Mengabdi Tanpa Tunjangan
Yermias Malyo (Dok.Sostenes Uropmabin)
GURU dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun bila kita merefleksikan lebih jauh, justru guru lah pahlawan dengan segudang tanda jasa. Guru adalah setitik dian yang menerangi samudra kegelapan. Hampir tak dapat dibayangkan kehidupan manusia saat ini dengan segala kemajuan yang dibuat jika tanpa jasa-jasa guru. Sekali pun kita menyadari pentingnya jasa guru bagi dunia pendidikan; kadang bahkan seringkali mengabaikan serta melupakan kesejahteraannya.
Berbicara soal kesejahteraan, tak jarang hak para guru ditilep bahkan tak dibayar sama sekali. Gaji guru PNS saja bisa ditilep, apa lagi honorer. Ketidakadilan seperti ini tidak hanya di daerah terpencil namun juga di perkotaan. Padahal jika kita lihat dari sisi beban kinerjanya hampir sama bahkan mungkin lebih berat para guru honorer. Siapa yang menilep? Umumnya oleh pimpinannya. Dapatkah kita bayangkan jika guru honorer yang mengabdi di daerah tertinggal, terjauh dan terisolir masih juga ditilep honornya namun setia mengabdi demi masa depan anak didiknya ?
Sebagai seorang guru, ia harus bangun pagi kira-kira jam 05.00 pagi waktu lokal. Setelah membereskan pekerjaan yang bisa ia kerjakan; ia lekas mandi dan berangkat ke sekolah. Jam 6.30 sudah ada di sekolah.
Selamat pagi anak-anak! Semua sudah lengkap atau mungkin ada yang tidak hadir? Semua hadir pak guru; jawab anak muridnya serempak.
Demikianlah rutinitas yang ia lakukan tiap harinya. Yermias Malyo, demikian nama sang guru. Guru honorer yang setia di Tanime, tatkala teman yang lain tak berada di tempat tugas
Bapak yang bersahaja ini tinggal di Tanime. Sebuah kampung yang terletak di pertengahan distrik Bime dan distrik Epomek, Kabupaten Pegunungan Bintang. Untuk mencapai Tanime dari distrik Epomek membutuhkan waktu tiga hari berjalan kaki. Tanime diapit oleh gunung pada semua sisi.
Kondisi daerah sulit karena terisolir demikian tentu saja memberikan tantangan tersendiri bagi para guru. Bertahan dan mengajar di sana dengan segala keberadaannya atau meninggalkannya demi mencari alternative lain yang menjamin kehidupannya? Kehidupan di sana masih mengandalkan sistem pertanian tradisional. SD Inpres Tanime termasuk salah satu SD yang masih kurang sarana dan prasarana serta tenaga guru. Proses belajar mengajar berjalan dengan fasilitas seadanya. Dana BOS yang diterima tak mampu menanggulangi berbagai kesulitan dan kebutuhan yang diperlukan sekolah tersebut.
Berbicara tentang tenaga guru merupakan persoalan penting dan segera yang mesti diatasi. Persediaan tenaga guru jadi kebutuhan utama di Pegunungan Bintang pada umumnya dan SD Inpres Tanime khususnya. Persoalan sebenarnya adalah orang sulit bertahan di tempat seperti Tanime. Mengenai betah dan tidaknya guru di Tanime, Malyo punya pendapat sendiri “betah atau tidak kembali kepada masing-masing guru; kita tidak bisa memaksakan guru bertahan dengan kondisi Tanime yang demikian sulit”.
Saat Malyo ditanya mengapa dia tetap bertahan dan mengabdi di Tanime? “ di tempat ini lah Tuhan menetapkan saya untuk hidup dan mengabdi. Saya tetap mengabdi di sini sampai Tuhan memindahkan saya ke tempat lain suatu saat kelak.”
Rumah Dibakar
Pengabdian Yermias yang tetap bertahan di Tanime selama bertahun-tahun tak menjamin keselamatan hidupnya. Musibah menimpa dirinya. Suatu waktu rumahnya dibakar warga hanya karena salah paham. Perih memang hatinya. Sakit. Malyo mengatakan “ waktu rumah dibakar saya sedih, sakit hati, bingung dan bertanya mengapa hal ini terjadi pada saya?”. Ketika ditanya sebabnya, Yermias melanjutkan “ persoalannya hanya karena salah paham. Jadi waktu itu saya menegur anak-anak yang bermain di teras kelas dimana di kelas itu anak-anak sedang ulangan. Biar tidak mengganggu konsentrasi, saya tegur secara baik tetapi tak digubris anak-anak tersebut. Karena tidak didengar saya mengambil balok dan memukul tiang bangunan sekolah biar mereka takut dan bisa pergi. Saya berhasil mengusir mereka. Tetapi mereka bilang pada masyarakat bahwa Pak Malyo telah memukul mereka dengan balok. Dalam keadaan emosi, tanpa tanya pada saya langsung membakar rumah. Semua barang ludes dilalap si jago merah” urainya seraya menitikan air mata. Sayangnya anak-anak itu adalah alumni SD Inpres Tanime yang juga muridnya sendiri.
Lari Ke Epomek
Rasanya sia-sia ia bertahan dan mengabdi di Tanime selama ini . Ia bingung, sebenarnya siapa yang salah dalam kasus pembakaran rumah. Dirinya merasa wajar menegur orang bermain di depan kelas dimana ujian sedang berlangsung dan sama sekali tidak memukul mereka dengan cara atau alat apa pun. Tetapi mengapa ia difitnah dengan mengatakan dia telah memukul anak-anak menggunakan kayu belahan balok? Bahkan anak-anak yang memfitnahnya adalah bekas muridnya sendiri di SD Inp Tanime. Mereka berbalik memfitnahnya? Kemana kah rasa hormat mereka terhadapnya? Guru yang selalu ada bersama mereka disaat guru yang lain berada di dunia antah berantah? Sulit dicerna akal sehat.
Menyadari akan situasi yang tidak mendukungnya di Tanime, bapak Yermias “melarikan diri” ke Epomek selama enam bulan. Selama di Epomek banyak hal dilakukan. Diantaranya bantu mengajar di SD Inpres Tupuplom, Epomek jika tenaganya dibutuhkan, terlibat dalam pekerjaan kampung dan berkebun layaknya masyarakat yang lain. Selama ia tinggal di Epomek, proses belajar mengajar di Tanime terhambat. Bagaimana tidak terhambat jika tidak ada guru di sana? Kalau pun ada cuma sebentar saja mengajarnya lalu hilang ditelan bumi. Yah, jelas sekali bahwa proses belajar mengajar tak berjalan maksimal karena hanya Malyo lah guru yang betah di tempat. Jika ia disuir pastilah kondisi itu yang pasti terjadi.
Informasi soal proses belajar mengajar yang macet sudah lama ia dengar. Satu bulan sejak kepergiannya ke Epomek, situasi itu telah terjadi. Baginya cukuplah sudah pengabdian dan pengorbanan bagi Tanime. Isterinya memang berasal dari Tanime tetapi itu tidak menyelamatkan nasibnya dari kemalangan. Baginya kehidupan sekarang lebih nyaman, tenang, damai dan menyenangkan. Pasalnya tak ada bedanya bagi Malyo antara mengajar dan tidak. Nasibnya tak selalu baik. Kesejahteraan tak meningkat, pendapatan berjalan di tempat bahkan mengalami kemunduran.
Selama bekerja sebagai guru honorer, honornya tak naik-naik tetapi harga barang naik dan kebutuhan hidup meningkat. Ia bertahan hidup dengan kerja kebun. Memandang ke depan, belakang, samping kiri dan kanan yang tampak adalah gunung. Sungguh sebuah kisah pengabdian ekstra yang dipersembahkan seorang Malyo bagi negeri Aplim Apom. Tetapi miris, seorang guru honorer yang setia sekelas Yermias Malyo rumahnya dibakar warga. Sudah honornya tak seberapa, mengabdi di wilayah terisolir tetapi rumah dibakar. Karena itu bapak Malyo dan keluarga hidup di Epomek selama 7 bulan. Ia melakukan pekerjaan dengan santai. Tak sibuk lagi seperti saat mengajar dulu. Seakan lepas sudah beban yang menghimppitnya selama itu.
Kembali Ke Tanime
Kisah pilu yang dialaminya ketika rumahnya dibakar masih terngiang dalam benaknya. Tetapi kondisi di sekolah SD Inp Tanime kian morat marit. Kepala Sekolah tak mampu menanggulanginya sendiri. Guru lain tak berada di tempat. Sementara sekolah harus berjalan. Anak murid memang ke sekolah namun “tak berisi”. Kepala Sekolah mendatanginya di Epomek dan mengajaknya kembali mengajar. Dalam hati ia enggan. Tak mau. Haruskah saya kembali ke tempat dimana saya “diusir dan tak dihargai?”tanyanya dalam hati.
Namun demi menghargai, menghormati dan mengingat jasa baik pak Kepala Sekolah, Malyo pun bersedia. Ia bersama keluarga kembali ke Tanime bersama dengan Kepala Sekolah. Malyo kembali mengajar di sekolah yang separuh hidupnya dihabiskan di situ. Malyo menguraikannya sebagai berikut : bagi saya Tanime memberikan kesan kelam dalam hidup. Logikanya, saya sudah puluhan tahun hidup dan mengajar di Tanime. Warga pastinya telah kenal sepak terjang saya. Tetapi mereka tidak memandang itu semua. Lupa dalam sekejap”. “Sekali pun saya telah kembali ke sini (Tanime), itu bukan berarti bahwa saya melupakan pengalaman pahit itu” ujarnya menambahkan. Saat penulis menemuinya di distrik Epomek beberapa waktu lalu, ia menceritakan bahwa sudah 2 tahun mengabdi di Tanime sejak kembali dari Epomek.
Mengabdi Tanpa Tunjangan
Ia menyadari posisinya. Profesinya memang seorang guru. Yah, guru honorer. Ia pun tahu bahwa ada batasan-batasan yang jelas antara honorer dan PNS. Ia pun menyadarinya. Namun yang dipertanyakan Malyo adalah mengapa ia yang setia mengabdi di tempat dengan rajin tak bisa diperhatikan kesejahteraannya? Tak adakah tunjangan bagi honorer yang setia mengajar di tempat seperti dirinya? Bukankah beban mengajar antara dirinya yang honorer dengan PNS sama saja? Bahkan honorer justru lebih rajin dan setia.
Oleh karena setia mengabdi namun tak ada tunjangan, maka ia berharap pemerintah daerah dapat memperhatikan nasib honorer seperti dirinya. Malyo memberikan saran seperti berikut : Dinas Pendidikan mesti melakukan monitoring dan evaluasi menyangkut keaktifan guru di sekolah. Dengan demikian dinas dapat memperhitungkan jasa-jasa kami para honorer yang setia di lapangan. Tujuannya agar tercipta tertib administrasi, pemberian penghargaan bagi guru berprestasi, penghitungan tunjangan bagi honorer dan hukuman bagi yang tak melaksanakan tugas dengan baik” katanya menambahkan. Dengan demikian diharapkan harapan hati para honorer seperti Malyo ini dalam pemberian tunjangan diprogramkan sehingga kesejahteraannya terjamin dan semakin meningkat.
Teruslah mengabdi bagi generasi penerus Aplim Apom, Pegunungan Bintang Pak Yermias Malyo.
Penulis: Sostenes Uropmabin
