Sikap Pemerintah Daerah Terkait Penyebaran Virus Corona di Papua

0
index

Oleh Melpianus Uropmabin)*

 

Virus Corona atau lebih dikenal dengan Corona Virus Disease tahun 2019, disingkat (Covid-19) yang kita kenal sekarang ini, pertama kali ditemukan dan tersebar di Provinsi Wuhan, Cina dan dalam waktu singkat menyebar ke hampir seluruh dunia. Ada sementara orang berpendapat bahwa Virus corona ini awalnya ditularkan dari hewan (kelelawar) ke manusia. Namun perkembangan selanjutnya diketahui bahwa virus corona ternyata menular dari manusia ke manusia sehingga yang terjadi saat ini adalah kematian manusia secara masif. Covid menjadi penyakit jenis baru yang belum ditemukan vaksin untuk pencegahanya. Belum ditemukannya vaksin corona menyebabkan corona menjadi makhluk mengerikan yang siap melumat tubuh manusia tanpa ampun.

Di dalam situasi pandemi, apa yang bisa kita lakukan dan kerjakan untuk mengantisipasi  wabah Covid-19 ini? Tentu kita semua tahu bahwa penyakit ini dengan sangat ganas merenggut hak hidup banyak orang di seluruh dunia. Dari media dan petugas kesehatan kita ikuti informasi terkait perkembangan virus corona. Data-data menunjukkan perkembangan yang memprihatinkan sebab semakin hari semakin meningkat jumlah pengidapnya. Penduduk di semua negara menjadi santapan empuk virus yang belum ada vaksinnya. Tidak peduli apakah Negara maju, sedang berkembang atau miskin hingga miskin absolut. Semua terpapar covid19.

Melihat betapa bahayanya ancaman virus corona bagi keberlangsungan hidup manusia, maka penting bagi setiap kita untuk tetap mengikuti anjuran Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Diantaranya dengan tetap berada di rumah dan terus menerapkan protokol kesehatan yang ketat, juga menerapkan pola hidup sehat dimana pun kita berada. Melihat perkembangan covid-19 yang meningkat akhir-akhir ini di Papua, ternyata penutupan akses tranportasi masih harus dilakukan. Akses keluar masuk Papua masih harus diberlakukan mengingat bahwa jumlah kasus yang terpapar covid-19 sedang menuju ke angka ribuan. Laporan terakhir per tanggal 31 Mei 2020 menunjukkan bahwa ada  815 kasus setelah penambahan 63 kasus baru (Seputarpapua.com 31/05/2020). Hal ini menunjukkan bahwa belum ada tanda-tanda penurunan angka dan kita tidak tahu kapan berakhirnya penyakit ini.

Penutupan Jalur Transportasi ,solusi pencegahan covid19

Akhir-akhir ini kebijakan Pemerintah Daerah dan Kementerian Perhubungan (Menhub) membingungkan. Pemerintah Daerah sudah memutuskan warganya untuk jangan keluar kota (lockdown) namun di sisi lain Menteri Perhubungan mengizinkan seluruh akses transportasi bisa kembali beroperasi. Menanggapi kebijakan tersebut, Pemprov Papua memutuskan untuk ‘mengabaikan’ perizinan operasional akses transportasi dari Kemenhub tersebut. Klemen Tinal selaku Wakil Gubernur Papua, mengungkapkan bahwa langkah tegas yang diambil oleh Pemerintah Papua adalah tetap menutup bandara dan pelabuhan (Kompas.com 08/05/2020). Keputusan tersebut dapat dipahami mengingat jumlah penduduk di Papua sedikit apa lagi Orang Asli Papuanya.

Namun, untuk  pesawat dan kapal barang (kargo) harus tetap beroperasi karena ini terkait dengan kebutuhan ekonomi masyarakat secara umum. Penutupan akses tranportasi untuk penumpang dilakukan karena penyebaran virus corona yang tersebar di Papua berasal dari luar Papua. Dengan menutup akses masuk dan keluar Papua pemerintah akan lebih fokus untuk mengatasi persoalan corona di dalam daerah.

Rencananya, penutupan akses keluar dan masuk ke Papua akan diperpanjang hingga pertengahan Juni 2020 mendatang. Diketahui sebelumnya, penutupan akses tersebut telah dilakukan sejak 26 Maret 2020 dan telah tiga kali diperpanjang. Diharapkan bahwa Pemerintah Daerah terus memperpanjang penutupan akses transportasi untuk penumpang demi keselamatan warganya yang berada di Papua terutama keselamatan bagi Orang Asli Papua yang jumlahnya tidak lebih dari 4 juta jiwa. Karena jika dibiarkan terbuka begitu saja, maka kepunahan manusia Papua bukanlah tidak mungkin terjadi.

Sikap masyarakat untuk mencegah Covid-19

Untuk mencegah Covid-19 dalam situasi seperti ini mengingatkan kepada kita untuk bagaimana relasi dan solidaritas antar keluarga, antar komunitas, antar lembaga, dan antar masyarakat luas (eksistensi kekeluargaan) perlu dipertimbangkan. Sebab virus corona (covid-19) menyadarkan kita untuk menjaga eksistensi kekeluargaan dan tempat tinggal kita. Kalau kita tidak menyadari betapa pentingnya keluarga dan tidak mencintai tempat tinggal kita maka yang terjadi adalah kematian dalam keluarga dan masyarakat umum.

Oleh karena itu, dalam situasi pandemik ini kita dituntut untuk tetap mencintai dan menjaga hidup kekeluargaan kita dan dimana pun kita berada tetap bersolider dengan sesama kita yang lain dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat yakni mencuci tangan secara rutin, menjaga jarak, menghindari kerumunan, menggunakan masker saat bepergian, berolahraga yang teratur dan makan makanan bergizi, serta teratur mengkonsumsi vitamin. Hal ini adalah langkah untuk keselamatan diri, keluarga, dan khayalak umum. Dengan demikian perlu adanya kesadaran dari diri kita, supaya kita bisa memutuskan mata rantai virus corona dari kehidupan kita.

Penerapan PSBB dengan batas waktu yang ketat sebenarnya membentuk mental masyarakat demi mengurangi dan meminimalisir penyebaran covid-19. Oleh sebab itu kepatuhan masyarakat terhadap aturan yang diberikan oleh pemerintah perlu diseriusi bersama. Misalnya di kota Jayapura, Pemerintah memberlakukan pembatasan jam kerja sampai pukul 14.00 dengan harapan bahwa setelah pukul 14.00 tidak ada lagi aktivitas dalam bentuk apapun di luar rumah. Hal ini tentunya harus terus menerus diawasi oleh pemerintah. Sebab mental masyarakat saat ini harus terus didorong untuk meningkatkan kesadaran hidup sehat yang tinggi. Dengan menjaga kesehatan diri sendiri, kita juga turut menjaga kesehatan orang lain.

Akhirnya, situasi saat ini juga menyadarkan kita akan pentingnya arti kekeluargaan dan persaudaraan. Selama tetap berada di rumah, kita diharapkan untuk menjaga keluarga kita masing-masing dengan tetap menerapkan gaya hidup sehat yang baik. Kekeluargaan memampukan kita untuk mempererat komunikasi harmonis antara anak-anak dan orang tua atau sebaliknya. Arti dan tujuan keluarga menghantarkan kita pada sikap peduli satu sama lain. Situasi pandemik ini mempersatukan setiap keluarga untuk menata hidupnya menjadi lebih baik lagi karena kita menyadari bahwa keluarga adalah  anugerah yang diberikan oleh sang Pencipta  kepada kita manusia.

 

Penulis adalah Mahasiswa STFT “Fajar Timur”  dan Anggota Aplim Apom Research Group (AARG)

Editor : Sostenes Uropmabin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *