Budaya Aplim Apom Di Pegunungan Bintang Sudah Mulai Punah
Charles Mimin Dok. Pribadi untuk Tribunpapua.id
Oleh : Charles Mimin)*
Pengantar
Ada pepatah mengatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai kebudayaannya. Menghargai budaya artinya menghargai nenek moyang yang sudah mewariskan nilai-nilai luhur dan karyanya untuk dihidupi dan menjadi rujukan untuk membangun peradaban dimasa mendatang. Kebudayaan merupakan aset bangsa yang sangat berharga sehingga harus dilindungi, dilestarikan dan diwariskan kepada generasi masa mendatang. Dengan kebudayaan itulah kita dapat membentuk watak dan karakter manusia suatu suku dan bangsa. Untuk itu Indonesia mengakui budaya sebagai identitas bangsa. Pengakuan tersebut tercermin dalam UUD 1945 dan turunannya dalam berbagai peraturan perundangan-undangan dan peraturan daerah. Namun dalam implementasinya budaya belum mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah maupun masyarakat pemilik budayanya sehingga semakin hari semakin terkikis oleh gelombang globalisasi dan modernisasi. Jika ini tidak diseriusi akan mengakibatkan krisis jati diri dan karakter bangsa, terutama di Pegunungan Bintang, Papua yang dijadikan objek pembahasan dalam artikel ini.
Ancaman Kepunahan Budaya Aplim Apom di Pegunungan Bintang
Pegunungan Bintang memiliki tujuh suku, yakni suku Ngalum, Suku Ketengban, Suku Murob, Suku Kimki, Suku Lepki, Suku Arintap, dan Suku Yetfa. Masing-masing suku memiliki berbagai macam unsur-unsur budaya yang khas, salah satunya tari-tarian, misalnya tari Oksang dan Bar dari suku Ngalum, tari Limne dan Yasi dari Ketengban, Tari Yangkit dan Yambir dari suku Arintap, Etol dan Amsang dari suku Murop, dan sebagainya. Selain tari-tarian suku-suku tersebut memiliki rumah adat yang khas dan unik, seperti dalam perkampungan suku Ngalum terdapat rumah khusus laki-laki (Abip Bokam) Ruma Khusus Perempuan (Ap Sukam) dan rumah keluarga (Abip). Memiliki senjata tradisional, yaitu busur (ebon) dan anak panah (silmon), dan lain sebagainya. Namun seiring berjalannya waktu budaya-budaya fisik dan nonfisik tersebut sudah mulai dilupahkan. Tentu ini suatu gejalah kepunahan budaya dimasa mendatang. Sebab budaya lokal biasanya eksis, tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat jika ada pelestarian dan warisan secara turun-temurun. Namun khusus di Pegunungan Bintang sekarang ini belum ada tanda-tanda pelestarian budaya sehingga ada ancaman kepunahan di masa mendatang.
Pengaruh Budaya Luar Terhadap Eksistensi Budaya Aplim Apom
Pada era globalisasi dan modernisai ini budaya luar sangat cepat mempengaruhi budaya lokal. Nilai-nilai budaya bangsa besar yang memainkan peran utama dalam globalisasi dan modernisasi akan memaksa budaya suku-suku kecil untuk menyesuaikan dengannya. Fenomena ini tampak dari kecenderungan generasi sekarang lebih condong dengan gaya hidup modern dalam hal fashion, makanan, music, tari-tarian dan sebagainya. Misalnya generasi muda Pegunungan Bintang sekarang lebih suka yosim, dero, disco dan dance dibanding tari-tarian lokal. Saat ini budaya luar sangat mempengaruhi kehidupan manusia Aplim Apom. Terjadi asimilasi atau perpaduan dua budaya atau lebih yang menghilangkan unsur budaya aslinya. Hal tersebut akan berdampak buruk, dimana orang Pegunungan Bintang dikenal sebagai orang-orang baik, beretika dan sopan-santun kemudian berubah menjadi orang yang memiliki kepribadian buruk.
Peran Pemerintah Pegunungan Bintang dalam Pelestarian Budaya Aplim Apom
Dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya Aplim Apom maka Pemerintah Daerah Pegunungan Bintang mesti menggalakan gerakan sadar budaya dengan mendirikan rumah adat dan sanggar-sanggar seni budaya di setiap suku dan ibukota Kabupaten. Pendidikan adat dilakukan secara berkelanjutan untuk masing-masing komunitas adat di setiap suku. Sedangkan sanggar seni sebagai sarana untuk mengembangkan bakat seni seperti Seni Tarian Oksang, Limne, Yasmut, Yambir, Bar, dll. Selain itu pengembangan seni lukis, seni kriya, ukir, pengembangan sastra, dan sebagainya. Hasil karya seni tersebut difasilitasi untuk dijual, dipromosikan melalui media, dipamerkan pada hari besar, event nasional maupun internasional.
Potensi ini mesti ini kembangkan Pemerintah Daerah maupun bisa perorangan, sebab selama ini banyak anak-anak sejak usia dini yang memiliki bakat di bidang seni, terutama seni tradisional namun belum difasilitasi dengan baik melalui pendidikan formal maupun nonformal. Oleh karena itu, perlu ada sanggar seni dan disediakan guru-guru yang kompeten supaya melatih anak-anak sejak dini dalam rangka pengembangan bakat dan kesadaran budaya. Nilai-nilai seni budaya tersebut patut dikembangkan dan dijaga keberadaanya sebagai identitas bangsa Aplim Apom.
Penulis adalah Mahasiswa Peduli Budaya Aplim Apom
