Bupati Anak Putra Daerah Dikhawatirkan Tidak Membawah Perubahan Di Tanah Aplim-Apom

0
images

Bupati Costan Oktemka, S.IP dan Wakilnya Deki Deal S.IP, tiba di Bandara Oksibil dari Jayapura (Dok. Majalah OkNews)

Oleh: Evander Alwolka)*

 

Kabupaten Pegunungan Bintang adalah salah satu kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten Jayawijaya,-Wamena. Kabupaten Pegunungan Bintang dibentuk berdasarkan Undang-Undang nomor 26 tahun 2002 bersama 13 Kabupaten lainnya di Provinsi Papua yang disahkan pada tanggal 12 april 2003. Pegunungan Bintang yang memiliki jumlah penduduknya dengan mayoritas ras Melanesia ini kian meningkat dan dikhawatirkan kedepan akan didominasi oleh penduduk luar termasuk pemerintahan. Dengan melihat perkembangan daerah dan umur Kabupaten yang semakin dewasa ini menjadi pertanyaan bagi kita semua. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendukung dan membenarkan siapa pun dalam situasi politik dan juga tidak bermaksud mendiskriminasi siapa pun termasuk pemerintah daerah.

Untuk mengawali tulisan ini, Penulis mengutip salah satu tokoh Intelektual Pegenungan Bintang sekaligus pendiri Kabupaten Pegunungan Bintang juga menjabat Wakil Buapti periode 2005-2010. Belaiu dalam mensharingkan keprihatinan daerah ini lewat media sosil Seperti yang dilansir dalam Tribun Papua. Id beberap bulan lalu bahwa Kabupaten Pegunungan Bintang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua yang mengkantongi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terendah, bertengker ke posisi 27 dari 29 kabupaten kota di Provinsi Papua dengan persentase 43, 24 di tahun 2018 dan 36, 61 tahun 2019.

Dalam indeks prestasi yang di keluarkan provinsi Papua, Kabupaten Pegunungan Bintang berada pada posisi terendah setelah Kabupaten Nduga dan Intan Jaya. Dengan ini secara tidak langsung memberi gambaran bahwa Indeks Pembangunan Manusia yang menjadi ukuran adalah kemajuan Pendidikan, Kesehatan, kesejahteraan ekonomi, Infrastruktur aspek penting lainnya. Oleh karena itu kemajuan pembangunan bidang Pendidikan, Ekonomi, Kesehatan, Infrastruktur juga dipengaruhi oleh pemimpin daerah. Untuk itu, seorang pemimpin mampu membijaki kemajuan pembangunan di daerah. Pegunungan Bintang yang IPM-nya sangat rendah ini, sangat dibutuhkan pemimpin yang mempunyai hati untuk membangun daerah ini.

Persaingan setiap pemimpin daerah dalam membangun Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam untuk kesejahteraan umum adalah menjadi sebuah tanggung jawab dan tugas muliah dari setiap Pemimpin daerah. Rasa memiliki dan tanggung jawab sebagai anak putra asli adalah suatu kesempatan emas yang diberikan khusus oleh Pemerintah Pusat bagi Tanah Papua melalui Otonomi Khusus. Atas dasar ini telah terjadi pemekaran di hampir seluruh pelosok wilayah Papua termasuk Pegunungan Bintang dengan usaha dan kerja keras dari para pendiri Anak Negeri Aplim-Apom dengan air mata darah.

Apakah kehadiran Kabupaten ini sudah menjamin semua harapan dan kebutuhan hidup baik sebagai manusia? Apakah pembangunan Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam sudah dikelolah sesuai kebutuhuan daerah? Dan berbagai pertanyaan muncul dibenak kita. Dalam pandangan pribadi Penulis, saya belum bisa memastikan dengan data tentang sumber daya manusia yang kita hasilkan dan sumber daya alam yang kita kelolah secara bertanggungjawab. Sebagai bagian dari anak Negeri Ok Pegunungan Bintang, Saya melihat, mengalami dan mendengar semua gambaran umum realitas hidup kita sejak beberapa decade ini. Maka tulidan ini lebih merupakan sebuah perbandingan yang tentunya tidak bisa dipertanggungjawabkan dengan data. Hal ini dimulai sejak kepemimpinan periode pertama dan kedua oleh Bapak Drs. Welington L. Wenda dan Bapak Drs. Costan Oktemka hingga saat ini.

Dengan melihat perbandingan tersebut saya secara pribadi mengawatirkan kepemimpinan masa yang akandatang dengan sejumlah Caleg adalah anak Putra daerah Aplim-Apom yang akan bertarung merebut kursi O1 di Kabupaten Pegunungan Bintang. Dalam situasi ini membawah polemic tersendiri bagi masyakarat secara umum membingungkan dan saling menilai siapa pemimpin yang layak untuk memimpin masayarakat Pegunungan Bintang kedepan sesuai harapan. Tulisan ini tidak bermaksud mendiskriminasikan siapa pun termasuk pemerintah daerah Pegunungan Bintang tetapi memiliki tujuan menyadarkan dengan realit hidup kita di tanah Aplim-Apom tercinta dengan motto “Teryp Tibo Semo Nirya” yang selalu menjadi Kekuatan.

Periode I dan II. Sejak masa kepemimpinan Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang yang Pertama Drs.Welington Wenda. M.Si dan Drs. Theodorus Sitokdana secara umum terlihat aman. Masayarakat hidup seakan sejahtara. Dalam arti sejak masa kepemimpinan beliau semua bagian -bagian terasa aman, lancar dan damai. Semua Pembiayaan termasuk mempersiapkan kader kepemimpinan melalui pendidikan sudah mulai bergerak maju dipersiapkan. Inilah yang menjadi harapan Welington guna mempersiapkan SDM yang mantap agar masyarakat tidak menjadi kendala apapun dalam kehidupan, kepemimpinan berikutnya. Contoh kecil adalah terus mendorong dan menyalurkan bantuandana Pendidikan dan bekerjasama dengan sekolah atau universitas berkualitas di seluruh Tanah Air Indoensia bahkan luar negeri.

Berdasar pada harapan diatas maka Selama masa kepemimpinanya sebagai Bupati Pegunungan Bintang periode pertama ia memfocuskan untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia bagi anak-anak asli Pegunungan Bintang bersama Drs. Theodorus Sitokdana. Mengangkat anak negeri Aplim-Apom dari tamatan-tamatan Sekolah Dasar sampai tamatan-tamatan Perguruan Tinggi, unutuk mempersiapkan masa depan Pegunungan Bintang untuk mengisi setiap dinas yang ada dilingkungan Pemerintah Kabupaten Pegunungan Tintang. Dan Pada period eke II Welington dan Yakobus Wayam dalam kepemimpinanya memfocuskan kepada pembangunan fisik. Dismping itu ia tetap memfokuskan dalam bidang pembangunan Sumber Daya Manusia Pegunungan Bintang. Beliau mempertanggung jawabkan semua itu dengan terencana dan terakomodir sehingga penilaian manusia Pegunungan Bintang merasa nayaman dalam masa kepemimpinanya.

Oleh karena itu pernyataan dan penilaian masyarakat terhadap masa kemimpinanya pun mendapat apresiasi bahkan telah menerimah Penghargaan Pembangunan tercepat di daerah ketinggalan dari Jakarta Pusat dan Provinsi Papua. Hal tersebut terlihat dari keadilanya dalam merata dan pembangunan bisa merasakan masyarakat sampai didistrik-disttrik. System Birokrasi Pemerintahan Berjalan Normal Sesuai Harapan Masyarakat. Kepempinan Selama Dua Periode Tersebut Banyak Masyarakat Yang Menilai Kepemimpinan Beliau Adaalah Bekerja Secara Hati Dan Bekerja Untuk Masyarakat Pegunungan Bintang Yang Mana Telah Berjalan Secara Sesuai Harapan Daripada Masyarakat Pegunungan Bintang. Namun karena dibalik pembangunannya yang sedang berjalan baik ada pun oknum-oknum tertentuh yang tidak merasa puas terhadap kepemimpinanya tersebut karena mereka ingin merebut jabatannya. Tetapi tidak semudah apa yang dikerjakan semua hal dalam kepemimpinan bapak apalagi daerah yang baru dimegarkan pastilah membutuhkan waktu yang panjang untuk merubah daerah Pegunungan Bintang yang hidupnya bisa diimbangi dengan masyarakat dari daerah-daerah lain di papua.pimimpin-pemimpin bisa banyak belajar dari pegalaman-pegalaman sebelumnya agar saat waktunya untuk memimpin masyarakat bisa mensejahterahkan masyarakat.

Ukuran utama keberhasilan seorang pemimpin adalah seberapa cepat dan seberapa efektif dalam organisasi pemerintahannya. Organisasi yang dimaksud adalah orang-orang yang ada didalam system pemerintahan tersebut.ukuran utama lainnya dari keberhasilan seorang pemimpin adalah seberapa mampu memimpin pemerintahan tersebut untuk mensejahtarakan rakyatnya. Kesejahtraan akan sangat terkait dengan kedapatan masyarakat yang ada dalam pemerintahan tersebut,mulai dari level terendah hingga level tertinggi,peralatan yang digunakan, fasilitas kerja untuk memperlancar pekerjaan, membangun Sumber Daya Manusianya dan Alam sampai pada tingkat kebahagiaan rakyatnya dalam pemerintahan. Untuk mencapai semua hal tersebut tidak mungkin akan terjadi secara otomatis.  Pastinya pemimpin akan terus merenacakannya terlebih dahulu untuk mencapai tingkat kesejahtraan rakyatnya dalam mencapai keberhasilan kepempimananya seorang pemimpin sebetulnya memang hanya satu proses karena dalam upaya mencapai visi pemerintahan factor manusia atau rakyat akan menjadi hal yang paling utama.

Periode ke Tiga. Masa Kepemimpinan Costan OKtemka dan Decky Deal

 

Masyarakat pe

Costan Oktemka, S.IP, Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang, (Dok: TP)

gunungan bintang menahan perasaan terhadap. Mungkin kata inilah yang bisa menggambarkan situasi kepemimpinan Periode Ketiga ini. Dengan semakin bertambahnya umur Kabupaten, semakin mundur atau hilang wajah baru di Oksibil-ibukota Kabupaten maupun Pegunungan Bintang secara umum. Banyak orang Pegunungan Bintang mengeluh dan putus harapan dengan periode ketiga ini. Hal ini sering terlihat dari kata, atau ucapan yang terdengar hampir seluruh rakyat Pegunungan Bintang. Maka hasil protes pun telah dilontarkan oleh rakyat beberap bulan lalu. Kita tahu bahwa hukumnya wajib mendengarkan dan memathui Suara Rakyat. Karena ada rakyat atau penduduk maka Kabupaten Pegunungan Bintang bisa dimekarkan.  Dalam istilanya politik demokrasi kekuasaan tertinggi ada di masyarakat. Dengan kata lain pemimpin dipilih oleh rakyat dan kembali melayani rakyat.

Tetapi realitas bukanlah hukum. Hukum hanya bisa mengikuti realitas dengan gaya dan caranya dalam mempertahankan dan merebut kekuasaan. Melihat realita yang sekarang terjadi dan kita semua sudah mengikuti bahwa pemerintahan code sekarang telah mengalami dekredasi Pembangunan. Secara data belum bisa dibuktikan namun pengalaman dan realita menggambarkan situasi demikian. Pengorbanan dan mengecewakan tersebut amat terlihat dari pembubaran para intelektual anak daerah, Pemberhentian dana pendidikan, Pembangunan fisik yang tidak kelihatan dan pengalokasian dana yang kurang efektif. Sehingga peredaran uang sangat minim, menimbulkan tingginya pengangguran terhadap masyarakat awam dalam mencari nafkah mempertahankan hidup, mengurangi semanangat kerja Apratur Sipil Negara, maupun menunda proses kelanjutan study mahasiswa di seluruh tanah air Indoenesia. Sehingga banyak dari mahasiswa yang tunda ujian skripsi, penelitian, cuti dan akhirnya berhenti pulang kampung. Karena memang semua terdapat pembiayaan dari uang makan-minum, kuliah, transportasi dan pembiayaan rumah kos-kosan. Dengan beban psikologi ini menjadi pertimbangan berat antara lanjut dan tidak. Inilah asset besar Pegunungan Bintang lima tahun korban. Dalam periode ini pembahasanya terbatas karena yang terlihat hanyalah kekecewaan alias nihil. Jika periode CODE ini masih akan berlanjut kedepan, Apakah akan kembali memperhatikan nasib SDA dan SDA?

Bagaimana dengan Nasib Sumber Daya Alam di Pegunungan Bintang Kedepan?

Lokasi Penambang di BONALI

Dari beberapa keluhan dan pengalaman ini. Penulis sangat prihatin terhadap korbanya Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam yang sangat mengawatirkan. Pada hal Sumber Daya Alam menjadi modal untuk mengelolah dan membiayai Sumber Daya Manusia. Jika kita membandingkan dengan daerah lain segala sesuatu yang berasal dari alam yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Yang tergolong di dalamnya tidak hanya komponen biotik, seperti hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme, tetapi juga komponen abiotik, seperti minyak bumi, gas alam, berbagai jenis logam, air, dan tanah.

Dengan kekhawatiran Inovasi teknologi, kemajuan peradaban dan populasi manusia, serta revolusi industri telah membawa manusia pada era eksploitasi sumber daya alam sehingga persediaannya terus berkurang kedepan secara signifikan akan punah.  Sumber daya alam mutlak diperlukan untuk menunjang kebutuhan manusia, tetapi sayangnya keberadaannya disayangkan akan menjadi milik negara dalam tangan kekuatan militer. Seperti halnya penggalian PT. Tambang Hantam di Gunung Bonali distrik Pepera. Jika kita belajar dari beberapa daerah atau negara seperti Brasil, Kongo, Maroko, dan berbagai negara di Timur Tengah memiliki kekayaan alam hayati atau nonhayati yang sangat berlimpah. Sebagai contoh, negara di kawasan Timur Tengah memiliki persediaan gas alam sebesar sepertiga dari yang ada di dunia dan Maroko sendiri memiliki persediaan senyawa fosfat sebesar setengah dari yang ada di bumi. Akan tetapi, kekayaan sumber daya alam ini sering kali tidak sejalan dengan perkembangan ekonomi di negara-negara tersebut.

Oleh karena itu, pemanfaatannya harus dijaga agar terus berkesinambungan dan tindakan eksploitasi harus dihindari. Pemeliharaan dan pengembangan lingkungan hidup harus dilakukan dengan cara yang rasional antara lain sebagai berikut: a) Memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan hati-hati dan efisien, misalnya: air, tanah, dan udara. b) Menggunakan bahan pengganti, misalnya hasil metalurgi (campuran). Dan C) Mengembangkan metode penambangan dan pemrosesan yang lebih efisien serta dapat didaur ulang. Serta melaksanakan etika lingkungan dengan menjaga kelestarian alam.

Dilihat dari sisi Astronomi Pegunungan Bintang terletak di Poros bumi Papua dengan daerah tropis yang memiliki curah hujan yang tinggi sehingga banyak jenis tumbuhan yang dapat hidup dan tumbuh dengan cepat. Dilihat dari sisi geologi, Pegunungan Bintang terletak pada titik pergerakan lempeng tektonik sehingga banyak terbentuk pegunungan yang kayaakan mineral.

Daerah Pegunungan ini kaya akansumber makanan bagi berbagai jenis tanaman dan hewan gunung serta mengandung juga berbagai jenis sumber mineral yang terdapat dihutan.

Jika kita melihat beberap daerah yang memiliki Hutan Tropis yang kini mengancam tatanan hidup manusia Papua di seluruh tanah Papua? Menurut Charles Tawaru, Juru Kampanye Hutan Greenpeace untuk wilayah Papua melaui blog Greenpeace menulis, “angka-angka yang menunjukan kubik, hektar dan kilo, memperlihatkan tingkat kehilangan tutupan hutan yang cukup besar”. Ditambah lagi dengan proyek ‘ambisius’ yang mengancam hutan Papua adalahMerauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) di Merauke yang pada tahap pertama hutan yang akan dibuka seluas 228.022 ha yakni perkebunan sawit milik PT MEDCO di Manokwari (Sidey) 45.000 ha, perkebunan sawit yakni PT Hendrison Iriana di Kabupaten Sorong (Klamono) 21.500 ha, PT. Raja Wali Group/PT Tandan Sawita Papua di Kabupaten Keroom (Kampung Yetti) seluas 18.337 ha. Greenpeace, organisasi   pembela lingkungan terbesar di dunia menaruh perhatian besar terhadap kelestarian hutan Papua.

Sejak tahun 2006, Greenpeace memulai kampanye di Indonesia dengan mendorong secara luas dilakukannya penyelamatan hutan “surga” Papua. Kapal Rainbow Warrior II mengunjungi Jayapura dan Manokwari untuk menyampaikan pesan penyelamatan hutan. Bagi Charles Tawaru sebagai anak adat Papua “Menyelamatkan hutan Papua berarti menyelamatkan kekayaan alam kita yang tidak ternilai dan juga menyelamatkan akar budaya Papua, lebih luas lagi, hutan Papua memiliki peran penting untuk menstabilkan krisis iklim yang terjadi saat ini,”(Marwan Azis, 2006). Mungkin baik kita memegang kata Carles Tawaru untuk tetap menjaga dan melestarikan tanpa meruskan karena SDM kita belum siap untuk dikelolah.

Bagaimana dengan Nasib Sumber Daya Manusia di Pegunungan Bintang?

Kabupaten Pegunungan Bintang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua yang mengkantongi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terendah, bertengker ke posisi 27 dari 29 kabupaten kota di Provinsi Papua dengan persentase 43, 24 di tahun 2018 dan 36, 61 tahun 2019. Indeks Pembangunan Manusia diukur dari kemajuan Pendidikan, Kesehatan, kesejahteraan ekonomi, Infrastruktur aspek penting lainnya. Jika IPM Pegubin rendah, maka patut dipertanyakan terkait hak hak dasar setiap manusia tersebut.Kemajuan pembangunan bidang Pendidikan, EKonomi, Kesehatan, Infrastruktur juga dipengaruhi oleh pemimpin daerah (Tribunpapua, 2019).

Bertolak dari data diatas maka Sumber daya manusia (SDM) adalah salah satu faktor yang sangat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi, baik institusi pemerintahan. Sumber Daya Manusia juga merupakan kunci yang menentukan perkembangan dalam pengelolahan Sumber Daya Alam seperti perusahaan tambang sifatnya. Pada hakikatnya, Sumber Daya Manusia berupa memanusiakan manusia dari pendidikan tingkat Dasar hingga Perrguruan Tinggi dan selelsai sesuai jurusan dan kebutuhan daerah. Manusia sebagai penggerak, pemikir dan perencana untuk mencapai tujuan kebaikan bersama inilah yang menjadi utama. Walaupun secara defenitif dibagi dalam pendidikan micro berupa pegawai, buruh, karyawan, pekerja, tenaga kerja dan lain sebagainya. Sedangkang pengertian secara makro adalah penduduk suatu daerah negara yang sudah memasuki usia angkatan kerja, baik yang belum bekerja maupun yang sudah bekerja. Seperti halnya mahasiswa. Secara garis besar, pengertian Sumber Daya Manusia adalah individu yang bekerja sebagai penggerak, pemikir dan perancang di lapangan serta berfungsi sebagai aset yang harus dilatih dan dikembangkan kemampuannya dengan dukungan moril dan fisik. Harapan agar anak putera daerah menjadi aktor utama di Pegunungan Bintang bukan pendatang.

Harapan Kedepan untuk Para Caleg Bupati Pegunungan Bintang Periode 2020-2025

Sangat mengharapkan sekaligus mengharapkan disisi lain terkait pencalonan para caleg Buapti Pegunungan Bintang periode 2020-2025. Harapanya bahwa para caleg terlihat seratus porsen anak putra daerah Aplim-Apom Sibilki. Sehingga diharapkan mampu mebawah perubahan ketika berhasil dalam pileg nanti. Tetapi sangat disayangkan disisi lain karena dikhawatirkan akan terjadi perlawanan yang sengit karena dominasi emosi demokrasi yang cukup kuat. Sehingga akan menjadi korban adalah masyarakat, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan Sumber Daya Alam yang terlihat menjadi proyek modal illegal di tanah Aplim-Apom. Kalau motivasi menjadi pemimpin adalah untuk menjadi kaya, maka tentu dana APBD Kabupaten Pegunungan Bintang yang ada saat ini dipandang tidak cukup. Karena itu memimpin daerah ini pasti akan menggunakan filsafat keutamaan “Saya”. Saya, saya, saya kemudian kamu. Ini sangat membahayakan daerah. Daerah akan terus terisolasi secara fisik berkepanjangan (Theo Sitokdana, 2019).

Berdasar pada kekhawatiran dan harapan masyarakat untuk pemimpin Jabatan Bupati dan Wakil Buapti periode 2020-2025 di Kabupaten Pegunungan Bintang sangat besar. Dengan rasa memiliki suku, budaya, bahasa, tanah dan keturunan serta Ap I Wol maka symbol “Hati Merakyat” selalu optimis dan merendahkan diri melayani dengan hati besar dengan mengembalikan situasi buruk saat ini dalam keadaan Yepmum adalah utama. Adapun Secara hukum menetapkan beberapa kriteria sebagai seoran pemimpin daerah tetapi kriteria ini tidak jauh berbeda dengan kriteria Orang Pegungan Bintang. Beberapa hal menjadi harapan sekaligus kriteria masyarakat;

  1. Sebaiknya perluh memperhatika kesejahteraan umum termasuk pemakaian dana secara transparan.
  2. Setidaknya setiap pemimpin berusaha menerjemahkan Visi-Misinya. Bukan untuk hiasan ikon kota Sibilbakon.
  3. Setiap pemimpin harus berjiwa besar terhadap masyarakat, karena ia berangkat dari masyarakat dan untuk melayani masyarakat;
  4. Setiap pemimpin yang ingin melayani masayarakat Pegunungan Bintang sebaiknya berani menerimah kritik dan saran demi kebaikan bersama.
  5. Setiap pemimpin terus membangun komunikasi yang baik terhadap rakyat Pegunungan Bintang dengan.
  6. Setiap pemimpin setidaknya bertanggungjawab atas berbagai persoalan yang akan dihadapi dengan membangun hubungan yang baik terhadap setaip persoalan yang terjadi di wilayahnya kekuasaanya;
  7. Setiap pemimpin mestinya hidup dan berkkarya memberi teladan bagi penerus Negeri Ok.
  8. Semoga situasi ini berakhir dengan budaya damai MATEKWERON.

Jika beberapa Kriteria ini dikabulkan, Niscahya Bintang di tanah Aplim-Apom bersinar kembali dalam cahaya “Nelakon Sep depep, Nedepa, Sep dundep nedunda, Sep werep ne wera” dalam Satu Hati membangun Pegunungan Bintang yang aman dan damai “ Teryp Tibo Semo Nirya”. Menjadi symbol persekutuhan Ok Familiy from OK Languages. *

 

Penulis adalah Mahasiswa Asal Okyip Kabupaten Pegunungan Bintang

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *