Selami Kearifan Lokal Dalam Pengabdian

0
IMG20200130125642

Sebagai Negara kepulauan, Indonesia tentu kaya dengan keaneka ragaman budaya. Begitu banyaknya kebudayaan itu sehingga tak semuanya dapat diselami. Mengenal dan mendalami kebudayaan suku lain merupakan suatu pengalaman berharga. Apa lagi jika melakukan pekerjaan utama kita sambil mengenal keeksotisan budaya suatu suku.

Apa yang dilakukan seorang ibu guru yang tampak sederhana ini salah satu contohnya. Perempuan cantik yang kini mengajar di SD Inpres Aboding memiliki ceritanya tersendiri. Siti Hartinah Munthe,ST; demikian nama lengkap ibu guru ini. Ia datang bersama rekan-rekan seangkatan PM19 (Pengajar Muda Angkatan ke 19) dari ribuan kilo meter sebelah barat nusantara. Mereka dikirim oleh Yayasan Indonesia Mengajar. Munthe sendiri berasal dari Sumatera Utara namun lahir dan besar di negeri Serambi Mekkah, Aceh.

Yah, ia meninggalkan kemapanan demi sebuah pengabdian. Hal itu terbukti dengan pekerjaan sebelumnya di Telkom yang area kerjanya fokus di Papua Barat. Dari sisi pendapatan, bekerja di Telkom tentunya melebihi penghasilan seorang guru. Namun justru ia menabrak dinding kenyamanan tersebut demi mencerdaskan anak negeri. Kini Alumna Universitas Telkom Bandung ini berada dan mengabdi di negeri Aplim Apom.

Saat penulis bertemu dengannya dan bertanya mengapa memilih Pegunungan Bintang, Papua?

Ia menuturkan alasanya: mengenal daerah lain merupakan suatu anugerah. Sebab tidak semua orang mengalaminya. Sejak masuk dalam lokasi pembinaan, saya langsung mengatakan dengan yakin bahwa tempat pengabdian yang tepat bagi saya adalah Pegunungan Bintang. “alhamdullilah, Alloh mengabulkan doa dan harapan saya” ujarnya dengan wajah berseri.

Ketika ditanya apa pengalaman unik yang ditorehkan selama di Aboding tempatnya mengabdi?

Munte membagikan pengalamanya “ini pengalaman yang sebelumnya tak saya bayangkan. Berpikir pun tak sempat. Berjalan bersama seorang mama ke ladang sayur. Kami menuruni bukit, menyusuri lereng dan sampai di kebun. Ya ampuunnn… jauh amat. Capek dan melelahkan. Keringat keluar bagaikan air terjun…. Saya dan mama memanen sayur bersama. Mengisinya di men (bhs.ngalum : noken/tas tradisional, dirajut dari serat pohon pilihan). Kembali ke rumah, saya masih masak sayur sendiri” urainya mengenang kisah uniknya.

Ia menambahkan “ Saya sering melakukannya bersama mama yang saya jadikan pengganti mama saya di sini. Dari pengalaman ini saya belajar bersabar. Saya menghargai seikat sayur, yang pasti datangnya dari jauh dan tak mudah membawanya”. Mengenal cara hidup masyarakat Ngalum. Benar-benar unik. Sebuah pengalaman yang menjadikan kamus hidup saya semakin berwarna”tutur Titien (demikian nama panggilannya) santai.

Kembali kepada tugas utama, ia mengatakan semangat anak-anak untuk belajar tinggi. Namun sayangnya sarana pra sarana belum memadai. Yang kami miliki hanya perpustakaan mini. Koleksinya pun masih terbatas. Tenaga guru minim. Secara fisik, gedung sekolah kurang mendukung aktivitas belajar mengajar. Pasalnya pada beberapa bagian gedung miring, rusak ringan dan reot. Semoga dinas dapat memperhatikan hal-hal ini, imbuhnya menambahkan.

Mengunjungi rumah warga adalah suatu rutinitas baginya. Di sini saya mendekatkan diri dengan warga. Di saat ini pula saya mengenal kearifan lokal urai Munthe. Tak banyak iven budaya dilaksanakan, seperti tarian misalnya. Namun kearifan lokal tak hanya sebatas tarian saja. Yah, tak ada kelenturan olah tubuh, lompatan kaki, lengkingan suara bertautan dan seiring dengan tabuhan tifa menyatu dalam gema kehidupan sebagaimana dilakukan warga dalam beberapa iven seni selama ini.

Saya menyadari bahwasannya kearifan lokal tak hanya tarian. Melihat, merasakan dan melakukan sendiri tata cara hidup warga lokal merupakan pengetahuan kearifan lokal itu sendiri. Darinya saya belajar nilai kehidupan yang tak terselami tentunya jika saya tak berperan di dalamnya, jelas Titien.

Tampaknya kunjungan yang ia lakukan tak sekedar jalan-jalan biasa. “kadang ada murid yang tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Saya kunjungi rumah murid tersebut. Melihat dan mengetahui sebab ketidakhadiran anak itu” tutur Munthe. “Pernah ada yang tidak masuk sekolah hanya karena makan ewen di Aliklop” tambah Munthe sembari tertawa.

“Meski jalan menuju kampung Aliklop disuguhi pemandangan yang mengundang decak kagum, saya tetap merasa kecapekkan. Tidak seperti masyarakat yang jalan santai. Yang semestinya menikmati hamparan keindahan di tengah perjalanan, saya malah sibuk mengatur pernafasan”tambahnya.

Selain itu saya mengenal orang tuanya, mengapresiasi sang anak di depan orang tua sehingga orang tua menjadi semangat dalam membimbing, membina dan menuntun anaknya, ujar Titien yang pernah bekerja di Telkom  selama beberapa bulan di area Papua Barat sebelum bergabung di PM19 ini.

Selamat mengabdi di negeri Ok, Pegunungan Bintang, ibu Munthe. Yepmum

 

Penulis : Sostenes Uropmabin

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *