Pemuda Distrik Ok Aom : Merevitalisasi Peran Kampung Dalam Pemajuan Pembangunan Daerah
Pemuda Distrik Ok Aom mengikuti Prosesi Pelantikan Badan Pengurus Forum Peduli Kampung Distrik Ok Aom Pegunungan Bintang, Dok. Sostenes Uropmabin Untuk Tribunpapua.id
Program NAWACITA yang digaungkan Presiden RI, Ir. Joko Widodo merupakan salah satu program yang tepat, efisien dan berdayaguna. Nawacita yang menitikberatkan pelaksanaan program dari daerah terisolir, terjauh, tertinggal dan kampung menuju perkotaan memang efektif. Program tersebut tepat sasaran. Pembangunan di kampung sedikit banyak telah terpenuhi dengan adanya dana kampung/desa dan Respek. Air bersih tersedia, penerangan terpenuhi, perumahan dibangun dan pendidikan anak diperhatikan.
Salah satu tujuan dari dana desa tersebut adalah agar masyarakat menggunakannya secara tepat sehingga darinya menghasilkan suatu produk untuk dinikmati dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Khusus di Pegunungan Bintang, dana desa tersebut tidak semuanya digunakan secara baik. Ada yang tidak tepat sasaran, salah penggunaan bahkan ada pula yang memulai usaha produktif namun tidak komitmen sehingga gagal total. Tetapi tak sedikit orang juga telah membuktikan bahwa mereka mampu mengelola dana desa tersebut sehingga menghidupi diri dan keluarganya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana membina dan menuntun masyarakat lain sehingga dapat mengikuti jejak sesamanya yang berhasil?
Dari segmen lain, pendidikan misalnya. Sekecil apa pun berkas cahaya, ia tetap menerangi kegelapan. Demikianlah analogi yang tepat untuk menggambarkan apa yang disebut Pendidikan. Pendidikan merupakan setitik cahaya dalam kegelapan itu. Demikian pentingnya pendidikan bagi kehidupan manusia, sehingga berbagai upaya ditempuh baik secara individu maupun kelompok, pemerintah atau swasta berinisiatip memenuhi kebutuhan akan pendidikan dengan mendirikan sekolah dalam berbagai jenjang.
Adat istiadat dan kebudayaan merupakan pilar cahaya pendidikan. Kebudayaan juga sebagai ciri khas atau identitas suatu komunitas atau suku. Kebudayaan juga merupakan jati diri pemilik budaya itu sendiri. Agama menjadi faktor penting lain yang mesti dijunjung tinggi dalam menata kehidupan. Pertanyaannya siapa yang mau peduli mengarahkan dan menuntun masyarakat yang ‘sederhana’ ini menata hidup ke depan yang lebih baik dari berbagai segmen kehidupan tersebut? Yang jelas memang banyak orang peduli, namun kapan, siapa dan bagaimana memulainya?
Diantara individu-individu yang peduli tersebut, para pemuda dari Distrik Okaom salah satu contohnya. Tampak nyata bahwa para pemuda dari distrik tersebut menyadari dan memahami betul arti dan manfaat dari pendampingan terhadap masyarakat akar rumput dalam pembangunan berbagai segmen diatas. Guna mewujudkan kepedulian mereka akan berbagai segmen tersebut, para pemuda dari Distrik Okaom menyatukan hati dan pikiran dengan membentuk suatu media yang tepat dalam upaya mendukung pemajuan daerah.
Membentuk Forum

Sebagai tindak lanjut dari rencana program yang digagas para pemuda tersebut, kemudian dibentuk sebuah forum yang sifatnya memayungi semua rencana baik mereka. Forum yang digagas tersebut dinamai Forum Peduli Kampung (FPK). Kegiatan dimaksud terlaksana pada Sabtu, 2 November 2019 di Kampung Limarum, distrik Ok Aom, Pegunungan Bintang, Papua.
Forum yang mengambil thema “ Bersatu Selamatkan Kampung” tersebut berlangsung sukses. Terbukti dengan hadirnya peserta pertemuan itu yang datang dari berbagai suku, agama, golongan, institusi dan individu. Kedatangan para pemangku kepentingan menandaskan kepedulian yang tinggi dari mereka akan pembangunan dan perubahan kampung di wilayah Ok Aom. Salmon Kasipmabin,S.Pd ditunjuk sebagai Pembina forum. Sementara Martinus Kalakmabin didaulat jadi ketua FPK.
Program
Saat membawakan sambutan, Kasipmabin sebagai Pembina menyampaikan beberapa aspek yang diketahui sebagai program kerjanya forum. Diantaranya bidang Pendidikan, Ekonomi, Agama, Budaya dan Adat Istiadat. Selanjutnya, menurut Sirli Kartika Putri,SKM (seorang guru di SD Inpres Aboding, Pengajar Muda Indonesia Mengajar, 2018) yang hadir dalam beberapa pertemuan dari forum tersebut menuturkan bahwa pendidikan menjadi hal penting. Dimana proses belajar mengajar tidak berjalan maksimal di distrik ini. Forum setelah melakukan pemetaan respon persoalan pendidikan di Ok Aom, menyatakan sebisa mungkin dengan cara dan bentuknya sendiri membantu lembaga sekolah menuntaskan atau minimal mengurangi persoalan, pergumulan dan harapan akan pendidikan yang lebih baik.
Sirli yang berasal dari Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi ini menambahkan bahwa pendidikan bukan hanya tanggungjawab sekolah semata-mata, melainkan semua pemangku kepentingan, “ Pendidikan akan berjalan baik dan lancar bila komunitas pendukungnya memahami makna dan esensi pendidikan itu sendiri” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, Salmon menjelaskan secara singkat sebagai berikut : forum hendak mendorong masyarakat akar rumput berdiri diatas kaki sendiri dalam hal ekonomi. Misalnya penggunaan dana kampung yang efisien, efektif dan tepat guna lewat program-program produktif sehingga terkesan tidak konsumtif sebagaimana terjadi selama ini.
Sedangkan menelisik lebih jauh lagi soal budaya dan adat istiadat, Kasipmabin menyatakan budaya adalah jati diri. Setiap kita sepakat untuk melestarikannya sehingga budaya yang mengandung nilai-nilai luhur tinggi tersebut tak hilang digerus arus zaman. Adat istiadat pun demikian. Sebab dengan melestarikan budaya secara baik, kita meninggalkan kekayaan kearifan lokal secara utuh kepada generasi muda sehingga mereka tak kehilangan jejak budayanya.
Sementara dalam hal agama, dipaparkan bahwa pengembangan iman harus terus digalakkan sehingga masyarakat di wilayah ini dekat dengan Tuhan. Retret dan pembinaan iman menjadi kegiatan-kegiatan penting dalam pengembangan dan pembinaan iman. Juga meningkatkan kerja sama dengan agama lain sebagai bentuk persaudaraan dan kerukununan hidup beragama.
Sementara dalam hal pendidikan sebagai bidang vital bagi pengembangan, pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia mesti mendapat perhatian serius. Semua pemangku kepentingan harus bersama menanggulagi persoalan yang ada. Kampung mesti peduli dalam pengembangan SDM pula. Tidak bisa juga kampung berpangku tangan dan melihat atau menyerahkan segala persoalan pendidikan ke sekolah atau Dinas Pendidikan.
Niat luhur para pemuda di Distrik Ok Aom patut diapresiasi. Langkah yang diambil pemuda Ok Aom membentuk FPK tentunya bersifat inspiratif. Sebuah gerakan pelopor/ pioniir yang patut diikuti pemuda dari distrik lain. Para pemuda yang juga kaum intelektual muda ini bertekad “merubah kampung”. Yang dimaksudkan perubahan di sini tentunya dari ke empat aspek yang disebut terlebih dahulu.
Kita doakan bersama, semoga forum yang baik ini berjalan dan menghasilkan buah yang manis: merubah kampung mandiri dan sejahtera serta berpengetahuan tinggi. Forum telah dibuat, kini yang diharapkan adalah komitmen dari anggota forum guna melaksanakan program dan mempertahankannya sehingga perubahan kampung benar-benar terlaksana.
Sebab kita ketahui bersama bahwa membentuk segala sesuatu itu mudah namun melaksanakan dan mempertahankannya susah. Majulah pemuda distrik Ok Aom untuk bangun negerimu!!!
Distrik mana lagi yang hendak mengikuti jejak para pemuda dari distrik Ok Aom?
Penulis : Sostenes Uropmabin
