Potret Pendidikan Pegunungan Bintang, Bangun Infrastruktur Sekolah Tanpa Guru
Anak Anak Tarup melatih membaca di Depan Kelas, Dok. Krsitian Talmomkesan Untuk Tribunpapua.id
Oleh Demianus K. Kalakmabin
TRIBUNPAPUA.ID—Pendidikan merupakan jalanan memanusiakan manusia. Dengan Pendidikan, manusia bisa mengenal sesuatu yang belum tahu sebelumnya. Pendidikan pula bisa melihat dunia dan mengerti sesuatu dari ketidak tahuan.
Pendidikan Juga dikatakan sebagai pabrik manusia yang dapat menciptakan manusia itu sendiri. Melalui pabrik ini mampu menciptakan robotik manusia yang berbudi pekerti sehingga berperan dalam semua aspek pembangunan di suatu bangsa dengan konsep yang rasional.
Pada dasarnya indikator maju-mundurnya pembangunan suatu bangsa atau daerah ditentukan oleh kualitas dan kuantitas manusia berdasarkan proses pendidikan dengan didukung oleh sistem pendidikan serta fasilitas yang memadai dan juga tenaga pendidik yang terukur dan berkualitas agar menciptakan manusia yang berkarakter, berbobot dan berdaya saing.
Oleh sebab itu, Demi menjawab kebutuhan pembangaunan di Kabupaten Pegunugan Bintang sangat penting untuk Menginvestasikan sumber daya manusia dengan model yang tepat sesuai situasi dan kondisi daerah.
Pembangunan di sektor pendidikan adalah tugas dan tanggung jawab semua pihak. Lebih khusus peran pemerintah dan orang tua.
Pada kenyataannya di Kabupaten Pegunungan Bintang pemerintah daerah tidak membangun konsep pembangunan pendidikan yang berbasis afirmatif dan terprogram demi mempersiapkan sumber daya manusia yang akan berkontribusi dalam membangun Pegunungan Bintang dan Papua pada umumnya.
Awal Tahun 2000-an sejak Kabupaten Pegunungn Bintang hadir di tengah bumi Apyim Apom hingga kini, dinilai belum ada kebijakan dan program khusus berkelanjutan yang dibuat oleh pemerintah dari tingkat SD sampai perguruan tinggi lebih dari tiga dekade selama tiga kali pergantian pemimpin.
Sekitar tahun 2006 sampai 2010 Welington L. Wenda dua kali kirim pelajar Pegunungan Bintang berstudi di jawa, Bali, sumatera dan sulawesi untuk melanjutkan perguruan tinggi kemudian berhenti program ini di periode kedua.
Sikap gaya pemimpin daerah yang berhati kotor ini sudah dan telah membunuh beni dan nilai-nilai luhur sumber daya manusia di kabupaten ini sehingga sekarang tumbuh generasi muda Pegunungan Bintang yang berkarakter ketergantungan zaman (Zeitgeist).
Penentu subjek maupun objek pembangunan adalah manusianya oleh sebab itu, jika pemerintah tidak memprioritaskan pendidikan berarti otoritas pemerintah sudah membunuh generasi emas pegunungan Bintang beberapa tahun mendatang.
Memutus hubungan kerja sama antara pemerintah daerah Kabupaten Pegunungan Bintang dengan berbagai lembaga pendidikan di Indonesia seperti Binterbusih Universitas Sanata Dharma, UGM, UNIPA, UNCEN, Univeritas Samratulangi Manado, hentikan bantuan sosial mahasiswa.
Pemerintah Pegunungan Bintang sebelumnya kerja sama dengan lembaga pendidikan tinggi guna menyiapkan SDM bidang Guru, Dokter, ataupun jenis Profesi lainnya untuk kemudian mengisi bidang fital ini di daerah pegunungan Bintang. Namun setelah Kepemimpinan pertama diganti, 10 tahun terakhir ini pendidikan tidak diurus dengan baik.
Pemerintahan Welington L. Wenda dan Yakokus Wayam pimpin di periode kedua sampai saat ini sudah sepuluh tahun pendidikan di Pegunungan bintang tidak jalan atau tidak diurus dengan baik.
Kondisi pendidikan di Pegunungan Bintang sangat memprihatinkan. Bisa kita lihat dari beberapa kasus diantaranya ialah pemerintah bangun banyak gedung sekolah mega tanpa fasilitas, tenaga pengajar, kadang satu sekolah hanya kepala sekolah saja tanpa guru.
Guru dan kepala-kepala sekolah pun hanya tinggal di kota berbulan-bulan tanpa kontrol dari dinas sampai ujian sekolah atau saat semester saja datang beri tugas saja kepada murid dan pergi berbula-bulan di kota.
Jangankan guru, anak Sekolah dasar (SD) ada yang ujian tanpa membaca. Benar-benar situasi ini sangat menyedikan karena yang menjadi korban adalah anak-anak tak berdosa yang mempunyai harapan masa depan bangsa ini.
Kasus berikut adalah lebih dari tiga dekade belum ada program beasiswa atau bentuk program lain yang pemerintah siapkan untuk putra putri pegunungan Bintang yang mengeyam pendidikan di luar Pegunungan Bintang, Papua dan luar negeri. meskipun anggaran APBD nilainya lebih besar dari kabupaten lain di Papua.
Penulis: Demianus Komokunokweng Kalakmabin, Aktivis Pendidikan Pegunungan Bintang
