Pemda Pegubin Diminta Sediakan Tempat Bagi Korban Kebakaran

0
70835379_794458387656635_640687134902059008_n

Puing Puing di Pertigaan Okpol

OKSIBIL, TRIBUN PAPUA.ID—Sudah Lima hari keluarga Korban kebakaran mengungsi di sejumlah tempat di Oksibil, antara lain Pos Koramil, Aula Koramil, dan Mesjid Nur Oksibil. Korban kebakaran  mencapai 200 lebih orang yang kini berada di Posko pengungsian, menunggu kepastian resmi dari Pemerintah daerah kabupaten Pegunungan Bintang.

Setelah ruko dan kiosnya dibakar massa, warga masyarakat yang berpropesi sebagai pedagang di sepanjang jalan Balusu, Okpol maupun arah Bank Papua Oksibil kini hanya berdiam di Posko pengungisan. Hanya berbekal pakaian apa adanya yang ada di badan sewaktu keluar dari Baraknya usaha dagangnya.

Misalnya Masyur Saleh. Masyur Saleh merupakan  salah satu korban  kepada wartawan menuturkan, saat ini kami sedang mengungsi di posko pengungsian pos koramil Oksibil tanpa membawah apapun yang ada hanya pakaian di badan dan sudah 5 hari kami tinggal tanpa apapun.

Ia mengatakan Kami berharap pemerintah daerah segerah mencarikan solusi bagi kami agar kami juga bisa tinggal dengan tenang dan melakukan aktifitas kami sebagaimana mestinya.

Saleh mengatakan “Saya lihat samapai saat ini pemerintah tidak sepenuh hati memperhatikan kami, pada hal kami ini juga baian dari masyarakat pegubin yang nota benenya menghidupkan perekonomian di daerah ini,  terutama ibu kota kabupaten dengan demikian saya harap pemerintah dengan jelih melihat kami ini”ucapnya .

Selain itu,  Haji Mansyur juga menuturkan samapi saat ini sebagaian dari kami yang korban sudah menginggalkan kota oksibil dan ke kampung halaman, itu semua karena keterlambatan dalam menangani musibah ini, untuk itu saya berpesan jika pemerintah merasa bahwa kami juga bagian dari masyarakatnya maka tolong mempercepat penangannya agar kami tidak membebankan keluarga besar TNI yang ada di koramil ini, ucapnya.

Sementara itu,  Hironimus Bamulki sekalu tokoh adat di wilayah distrik oksibil menuturkan, saya juga menyesal dengan lambatnya pemerintah untuk menangani korban di oksibil ini, pada hal korban ini adalah bagian dari lumbungnya pemerintah sebab mereka inilah yang menggerakan rodah perekonomian di daerah ini.

Ia mengatakan “warga ini menghidupkan kota Oksibil. Karena mereka maka kami bisa beli beras, garam dan pakaian untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan demikian saya sebagai orang tua dari para korban saya menyesal dengan lambatnya pemerintah dalam mengangani hal ini”ucapnya.

Ia juga menambahkan saya paham kejadian ini terjadi karena bukan disuruh oleh masyarakat tetapi kejaian ini terjadi karena murni di pengaruhi minuman keras tetapi korban adalah masyarakat kita sehingga perlu memberikan perhatian penuh kepada mereka terutama tempat tinggal dan tempat usaha mereka, pungkasnya.

 

Reporter         : Melki P. Uropmabin

Penulis            : Melki P. Uropmabin

Editor              : Fransiskus Kasipmabin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *