Revolusi Mental: Upaya Menjemput Perdamaian Manusia Aplim Apom Sebagai Warisan Leluhur

0
IMG-20200524-WA0006

Apkol Uropmabin’Ap, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id

Oleh Apkol Uropmabin’Ap)*

 

Pengantar

Ketika kita berbicara tentang revolusi mental berarti kita sedang berbicara tentang proses pembentukan pemikiran dari yang lama menuju ke pikiran baru. Oleh sebab itu hal pertama yang harus kita ketahui adalah apa itu pikiran?  Pikiran berkaitan dengan aktivitas mental menyangkut kesadaran subjektif individu.  Pikiran adalah gagasan dan proses bermental manusia. Dalam hal ini tindakan berpikir memungkinkan seseorang untuk merepresentasikan dunia sebagai model dan memberikan perlakuan terhadapnya secara efektif sesuai dengan tujuan, rencana, dan keinginan. Kata yang merujuk pada konsep dan proses yang sama bagi tindakkan berpikir  diantaranya adalah kognisi, pemahaman, kesadaran, gagasan, dan imajinasi.

Berpikir melibatkan kerja otak mencerna informasi, seperti saat kita membentuk konsep, terlibat dalam pemecahan masalah, melakukan penalaran, dan membuat keputusan. Berpikir juga membutuhkan fungsi kognitif tingkat tinggi. Oleh sebab itu  analisis proses berpikir menjadi bagian dari psikologi kognitif.  Dalam hal ini proses dan mekanisme dasar dari sel otak manusia merefleksikan proses pencocokan pola atau pengenalan pola dari bentuk atau informasi. Saat seseorang melakukan refleksi, maka yang dilakukan adalah melihat situasi baru dan pengalaman baru  berdasarkan hal yang diingat dan dinilai pada situasi dan pengalaman yang lama.

Untuk membuat penilaian ini, pikiran mempertahankan pengalaman saat ini dan mengurutkan pengalaman masa lalu yang relevan. Hal tersebut dilakukan dengan mempertahankan  pengalaman kini dan masa lalu sebagai pengalaman yang terpisah. Pikiran dapat mencampur, mencocokkan, menggabungkan, menukar, dan mengurutkan konsep-konsep, persepsi, dan pengalaman. Proses ini disebut penalaran. Logika adalah ilmu tentang penalaran. Kesadaran akan proses penalaran ini adalah jalan masuk ke dalam kesadaran.

Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, manusia  tentu sering bersinggungan dengan  revolusi mental  dan kedamaian. Perdamaian memang  tidak kalah saing hangatnya dengan pikiran  sebab kedua kata ini mengekspresikan ribuan tindakan hidup manusia menurut norma, aturan atau adat-istiadat masyarakat setempat. Revolusi mental untuk mewujudkan perdamaian tentu  diimpikan oleh setiap insan manusia di belahan bumi ini karena revolusi mental mewujudkan adanya tindakan perubahan dalam merealisasikan perdamaian itu sendiri.

Namun untuk memperoleh kedamaian dalam hidup ini tidaklah mudah. Salah satu langka yang  perlu dilakukan oleh manusia adalah  memperbaiki proses dan tahapan revolusi mental dalam rangka memperbaiki pikiran-pikiran kontradiktif yang sebelumnya dibangun dalam praktek kehidupan bermasyarakat yang merusak moral pribadi, keluarga dan sesama.  Proses revolusi mental adalah langkah yang tepat  untuk menerjemhakan visi perdamaian yang diimpikan oleh setiap kita manusia, karena itu kita membutuhkan revolusi mental untuk melakukan sebuah gerakan hidup baru dalam mewujudkan perdamaian.

Secara umum pengertian revolusi adalah sebuah gerakan radikal untuk mengubah keadaan sosial dan politik yang memprihatinkan dalam waktu ‘perjangka’ sesuai kebutuhan di lingkungan sosial masyarakat. Dalam proses revolusi hal mendasar yang dilihat adalah mengubah tatanan kehidupan, terutama perubahan total dari suatu sistem ke sistem yang lain selain itu bisa memodifikasi sistem yang sudah ada. Selanjutnya setiap tahapan perubahan  revolusi tersebut dipastikan secara matang untuk menghasilkan perubahan secara mendasar meluas dan mendalam untuk memberikan harapan kehidupan baru dari segi budaya, ekonomi, dan sosial politik. Sedangkan pengertian  mental atau istilah panjangnya mentalitas adalah sebuah cara berpikir atau konsep pemikiran manusia untuk dapat belajar dan merespon suatu hal yang terjadi di lingkungan dimana kita berada.

Dalam konteks ini mental adalah kata lain dari pikiran itu sendiri, sehingga mentalitas dapat dikatakan sebagai cara berpikir tentang suatu hal. Cara seseorang berpikir ini dipengaruhi oleh pengalaman dari lingkungan serta hasil belajar yang didapat dalam dunia pendidikan. Dengan demikian dalam arti ini  pengertian revolusi mental adalah perubahan cara berpikir dalam waktu singkat untuk merespon situasi buruk yang ada dan  bertindak serta bekerja bekerja secara radikal untuk mengubah tatanan dan pola hidup menjadi lebih baik.

Hasil karya pikiran terwujudnyatakan dalam kerja-kerja manusia. Otak memerintahkan badan untuk bekerja dan mengahasilkan sesuatu sehingga kemudian itu menjadi hal yang bisa dinikmati oleh banyak orang. Otak merancang sesuatu yang dikeluarkan lewat mulut sebagai perintah. Perintah itu kemudian diwujudnyatakan dalam tindakan dan tindakkan itu kemudian menjadi kebiasan. Sehingga dari kebiasaan ini lahirlah karaktek yang membentuk watak manusia entah menjadi baik atau buruk. Hal ini juga yang terlihat dalam proses pembangunan di daerah kita.

Mengapa Manusia Aplim-Apom membutuhkan revolusi mental?

Pertanyaan ini merupakan pertanyaan radikal yang tentu mendorong setiap manusia  Aplim-Apom untuk berpikir dan menemukan jawaban sebagai solusi dalam merespon berbagai kondisi yang tidak memungkinkan yang selama ini terjadi. Perlu disadari bahwa tujuan dasar revolusi  artinya perubahan bentuk kehidupan atau kebiasaan sehingga ada kaitanya dengan mental dalam setiap pribadi masing-masing terutama upaya mempertahankan eksistensi daerah masing-masing dengan menyadari keberadaan suku, ras, budaya dan agama.

Revolusi mental manusia Aplim-Apom perlu memperhatikan karakter yang berbeda dari setiap suku yang ada. Kita sadar bahwa suku-suku yang termasuk dalam wilayah Aplim Apom  membentang dari barat sampai ke timur yakni  sampai di negara tentangga (PNG). Oleh sebab itu revolusi mental manusia Aplim Apom perlu mendasari diri pada karakter masing-masing suku dan budaya. Sebab tujuan dasar revolusi mental yang sebenarnya itu agar kita dapat beradaptasi dan diterima oleh seluruh penjuru negeri .

Bagi kita manusia Aplim Apom, revolusi mental dibutuhkan demi mendorong cara pandang kita terhadap masalah yang selama ini terjadi di daerah. Revolusi mental mendorong kita agar dapat diterima dengan mudah di dalam masyarakat. Revolusi mental memampukan kita untuk beradaptasi dengan cepat, juga  revolusi mental mengantarkan kita untuk dapat mengubah cara berpikir kita di mana pun kita berada.

Revolusi mental konkretnya dibutuhkan oleh manusia Aplim Apom dalam memandang suatu situasi dan kondisi dengan bijak kemudian revolusi mental menuntut kita untuk dapat bersikap mandiri dan dapat menyesuaikan diri dalam setiap keadaan, sebab tidak semua situasi dan kondisi  harus diatur dan diarahkan oleh orang lain.  Setiap situasi dan keadaan membisikkan kita untuk selalu berpikir, untuk merespon setiap kejadian.

Situasi yang terjadi di daerah saat ini adalah keterpisahan manusia Aplim Apom karena kepentingan politik. Egoisme dan ambisi politik meruntuhkan kebersamaan sebagai manusia Aplim Apom. Semua menganggap diri benar dan tidak pernah mengalah demi pembangunan daerah yang lebih maju dan sejahtera. Hal ini tentunya merugikan sesama manusia Apilm-Apom bahkan menjadi sumber pemisah antara  satu dengan yang lain dalam berbagai kalangan. Persoalan daerah saat ini menjadi sebuah kesalahan fatal bagi kita manusia Aplim Apom karena kita tidak mengaplikasikan revolusi mental. Kita harus belajar memahami dan berpikir secara menyeluruh untuk dapat mengubah cara pandang dan cara berpikir yang kita lakukan selama ini.

Hal ini dimaksudkan supaya kita lebih menjadi dewasa dan siap dalam persaingan menghadapi  era globalisasi ini. Jika konflik di daerah terus berlangsung bagaimana kita akan bersaing dengan daerah-daerah lain yang SDMnya lebih maju dari daerah kita? Ingatlah bahwa waktu tidak akan pernah menunggu kita untuk berubah. Sehingga, kitalah yang harus mengubah setiap kondisi dan keadaan yang merugikan banyak orang  ini dengan cara menerapkan upaya revolusi mental bagi setiap manusia Aplim Apom.

Kondisi Pegunungan Bintang dalam perspektif penulis

Kabupaten Pegunungan Bintang saat ini sudah berusia 18 tahun sejak dimekarkan dari Kabupaten Jayawijaya pada tahun 2003. Namun kondisi mental manusia Aplim Apom tetaplah sangat memprihatinkan. Implementasi mental pendidikan manusia Aplim Apom secara menyeluruh sangatlah buruk.  Mahasiswa, kaum birokrat, legislator, maupun pencaker semua hari ini terhipnotis dgn euforia politik praktis belaka. Ibarat 28 kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat menugaskan orang pegunungan bintang untuk wajib  belajar dan berpikir di bidang politik hari ini. Sehingga fokusnya hanya politik dan bidang lain dilupakan.

Pembahasan mengenai isu politik di Pegunungan Bintang sudah merebak seperti virus. Semua orang membicarakan politik. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mulai dari desa-desa hingga ibu kota kabupaten. Semuanya membahas polemik politik yang terjadi di daerah. Di satu sisi memang baik tetapi perlu diingat bersama bahwa hal ini juga mempengaruhi mental kita dalam kehidupan bersama sebagai manusia Aplim Apom. Oleh sebab itu dalam kaitannya dengan kondisi mental manusia Aplim Apom di sini ada beberapa fakta yang perlu diperhatikan bersama berkaitan dengan situasi daerah yang ada :

Pertama, Masyarakat bahkan kebanyakan orang intelektual  bicara isu politik tanpa memahami dalil-dalil politk lebih khusus maanfaat tujuan dan karakter politiknya.

Kedua, Ibu kota kabupaten Pegunungan Bintang (Oksibil) adalah wilayah yang dijadikan sebagai  pusat pendidikan mulai dari TK-SMA SMK, sehingga dugaan saya hari ini mereka (pelajar) lebih mengkonsumsi isu politk tanpa sumber referensi yang jelas dibanding mata pelajaran yg diberikan oleh bapa ibu guru di sekolah.

Ketiga, Hari ini di negeri Aplim-Apom, masyarakat yang  buta huruf tidak tahu membaca sekalipun mereka menceritakan masa depan dalam perspektif politik kepada anak-anak termasuk mahasiswa (waktu liburan).

Dengan fakta-fakta demikian, maka yang mau penulis  tegaskan di sini  adalah kejadian-kejadian ini menjadi kesalahan para elit politik saat ini karena pengaruh ide politik dan kegiatan politik ini ternyata  membawa masyarakat memindahkan pusat hidupnya dari kampung dan dusun ke ibu kota Oksibil. Situasi urbaninasi di daerah ini turut mempengaruhi kehidupan sosial manusia Aplim Apom di ibukota kabupaten. Masyarakat yang kemudian berpindah tempat tinggal itu tidak tahu harus bekerja bagaiamana sehingga akhirnya mereka ikut berpatisipasi dalam kegiatan judi, togel, putaran dan lainnya sambil menunggu momen politk  itu tiba. Masyarakat dibuat tidak berdaya. Masyarakat bermental “minta-minta uang’ tanpa bekerja. Sehingga jangan heran bahwa hari ini kebanyakan masyarakat kita sudah tidak lagi berkebun, bertani, beternak, berburu dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, para elit politk harus sadar bahwa kita sudah salah mempolarisasikan kerangka politk.

Penutup

Akhirnya,  penulis memberikan  satu saran sebagai solusi untuk merespon berbagai konflik  di bumi Aplim-Apom terutama untuk membentuk mental manusia Aplim Apom demi kemajuan dan kesejahteraan daerah ini yakni :

Setiap manusia Aplim Apom yang sudah dan sedang merusak mentalnya saat ini kita perlu berdamai bersama. Perdamaian merupakan pangkal utama memajukan dan mesejahterakan daerah oleh sebab itu egoisme jabatan dan kepentingan politik perlu dihilangkan. Semua lembaga dan siapapun segera harus mendukung dan mensukseskan rencana rekonsiliasi “MATEK WERON”  yang di dorong oleh komunitas Aplim-Apom Research Group (ARRG). Jika hal ini tidak  terlaksana sesegera mungkin maka jangan heran jika besok-besok manusia Aplim Apom akan saling membunuh satu sama lain hanya  karena politik atau pilkada 2020/2024.

 

Penulis : Apkol Uropmabin’Ap, Anggota Aplim-Apom Research Group (AARG)

Editor: Fransiskus Batlayeri

 

 

 

 

 

                           

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *