GENERASI MUDA DALAM BAYANG-BAYANG ELIT POLITIK & KELOMPOK KEPENTINGAN
Ferdinandus Bamulki, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id
Oleh Ferdinandus Bamulki, S.IP)*
Sejenak penulis merefleksikan tentang keteraturan norma dan nilai kehidupan orang Pegunungan Bintang yang terjaga di masa lampau. Pada umumnya Orang Pegunungan Bintang sesungguhnya memiliki hati yang baik, semangat juang yang tinggi dan selalu mengedepankan kasih serta kekeluargaan yang erat dalam kehidupannya. Sejak dulu orang Pegunungan Bintang memiliki sejumlah keteraturan nilai dan norma hidup yang merajut peradaban secara kontinyu melalui sistem kehidupan yang berpusat di Ap Iwol/Iwo.
Dalam merawat peradaban, orang Pegunungan Bintang sebelumnya menyiapkan segala sesuatu termasuk sumber daya manusia melalui upacaya adat. Upacaya yang diadakan sangat beragam sesuai dengan materi, peserta dan tujuan yang hendak dicapai dalam upacaya adat tersebut. Orang Pegunungan Bintang yang belum pernah merasakan dan mengikuti upacara adat tersebut akan menganggap upacara adat itu sebagai sebuah ceremony atau ritual biasa. Begitu juga dengan pandangan orang non Pegunungan Bintang ketika melihat dan mendengar tentang upacara adat di Pegunungan Bintang seperti kupet, kamil/kamii dan lain-lain.
Penulis sendiri adalah salah satu orang asli Pegunungan Bintang yang sudah mengikuti upacara adat di Ap Iwol/Iwoo. Dalam upacara adat itu, kami tidak hanya mengikuti sebuah ceremony atau ritual adat seperti yang ada dalam benak orang lain yang belum pernah ikuti upacara adat dan tidak seperti yang dibayangkan oleh orang non Pegunungan Bintang. Di dalam Ap Iwol/Iwoo kami selalu diberi nasehat, didikan, binaan dan ibadah kepada Sang Pencipta (Atangki). Selama masa inisiasi kami disuguhi dengan tak teringga nasehat-nasehat hidup oleh orang tua yang memberikan pendidikan adat di Ap Iwol/Iwoo. Kami juga mendapat didikan yang terbaik agar kami bisa tumbuh dewasa, rendah hati, berbakti, dan menguasai sistem nilai dan norma hidup yang baik untuk masa mendatang. Melalui rangkaian upacara ibadah dalam Ap Iwol/Iwoo kepercayaan kami akan keagungan Sang Pencipta dikuatkan. Jadi, iman akan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu dirawat dan ditanamkan dalam Ap Iwol/Iwoo juga.
Betapa indahnya kehidupan di peradaban sebelumnya. Manusia di peradaban sebelumnya hidup dengan rel kehidupan yang jelas, teratur, teukur dan terpola dengan baik. Namun sayang saat ini sungguh memprihatinkan. Kami generasi muda yang sudah mengikuti inisiasi adat maupun generasi muda yang belum ikut inisiasi adat sudah termarjinalkan dalam imajinasi para elit politik dan kelompok kepentingan yang sudah lama memainkan peran dalam memperebutkan kekuasaan, kekayaan, hiburan harta, wanita dan perebutan lahan kader. Generasi muda dengan kondisi intelektual yang terbatas, suasana hati yang tandus, pengalaman kerja/berkarya yang minim, dan kondisi iman yang rapuh dinakodai oleh mereka (elit politik dan kelompok kepentingan) melalui semburan imajinasi di luar jangkauan nalar dan logika. Akhirnya pergerakan generasi muda menjadi senjata elit dalam merangkai mimpi-mimpi mereka. Kondisi ini sangat terasa sejak kabupaten Pegunungan Bintang dimekarkan. melihat kondisi tersebut orang tua dari masyarakat adat memberikan label pejabat BARBIRBOR. Istilah ini kemudian menjadi sebuah bahan ledekan/candaan warga ketika mereka ingin mendiskusikan hal-hal terkait pemerintah daerah, anggota legislatif dan pejabat eksekutif lainnya pada saat itu.
Penulis melihat ada sebuah gejala sosial yang sangat memprihatinkan untuk saat ini. Generasi muda Pegunungan Bintang sudah menjadi bagian dari geJala sosial tersebut. Gejala sosial ini menjerumuskan/menjadikan generasi muda sebagai “alat” (bukan diperalat) investasi politik dan kepentingan oleh elit politik serta pemangku kepentingan di Papua. Mengapa penulis tidak mengatakan bahwa dalam gejala sosial ini pemuda diperalat? Karena pemuda secara sadar, mau dan mampu melakukan yang direncanakan bersama-sama mereka yang punya kepentingan. Jadi generasi muda saat ini tidak diperalat tetapi menjadi alat investasi kelompok kepentingan dan elit politik. Sejumlah rangkaian kata, kalimat dan ungkapan bijak yang bernuansa rohani akan melemahkan kekuatan nalar dan menghibur hati generasi muda. Apalagi generasi muda dengan kondisi nalar yang kering, suasana hati yang tidak stabil dan kemampuan serta pengalaman hidup yang terbatas. Sudah sangat mudah untuk dibentuk menjadi manusia baru yang siap sedia menjadi “Alat” bagi penguasa, elit politik dan kelompok kepentingan.
Generasi muda harus kembali mengenali diri, mengendalikan diri dan membebaskan diri dari gejala sosial ini. Arus gejala sosial ini sangat kencang dan sangat luar biasa dahsyat karena diikuti oleh banyak arus seperti arus modernisasi, arus gerakan politik, arus gerakan sektor real, gejala pelaku ekonomi, dan arus penyakit sosial. Generasi muda perlu mengenali diri supaya dapat menempatkan dirinya pada posisi status sosial yang jelas. Mengukur persoalan-persoalan dengan terukur agar bisa memberikan jalan keluar pemecahan persoalan yang baik bagi kepentingan umum, membebaskan diri dari segala bentuk ikatan perjanjian atau ikatan yang terbangun atas dasar hubungan kekeluargaan tanpa melihat baik/buruknya sebuah kebersamaan. Hal-hal mendasar ini perlu dilakukan agar generasi muda tidak tengelam dalam gejala sosial yang mempertontonkan persaingan yang mempertarukan kepentingan elit politik dan kelompok kepentingan di Pegunungan Bintang.
Penulis sesunguhnya ingin jujur mengakui bahwa tidak ada masa depan yang baik bagi generasi muda terlibat dalam arus gejala sosial ini. Penulis sama sekali tidak membatasi saudara/i generasi muda dalam melibatkan diri dalam agenda politik atau kegiatan ekonomi dan lainnya. Tetapi melalui tulisan ini penulis hanya ingin memberikan pendapat bahwa kita sudah dipaksakan memikirkan dan melakukan hal-hal yang bukan ruang kita sebagai generasi muda. Kita generasi muda harus kembali banyak belajar dari orang tua dan kaka-kaka senior serta sesepuh. Kita perlu banyak berguru nasehat pada mereka yang sudah sesepuh. Semoga nasehat, didikan dan binaan mereka bisa membentuk kita kembali menjadi pribadi-pribadi yang dewasa. Pribadi yang dewasa tidak hanya dalam hal umur tetapi juga tentang cara berpikir, cara bersikap, cara berkomunikasi dan cara hidup kita untuk memikul tanggungjawab hidup kita pada kehidupan selanjutannya.
Penulis : Ferdinandus Bamulki, Ketua Yayasan Bina Bintang Cahaya Kasih
