Petani Kopi Pegunungan Bintang Siapkan 140 Ribu Kokeran

0
20191125_123337

Kopi Arabica Lopkop (Dok. Fransiskus Kasipmabin)

OKSIBIL, TRIBUN PAPUA.ID—Petani Kopi asal kampung Apmisibil, Distrik Okbibab, kampung Sabin Distrik Okbab, kampung Kiwibakonnaka distrik Kiwirok Pegunungan Bintang saat ini menggenjot untuk menyiapkan kokeran biji kopi sebanyak 140 Kokeran dan siap untuk tanam pada bulan April 2020 mendatang. 

 

 

Petani kopi asal Pegunungan Bintang terus menggenjot menyiapkan bibit kopi,menyiapkan lahan untuk penanaman, pembersihan lahan kopi, produksi kopi hingga pemasaran didalam maupun luar Papua. Kopi Negeri Ok/Mek ini sudah mendunia, penikmat kopi dari berbagai Negara memesan kopi asal Pegunungan Bintang ini. Namun, jumlah pemesan kopi tidak sebanding dengan keseriusan petani kopi dan pihak berwenang memproduksi kopi untuk memenuhi permintaan kopi asal negeri Ok/Mek ini.

Sampai dengan saat ini, tahun 2020 produksi Kopi belum ada peningkatan. Petani kopi dari tiga distrik Pegunungan Bintang, distrik Okbibab, Okbab, distrik Kiwirok telah mencangkan program tanam kopi semenjak tahun 2001/2002. Namun berkat dukungan dari Provinsi, Petani Kopi asal Okbibab,  Okbab dan Kiwirok menyiapkan 140 ribu kokeran dan pada bulan April mendatang akan ditanam.

Niko Bukega, pendamping Petani kopi asal Pegunungan Bintang ini mengatakan “petani dari tiga distrik telah menyiapkan 140 ribu kokeran kopi untuk ditanam pada bulan April mendatang. Pihak terkait dari provinsi maupun kabupaten akan diundang untuk mengikuti acara penanaman ini”ucap niko kepada Tribun Papua.id  belum lama ini di Oksibil.

Ia menjelaskan, pendampingan 140 ribu pohon kopi ini didukung dari provinsi. Sehingga saya mengkomunikan dengan pemerintah provinsi, tegasnya. Ia menilai pemerintah kabupaten Pegunungan Bintang tidak serius mendampingi petani kopi, walau anggarannya setiap tahun ada peningkatan.

Niko mengatakan “Program pembinaan, pendampingan terhadap petani kopi dan produksi serta pemasaran biji kopi sudah dianggarkan dalam APBD, namun realisasi dari anggaran tersebut tidak ada. Nampaknya, pihak terkait sengaja membiarkan petani kopi untuk tidak produktif dan tidak berkembang untuk memenuhi kebutuhan idupnya” tegasnya.

Ia menyayangkan Dinas Pertanian Perkebunan Dan Peternakan  yang tidak seriusi bidang perkebunan kopi ini, anggarannya tidak produktif dan tepat sasaran sehingga para petani kopi mengelu dengan kebijakan pemerintah daerah ini.

Diktus Kasipmabin, sekretaris kelompok Kopi Andakan kampung Apmisibil mengatakan sebenarnya pemerintah menunggu petani memproduksi kopi atau pemerintah mendampingi para petani kopi untuk berkembang dan mandiri secara ekonomi keluarga, tegasnya.

Ia mengatakan “Selama saya menjadi penggerak petani kopi semenjak tahun 2001 sampai dengan saat ini, pemerintah membiarkan petani kopi sampai sudah ada hasil baru pemerintah trun hanya foto,  kemudian mencairkan dana lalau dinas terkait makan uang tersebut”tegasnya kepada Tribun Papua.id di Oksibil.

Untuk itu, ia berharap pemerintah merangsang dengan membeli hasil produksi kopi dari petani supaya para petani dengan semangat kerja. “Selama ini  kami produksi kopi tetapi pembelinya tidak ada, sehingga petani malas kerja”ucapnya.

 

Fransiskus Kasipmabin

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *