69612980_2813260682037393_3851363248100081664_n

Massa Aksi Tolak Rasisme

 

Kasus Rasisme di Surabaya, siklus keberpanjangan semenjak Papua dianeksasi melalui Pepera 1969 yang manipulative, penuh dengan rekayasa, penuh intimidasi terhadap rakyat. Pepera Cacat Hukum. Ketika orang Papua di Indonesia, Jawa Bali, Sumatera, Suawesi banyak mendapat kasus rasisme; monyet, Babi, anjing, itam dan lainnya. Ujaran kebencian orang Indonesia terhadap orang Papua dimulai semenjak Indonesia menganeksasi Bangsa Papua ke dalam bingkai NKRI.

Hal kisah yang dialami Filip Karma, Tokoh Pejuang Pembebasan Papua Barat, mengatakan “kasus rasisme juga saya pernah alamai waktu kuliah di Solo. Saya bergabung dalam pemuda Greja. Orang Kristen yang mengatakan itu kepada saya, ketika saya kawin dengan orang Papua, pasti melahirkan anak anak monyet yang suara bagus kata teman perempuan itu”katanya. Ujaran kebencian terhadap orang Papua itu semua orang melayu, tidak hanya orang Kristen atau muslim.

Kasus lain yang dialami oleh mahasiswa Papua yang kuliah di Jakarta. Ketika pulang kampus dan naik angkut warga Jakarta yang didalam angkutan menutup hidung dengan tangan atau dengan kain. Tidak hanya itu, mahasiswa di Semarang, Bandung, Yogyakarta, Malang maupun di Surabaya mendapat perlakukan yang sama dari tahun ke tahun.  Tidak hanya kata-kata tetapi juga dengan di tempat tempat penginapan, kos- kosan juga bertuliskan “maaf tidak menerima orang papua”dan lainnya.

Akumulasi dari segala bentuk diskriminasi, tanggal 18 Agustus sampai dengan hari ini bergejolak di beberapa kota di Tanah West Papua. Seluruh kabupaten/kota di Papua maupun Papua Barat menolak kata kata rasisme Orang Melayu terhadap Orang Malaenesia (West Papua).

Gejolak  Aksi massa seantero West Papua, meletus di Manokwari tanggal 18 Agustus 2019. Massa Aksi memblokade jalan utama, membakar Gedung Parlement dan membakar Toko Toko milik melayu di kawasan kota. Pihak berwenang menyebut, massa berkumpul dan memblokade jalan di  pagi hari. Membakar ban mobil dan menutup jalan dengan kayu. Menjelang sore,  massa aksi meninggalkan kawasan kota dan membubarkan diri.

Pada hari berikutnya, 19 Agustus kawasan Sorong dan sekitarnya. Kota sorong aksi berjalan lancar. Lapas Sorong dibakar Massa Aksi.  Aksi Massa di Fakfak  mencekam, masa mengibarkan bendera Bintang Fajar. Barisan MeraH Putih membakar kantor Dewan Adat, dan membakar kantor KNPB wilayah Fakfak.

Aksi lanjut di Merauke, Mimika, Biak, Nabire, Paniai, Yahukimo, Deiyai, Dogiay, Pegunungan Bintang, Wamena. Seluruh kabupaten Kota unjuk rasa menolak rasisme dan menuntut Referendum digelar di seleuruh tanah West Papua.

Unjuk rasa di Jayapura Papua,puluhan ribu masa aksi Long Markc dari Sentani menuju Kantor Gubernur. Massa aksi berjalan kaki 20 Km. Massa membakar sejumlah fasilitas umum, dan kantor kantor Pemerintah. Toko toko milik melayu dirusak, bank BRI, Bank Mandiri di dekat jalan utama dirusak. Kantor Majelis rakyat Papua dibakar, Kantor Telkom dibakar massa dan menduduki kantor Gubernur Provinsi Papua. Pada tanggal 30 Agustus massa Aksi membakar kantor KPU Provinsi Papua.

Aksi aksi yang dilaksanakan di Papua mempunyai satu agenda, menolak rasisme bagi orang Papua dan Refrendum West Papua. Mendesak Indonesia untuk menangkap pelaku rasisme di Surabya dan membubarkan Ormas Reaksioner di Indonesia.

Desain Konfilik West Papua

Aksi massa yang dimediasi oleh Barisan Merah Putih di Fakfak merupakan salah satu desain Konfilik adu domba antar orang Papua yang diciptakan oleh Indonesia. Aksi aksi lanjutan yang didesain oleh Indonesia berujung jatuhnya korban jiwa. Militer Indonesia dengan kekuatan alat perang menembak Orang West Papua.

Kasus Deiay berdarah merupakan salah satu desain konfilik. Intelektual dibalik kerusuhan di Papua bisa dituduh sebagai agen agen Indonesia untuk mengacaukan situasi di west Papua. Issue tentang orang melayu berkumpul di Hamadi untuk menyerang massa aksi di Kantor Gubernur, juga didesain oleh Agen Agen resmi Pemerintah untuk menciptakan konfilik Horisontal maupun Fertikal.

Pada hari minggu, 1 September 2019 kelompok Non Papua yang dibeking TNI/POLRI, Intel, Kopasus menyebut diri kelompok Nusantara menyerang asrama Balim di Kamkei, Abepura Jayapura. Korban jiwa berjatuhan.

Selain itu, Indonesia berhasil mencipkan orang West Papua menjadi Penjajah baru di Tanah West Papua. Watak watak penjajah itu muncul ketika didoktrin oleh Indonesia melalui pendidikan, jabatan, uang, perempuan dan lainnya  yang dimanjakan oleh Negara.

Orang West Papua Butuh Kehidupan      

Dalam wawancara Matanajuwa dengan tema Nyala Papua, Lukas Enembe Gubernur Provinsi Papua mengatakan Orang West Papua butuh kehidupan. Kehidupan seperti orang lain di bumi ini. Orang West Papua butuh kehidupan yang layak, bebas dari rasisme, intimidasi, bebas dari pelanggaran hak hak dasar. Bebas hidup di tanahnya sendiri.

Setelah gelombang unjuk rasa di seluruh Tanah West Papua, pemerintah Melayu di Jakarta mulai maneuver maneuver di tingkat mahasiswa, membentuk solidaritas, membentuk tim investigasi, muncul tokoh tokoh buatan Indonesia dan berbagai komoditas baru diciptakan tanpa proses dan tahapan. Muncul tokoh ini dan tokoh itu, membumikan gagasan yang ujung ujungnya tidak akan diamokodir dan tidak mengakui orang West Papua.

Model dan gaya orang melayu seperti ini,  menciptakan situasi baru. Ciptakan situai dimana orang Papua dengan orang Papua saling serang, membunuh, mengancam. Baku tidak senang.  Pada akhirnya rumpun malaenesia di daratan Fasifik akan hilang ditelan waktu. Untuk itu, harus ada kesadaran yang dibangun oleh Orang Papua, baik itu orang Papua peranakan maupun Orang Asli Papua untuk bersatu, saling mengingatkan, membaca peta politik orang melayu dan tetap berjuang hingga bebas dari Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *