua adalah sebuah medium sakral yang digunakan oleh nenek moyang kita untuk komunikasi dengan alam leluhur atau sebagai jembatan untuk menyampaikan maksud dan tujuannya kepada Tuhan sebagai sang pemberi hidup dan kehidupan bagi manusia sejak awal penciptaan hingga  saat ini. Sehingga tanpa beribadah di gerejapun orang Papua punya iman, punya etika dan moral yang baik untuk dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan berikut adalah apakah nenek moyang kita dulu makan produk dari luar kekayaan alam kita seperti beras, supermi, maling, sauris dan lainnya? Jika ada, maka penulis apresiasi upaya masyarakat yang saat ini berbondong-bondong kumpul persyaratan mulai dari E-KTP, Kartu Keluarga, mengumpulkan biodata ke RT/RW dan kelurahan untuk dapat bantuan BAMA dari Pemerintah Daerah. Jika tidak, maka mengingatkan bahkan menegur setiap kita sebagai manusia beradat agar kembali ke kehidupan asal yang murni dan asli. Sebab itulah alasan utama mengapa Covid-19 melanda dunia.  Virus Corona tetap akan bertahan dan menyebarluas sampai semua manusia di muka bumi ini kembali ke tradisi masing-masing suku bangsa. Sebagai pemilik dan ahli waris dari semua peninggalan dan pemberian nenek moyang agar diwarisakan ke generasi berikut supaya tidak punah. Sesuai dengan judul tulisan di atas bahwa kita harus kembali ke akar kehidupan manusia yaitu mulai dari konsumsi makanan asli warisan dari nenek moyang masing-masing suku, tinggal di rumah asli bukan buatan semen atau tehel, minum air asli yang mengalir dari alam, dan gunakan pakaian adat Karena Allah dan Alam sudah jadikan alarm secara utuh untuk memberi penyadaran dan peringatan agar kembali ke adat dan budaya sebagai aset sakral yang diberikan oleh Tuhan kepada semua suku bangsa di dunia.

Covid-19 juga mengingatkan kepada kita manusia untuk tidak boleh jual tanah dan kekayaan alam lainnya. Sebab tanah adalah sumber kehidupan bagi mahluk hidup, terutama manusia yang membutuhkan makan dan minum setiap hari. Manusia harus menjadikan tanah sebagai gudang gratis yang menyediakan berbagai bahan pangan bagi seluruh kebutuhan hidupnya. Covid-19 mengingatkan kepada setiap manusia agar kembali berbuat yang seharusnya dilakukan untuk kehidupan pribadi, keluarga, suku bangsa dan negara.  Dengan demikian kita bebas dari ancaman penyakit globalisasi yang mengancam hidup manusia di masa mendatang.

Penutup

 Akhir dari artikel ini penulis memberikan beberapa saran untuk penanganan Covid 19 di Papua adalah  (1) kebijakan Pemerintah mestinya tidak hanya pembatasan pesawat dan kapal penumpang saja tetapi sekalian dengan pesawat dan kapal yang mengangkut bahan makanan, karena Covid-19 bisa tertular melalui barang yang dikirim. (2) Setiap kebijakan Pemerintah dalam penanganan Covid-19 harus tepat dan terukur. Tidak hanya memberikan beras dan supermi kepada masyarakat tetapi berikan alat kerja dan bibit-bibit tanaman agar masyarakat bisa kembali ke budaya mengola tanah,  sebab penyebaran virus ini belum tentu berakhir dalam waktu dekat. Sebab itu, para pemimpin di tanah ini semua kembali menata diri sebagai manusia beradat dan berbudaya Papua mampu membuatan kebijakan baru agar setiap Kabupaten/Kota di Papua mampu menyediakan pangan lokal dan berani memutuskan mata rantai panjang distribusi bahan makanan berbahan kimia yang selalu diimpor dari luar Papua. Mengapa tidak? Papua bisa buat parbrik sagu, ubi jalar atau lumbung padi terbesar dan tersehat untuk kasi makan Indonesia dan beberapa negara di Pasifik Selatan.

 

Penulis           : Apkol Uropmabin ‘Ap, Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)

Editor             : Ap Gerald B Kahipdana

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *