Bara Oksibil# Tokoh Pegubin: Massa Bakar Ruko Karena Ketimpangan Sosial Ekonomi

0
FB_IMG_1569809923958

Pieter Kalakmabin (Foto: Dok Pribadi/TP)

OKSIBIL, TRIBUN PAPUA.ID— Pemerintah Pegunungan Bintang pada tanggal 17 Agustus 2019 lalu secara resmi  musnahkan Botol Miras usai Upacara bendera HUT RI ke-74 lalu di Kantor Bupati Kukding Okpol.

Pemusnaan botol miras pada moment 17 Agustus 2019 merupakan sebuah momentum dimana semua komponen masyarakat tolak adanya peredaran Miras di daerah Pegunungan Bintang. Namun fakta di lapangan berkata lain, satu bulan kemudian tepatnya pada tanggal 26 September 2019 terjadi pembakaran ruko dan kios di Pertigaan Okpol, dan merambat ke ruko dan kios lainnya sepanjang Jalan Balusu, Okpol maupun jalan menuju Bank Papua Oksibil.

Pelaku pembakaran indikasi kuat dipengaruhi oleh minuman keras. Peredaran miras paska penandatangan fakta integritas tolak miras di kantor bupati Pegunungan Bintang bulan lalu semakin merajalela, jual beli miras oleh pihak pihak tertentu semakin jelas. Namun pihak berwenang tidak gubiris atas fakta ini.

Pemerintah secara resmi menolak adanya peredaran miras, namun secara teknis pelaksanaan pengawasan belum dirinci dengan baik, akibatnya Miras merajalela di mana mana. Tanpa pengawasan yang jelas.

Untuk itu, bukan mempersalahkan Orang Mabuk tetapi intropeksi diri Orang melakukan Miras di Oksibil. Kemudian evaluasi terkait cara penanganan peredaan Miras di wilayah Pegunungan Bintang.

Hal itu dikatakan Pieter Kalakmabin, salah satu Tokoh Masyarakat Pegunungan Bintang kepada media ini, Jumat, 27 September 2019.

Ia menjelaskan evaluasi cara penanganan oleh pemerintah, TNI/POLRI yang bertugas di Pegunungan Bintang. Minuman keras siapa yang membawa ke Oksibil, sebab satu satunya transportasi yang bisa terhubung di Wilayah Pegubin adalah menggunakan Pesawat Udara, tegasnya.

Pieter Kalakmabin, yang juga Anggota DRPD selama tiga periode ini mengkritisi kinerja pemerintah yang kurang disiplin, kurang tegas dalam menyusun petunjuk teknis pengawasan peredaran miras di daerah ini.

Kalakmabin mengatakan “Jangan Persalahkan orang mabuk, saya sarankan untuk Intropeksi atas kejadian ini, sebab musabab orang miras dan mabuk hingga terjadinya kebakaran mengakibatkan jatuhnya korban harta benda. Baru dua Bulan lalu pencanangan pemberantasan miras di Oksibilpd momen HUT RI ke 74, tapi bisa terjadi” ucapnya.

Ia menjelaskan pemerintah juga harus pekah terhadap akar persoalan yang terjadi`, bukan akibatnya, harus cari tahu penyebabnya. Salah satu faktor penyebab warga di Oksibil dominan melakukan aktifitas penyakit sosial seperti Jual beli togel, Putaran, konsumsi miras, pencurian di mana mana adalah kentimpangan ekonomi.

Pieter Kalakmabin mengatakan ketimpangan ekonomi antar kelompok. Baik kelas bawah, menengah dan atas. Antara pendukung pemerintah Costan Deki antara masyarakat yang tidak tau apa apa.

 

Penulis: Fransiskus Kasipmabin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *