Oktober Kelabu, Darah dan Air Mata Menetes di Bumi Sibil Banal Bakon

0
70503232_794458184323322_6059562413517176832_n

Puing puing Ruko dan Kios yang dibakar massa. (Foto: Dok TP)

OKSIBIL, TRIBUN PAPUA.ID—Jalan Kabiding, Mabilabol Oksibil menjadi saksi bisu peristiwa Oktober Kelabu. Peritiwa bersejarah di atas tanah Air,  lembah Sibil Banal Bakon. Darah dan air mata menetes mengalir di Tanah Banal Bakon ini.

Oktober Kelabu, tepatnya 2 Oktober 2018 silam. Rentetan bunyi senjata siang itu terdengar, bagai bunyi petasan di awal tahun baru 2019. Peristiwanya terjadi  pada hari Selasa, 02 Oktober 2018, pukul 10.40 WP.

Berikut laporan lengkap tim reportase Tribun Papua.id. Tim  melakukan riset, wawancara, data dari berbagai sumber, baik internet, para tokoh, tim 9,  untuk dipublikasikan agar mengenang periswa Oktober kelabu 2018 itu.

Bahwa pada pukul 10.00 waktu Oksibil, tim 9 dan sebagian anggota DPRD Pegunungan Bintang tiba di Oksibil dengan mengunakan pesawat Trigana Air. Sebagaimana biasanya sebelum tiba, oleh tim pengawal aspirasi sudah meminta kepada masyarakat untuk bisa menyiapkan diri dan jemput di airport Oksibil.

Alasanya bahwa aspirasi rakyat protes Costan Oktemka sebagai Bupati yang dikawal ke pemerintah pusat, Mahkamah Agung Republik Indonesia sudah dijawab. Jawabannya bahwa Mahkamah Agung telah mempelajari aspirasi rakyat Pegunungan Bintang melalui mekanisme DPRD sudah sesuai dan rakyat menang.

Bahwa Costan Oktemka sudah melakukan pelanggaran melaksanakan pemerintahan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Jadi MA menyarankan kepada DPRD Pegunungan Bintang untuk segera melaksanakan Sidang Paripurna Istimewa untuk memberhentikan Costan Oktemka dari jabatan Bupati dan mempersiapkan Bupati baru.

Masyarakat sejak beberapa minggu yang lalu sudah mempersiapkan diri dengan segala kelengkapan tarian adat dan lain-lain untuk menjemput tim di airport Oksibil. Sesuai dengan jadwal penerbangan, anggota Tim Pengawal Aspirasi tiba dengan mengunakan Trigana Air. Setelah tiba, langsung di jemput dan dihantar langsung ke posko pusat yang telah dibuat sejak tanggal 12 April 2018.

Dalam perjalanan dari airport menuju posko pusat, masyarakat jalan santai bahkan melakukan tarian sepanjang jalan hingga tiba di tempat posko pusat.

Sesudah sampai di posko, tim aspirasi arahkan rakyat untuk mendengarkan arahan persiapan kerja-kerja kedepan. Arahan berjalan dengan baik, aman dan lancar hingga selesai. Justru selalu disambut dengan tepuk tangan.

Masyarakat sebagian besar duduk dan mendengarkan dengan seksama sampai pertemuan diakhiri. Setelah mengakhiri pertemuan, masyarakat lain membubarkan diri ke rumah masing-masing, atau aktivitas seperti biasa dan sebagian besar masih memadati di posko pusat. Saat itulah ada kelompok masyarakat yang tidak lain adalah pendukung Costan Oktemka datang dengan membawa anak panah, parang dan alat tajam lainnya lalu menyerang posko pusat dimana rakyat pembuat aspirasi berada.

Ketika serangan datang, masyarakat yang ada di posko tidak bikin apa-apa, tidak melakukan pembalasan karena mereka tidak punya niat jahat dengan siapa pun. Karena itu mereka memilih menahan diri dan berusaha menghindar dari serangan-serangan kujuran anak panah dan alat tajam lain. Di saat begitulah banyak orang yang kena anak panah.

Setelah mereka melihat sesamanya tertancap anak panah pada tubuhnya, maka mereka pun dengan tangan kosong, apa adanya mengejar lawan orang-orang yang datang serang itu ke arah barat dari posko.

Setelah dikejar, massa tadi hilang terpencar lalu diganti oleh Brimob dari arah dimana kelompok Costan Oktemka datang serang posko. Brimob menuju pusat posko dan melakukan penembakan secara membabi buta di sekitar kerumunan orang.

Anehnya tidak mengeluarkan tembakan peringatan dan tembakan ke udara melainkan tembakan diarahkan ke sasaran tubuh manusia. Masyarakat membubarkan diri ke berbagai arah dan ke rumah-rumah dan yang lainnya ditembak akhirnya meninggal dunia.

Setelah itu Brimob bertahan mengawasi dan memberikan peluang kepada kelompok pendukung Costan Oktemka untuk melakukan pembakaran rumah di sepanjang ruas jalan yang menghubungkan pusat kota, pasar dengan persekolahan SMP dan SMA YPPK Bintang Timur.

Selama melakukan pembakaran tidak ada tindakan menghentikan dari pihak Brimob, tidak ada sama sekali. Justru membiarkannya membakar dengan leluasa. Malahan pihak masyarakat korban, termasuk pemilik rumah yang mau mengamankan barang dilarang bahkan ditembak sehingga masyarakat melarikan diri ke pos TNI dan pastoran terdekat bahkan ke hutan. Kalau sudah begini Brimob ada di pihak siapa? Tuhan yang tahu semua itu.

Rumah-rumah yang dibakar terlebih dahulu adalah rumahnya Bapak Yance Tapyor, tokoh intelektual sekaligus anggota dari pengawal kasus pelanggaran APBD Kabupaten Pegunungan Bintang oleh Costan Oktemka yang diperkarakan sampai ada putusan dari Mahkamah Agung Republik Indonesia untuk memberhentikan dari jabatan Bupati Pegunungan Bintang.

Karena rumah di bangun berjejaring sehingga mulai dari rumahnya itulah menjalar ke sejumlah rumah yang ada dalam satu deretan panjang itu hingga dekat dengan bangunan SMP dan SMA YPPK Bintang Timur, termasuk rumah mantan Kepala Bappeda (Bapak Spey Bidana).

Ada sejumlah pejabat eselon yang berada di sepanjang deretan ini terbakar hangus rata dengan tanah. Selain itu mereka juga membakar rumah Bapak Pieter Kalakmabin, Wakil Ketua I DPRD Kabupatena Pegunungan Bintang yang selalu siap berdiri bersama rakyat.

Setelah kelompok Costan Oktemka membakar sejumlah rumah, masyarakat pembuat aspirasi tidak tinggal diam juga, sehingga bergerak menuju arah rumahnya Andy Balyo dan bakar. Menurut semua laporan informan dari Oksibil bahwa aktor utama menggerakan kejadian ini adalah Bapak Andy Balyo yang juga sebagai anggota DPRD yang mendukung Costan Oktemka selama ini walau dalam keadaan apapun.

Pada pukul 22.00 WP melaporkan bahwa rombongan Andy Balyo sedang mengatur strategi untuk menyerang ke masyarakat pengawal aspirasi bahkan mengeluarkan statement untuk membunuh anggota tim 9 yang mengawal aspirasi rakyat kepada pemerintah pusat.

Sebab itu di pihak korban atau masyarakat Pegunungan Bintang sedang mewaspadai diri malam ini hingga besok pagi. Mereka sedang memantau dari dalam rumah mereka masing-masing. Jadi situasi kota Oksibil malam ini hanya dipantau oleh pihak keamanan dan masyarakat tidak bisa keluar sembarang.

Dapat dilaporkan juga bahwa setelah Brimob melakukan tembakan kepada masyarakat yang tidak melakukan perlawanan apa-apa justru pihak polisi dan anggota TNI berada bersama masyarakat. Mereka minta kepada Brimob tuk tidak boleh lagi melakukan tindakan brutal. Sempat terjadi tegang dan saling menjauh dan menjaga keamanan malam ini sampai besok pagi ada kunjungan Pangdam, Kapolda, MRP, DPRP tiba di Oksibil untuk mengungkap tunatas peristiwa yang terjadi di Oksibil hari ini.

Menurut informasi terkahir malam ini bahwa korban penembakan oleh Brimob atas nama Serti Kahipmabin, Dathy Deka, Seber Wimuop serta satu anak kecil yang namanya belum diketahui telah meninggal dunia.

Sementara 12 orang lainnya dalam kondisi kritis. Bagi mereka yang kritis diminta agar besok kesempatan pertama dapat diberangkatkan ke Jayapura untuk dilakukan pengobatan secara intensive.

KEDUA-kami masyarakat pihak korban menyatakan sikap dengan tegas bahwa sudah mengorbankan nyawa manusia, maka siapa saja yang menjadi aktor dalam peristiwa ini harus diusut tuntas dan lakukan proses hukum dan diberikan sanksi seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.

Berhubungan dengan itu, pemimpin daerah ini secepatnya peringatkan untuk siap diri mundur dari jabatan Bupati secara terhormat. Karena kami sudah aspirasikan kepada pemerintah pusat dan MA akhirnya sudah memberi putusan terkait pelanggaran yang dilakukan oleh Costan Oktemka sebagai Bupati.

Sudah terdapat 21 kasus penyelewengan penyelenggaraan pemerintahan yang mau tidak mau akan diproses hukum. Mereka juga minta agar Gubernur Papua, Bapak Lukas Enembe segera hentikan kebiasaan pelihara kaki tangannya yang telah menghancurkan tatanan hidup rakyat sebagai objek pembangunan daerah. Kami sudah berikan semua tetapi akhirnya nyawa kami juga dia harus ambil lagi demi tahta, uang dan perempuan.

Kami juga minta kepada pemerintah pusat, Bapak Presiden melalui Menteri Dalam Negeri segera panggil Gubernur Papua dan berikan teguran keras karena dalam 5 tahun periode lalu dalam kepemimpinannya telah mengkaderkan kaki-tangannya yang sedang ikut menghancurkan, menyengsarakan bahkan mengorbankan nyawa rakyatnya demi tahta, uang, dan perempuan.

Kami pun minta dengan hormat ahli-ahli hukum yang dipakai Cotan Oktemka dengan mengunakan dana APBD Kabupaten Pegunungan Bintang sudah harus stop menipu atasnama demi hukum. Kalian itu sudah lama menipu diri sebagai orang-orang beriman. Karena kami tahu peristiwa di Oksibil hari ini adalah satu setingan khusus yang dimainkan untuk menghalangi sidang paripuran istimewa DPRD Pegunungan Bintang untuk memberhentikan Costan dari jababtan Bupati berdasarkan putusan MA.

Kami juga meminta Gubernur Papua, Pangdam Cenderawasih, Kapolda Papua, MRP, DPRP agar kesempatan pertama tiba di Oksibil untuk usut tuntas kasus ini.

Permintaan kami terkhir kepada Menteri Dalam Negeri bahwa secepatnya mengakomodir hasil sidang paripurna istimewah DPRD Kabupaten Pegunungan Bintang yang akan dilaksanakan dalam minggu ini berdasarkan keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia. Kami hanya menunggu Bupati Pegunungan Bintang yang baru dalam waktu dekat ini.

 

Tim Reportase Tribun Papua.id  

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *