Pemilukada Menentukan Nasip Hidup Masyarakat Pegunungan Bintang

0
IMG-20200429-WA0005

Ferdinandus Bamulki (Dok. Pribadi)

Oleh: Ferdinandus Bamulki, S.IP)*

 

Setiap memasuki masa-masa Pilkada masyarakat seringkali mendambah-dambahkan sosok pemimpin yang ingin dimenangkannya sesuai dengan imajinasi mereka masing-masing. Apakah mereka (masyarakat) sudah paham apa yang dinamakan pemimpin? Seperti apa itu pemimpin? Lantas apa yang diharapkan dari seorang pemimpin? Mengapa mereka menginginkan pemimpin sesuai imajinasi mereka? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini selalu seringkali muncul dalam setiap benak orang ketika melihat masyarakat sedang berpesta argumen tentang sosok pemimpin yang mereka idolakan termasuk saya yang menulis tulisan ini.

Kartono dalam bukunya tentang kepemimpinan mendefinisikan pemimpin sebagai  seorang pribadi yang memiliki superioritas tertentu, sehingga dia memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakan orang lain melakukan usaha guna mencapai sasaran tertentu (Kartini Kartono, 1994;33). Jadi, seseorang disebut pemimpin apabila memiliki keunggulan atau kecakapan tertentu sehingga mampu mempengaruhi orang lain ikut bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu dalam memenuhi kebutuhan tertentu.

Sementara itu, Rukmana mendefinisikan pemimpin sebagai orang yang mejalankan tugas-tugas kepemimpinan. Sedangkan Kouzes dalam bukunya tentang pemimpin dan kepemimpinan  mendefinisikan pemimpin adalah vionir sebagai orang yang bersedia melakukan dalam situasi yang tidak memungkinkan dengan visi yang jelas.Menurut CN.Cooley pemimpin biasanya selalu menjadi pusat peratian dari gerak sosial masyarakat jadi pergerakan sosial dapat digerakan berdasarkan kecenderungan dan arah gerak pusat peratiannya (CN.Cooley, 1992).

Pada prinsipnya pemimpin dalam memimpin pemerintahan dan pembangunan haruslah memiliki kemampuan untuk mejalankan tugas dan tanggungjawab yang diserahi. Pemimpin jaman dulu sering disebut bigman (kepala suku/ondoafi atau ondofolo) dan  lain-lain. Menurut Filemon Asiki dalam skripsinya Pemimpin di Pegunungan Bintang dalam bahasa daerah sering disebut Isomka atau Kaka Isom. Kaka Isom/Isomka dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin masyarakat biasannya bermacam-macam. Ada yang mendapat pengakuan Kaka Isom karena kuat berperang, ada yang mendapat pengakuan karena memiliki banyak ternak, banyak istri, banyak harta dan kekayaan dan karena memiliki kekuatan/kemampuan lain selain masyarakat lainnya.

Namun demikian pemimpin dalam sejarah peradaban masyarakat Pegunungan Bintang sebenarnya bertumpuh pada pemimpin yang hidupnya berlandaskan pada kasih. Seorang pemimpin (kaka isom) akan memikul tanggungjawab sebagai pemimpin masyarakat. Artinya bahwa seorang pemimpin dia bertanggungjawab memimpin nasib hidup masyarakat. Pemimpin masyarakat Pegunungan Bintang jaman dulu menjadi pusat pengambilan keputusan atas segala bentuk perkara hidup. Hanya saja pemimpin zaman dulu mengambil sikap sambil bekerja sedangkan pemimpin saat ini belum bisa menjadi seperti pemimpin jaman dulu. Sebagian besar pemimpin mereka bisa berbicara dengan lantang dan berkuasa tetapi tidak dapat melakukan sepenuhnya terhadap apa yang diwacanakan.

Misalnya para pembesar dan pemimpin mengelorakan stop miras bagi masyarakat tetapi secara diam-diam mereka berpesta miras di tempat-tempat tersembunyi yang khusus. Pemimpin dan pembesar mengelorakan tidak boleh malas bekerja akan tetapi paket-paket proyek pembangunan yang perlu bisa kerjakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dipercayakan kepada pengusaha luar dan para pembesar di lingkungan elit penguasa. Alasan lazim mulai dikumadangkan dengan menyanyikan label orang asli kurang mampu.

Pemimpin jaman dulu atau Big Man (Isomka/Kaka Isom) biasannya selalu bersama masyarakat dan pasang badan ketika masyarakat mengadapai serangan luar (perang), ketika dapat musibah. Ketika mengadakan pesta, ketika berduka, dan lain-lainnya. Pemimpin yang didambakan masyarakat Pegunungan Bintang saat ini seperti itu. Siapapun pemimpinnya harus berada di tempat saat masyarakatnya sedang dalam musibah karena semua sikap, tindakan, ucapan, perilaku, peranserta dan kehadiran pemimpin akan meminimalisir kemungkinan konflik sosial yang berkepanjangan.

Saat ini masyarakat Pegunungan Bintang menginginkan seorang sosok pemimpin yang mewakili ratapan, tangisan, dan rintian nasib hidup mereka. Masyarakat ini hanya sudah kehilangan pondasi hidup mereka, benteng pertahanan hidup mereka dan tempat sandaran hidup mereka. Mereka merasa sudah tidak ada tempat berlindung, sudah tidak ada tempat menyalurkan harapan hidup, sudah tidak ada tempat mengaiis rejeki, dan sudah tidak bermakna hidup mereka. Masyarakat dipaksakan untuk bekerja tetapi tidak didukung dengan pemberian alat produksi, pelatihan, penyuluan, dan penyertaan modal usaha. Sehingga jangan heran masyarakat harus terjun ke tempat-tempat lain yang bisa menjamin mereka mengais rejeki.

Sementara orang pendatang diberikan paket pekerjaan, dikasih jabatan, diberi  kesempatan berusaha, dikasih modal usaha, dan mereka diangkat menjadi honorer. Sementara itu, orang pendatang secara leluasa menawarkan kantong-kantong persembahan dari masyarakat melalui tempat-tempat perjudian. Para aparat pemerintahaan dari tingkat kampung sampai dengan tingkat kabupaten dibuat terbui dengan jajanan lain yang mematikan jiwa dan kepekaan hati. Transaksi sex bebas terselubung terjadi di pusat ibu kota secara diam-diam. Kondisi ini semakin diperpara dengan transaksi miras oleh beberapa aparat dan oknum ASN di masyarakat. Pemuda dan pemudi terjangkit penyakit demam ganja. Situasi melemahkan semangat juang orang tua dan memperpendek sentuhan orang tua dalam memberikan didikan bagi anak-anaknya yang masih kanak-kanak, remaja dan sudah dewasa.Akibatnya tingkat penganguran tinggi, angka kematian tinggi, angka ODAH tinggi, dan angka tingkat kriminalitas semakin meningkat.

Ketidakberdayaan masyarakat dalam menyelesaikan masalah sosial ini membuat masyarakat geram dengan sikap lamban Pemerintah Daerah dan penegak hukum di Pegunungan Bintang. Sesekali masyarakat menyeruhkan hal-hal tentang kepentingan umum mulai dari masalah sosial, ekonomi dan kesehatan namun seringkali disuarakan dengan menggunakan kekuatan institusi politik. Hal ini membuat masyarakat semakin terpandang seperti musuh dalam politik praktis. Setiap masyarakat dipandang secara politis. Setiap kebutuhan masyarakat dipilah secara politis. Setiap aspirasi masyarakat direspon secara politis. Masyarakat awam yang hanya berharap perhatian dan dukungan merasa dilecekan pemimpinnya.

Pemilu Kabupaten Pegunungan Bintang yang akan selenggarakan adalah puncak dari penderitaan, ratapan, rintian, tangisan dan keresaan masyarakat. Pemilukada akan menjadi titik balik keadaan masyarakat yang dirasa tidak adil, yang dirasa tidak sejahtera, yang dirasa kurang perhatian, dan yang dirasa kurang berpenghasilan menjadi baik, adil, nyaman, berperhatian, dan sejahtera ketika pemimpin yang dipilih adalah pilihan masyarakat sendiri. Maka Pemilukada kali ini adalah waktu yang tepat untuk memilih orang yang tepat. Waktu yang tepat untuk memilih kaka isom yang mewakili masyarakat bukan hanya suaranya tetapi mewakili nasib hidup masyarakat Pegunungan Bintang lima tahun ke depan.

Penulis melihat harapan dan cita-cita masyarakat dalam memilih pemimpin mereka adalah menginginkan lahirnya pemimpin yang bisa memimpin mereka, mewakili suara mereka dan menjamin nasib hidup mereka. Pemimpin seperti ini adalah sosok pemimpin besar masyarakat yang zaman dulu pernah ada dalam peradaban kehidupan masyarakat Pegunungan Bintang. Hanya saja pemimpin sosok seperti ini saat itu memimpin hanya kaumnya saja (sukunya saja), dengan tanggungjawab yang terbatas dalam jumlah penduduk yang terbatas sehingga jangkauan pelayanannya sebagai pemimpin dapat diukur. Berbeda jika berbicara tentang pemimpin saat ini di Pegunungan Bintang. Siapapun pemimpinnya akan dihadapkan dengan beragam kepentingan masyarakat dari beragam golongan masyarakat.

Masyarakat Pegunungan Bintang saat ini bukan masyarakat komunal yang terdiri dari 7 suku besar di Pegunungan Bintang tetapi masyarakat saat ini adalah masyarakat majemuk dengan ukuran kebutuhannya masing-masing. Masyarakat Pegunungan Bintang asli menginginkan sosok pemimpin yang seperti yang ada di imajinasi mereka, sementara itu masyarakat non Pegunungan Bintang-pun memiliki impian sama dengan imajinasi orang asli Pegunungan Bintang supaya pemimpin yang baru bisa memimpin Pegunugan Bintang dengan baik. Masyarakat dari semua golongan mengharapkan pemimpin Pegunungan Bintang yang baru bisa menjadi pelayan bagi masyarakat bukan menjadi raja di atas masyarakat.

Sebagai pelayan bagi masyarakat pemimpin akan selalu berpusat pada kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Ia akan menggerakan organisasi pemerintahaannya agar bekerja seutuhnya bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat umum. Sementara itu pemimpin yang cenderung menjadi raja di atas penderitaan masyararakat akan cenderung merong-rong organisasi pemerintahaan dan kekuasaanya untuk menimbun kekayaan dan aset pribadi, mengangkat derajat pribadi, keluarga dan kolega. Masyarakat hanya menjadi alasan pengambilan kebijakan pembangunan dan alasan pengambilan kebijakan keuangan. Ini adalah sebuah kejahatan luar biasa yang lebih kejam dari sebuah rencana pembunuhan.

Saya berharap semoga Tuhan Yang Maha Esa melihat, mendengar dan menyaksikan semua penderitaan rakyat Pegunungan Bitang mulai dari keluhan, keresaan, sakit hati, rintian, tangisan, dan penderitaan yang telah dihadapi masyarakat selama ini. Ya Tuhan Yang Maha Esa, kami mohon jawablah kami dengan melahirkan pemimpin baru yang secitra dengan-MU. Saya berharap semoga siapa pun jadi Bupati Pegunungan Bintang bisa menjadi pemimpin masyarakat dan mewakili suara masyarakat. Pesan ini saya sampaikan bagi siapa pun dia baik inkamben (CODE) maupun pendatang baru (Calon lain).

 

Penulis adalah Ketua Yayasan Bina Bintang Cahaya Kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *