Dialog Damai “Jakarta-Papua” Harus pakai akal sehat
Sebuah Refleksi atas konflik, kekerasan dan ketertundaan dialog sampai saat ini!
Oleh Sebedeus G Mote
Dialog damai adalah jalan yang paling sederhana dan tepat untuk menyelesaikan suatu persoalan kekerasan konflik Papua dan itu tidak membunuh siapa pun yang bicara dalam pertemuan. Jaringan Damai Papua (JDP) sejak tahun 2010 berdiri sampai saat ini bersuara supaya dialog antara Jakarta-Papua itu terjadi. Seiring dengan berjalannya waktu dialog seakan tidak terealisasi walaupun ada perjanjian dialog, namun itu juga tidak terlaksana dengan baik sampai saat ini. Jakarta hari ini tidak mau duduk dialog dengan Papua, apa motifasinya kami orang asli Papua tahu yakni menciptakan kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan, penganiyaan, dan bentuk kejahatan kemanusiaan lainya.
Apakah dialog secara akal sehat itu tidak sehat?
Bicara secara akal sehat itu menjadi tidak sehat ketika saling menanggapi secara kekerasan. Kalau kedua belah pihak saling menanggapi secara kekerasan tentu rakyat sipil menjadi korban dan penderitaannya tetap menjadi luka busuk, siapakah yang bertanggungjawab? Kalau kedua belah pihak menjadi aktor berarti harus bicara secara akal sehat dan menggali apa persoalan mendasar atas semua ini. Orang Papua mendambakan hidup damai diatas tanah Papua begitupun tempat lain. Dialog secara akal sehat, yang penulis maksudkan adalah duduk bersama dan bicara, konflik berkepanjangan yang terjadi di Papua ini. Dialog menjadi tidak sehat dan tabuh ketika tidak terlaksana dan saling menanggapi secara kekerasan.
Saling menanggapi secara kekerasan itu tidak menyelesaikan seluruh konflik dan kekerasan, maka dialog Jakarta-Papua harus terjadi supaya masalah-masalah semua selesai. Konflik yang memakan korban manusia, alam, harta benda, dan lain sebagainya ini ulah dari akal yang tidak sehat. Akal yang tidak sehat itu mampu menciptakan konflik kepada pihak yang kecil. Dengan adanya Pikiran tidak sehat juga mampu menganggap pikiran sehat itu dengan berbagai macam lebel.
Jakarta atau Papua yang tidak sehat akalnya?
Dalam hal menentukan siapa yang tidak sehat atau sehat penulis tidak bisa membelah, maka rakyatlah yang menilai siapakah yang tidak sehat. Tetapi untuk mempertanggungjawabkan tulisan penulis punya jawaban sederhana, yang tidak sehat akalnya adalah pihak yang tidak mau dialog entah Jakarta atau Papua. Negara kita ini banyak orang-orang pintar, misalnya Bapak Presiden Ir Joko Widodo. Dia menjadi Presiden karena pintar. Kalau kepintaran hanya gunakan untuk menciptakan kekerasan itu sama halnya dengan ilmu pengetahuannya penjarakan dipikiran dan tidak bisa bertanggungjawab. Orang yang bertanggungjawab adalah orang yang mampu menyelesaikan masalah apa lagi sebagai seorang pemimpin yang dipercayakan oleh rakyat sendiri. Bapak Presiden kapan dialog damai mulai, air mata Papua belum kering ini, cobalah kalau akalmu sehat pikirkan untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan secara bermartabat sebagai ciptaan Allah yang luhur dan mulia.
Dialog damai pertama-tama menghormati Sang Pencipta, karena melalui Dia kita ada dan hidup. Yang kedua sama-sama saling menghormati sebagai sesama manusia sebagai secitra di hadapan Allah yang mahakuasa. Kita semua sudah tahu bahwa melalui Jaringan Damai Papua (JDP) mengajak Jakarta supaya dialog terjadi dengan orang Papua, namun tidak pernah terealisasikan. Sejak JDP berdiri tahun 2010 sampai saat ini kekerasan dan konflik terus bertambah. Apakah dengan ini Jakarta yang tidak sehat akalnya?
Semoga dialog damai terlaksana menggunakan akal sehat?
Akal sehat menurut penulis adalah akal yang selalu mengutamakan hak asasi setiap manusia, dengan demikian akalnya itu menghormati Sang Pencipta akal dan sesama sebagai satu ciptaan-Nya. Kegoblokan dan keberdosaan manusia merusak hidup damai bahkan saling mengancam sesama manusia seakan nilai manusia itu tidak berharga dihadapanNya dan sesama dalam realitas hidup manusia. Kami rakyat Papua percaya akal sehatnya negara begitupun sebaliknya. Dengan adanya saling percaya sebagai sesama manusia pasti dalam waktu dekat dialog terjadi. Mengajak Jakarta dengan menggunakan akal sehat bukan berarti tidak punya akal sehat tetapi sudah sekian tahun tertundah untuk dialog Jakarta-Papua maka dengan menggunakan akal sehat ini mungkinkah ada dialog damai, demi terwujudnya Papua Tanah Damai?
Kalau Jakarta masih memiliki akal sehat segerah selesaikan kekerasan dan konflik yang diciptakan oleh kedua pihak yakni NKRI harga mati dan PAPUA MERDEKA harga mati. Maka untuk menyelesaikan ini harus dialog pakai akal sehat, jangan akal busuk nanti bau dan tidak selesai. Seandainya Jakarta tidak mau NKRI harga mati adalah hanya sebuah slogan untuk memusnahkan orang asli Papua dengan demikian damai Papua menangis diatas kuburan tua dan tidak bisa bangun. Sekali lagi kalau dialog tidak terjadi secara akal sehat PAPUA MERDEKA harga hidup dan jangan terus ada kekerasan dan konflik di negeri Papua.
Tawaran dialog damai sejak JDP berdiri tahun2010 sampai saat ini tidak terjadi. Tawaran ini ditanggapi dengan kekerasan dan pembunuhan misalnya tabrak lari, pembunuhan misterius, pemerkosaan, hal ini paling serius dialami oleh rakyat Papua dan juga kepada orang pendatang yang ada di Papua. Melalaikan nilai kemanusiaan sama halnya dengan tidak mengimani Allah, maka setiap kita jangan saling memandang sebagai musuh tetapi musuh yang dengan akal sehatnya bisa selesaikan masalah dalam kehidupan harian kita.
Hemat penulis, maka seluruh kekerasan dan konflik ini penyelesaian harus secara akal sehat, sekalilagi bukan akal busuk. Dalam dialog secara akal sehat ini kedua belah pihak tidak saling menunding atau mempersalahkan satu sama lain melainkan bersama-sama mengidentifikasikan masalah mendasar yang mesti dituntaskan termasuk faktor-faktor yang menyebabkan kekerasan dan konflik. Mau dan tidak mau harus mampu mencari solusi dan apa yang penyebabnya dialog tertunda sampai saat ini.
Kami orang Papua percaya kalau Jakarta pakai akal sehat untuk menghentikan kekerasan dan konflik ini! Dengan demikian OAP hidup dalam damai dan merdeka sebagai satu bangsa. Sekali lagi negara segerah selesaikan penderitaan OAP ini, dan kami juga tidak butuh pembangunan. Penulis memberikan pengumuman lewat tulisan ini bahwa, sebelum ada dialog akal sehat, tokoh adat, agama dan tokoh pemerintahan jangan terima tawaran pembangunan apa pun, harus dialog dulu. Tokoh-tokoh buatan stop terima tawaran-tawaran itu. Kalau dialog ini tidak jadi maka pembunuh akal sehat manusia Papua adalah yang terima pembangunan, dan persis disitulah letak kemunafikan dalam kebenaran sebagai seorang pembelajar. Maka dalam dialog pakai akal sehat ini, Jaringan Damai Papua siap memfasilitasi sebagaimana fungsinya sebagai fasilitator. Soal siapa yang terlibat, kami orang Papua sudah percaya United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dengan melibatkan pihak ketiga yang netral. Semoga dengan menggunakan dialog akal sehat ini memberikan nuansa kebebasan, damai dan keselamatan untuk Papua menuju hidup dalam kebebasan.
Penulis adalah Mahasiswa STFT Fajar Timur dan Anggota Kebadabi Voices, Abepura-Papua
