Menengok Fenomena Konflik Di Tanah Papua

0
IMG-20200402-WA0002

Erik Bitdana (Dok. Pribadi)

             Oleh: Erik Bitdana)*

Berbicara tentang konflik di Tanah Papua tidak ada ujungnya bahkan tidak akan pernah mengatakan “Cukup atau Sudah Selesai” terhadap satu masalah atau konflik kecil. Seakan konflik sudah menjadi bagian dari tradisi dan budaya secara turun-temrurun hingga detik ini. Tak terpungkiri, silih berganti beragam konflik telah-sedang dan akan terus mengancama seluruh eksistensi manusia di bumi Cenderawasih ini. Hal ini terlihat dari berbagai gelombang konflik yang muncul mengancam tatanan dan seluruh dimensia hidup manusia secara horizontal maupun vertical menjadi bagian dari hidup Orang Papua saat ini. Ternyata sumber konflik yang mengancam sleuruh tatanan hidup manusia Papua yang dialami saat ini terlihat dari berbagai sumber yang menjadi sebuah strategi pendektakan. Menurut pengamatan  penulis  sumber dan akar konflik di Papua sudah terpolah dan tersistematis dalam berbagai dimensi hidup, termasuk pemerintah, politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan berbagai bidang hidup lainya dalam bentuk, gaya dan perbedaan pencapaian tujuan sebagai sumber konflik.

Konflik adalah salah satu karakteristik dan esensi dari kehidupan dan perkembangan manusia dalam beragama karakteristiknya. Karakter konflik tersebut tidak terlepas dari hidup manusia yang berbeda Jenis kelamin, Strata sosial, Ekonomi, Politik, Budaya dan Ideology, Agama, Suku dan Bahasa. Inilah yang menjadi ciri khas konflik yang selalu menjadi bagian hidup kita yang secara sengaja maupun tidak sengaja. Beragam karakteristik inilah yang membentuk Bangsa Indonesia yang bersatu dalam Satu Bhineka Tunggal Ika dari Sabang-Merauke. Maka konflik ini jugalah yang mencerminkan Bangsa Indoensia itu sendiri bahkan menjadi sebuah image negative di dunia internasional. Memang patut diakui bahwa beragam konflik sudah menjadi bagian hidup kita. Dalam tulisan ini, saya tidak secara rinci meninjau beragama konflik secara data atau fakat tetapi lebih pada itu adalah melihat beragama fenomena konflik dari perspektif pribadi menyangkut maraknya konflik di Papua. Dalam hal ini penulis mencobah memaparkan beberapa factor sebagai bagian dari analisa personal yang tidak dipertanggungjawabkan kebenaranya secara data. Namun lebih dari itu ialah memiliki tujuan membuka suasana situasi sosial agar semakin orang mengetahui dan menyadari semua situasi sosial hidupnya.

Menurut analiasa penulis terhadap maraknya fenomena konflik di Papua yang semakin dominan mengancam seluruh eksistensi hidup manusia Papua ke ambang kehancuran menjadi sebuah pergumulan besar. Bertolak dari fenomena konflik ini maka analisa pribadi ini lebih pada pertanyakan lepas Mengapa Pemerintah Pusat- Jakarta belum berhasil menyelesaikan beragam konflik yang mengancam hidup Orang Papua di Papua? Pada hal sudah ada badan Hukum tertinggi Pancasila dan UUD 1945 sebagai jaminan kehidupan seluruh warga negara Indoensia bahkan mengedepankan Kebinekaan sebagai Prinsip hidup?  Jika demikian, Apa yang salah, kurang atau keliru sehingga konflik di Papua masih terus ada dan berlangsung hingga detik ini?

Penulis sebagai pemerhati fenomena konflik, ingin menelusuri berbagai bentuk pendekatan- pendekatan yang dipakai oleh Pemerintah Pusat dalam resolusi konflik di Papua sehingga hampir sebagaian besar tidak pernah berhasil diselesaikan. Bahkan beragam pendektan pun menjadi hambatan atau menambah konflik yang melilit dimensi hidup orang Papua. Tulisan ini tidak bermaksud diskriminatif terhadap siapa pun termasuk negara. Hal ini sudah terasa dan bahkan sudah menjadi bagian hidup dan sumber hidup yang menurut penulis orang Papua tak akan pernah melepaskanya. Beberapa factor sumber konflik yang dimaksudkan penulis ialah sebagai berikut:  1) Keterbatasan Sumber yang dialami Orang Papua, 2) Perbedaan Tujuan yang sedang dibangun pemerintah Pusat di Papua,3) adanya Interdepenensi tugas, 4) Keragaman system sosial, 5) Deferensi Organisasi, 6) Ambiguitas Yuridiksi, 7) Pribadi orang, 8) Sistem Imbalan yang tidak layak 8) dan Komunikasi yang tidak baik 9). Inilah kondisi objektif yang menimbulkan timbulnya beragam konflik di Tanah Papua.

Faktor utama adalah Keterbatasan Sumber. Manusia selalu mengalami apa yang disebut kekuarangan atau keterbatasan sumber. Tentu keterbatasan ini akan terjadinya kompetensi diantara manusia untuk memperoleh sumber yang diperlukan sebagai bagian dari kebutuhan manusia. Sumber yang dimaksud adalah berupa anggaran, fasilitas, sumber jabatan, kesempatan berkarier dan sebagainya dalam  sebuah sistim pemerintahan. Dan juga terjadi konflik antara pemilik tanah dan berbagai perusahaan dalam masyarakat petani, terjadi konflik diantara partai-partai untuk merebutkan kursi anggota-anggota legislative dan eksekutif yang terbatas jumlahnya. Tentu realita keterbatasan sumber inilah yang sedang diterapkan sebagai bagian dari munculnya beragam konflik di seluruh Tanah Papua. Tanpa menyadari akan dampak buruk dibalik tujuan ini sungguh merenggrut nyawa manusia. dan terbukti, tidak sedikit orang terpandai Papua yang jatuh dalam jarring ini. Saya yakin banyak dari kita tidak mengetahui strategi ini dan kita sedang menuju ke sini. Saya tidak bermaksud menakut-nakuti tetapi sebagai anak Papua dalam tulisan ini saya mau sampaikan bahwa hidup kita sudah dalam gengganman tangan maut. Oleh karena itu membangkitkan sebuah kesadaran dan menjalani atas dasar kemauan karena tahu dan mau adalah sebuah martabat sebagai Manusia. Hidup atau mati adalah bagian hidup manusia yang tak pernah jauh dari kita.

Kedua, Tujuan yang berbeda. Pada dasarnya tujuan konflik adalah sebuah perbedaan tujuan. Hal ini sudah nyata dalam realita kaum buru dan pihak perusahaan yang dalam pendapatan yang tidak seimbang. Dimana kaum buruh menginginkan honor yang lebih tinggi sementara pihak perusahaan tidak menginginkanya. Inilah jugalah yang terjadi dalam politik bisnis di tanah Papua yang sebagian besar alam Papua dieksploitasi sementara pendapatan untuk pajak daerah minim bahkan tidak diperhitungkan. Entah itu perusahaan kelapa sawit, Kayu, Batubara, Minyak, Emas dan berbagai macam bisnis yang merajalelah di seluruh tanah ini. sadarlah bahwa tujuan kita berbeda antara Jakarta dan Papua, Antara Organisasi Papua Merdeka dan Tentara Nasional Indoensia dan berbagai tujuan lain yang bisa kita temukan dalam realita sosial. Bahkan berbeda tujuan pun kita capai dalam suatu partai politik antara praksi radikal dan fraksi moderat dalam mencapai tujuanya. Inilah wadah sekaligus jurang yang tak jauh dari hidup orang Papua di atas tanah tercintanya.

Ketiga, Saling tergantung atau Interdefensi tugas. Tidak terpungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial yang saling tergantung dalam menjalankan hidupnya. Hal serupa pulah yang terjadi dalam organisasi, bentuk pemerintahan, agama, dan partai yang terlihat dalam diskoordinasi menjadi timbulnya konflik. Inilah yang menjadi sumber amarah dan peperangan hingga menghorbankan sesama sebagai tumbal. Misalnya saja pada ketidakkoordinasinya antara pejabat daerah dan pegawainya, antara Bupati dan Dewan Perwakilan Rakyat, Antara Presiden dan Gubernur dalam keterbantaan keputusan-keputusan terkait. Hal ini jika dicari data sebagai bukti maka mungkin tulisan saya ini akan penuh dengan data. Oleh karena cukup dalam tuilsan ini saya membuka mata dan kesadaran anda bahwa hal itu benar adanya.

Keempat, adanya Perbedaan Organisasi. Perbedaan organisasi adalah masalah global yang tak lepas dari perbedaan pandangan dalam menjalankan tugasnya. Terutama dalam pembagian tugas yang tak seimbang alias komendan dan anak buahnya yang sama-sama berorientasi menuju suatu tujuan. Hal ini terletak pada agenda atau program jangka panjang, menengah dan pendek. Konflik yang timbul dalam perbedaan organisasi ini adalah perbedaan pandangan, pola pikir, perbedaan perilaku dan sikap dalam menjalankan tugas yang sering menimbulkan sikap keraguan. Menyangkut fenomena ini, anda boleh melihat sendiri dalam sikap masyarakat terhadap Organisasi Papua Merdeka Harga Mati dan Organisasi Negara Kesatuan Republik Indoensia Harga Mati yang sama-sama sangat paradoksal. Dan berbagai jenis organisasi lain yang anda ketahui dan terlibat menjadi potensi konflik yang telah lama hidup karena beragama hubungan kausalitas.

Kelima, adanya Ambiguitas Yuridiksi. Hal ini nampak dalam perbedaan tugas dalam menjalankan kekuasaanya. Sehingga menimbulkan ketidaksenjangan antara keputusan Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati dan kepala-kepala dinas tertentu yang sangat kontradiksi dalam pengambilan keputusan. Inilah ciri khas negara kita yang kurang menjamin kesatuan dan persatuan yang nampaknya melahirkan konflik secara personal, vertikal maupun horizotal institusi. Menyangkut ambiguitas yuridiksi ini sudah menjadi bagian dari konsumsi publik di berbagai media masa terkait beberapa kebijakan yang menimbulkan controversial. Hal ini menimbulkan beragaman tanggapan publik hingga melahirkan beragama konsep yang jumlah yang tidak sedikit. Maka hancurlah tatanan sosial antar sesama, organisasi, pemerintah dan lainya menjadi kesenjangan.

Keenam, Melahirkan system imbalan yang tak seimbang. Ketidakseimbangan inilah yang menjadi sumber lahirnya ketidakadilan sosial yang menimbulkan kesenjangan sosial. Inilah sumber lahirnya kaum proletariat dan kaum kapitalis yang sering menjadi kaum marginal yang sering merontak menuntut hak dan kewajiban disisi lain. Maka tidak heran jika hal ini sering menjadi bagian dari hidup kita di tanah Papua ini seperti halnya pembagian Dana Autonomi Khusus yang sering menjadi keluhan, marah bercampur doa. Mungkin juga adalah praktek korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang semakin marak dipraktekan di Tanah Papua ini. Di sini hal yang diutamakan adalah keadilan. Biarlah mengatakan cukup atau tidak pada korupsi adalah kalimat yang mengandung dan menjunjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Mungkin juga pepatah Injil ini berlaku “Cukupkanlah dirimu dengan gajimu, Jangan memeras hak orang dan jangan pulah mengambil secara paksa”.

Ketujuh, Membangkitkan komunikasi yang kurang terhormat. Berbicara tentang komunikasi tidak jauh dari berbagai komunikasi yang menimbulkan kemaraan yang sifatnya kontroversial, rasis, diskriminatif dan beragama lainya. Semua ini tidak langsung maupun secara langsung kita alami secara personal maupun kelompok, suku dan budaya yang sering terjadi. Menyangkut hal ini sudah kita lewati berbagai peristiwa seperti halnya Rasisme, bentuk sebutan lain adalah Kelompok Kriminal Bersenjata lainya. Bentuk dan gaya akan berbeda tetapi selalu saja ada komunikasi yang selalu dan akan terus dihadapi masyarakat Papua oleh berbagai pihak dari Pemerintah Indonesia. Oleh karena itu, cukup menyadari bahwa orang Papua sedang hidup dalam berbagai lilitan konflik yang demikian. Dan beragam konflik ini bukan menjadi budaya tetapi itulah bentuk dari sebuah strategi dalam meluaskan penjajaan pada sebuah misi terselubung.

Kedelapan, Konflik juga terjadi karena perlakuan yang tidak manusiawi dengan melanggar hak asasi manusia dan melanggar hukum. Hal ini menimbulkan perlawanan dari pihak yang mendapatkan perlakuan tidak manusiawi. Saya yakni berbagai tindakan kekerasan adalah bagian dari balas dendam. Anda bisa lihat  dengar dan baca tentang berita-berita tentang penembakan, pembunuhan, pemerkosaan dan pengungsian dihampir seluruh pelososk Papua. Tidak hanya itu, beberapa tawanan Orang Papua bahkan inodesai yang bersuara tentang keadilan, kebenaran dan kesejahteraan pun semakin menumpuk di pengadilan. Dan berbagai macam hal yang menjadi fenomena yang terus kita hadapi.

Dan yang terakhir adalah Pribadi orang. Disamping penyebab konflik yang lain, hal penting yang menjadi mediator pencipta konflik adalah pribadi-pribadi tertentu. Entah karena kepentingan, entah karena mencari hidup layaknya manusia dan berbagam motif lainya menimbulkan konflik. Tidak hanya kepentingan tetapi dari pribadi individu tersebut yang memiliki karakter, sifat yang mendominasi sikap dan tindakan yang terlihat sombong, egois, merasa diri paling benar, berkuasa, ingin menguasai dan kurang mengendalikan emosi serta berbagai hal menjadi jaringan terciptanya sumber konflik. Di Papua, Orang-orang bertipe demikian banyak dijumpai bahkan hampir sebagain besar bersikap demikian. Sehingga saling menjual dan membeli antar sesama sudah menjadi kebutuhan ekonomi entah dalam bentuk dan cara apa pun. walaupun ada saja orang yang mempunyai komitmen dan integritas yang tinggi terhadap bangsanya, daerah dan keluarganya. Kelompok orang demikian diharapkan menjadi pelopor hidup terciptanya keadilan yang patut di dukung dari semua kita. Oleh karena itu menyadari aka asal-usul dan tujuan kita adalah penting sebagai orang Papua.

Berdasar pada beberapa factor sumber konflik diatas, maka perluh mengembangkan suatu iklim konflik yang kondusif, dimana kedua pihak antara Indonesia dan Papua melakukan dengar pendapat. Prinsip dengar pendapat akan memungkinan kedua pihak saling berkumpul, saling percaya, saling mendengarkan, menerima dan saling memahami dengan prinsip kesatuan perbedaan “Bineka Tunggal Ika” berbeda pendapat, berbeda kepentingan, berbeda ideology namun tetap menyatuh. Demi menyejahterahkan masyarakat yang plural Budaya, Agama, Ras dan Bahasa di Papua maupun Indoensia umumnya. Dengan demikian, iklim konflik yang sedang dibangun dalam seluruh segi hidup manusia melalui strategi dan gaya managemen konflik dengan perbedaan tujuan akan berlangsung cukup lama dan mengancurkan hidup kedua belah pihak. Dan ini sangat rentan mengganggu keharmonisan hidup bersama dalam suatu negara atau bangsa. Walaupun kita tahu bahwa ada ketergantungan hidup antara Papua tanpa Indoensia dan Indoensia tanpa Papua, maka baiklah perluh melakukan jajak dengar Pendapat sebagai suatu fase penting. Bukan supaya saling memisahkan tetapi menyadari sebagai bagian dari ketidak harmonisan hidup yang perluh diperbaiki. Kalau tahap ini berlanjut sampai berhasil menyelesaikan konflik maka suatu kebanggaan dan keberhasilan tersendiri yang memiliki nilai hidup.

Bentuk lain agar semakin menyadarkan orang, untuk betul-betul memahami cara bagaimana menyelesaikan konflik yang baik dan benar, dengan menjunjung tinggi nilai harkat dan martabat manusia yang mengedepankan prinsip moral Bhineka Tunggal Ika, maka alangkah baiknya mentransformasikan Study Managemen Konflik di setiap bidang hidup termasuk bidang pendidikan sejak dini. Alhasil bisa membawah perubahan dari bidang pendidikan akan terciptanya situasi hidup baik alias tidak ada konflik diseluruh tatanan hidup. Dengan pengandaian bahwa siswa telah mempelajari study Managemen Konflik sebagai salah satu mata kuliah sosial dengan melihat maraknya fenomena konflik di tanah air kita. Dengan demikian, pemahaman akan cara bagaimana menghadapi konflik, bagaimana menyelesaikan konflik, menghindari konflik dan berbagai manfaat lainya sudah ditanamkan dalam pendidikan dan dimiliki setiap pelajar sebagai bagian dari hidupnya. Saya yakin indoensia akan hidup bebas sebagaimana layaknya hidup manusia di dunia ini. Dengan penuh pengharapan bahwa suatu saat anda dan saya menikmati suatu suasana yang penuh damai dan sejahterah sebagai satu keluarga. Percaya juga bahwa dunia ini dimanis. Artinya bahwa dunia selalu berjalan terus menuju suatu dunia baru yang mungkin adalah diluar nalar sehat kita sebagai manusia. Maka usaha kita hari ini akan menentukan jaminan hidup kita hari esok. Apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Tananmkanlah Pendidikan Managemen Konflik sejak dini dan percayalah “Hari esok Pasti Ceriah”.

 

Penulis adalah Mahasiswa di STFT Fajar Timur dan Pemerhati Fenomena Konflik

di Tanah Papua-Indoensia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *