Pemilukada Serentak 2020: Elit, Kekuasaan dan Massa

0
index

OLEH FRANSISKUS KASIPMABIN

Mereka yang mempunyai peran dan pengaruh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah anggota masyarakat lainnya yang tidak memiliki peran dan pengaruh.

TRIBUNPAPUA.ID—Pemilihan Umum kepala daerah dan wakil kepala daerah di Indonesia serentak diselenggarakan pada tanggal 9 Desember 2020 mendatang. Salah satu Peserta dalam mengikuti ajang pesta demokrasi lima tahunan itu adalah kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Di Papua, ada 11 kabupaten Kota yang ikut dalam Pemilukada serentak tahun 2020 ini.

Dalam sejarah berdemokrasi di Indonesia dan Khususnya Papua semenjak Papua dipaksakan menjadi bagian dari Indonesia, soal Elit, Kekuasaan dan Massa menjadi penentu kemenangan dalam Pemilu kepala daerah, baik pemilihan Gubernur, Wali Kota maupun pemilihan bupati.

Untuk itu, penulis mengulas sedikit tentang Elit, Kekuasaan dan Massa dan  pengaruhnya terhadap Pemilihan kepala daerah pada Pemilukada Serentak 2020.

Elit

Elit merupakan suatu anggota masyarakat yang termasuk dalam kelompok unggulan. Seperti yang dikatakan Vilfredo Pareto bahwa kelompok atau golongan yang ada di suatu masyarakat yang memilki keunggulan atau superioritas apa bila dibandingkan dengan kelompok atau golongan lainnya. Kelompok tersebut lebih unggul dibanding kelompok lain.

Sementara itu, Lipser dan Solari menyebut Elit itu adalah posisi dalam masyarakat berada di Puncak puncak struktur sosial yang terpenting seperti posisi teringgi di dalam bidang ekonomi, politik, pemerintahan, agama, militer, pengajaran dan bidang bidang lain.

Untuk itu, saat Pemilihan umum kepala daerah baik tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten, elit elit politik menjadi peran penting dalam memenangkan Pemilukada. Kelompok elit politik itu, mereka yang menduduki sebagai ketua ketua partai, pimpinan DPR, ketua ketua fraksi atau komisi.

Kelompok elit politik juga mempengaruhi kebijakan kebijakan sistem pemerintahan, Hukum dan HAM, keamanan, ekonomi, sosial budaya maupun institusi institusi lainnya yang mendukung kelompok elit yang berkuasa.

Konteks Pegunungan Bintang belum ada kelompok elit Politik yang mencul untuk memerintahkan atau mempengaruhi kelompok lain dengan gagasan atau program yang bisa diterima dan melaksanakan seluruh masyarakat.

Elit Politik yang ada, hanya berfikir bagaimana menguasai kekuasaan dan menggunakan kekuasaan yang ada untuk kepentingan kelompok elit, kekeluargaan atau Nepotisme. Membudayakan KKN dalam kekuasaan. Yang ada hanya  kelompok Elit Politik berwatak materialisme.

Kekuasaan

Kekuasan pada intinya menggambarkan bahwa seseorang mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu. Jika A memilki kekuasaan atas B, apa bila A mempengaruhi B untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki B.

Menurut Robert A. Dahl, konsep kekuasaan merujuk pada adanya kemampuan untuk mempengaruhi dari seseorang kepada orang lain, atau dari satu pihak kepada pihak lain.

Selain itu,Ramlan Surbakti menyebut kekuasaan sebagai kemampuan menggunakan sumber sumber pengaruh yang dimilki untuk mempengaruhi perilaku pihak lain, sehingga pihak lain berperilaku sesuai dengan kehendak pihak yang mempengaruhi.

Sumber sumber pengaruh dari kekuasaan, kewenangan dan Legitimasinya mempengaruhi pihak  atau kelompok lain melaksanakan sesuai kehendaknya penguasa.

Kelompok elit yang menduduki Eksekutif maupun kelompok elit politik atau legislatif yang mengatur kekuasaan bisa mempengaruhi lembaga, atau kelompok masyarakat lain untuk melegitimasi atas kemauan penguasa.

Pendistribusian kekuasaan untuk kemaslahatan suku bangsa tidak dilakuan maka, muncul kelompok elit baru dengan kekuatan massa. Untuk Pegunungan Bintang,  Kekuasaan saat ini hanya sebatas pada elit politik dan Kelompok kekeluargaan. Terjadi kesenjangan pendistribusian kekuasaan, akibatnya timbul kesenjangan sosial masyarakat.

Kekuasaan yang ada dimanfaatkan untuk kepentingan elit politik. Kelompok Elit Politik dan pengusaha  bekerja secara sistematis, terstruktur dan massif untuk mengamankan keinginan penguasa.

Massa

Elit tidak terlepas dari massa. Massa sebagai objek kekuasan para elit politik. Namun seiring berjalannya waktu, konflik antar Elit dan massa pun bisa terjadi. Permasalahan bisa terjadi karena perbedaan kepentingan antara elit dan massa. Pendistribusian kekuasaan tidak sesuai keinginan massa bisa memicu konflik.

Para Elit yang berkuasa saat ini bekerja tidak sesuai keinginan massa. Baik massa pendukung maupun tidak. Akibatnya benturan antara massa dengan yang menggunakan kekuasaan sering terjadi.

Massa pendudung penguasa bisa sedikit dibanding massa yang kontra dengan penguasa. Akibatnya distribusi kekuasaan tidak merata.

Untuk itu,  Pemilukada serentak 2020 di kabupaten Pegunungan Bintang elit politik menggunakan kekuasaan, kewenangan dan melegitimasi tahapan tahapan Pemilukada untuk kembali  berkuasa. Pada hal massa yang  mendukung para elit yang berkuasa saat ini lebih sedikit disbanding kelompok massa Oposisi.

Integrasi Elit, dan Massa Dalam Pemilukada Serentak 2020

Saat ini masyarakat Pegunungan Bintang sudah mengetahui bahwa ada dua kubu elit politik di daerah. Ada kelompok elit politik dan massa yang pro terhadap penguasa saat ini, juga ada kelompok elit politik dan massa yang kontra terhadap kepemimpinan CODE,  sering disebut kelompok elit Politik oposisi dengan tujuan penyeimbang pemerintahan yang ada.

Kelompok Elit Politik yang sedang berkuasa saat ini bekerja dengan sumber sumber kekuasaan dan  kewenangan yang ada untuk kembali berkuasa, walau massa pendukungnya sedikit. Mereka bekerja secara sistematis, terstruktur dan massif untuk kembali berkuasa.

Sedangkan kelompok elit politik Oposisi didukung dengan massa yang banyak,  menguasai kekuasaan yang ada untuk mendistribusikan kekuasaan dengan baik dan benar demi kemaslahatan bangsa dan daerah di Pegunungan Bintang Papua.

Setelah Pemilukada serentak 2020 selesai dan  memilih elit Politik menjadi bupati dan wakil bupati Pegunungan Bintang integrasi Para elit politik yang berkuasa dengan massa harus dilakukan demi menyelamatakan manusia dan alam Pegunungan Bintang. Semoga!

 

Penulis: Fransiskus Kasipmabin

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *