Empat Tahun Pendidikan Pegunungan Bintang Dilumpuhkan, Pergerakan 188 “Guru Hebat Pegbin” Adalah Pencitraan

0
71687919_963657503972174_2323452392307163136_n

*(Salmon Kasipmabin

 

PERUBAHAN yang sesungguhnya adalah berawal dari Pendidikan yang baik dan Pendidikan mempunyai multi fungsi.  Untuk konteks Pegunungan Bintang saat ini pendidikan hadir untuk memecahkan masalah apa bagi Pegunungan Bintang? Bukan hanya menyelesaikan persoalan pendidikan. Untuk itu program harus dibangun dengan sebuah kesadaran yang tinggi sesuai amanah UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas.

Pendidikan itu sebuah usaha secara sadar, memiliki algoritma yang utuh serta memiliki target yang jelas. tidak didorong oleh kepentingan tertentu.  Program pendidikan tidak harus terjebak dalam politik, karena peran pendidikan adalah masalah masa depan, tidak untuk masalah kepentingan 5 -10 tahun.

Selama 4 Tahun pendidikan Pegunungan Bintang lumpuh total, tidak ada upaya –upaya sama khusus yang dilakukan untuk mengentaskan kemiskinan guru di 92 sekolah. Janji politik tentang pendidikan dan program Gapura tentang wajib belajar di semua tingkatan tidak pernah ada aksi nyata di daerah.

Banyak anak menjadi korban pendidikan di daerah. Berikut Realitanya, di Pegunungan Bintang terdapat 92 sekolah, berdasarkan jenisnya  masing-masing terdapat 63 sekolah dasar, 18 SLTP, 4 SMA, 1 SMK dan 8 Paud. Dengan jumlah guru masing-masing 61, 94, 41, 24, dan 8.

Perhatikan sekolah Dasar: ada 63 sekolah dasar terdapat 61 Guru, direrata satu sekolah dasar hanya terdapat satu guru. Fakta di lapangan 1 sekolah tidak melangsungkan KBM selama 1 semester, satu guru tadi hadir di saat UN, bahkan 1 sekolah tidak ada  guru sama sekali. Artinya Puluhan bahkan ratusan anak dikorbankan dari dunia pendidikan terjadi di sana. kita harus ketahui bahwa ada 12.308 anak asli pegunungan Bintang dikorbankan karena keegoisan seorang pemimpin yang berorientasi pada politik. Kondisi ini sangat mengerihkan. Sekolah dasar itu sangat urgen, jika SD kondisinya demikian, artinya kita sedang dalam kesulitan menciptakan manusia yang berkualitas untuk daerahnya.

Anak Anak SD Inpres Sabin Okbab Pegunungan Bintang (Foto: Dok Kepsek/TP/Ilustrasi)

Sudah tahu kondisi pendidikan kita demikian, dibiarkan selama 4 tahun, tiba saatnya PILKADA 2020:  188 guru digerakan ke seluruh sekolah dasar di Pegunungan Bintang adalah sangat di sayangkan. Ini adalah murni pencitraan Poliitik 2020, bukan berasal dari hati untuk membangun pendidikan di Pegunungan Bintang.

Saya sudah ikut seleksi Guru Hebat Pegbin, bahkan saya sudah lolos, tetapi saya tidak ikut dalam guru hebat ini. Karena saya tahu, tidak ada hasil yang signifikan untuk mengentaskan kesenjangan pendidikan.  Pendidikan kita di Pegunungan Bintang 4 tahun terakhir, sangat terlihat jelas kemacetan yang serius sangat merugikan generasi sebanyak 12. 308 anak.  Kita tahu, mereka akan mengikuti UN dan otomtias lulus UN-nya, tetapi apakah kesiapan anak secara kognitif, afektif, dan evaluative mampu bersaing di dunia pendidikan selanjutnya?

Satu hal lagi yang perlu kita ketahui bersama bawah semua teman-teman yang bergabung dalam GURU HEBAT PEGBIN, sebagian sudah masuk dalam Panitia Penyelenggara Pilkada di tingkat distrik. Mereka lagi sedang pembelakan, akan ikut kegiatan ini dan itu tentang persiapan PILKADA hingga sampai bulan September, otomatis mereka ada di Kabupaten.

Orientasi mereka adalah PILKADA, sementara anggaran di guru hebat akan terpakai sia-sia. Ini sebuah phenomena yang buruk diciptakan oleh Pemda Pegunungan Bintang melalui dinas pendidikan. Tidak aka nada nilainya, semua akan berujung pada pencitraan Politik dan merugikan anggaran.

Oleh karena itu, Harapan kami adalah supaya oritensi teman-teman GURU HEBAT Pegubin terus kepada  KBM di sekolah, Kadis dan KPU kabupaten duduk dan klarifikasi, yang masuk dalam PANITIA PENYELENGGARA PILAKDA dihentikan saja dari Program GURU  HEBAT PEGUBIN atau bisa sebaliknya.

Supaya tidak terkesan pencitraan politik dan menghamburan anggaran pendidikan secara Cuma-Cuma.   Saya secara pribadi sangat dukung dengan kebjiakan ini, tetapi perlu kita ketahui bahwa waktu KBM sudah berlangsung tiga bulan, kemungkinan mereka belum diberangkatkan juga, program berlaku satu tahun, berapa bulan efektif bagi teman-teman guru hebat ini di sekolah? Ini bagian dari proses penghamburan anggaran di daerah selama ini berjalan masif dan juga program yang tidak BER-ATP secara utuh. Jadi hasil akhirnya pun tidak akan jelas nanti.

*(Penulis adalah Pemerhati Pendidikan Papua, Tinggal di Jakarta

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *