Keterasingan Diatas Tanah Leluhurnya Sendiri

0
IMG-20200404-WA0003

Aplimyelankaser A. Asemki (Dok. Pribadi)

Oleh: Aplimyelankaser A. Asemki)*

Menurut Karl Marx, keterasingan dalam pekerjaan adalah dasar segala keterasingan manusia, sebab pekerjaan merupakan tindakan manusia yang paling dasar. Dalam pekerjaan, manusia membuat dirinya menjadi nyata. Pekerjaan sebagai sarana manusia untuk menciptakan dirinya sendiri. Keterasingan dalam pekerjaan menjadi sarana perealisasian diri manusia, sehingga mestinya bekerja harus menggembirakan. Dengan bekerja dapat memberikan kepuasan. Namun dalam kenyataannya yang sering terjadi adalah kebalikannya. Setiap orang terlebih khusus bagi para buruh industri dalam sistem kapitalis, pekerjaan tidak merealisasikan hakikat mereka, melainkan mengasingkan diri mereka.

Mengapa demikian? Jawaban Karl Marx dalam sistem kapitalisme, orang tidak bekerja secara bebas dan universal, melainkan semata-mata terpaksa sebagai syarat untuk bisa hidup. Jadi pekerjaan tidak mengembangkan, melainkan mengasingkan manusia, baik dirinya sendiri maupun dari orang lain. Sebab hasil pekerjaan terasing darinya, tindakan bekerja sendiripun kehilangan arti bagi si pekerja. Bukannya menjadi pelaksanaan hakikat yang bebas dan universal. Pekerjaan malah menjadi pekerjaan paksaan. Pekerja baru ada pada dirinya sendiri apabila ia tidak bekerja, ia berada diluar dirinya sendiri. Begitu ia tidak terpaksa, ia akan lari dari pekerjaannya seperti dari penyakit sampar, karena ia tidak dapat bekerja menurut hasrat dan dorongan batin, melainkan harus menerima pekerjaan apa saja yang ditawarkan oleh pemilik pabrik (Franz Magnis Suseno, 1999).

Berangkat dari apa yang diuraikan oleh salah satu filosof, sosiolog dan ahli ekonomi terkemuka pada abad ke-19 di atas relevan dengan situasi dan kondisi tanah leluhur Aplim-Apom Pegunungan Bintang saat ini. Mengasingkan kaum proletariat  ditangan kaum feodal (borjuis) terus terjadi akhir-akhir ini. Kaum feodal mengabaikan masyarakat akar rumput yang kian memojokan arah pergerakan dalam keberlangsungan hidup mereka. Adakah kasihmu kepada mereka yang memberikan budihnya? Sungguh amat keterlaluan caramu mengasingkan orang tua dan andaitolanmu sendiri bahkan tanah tumpah darahmu. Bertobatlah sebab ambang kehancuran eksistensimu kian mendekat.

Mereka adalah Banbanbakon Sibilki bukanlah untuk menganaktirikan dan memanfaatkan mereka saat momen tertentu seperti pesta makan bersama untuk mengeyangkan perut. Harus  menghormati keeberadaan mereka seutuhnya bukan untuk memandang sebelah dan menjadi sarana pendukung bagi kaum feodal. Harapan, kerinduan, dan kecemasan mereka adalah suatu harapan, kerinduhan dan kecemasan bersama. Untuk itu, menjadi harapan dan kerinduan kaum proletariat dari Banbanbakon adalah menghormati dan menerima mereka selayaknya manusia lain di dunia. Rindu akan damai, kesejahteraan, sukacita bersama, kebebasan, kebersamaan, mengasihi, saling menerima, menyayangi satu di antara mereka. Inilah yang diharapkan rakyat kecil.

Manusia Aplim Apom di Pegunungan Bintang pada dasarnya senantiasa mendambakan kedamaian dan keadilan yang hakiki. Damai dan keadilan seperti apa yang mereka dambakan oleh kaum proletariat Aplim Apom Sibilki? Jawabannya sangatlah kompleks untuk itu silahkan para pemegang kekuasaan dan pihak-pihak terkait memberikan perspektifnya masing-masing. Menurut hemat saya selama ini yang membuat kedamaian hampir sirna ialah tidak ada kesepahaman bersama dalam bekerja, tidak ada keberpihakkan pimpinan terhadap rakyat kecil, mengambil keputusan secara sepihak, tidak ada kerja sama, tidak mau menerima kritikan dan saran yang bersifat membangun. Selalu mengutamakan kepentingan para kaum feodal dan kaki tangannya. Mestinya pengutamaan kepentingan bersama untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bersama.

Nup Yuma Abenong Sibil Kaer (kami semua pemilik negeri ini) maka tidak boleh mengorbankan rakyat kecil yang tidak berdosa demi kepentingannya sendiri. Dengarkanlah suara tangis dan penderitaan anak negeri Aplim-Apom yang sedang berada di bawah perbukitan, pepohonan, hutan belantara, kaki gunung dan goa batu. Akankah itu menjadi habitat mereka untuk selamanya? sangat sedih melihat situasi ini. Kami hanya bergumam seribu bahasa, sebab kami tak berdaya untuk mengatasai badai dalam dapur dunia ini.

Kebebasan yang kami harapkan tak tersentu sedikit pun hanya ilusi belaka. Segera bebaskan kami dari tima panas dan kehadiran serdadu-serdadu bertopeng hijau. Kami sangat takut kehadiran mereka dalam kampung yang terpencil ini. Tidak layak menghadirkan para militer di tengah masyarakat dengan jumlah sangat banyak. Hal itu membuat rakyat setempat menjadi trauma serta gangguan psikis dan hidup dalam ketakutan. Wahai pemilik modal dengarkanlah apa yang menjadi tuntutan mereka saat ini. Menjawab harapan dan kerinduan mereka wajib  dilakukan karena merekalah penjaga dapur kita bersama dari dulu, sekarang hingga kedepan.

Janganlah hiraukan suara mereka sebab mereka juga adalah manusia yang wajib dihormati seperti dirimu sendiri. Mengapa saya harus memberikan interpreasi demikian sebab “suara rakyat adalah suara Tuhan” (Vox Populi Vox Dei). Artinya sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang mulia, suara mereka harus didengarkan secara seksama entah itu baik, buruk diterima kemudian memberikan solusi terbaik yang diharapkan bersama. Saat ini kebebasan mereka sebagai manusia diterasingkan oleh para kaum berbodi baja. Anak negeri sendiri menyerahkan rakyat akar rumput ke tangan baja, lantas apa semua ini terjadi. Apakah takut tersaingi dalam dunia politik, apakah takut kehilangan harta benda, apakah takut kehilangan rasa kenyamanan diri, atau apapun bentuknya kami rakyat kecil sangat terasing dengan semua itu.

Waktu istirahat rakyat pun tersita karena kehadiran kaki tangan Negara dan kaum borjuis. Iwan Fals dalam lagunya yang berjudul “Surat buat wakil rakyat” marilah kita simak dan refleksikan bersama setiap lirik dalam baitnya; dikantong safarimu kami titipkan, masa depan kami dan negeri ini dari sabang sampai Merauke, saudara dipilih bukan dilotre, meski kami tak kenal siapa saudara, kami tak sudi memilih para juara, juara diam, juara he’he juara ha ha ha…. Bagi rakyat Indonesia, hampir semua mengenal lirik dari album berjudul wakil rakyat ini. Lagu yang dirilis tahun 1987 itu, menjadi salah satu tembang wajib yang dibawahkan Iwan Fals disetiap konsernya. Sebenarnya, lagu ini sangat sederhana dibanding beberapa lagu lainnya di album yang meledak jelang pemilu ke-4 di masa orde baru. Namun, dibalik kesederhanaan lagu ini, terdapat lirik yang sangat dalam, bahkan sangat menyayat bagi yang mendengarnya. Terutama dibait terakhir yang mencerminkan bobroknya wakil rakyat kita yang tidak berubah sejak 25 tahun lalu hingga kini. Sebagian lirik yang mencerminkan itu ialah seperti berikut; untukmu kamu yang duduk sambil diskusi, untukmu yang biasa bersafari disana, di gedung DPR,dihati dan lidahmu kami beraharap, suara kami tolong dengar lalu sampaikan, jangan ragu, jangan takut karang menghadang, bicaralah yang lantang jangan hanya diam, wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu siding soal rakyat, wakil rakyat bukan paduan suara, hanya tahu nyanyian lagu setuju.

Mendengar lirik lagu Iwan Fals ini kadang menyakitkan telinga, pikiran dan perasan bagi kaum feodal dkk. Sekalipun seperti itu, ya mau bilang apa lagi terima saja sebagai tugas pokok wakil rakyat. Wakil rakyat yang ditekankan disini adalah untuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), tetapi tidak menutup kemungkinan untuk semua pihak yang dipilih oleh rakyat. Entah eksekutif atau legislatif sendiri. Kedua lembaga ini tidak boleh jalan sendiri, harus ada kerja sama untuk dalam memecahkan berbagai persoalan daerah. Kami rakyat kecil tidak tahu tata cara kerja birokrasi, yang kami tahu adalah mereka bekerja untuk membangun manusia dan daerah secara bersama-sama. Kritikan pedas yang disyairkan melalui lirik lagu Iwan Fals, sungguh sangat amat membantu kami kaum tertindak dan tak bersuara untuk menyuarakannya.

Kami para kaum proletariat menginginkan keadilan, kebebasan dan kedamaian. Ketiga hal itu akan mewujudkan saling menerima, menghormati, menyayangi sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang sama dan satu. Untuk itu, ketiga unsur penting di daerah, yaitu lembaga adat, pemerintah dan gereja harus bersatu untuk menyelamatkan tanah leluhur Aplim Apom yang kita cintai ini.  (Ubi Caritas Et Amor Deus Ibi Est). Yepmum

 

Penulis adalah Mantan Ketua Asrama Mahasiswa Katolik Tauboria Tahun 2013-2015 dan Anggota  Aplim Apom Research Group (AARG).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *