Apa Kabar Pendidikan Di Negeriku Pegunungan Bintang?

0
IMG-20200724-WA0006

Hilarius Lepki, Dok Pribadi Untuk Tribunpapua.id

Oleh Hilarius Lepki

TRIBUNPAPUA.ID. Tulisan ini berawal dari realita dan Harapan situasi pendidikan di Pegunungan Bintang. Pandangan awal bahwa pembangunan pendidikan dasar harus dijadikan program prioritas utama dan yang pertama pemerintah daerah di Kabupaten Pegunungan Bintang.  Dimana telah menunjukan sebagian besar pendidikan dasar kita tidak memenuhi standar. Hal ini mengundang setiap kita untuk mencari solusi bersama terlepas dari kepentingan poltik pribadi dan kelompok dengan Perlu bangun pemahaman bahwa bangun pendidikan dasar samadengan memperbaiki kualitas hidup manusia sejak dini. Selain itu, memberikan nilai-nilai budaya positif pada generasi bangsa.

Bicara pendidikan tidak bisa terlepas dari faktor utama sebagai creator way yakni guru. Guru merupakan tolak ukur perkembangan dan kemajuan pada satuan pendidikan tertentu. Guru selalu tampil sebagai pemberi jalan bagi peserta didik agar dengan bebas mengembangkan semua potensi diri dan talenta yang dimiliki setiap individu manusia. Sebagaimana proses pendidikan selalu dimaknai sebagai satu aktivitas dialog antara orang yang lebih dewasa, orang yang berpengetahuan lebih bersama orang yang belum dewasa yang membutuhkan bimbingan dan didikan demi menemukan jati diri pribadi sebagai manusia  yang  luar biasa.

Guru selalu berperan  sebagai transfer ilmu pengetahuan, tetapi sekaligus sebagai pengganti orang tua yang cukup menguras pikiran bagi anak didiknya. Banyak nilai pendidikan positif yang tidak dimiliki oleh orang tua justru guru jalan terakhirnya. Sudah jelas guru merupakan pondasi  bangsa, tetapi sangat  jarang mendapat penghormatan atas jasanya. Penghormatan tersebut adalah material dan moril dari semua pihak. Hal ini berlaku bagi seluruh daerah di Papua termasuk Pegunungan Bintang dalam kesetiaanya.

Guru di kabupaten pegunungan bintang  sudah setia memperjuangkan martabat manusia Kabupaten Pegunungan Bintang, tetapi tidak banyak orang yang melihatnya. Akibat posisi guru tidak diprioritaskan dalam perencanaan pendidikan  di Kabupaten Pegunungan Bintang  selama ini adalah rendahnya kualitas lulusan, semakin meningkatnya angka pengangguran dan rendahnya mutu penyelenggaraan pendidikan. Rata-rata kualifikasi mutu pendidikan dasar di Kabupaten Pegunungan Bintang  sangat rendah dibanding daerah lain.  Dikarenakan sejak awal tidak mempersiapkan guru berkualitas handalan melalui proses pendidikan yang benar dan melalui Perguruan Tinggi pilihan yang berkualitas pula.

Hemat penulis  dalam lima  tahun terakhir telah menemukan lemahnya kualitas lulusan dan lama rata-rata waktu di bangku pendidikan SMP,SMA dan SMK serta minimnya indeks pembangunan Sumber Daya Manusia Kabupaten Pegunungan Bintang  yang selalu mendapat rangking pertama terendah di Papua adalah akibat dari tidak membangun pendidikan dasar (SD, SMP dan SMA/SMK) secara benar dan Guru sebagai penopang kemajuan Pendidikan itu sendiri.

Sampai detik ini belum ada sosok pemimpin daerah (Bupati) yang memberikan perhatian serius dan fokus untuk membangun pendidikan, memperbaikinya sebagai dapur utama pencetak kehandalan kualitas sumber daya manusia Kabupaten Pegunungan Bintang. Sehingga saat ini sebagai penerus Kabupaten Pegunungan Bintang,  Sebagian besar dari kita berpikir besar untuk membangun pendidikan  tetapi tidak pernah duduk lalu lihat cela- cela besar yang sangat dalam itu adalah rapuhnya pendidikan dasar sebagai pondasi utama. Kita perlu banyak belajar dari kabupaten-kabupaten lain  yang pendidikan dasarnya kuat.

Karena dimana-mana orang hebat presiden, gubernur ,profesor selalu dipersiapkan dari pendidikan dasar yang baik, benar dan dari akar budaya yang kuat. Jadi, masalah terbesar yang tidak disadari sebagian besar penerus Kabupaten Pegunungan Bintang  adalah rapuhnya pendidikan dasar dan kader.

Atas kerapuhan pendidikan dasar di Kabupaten Pegunungan  Bintang sangat penting  dievaluasi total dan dibuat solusi. Jumlah anggaran tahunan pembangunan pendidikan dasar penting dinaikan berdasarkan pemetaan masalah setiap distrik. Membangun pendidikan dasar yang dimaksud penulis diatas  adalah memperbanyak tenaga guru di setiap distrik, Sehingga sekolah ini dapat diakui sebagai pondasi utama.  Disana akan disediakan kader-kader pemimpin masa depan. Karena itu sebenarnya guru di setiap distrik atau dimana ada sekolah pasti ada guru jadi tinggal tambakan tenaga saja.

Hal ini dilihat dari minimnya kualitas Sumber Daya Manusia Pegunungan Bintang selama belasan tahun ini hanya karena satu alasan saja yakni pendidikan dasar tidak dijadikan program utama dengan kesungguhan kerja pemerintah di dalam mencerdaskan anak bangsa di Kabupaten Pegunungan Bintang. Sampai sekarang belum ada satu pemimpin Pegunungan Bintang yang serius melihat kondisi rapuhnya pendidikan dasar yang tanpa disadari materil dan moril masa depan.

Dengan alasan dasar bahwa, Salah satu tujuan utama hadirnya kabupaten pegunungan bintang adalah “Hendak Menyelamatkan Manusia Pegunungan Bintang Dengan Cara Penyelamatan Pertama dan Utama Bagi Orang Pegunungan Bintang Adalah Penyelenggaraan Pendidikan Dasar Secara Baik dan Benar”.

Penulis mengapresiasi Pemerintah Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang telah melakukan  pengiriman calon guru ke berbagai perguruan tinggi di Indonesia terlebih di provinsi Papua dan Papua Barat  tetapi tidak direncanakan secara matang. Sehingga gagal, ada juga yang berasil  tetapi pemerintah daerah perluh membuka  lapangan kerja supaya  ada pimpinan- pimpinan yang fokus di bidang pendidikan.

Harapan Penulis juga bahwa semoga sepuluh tahun mendatang   ada perubahan pendidikan di kabupaten pegunungan bintang. Dengan perhatian utama di bagian pendidikan dasar setiap wilayah distrik dengan perencanaan proses kelanjutan Perguruan Tinggi agar tenaga siap diapakai. Tidak lagi menunggu tes CPNS atau Honor agar Pegunungan Bintang bisa bersaing dengan Kabupaten lain di Papua dan Indonesia pada umumnya. Semoga!

 

Penulis: Hilarius Lepki, pelajar di St. Anthonius Padua Sentani, asal Kabupaten Pegunungan Bintang

Editor: Erick Bitdana

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *