Pentingnya Pendidikan Karakter Anak Bangsa Dalam Mencintai Lingkungan
Frans Wasini, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id
Oleh Frans wasini )*
Lingkungan merupakan tempat dimana setiap orang hidup. Lebih spesifik lagi, lingkungan sekolah adalah tempat anak-anak sebagai generasi penerus Papua dibekali pengetahuan dasar dengan benar supaya mereka bisa ambil bagian di dalam kehidupan keluarga maupun lingkungan sekolah. Mereka penting dipersiapkan dengan baik selama mengalami perubahan pola pikir, sikap di dalam mengerjakan sesuatu bersama orang-orang dewasa lain seperti guru di sekolah dan orang tua di rumah. Mengapa penulis lebih fokus dari lingkup terkecil dari kehidupan manusia yaitu lingkungan pendidikan dasar sebagai cikal bakal pembentukan karakter seseorang? Pendidikan karakter bagi anak-anak Sekoah Dasar sangat penting untuk mencintai lingkungan dan kehidupan sekitarnya. Hal ini sejalan dengan Ensiklik Laudato Paus Fransiskus tentang “Perawatan Rumah Kita Bersama”. Artinya setiap orang dituntut agar menjaga, merawat, melindungi bumi ini sebagai tempat tinggal manusia dari kerusakan karena perilaku manusia itu sendiri. Sebagaimana sekarang ini dapat kita saksikan dimana-mana telah tercipta kondisi yang semakin tidak nyaman untuk ditinggali manusia.
Sekarang rumah kita bersama, bumi tempat pijakan kita mulai tampak sebagai tempat pembuangan sampah besar yang sulit didaur ulang. Masalah ini disebabkan akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggiring manusia hidup berperilaku macam-macam. Salah satunya perilaku terkecil dari manusia dalah “membuang sampah sembarang tempat” di berbagai kota besar di Papua dan Indonesia. Masalah ini bisa terjadi karena pendidikan karakter dari sekolah dasar di Papua dan Indonesia ini sangat lemah. Masalah kedisiplinan orang menjaga kebersihan lingkungan diaman dia tinggal sulit ditemuakan, justru sampah berserahkan dimana-mana. Semua ini kembali pada bagaimana mempersiapkan karakter anak sejak disni.
Banyak masalah akibat pengalaman pendidikan karakter awal yang bisa kita petakan sekarang. Manusia sekarang melakukan berbagai macam bentuk eksploitasi sumber daya alam dengan cara yang tidak bertanggung jawab seperti: penebangan liar dalam skala besar; pembakaran hutan tanpa pandang bulu, pikir panjang; penangkapan ikan dengan menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat menyebabkan matinya ikan-ikan dan habitat lainya di air dan laut; tumpukan sampah-sampah dimana-mana di setiap torotoar jalan, pinggiran rumah bahkan sudut-sudut kota di seluruh tanah Papua. Tumpukan sampah plastik yang sulit diatasi dimana-mana menjadi masalah tersendiri di Papua. Akibat ulah orang-orang tidak bertanggung jawab itu berdampak buruk dan luas pada rusak dan hilangnya sumber daya alam dan seluruh ekosistem pulau Papua tidak stabil sekarang. Tidak bisa kita pungkiri bahwa para pelaku juga orang asli Papua sendiri, peranakan orang Papua dengan amber dan orang non Papua yang tinggal cari makan disini ikut menghancurkan peradaban orang Papua itu sendiri. Banyak orang melakukan eksploitasi terhadap alam hanya demi mengeruk keuntungan ekonomi tanpa mempertimbangkan dampak buruk yang akan dihadapi anak cucu Papua kedepan.
Situasi lingkungan hidup yang semrawut tersebut memicu beberapa kalangan untuk ikut ambil bagian dalam menyelamatkan lingkungan melalui kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Beberapa pegiat lingkungan hidup mulai sadar bahwa sudah saatnya setiap kita harus mengambil peran masing-masing demi menyelamatkan bumi ini dari kehancuran. Bahkan fakta terbaru adalah Pemerintah Kota Jayapura, Walikota (Bapak Benhur Tomi Mano) sudah menetapkan bahwa setiap pembelian agar tidak mengunakan plastik dikarenakan pelastik merusak lingkumgan. Karena itu siapapun yang tinggal di wilayah Kota Jayapura bila mau belanja ke kios wajib mengunakan noken sebagai budaya. Sebab noken tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan tetapi justru ikut merawat dan menyelamatkan bumi Papua yang kita cintai ini. Pada pihak lain, para peduli sampah sudah didukung Pemerintah Kota untuk dapat mengelola atau didaur ulang sampah-sampah plastik tersebut sebagai daya kreatifitas masyarakat menghasilkan karya-karya menarik yang digunakan lagi. Contoh bisa membuat tas, sandal, taplak meja, dan sebagainya. Masyarakat yang ikut mengelola sampai menjadi produk baru sangat penting diberi peluang dan didukung oleh Pemerintah karena sangat bermanfaat bagi masyarakat mampu menata hidupnya seacra lebih baik dari sebelumnya.
Kembali pada penegas awal tulisan ini bahwa untuk selamatkan bumi tempat kita berpijak maka proses pendidikan anak dari SD-PT menjadi sangat penting bagi kita. Melalui pendidikanlah akan mempersiapkan orang-orang berkarakter pedulu akan lingkungan hidupnya. Proses pendidikan karakter harus mulai dari anak sejak SD agar anak-anak memiliki pengetahuan untuk mencintai dan merawat lingkungan. Pada tahap ini sangat sederhana tetapi yakin saja bahwa akan berdampak besar pada pembentukan sikap pada diri anak untuk mencintai lingkungan hidup dengan karya nyata. Contoh seperti membuang sampah pada tempatnya dengam mengelompokkan sampah plastik dengan sampah basah lainnya; tidak menyisahkan makanan dan kegiatan edukatif lainnya. Dengan begitu secara otomatis masyarakat sebagai orang tua turutserta dalam menjaga lingkungan hidup dalam mempersiapkan anak-anaknya secara bersama. Maka itu penting kerjasama orang tua dan pihak sekolah dalam mempersiapkan anak-anak yang cinta terhadap alam, bumi tempat harapan hidupnya kini dan masa mendatang.
Sebagai generasi muda yang sedang mengenyam pendidikan menyadari bahwa salah satu cara untuk menyelamatkan lingkungan adalah pendidikan karakter menjadi kunci dalam mempersiapkan seseorang mencintai lingkungan dan sebagainya. Sebagaimana dalam Suparno (2015 : 29) menjelaskan bahwa pendidikan karakter bertujuan untuk membantu agar siswa-siswa mengalami, memperoleh, dan memiliki karakter kuat yang diinginkannya. Artinya anak-anak perlu dibekali ilmu pendidikan karakter sejak dini agar sikap-sikap positif yang ada dalam diri mereka dapat berkembang dan menjadi bagian dari hidupnya yaitu dapat memengaruhi seluruh cara berpikir dan tindakan dalam hidupnya. Proses belajar di sekolah sangat memungkinkan untuk membentuk dan menanamkan sikap/karakter cinta lingkungan hidup kepada anak-anak di sekolah. Sekolah perlu miliki pendekatan baru agar anak-anak dapat mencinta lingkungan yaitu membuat sebuah buku tentang memelihara Istana/Rumah tempat tingal mereka. Membangun pemahaman anak-anak betapa pentingnya menjaga dan melestarikan alam sekitar sebagai kekayaan terpenting. Dalam Davis (1998) sangat jelas membahas hubungan antara anak dengan alam sekitarnya merupakan landasan yang penting untuk membangun hubungan yang baik antara manusia dengan alam. Secara alami, anak adalah penjelajah alami. Mereka mengobservasi dan meneliti lingkungan di sekitar mereka secara alami dan belajar darinya (learning by doing). Diharapkan generasi muda yang peduli terhadap lingkungan alam Papua perlu mendukung para guru, para pastor dan pendeta beserta orang tua ramai-ramai mempersiapkan anak-anak sejak disini agar kemudian ikut menjaga lingkungan alam Papua ini dengan kepedulian tinggi.
Ada pengalaman baik yang diperoleh ketika penulis masih di SMP Negeri Okbibab Pegunungan Bintang. Setiap hari Jumat ada jam bakti sekolah cinta lingkungan. Jenis pekerjaan yang saya selalu dikerjakan adalah mengikat pagar sekolah untuk menghindari masuknya binatang peliharaan masyarakat masuk di lingkungan sekolah. Selain itu bersihkan rumput dengan mengunakan parang, angkat sampah mengunakan tangan. Kegiatan ini membangun kesadaran diri dan kemandirian saya mampu menjalani hidup dengan tetap mencintai lingkungan dimana saya tinggal. Pengalaman saya maupun pengalaman setiap orang yang mencintai lingkungan sudah diberi penguatan dari amanat agung Bapa Paus Fransiskus tentang “menjaga rumah kita, menjaga bumi kita”. Sebagai orang Katolik, saya sangat setuju amanat agung ini dalam menjaga, memelihara, dan mensyukuri semua ciptaan Tuhan di atas tanah Papua. Dimana Papua adalah bumi, rumah, tempat kita berpijak. Bumi Papua ini Tuhan tempatkan leluhur suku bangsa Papua dengan tujuan khusus. Orang Papua dimeteraikan untuk menjaga, memelihara, melindungi, memanfaatkan hasil kekayaan alam secukupnya sesuai kebutuhan mereka karena akan ada anak cucunya. Setiap orang akan merasa nyaman jika mempunyai tempat tinggal yang bersih, sejuk, dan nyaman untuk ditempati.
Bumi Papua sebagai rumah kita bersama maka siapapun dia berhak dan wajib memelihara, menjaga agar menjadi tempat tinggal yang nyaman, sejuk, dan bersih bagi semua orang. Walaupun demikian kenyataan berkata lain. Bumi Papua kini semakin hari semakin tidak nyaman karena sedang terjadi kerusakan besar-besaran dimana-mana. Ada sejumlah pihak sudah menciptakan masalah dimana-mana di seluruh Papua. Ada perusahan tambang resmi berlabel negara bersama negara-negara korporasi bahkan sampai tambang ilegal pun ikut memenjarah kekayan alam Papua. Tak terkecuali rakyat disengsarakan. Negara ini tidak bertanggung jawab atas keterpurukan lingkungan alam Papua. Ada tambang Freeport McMoran di Timika; MIEFE di Merauke; Kelapa Sawit di Merauke dan Boven Digoel; PT Antam Tbk eksplorasi secara Ilegal di Pegunungan Bintang; ada tambang Minyak dan Gas Bumi di Bintuni, dan lalin-lain. Semuanya dikendalikan Negara Indonesia bersama Negara-negara pemilik modal besar, seperti Amerika, Inggris, Australi, New Zealand, Belanda, Jerman, Italia dan sebagainya. Otonomi Khusus Papua sudah dilaksanakan 19 tahun tetapi semua sektor dikuasai orang non Papua. Aspek lingkungan hidup atau hutan Papua sedang dikuasai orang Indonesia atasnama Negara. Hal ini juga menyebabkan dimana-mana terjadi konflik secara fisik dan non fisik yang berlangsung lama hingga sekarang. Orang Papua mengalami penderitaan luar biasa sehingga untuk kedepan dibutuhkan solusi yang tepat. Salah satu solusi adalah mendidik dan membangun karakter anak-anak Papua yang mencintai lingkungan hidup. Dengan demikian generasi muda Papua kedepan bisa memiliki pandangan yang tepat mengenai betapa pentingnya lingkungan alam sekitarnya. Mereka juga bisa berpandangan bumi adalah rumah tempat tinggal utama mereka sekarang dan selamanya.
Penulis: Frans Wasini, mahasiswa Fakultas FISIP Jurusan Antropologi Sosial Universitas Cenderawasih Papua.
Editor : Ap Gerald B Kahipdana.
