Etmuk Kamsem Laokaer, Dua Bersaudara Menjadi Berkat Atau Kutuk: Sebuah Ceritra Legenda Dari Okbape

0
IMG-20200421-WA0008

Marko Kasipdana (Dok. Pribadi)

Oleh: Marco Kasipdana)*

 

Pemikiran dasar dari legenda ini lahir dari sebuah judul Etmuk Yamisol kamsemkaer (bersaudara- kakber adik). Etmuk ini lahir dari sebuah legenda hidup yang menjadi sejarah dalam menuntun dan menentukan tujuan hidup manusia OK tepatnya di OK Bape. Sejarah bahwa ada sepasang Kakak-beradik (belum disebutkan namanya) di Bape Yamisol. Yamisol adalah muara kali antara sungai Bape yang sumber airnya dari arah Timur Kusikin dari distrik Okbape atau nama terpopuler bagi Kupel-Ngalum yakni Kower Kusikin.  Kower Kusikin yang berarti “Puncak Segala Penjuruh.” Sedangkan sungai Ya adalah sungai yang mengalir dari arah Utara di bawah kaki Gunung Apom. Menurut filosofi Okbape  “Kami Dilahirkan Dari Sini  Keluar Kesana Tetapi Kembali.” Inilah dasar pemikiran singkat dari ceritra Etmuk Legendaris ini.

Berdasarkan filosofi hidup ini, Penulis menceritrakan sebuah cerita Legendaris yang fakta secara historis masih menjadi pegangan hidup. Judul cerita Legendaris adalah : KAMSEMLAO KAER (Kakber-Adik).

Pada zaman dahulu hiduplah dua orang bersaudara ( belum sebutkan namanya) di Bape Yamisol. Adik berkakak ini punya aktivitas kesehariannya adalah bertani, berkebun, berjalan masuk hutan dan keluar hutan, mereka hidup saling berdampingan. Pondok atau tempat tinggal mereka berdua tepatnya di pinggiran kali antara Okbape dan Okya (Belum sebutkan siapa nama bapa dan ibu mereka berdua).

Pada suatu hari mereka dua berencana untuk pergi ke hilir sungai Bape sebagai  tempat berburuh, mengambil berbagai makanan baik daging-dagingan, telur hutan, ayam hutan, babi hutan dan makanan sejenisnya. Setelah menyiapkan semua persiapan dan kesiapan dalam perjanan mereka dua maka mereka dua bagi tugas.

Tugas seorang kakak( pria) adalah mencari makanan dalam bentuk daging-dagingan dengan cara tidak mengenal lelah masuk keluar hutan, masuk rimbah keluar rimbah, naik gunung turun gunung, seberangi sungai demi menghidupi penghidupan dan kehidupan mereka berdua selama ada dalam hutan berhari-hari. Sedangkan tugas adiknya (Wanita) adalah bikin pondok, menghantar alat dapur dan menghantar makanan. Selama dalam perjalanan ia ( perempuan) bikin tiga buah pondok. Pondok pertama dan kedua didirikan untuk sang kakaknya sedangkan ia sendiri menempati pondok ketiga. Ada suatu keanehan dalam pembuatan ketiga pondok tersebut, dimana pondok pertama di dirikan ditempat yang banyak terdapat semut, pondok kedua juga sama sampai di pondok ketiga. Dan pondok ini ditempati oleh ade Perempuannya dengan maksud agar kakak laki-lakinya bisa tidur bersama adik perempuanya demi memperoleh keturunan. Sebelumnya sang kak sudah memahami   maksud dari adik perempuanya bahkan sudah mengerti tetapi seolah-olah tidak mengerti karena sang kakak merasa tidak layak tidur bersama adik kandungnya sehingga seola-olah tidak mengerti perasaannya. Akhirnya sang kakak menolak untuk tidur bersamanya.

Penolakan sang kakaknya membuat hatinya sakit dan muncul sebuah rencana lain. Rencana ini tidak lain adalah sang kakaknya menjadi korban nyawa. Maka adiknya keluar rumah dan memanggil kakaknya untuk memanjat pohon karena ada kuskus diatas pohon. Ia memberi alasan seolah-olah ada kuskus diatas pohon akhirnya kakaknya percaya dan panjat pohon tersebut kemudian dia cari ternyata tidak ada Kuskus dipohon itu lalu ia turun dari atas pohon. Sang adik menyiapkan busur dan anak panah milik kakaknya hendak memanah dia. Ketika sudah sampai dekat tanah dan hendak menginjakan kaki pertama di tanah sebelum menginjaki kaki pertamanya, Ia menoleh dan memandang adiknya ternyata anak panah (betop) sudah siap sedemikian rupa sebagaimana seperti biasanya untuk membunuh kakaknya. Lalu kakaknya berkata Mengapa nasibmu seburuk ini?

Jawab adiknya  “Selama ini saya mau supaya kita dua menikah dan melahirkan keturunan sebagai Pengganti, dari pada kita berdua saja tanpa ada penerus kita. Namun engkau tidak pernah mengerti perasaan saya selama ini. Inilah akhir hidup dan perkataan terakhir anda. Saya harus bunuh anda sebagai solusi terbaik mengobati batin dan sakit hatiku….. Berkata demikian lepaslah anak pananya menembusi sang kakaknya dengan Betop menembus dadahnya. Sambil air mata linang di pipihnya…menarik Betop dari badan sang kakak hingga mengatupkan mata.

Sesudah melihat kakaknya menghentikan denyut nadi, sang adiknya mengambil semua peralatan hiasan termasuk kepalah sang kakaknya di potong dan badannya ditinggalkan disitu lalu tutup dengan batu dan kayu.  Kemudian ia pergi meninggalkan tempat itu menuju sebuah gunung. Sesampai di gunung yang dituju, ia menggantungkan kepalah dari sang kakak diatasgunung itu. Gunung itu bernama Gunung EM. EM artinya “Kutuk Diatas Berkat Atau Sebaliknya Berkat Diatas Kutuk”.(Sampai hari ini batu penindis badan, darah yang tertumpah berhamburan, kepala yang gantung diatas gunung EM masih ada sampai hari ini dan masih terus ada sampai pada akhir zaman).

Berikut Penulis akan menceritakan sedikit gambaran tentang gunung EM. EM artinya dalam cerita diatas adalah kutuk diatas berkat. Hampir sebagian sudah tahu atau akan tahu jika mengunjungi wilayah Ok Bape bahkan cerita legenda ini sudah menjadi bagian dari tradisi Orang Ok Bape. Sekarang sesudah anda membaca tulisan ini anda tauh, dengar orang lain bahkan lihat kalau gunung EM itu adalah sebuah gunung yang terletak di Okbape yang berbatasan langsung dengan Kab. Yahukimo tepatnya di Kampung Akmer ( Anunding).

Nyata bahwa  asal-usulnya dan sejarahnya di percaya oleh masyarakat setempat sebagai kebenaran suatu legenda sehingga Gunung EM adalah bagian dari gunung terpenting bagi sistem kehidupan sosial yang masih di yakini sebagai sebuah fakta kebenaran yang dijaga dan diceritrakan oleh nenek moyang. Karena mengandung nilai dan filosofi hidup yang masih mempengaruhi seluruh seluk beluk makhluk hidup termasuk manusia. Fakta kebenaran dari ceritra legenda ini mempengaruhi seluruh system kehidupan sosial yang sangat berperan menetukan keluarga, pekerjaan, cita-cita dan generasi hingga kini. Nilai hidup dari ceritra legenda ini menjadi pedoman bagi Suku dan keluarga manusia Ok di Ok Bape. Nilai kesakralan hukum yang terdapat  dalam ceritra ini adalah BERKAT atau KUTUK. Dengan demikian, siapa saja yang salah menentukan langkah awal maka seluruh seisi rumah dan keluarga akan berhadapkan dengan dengan hukum Berkat atau Kutuk dan Gunung EM menjadi symbol kutuk dari Gunung EM yang melegendaris hingga kini.

Cerita ini merupakan legenda yang menceritakan tentang sebuah fakta seorang adik yang ingin menikahi kakaknya namun, kakak tidak terima sehingga adik membunuh kakaknya demi kebutuhan mempertahankan keturunan.

Menjadi pelajaran terpenting bagi kita generasi saat ini adalah bagaimana sikap hati dan tindakan nyata kita untuk Okbape dan seluruh Manusia OK adalah bagaimana mempertahankan dan melanjutkan kehidupan dengan beranak cucu ( keturunan). Karena sebagai Manusia OK di seluruh wilayah Lelulur Aplim-Apom keturunanlah yang menjadi ahli waris dalam membelah tanah, adat, dan budaya Aplim-Apom. Walapun kita sudah masuk dalam sebuah dunia baru dengan masing-masing mengguluti profesinya misalnya sebagai pekerja kemanusiaan (tenaga kesehatan, tenaga pengajar, politikus, pebisnis dan biroktater – kepala distrik, staf distrik atau kontraktor jika tidak kerja dengan hati dan tidak mengedepankan kebenaran, keadilan dan kejujuran bahkan ketidakterbukaan maka hukum rimbah dan karma dari pada EM yang terdapat dalam ceritra ini akan selalu menyertai kita. Khususnya bagi kita sebagai anak putra daerah di Leluhur Aplim-Apom baik dari sisi negatif KUTUK atau Berkat jika kita mengedepankan kebenaran, keterbukaan dengan HATI.

Dari ceritra ini menunjukan sifat Orang Aplim-Apom yang selalu mengedepankan hati sebagai pintu Keselamatan. Seandainya sang kakak mengerti dan memahami maksud baik dari sang adiknya mungkin akan lain ceritanya. Tetapi yang jelas adalah hati menjadi pintu” Memanusiakan Manusia OK”. Karena itu jika kita mengaku diri sebagai manusia Aplim-Apom tetapi belum mengedepankan HATI sebagai dasar kebijakan kita dalam menentukan pilihan hidup dalam berelasi dengan sesama, alam leluhur dan Atangki,  maka sebenarnya kita bukanlah manusia Ok di tanah leluhur Pegunungan Bintang.

Maksud inilah saya mau sampaikan  bahwa “Anda belum ke Okbape Anda belum tinggal di Pegunungan Bintang. Walaupun Anda adalah orang Pegunungan Bintang,  anda dan saya dari marga Uropmabin, Kasipdana, Kasipmabin, Kakyarmabin, Sitokdana, Kaladana, Mimin, Asemki, Uropdana, Uropkulin, Yeledana, Kunka, Ayoka, Walam, Kalakmabin, Tumtikan, Binki, Kimki, Wabolngo, Trukna, Dipur, Kaleyala, Simindirki, Kipka, Sipka, Deal, Oktemka, Kaladana, Singpanki, Singleki, Bitdana, Tapyor, Sipyan, Opki, Ningmabin, Mirin, Tengket, Sasaka, Ningdana, Katpum, Bamulki, Delka, Yawalka, Tamaka, Kamiki, Dipir, Wisal dan beberapa sub marga lainya.

Jika anda mau mengalami roh penyerta maka ke Okbape jika anda tidak ke Okbape anda rugi masa depanmu dan generasimu.  Semoga bermanfaat….!

 

Penulis adalah Mahasiswa Asal Ok Bape Pegunungan Bintang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *